
Flashback on!!
Pagi hari sebelum kejadian..
Mereka terlihat menyunggingkan senyuman saat melihat Hana keluar dari penjara dengan satu tas kecil berisi barang-barang miliknya.
Wanita itu pun dari kejauhan terlihat membalas senyuman mereka yang sangat senang menyambut kebebasannya di hari itu, tepatnya di hari Minggu.
"Naira.."
Hana meletakkan tas Kumal miliknya di atas tanah, lalu beralih memeluk sang sahabat, Naira.
Yang di peluk pun tak sungkan-sungkan, di rengkuhlah sahabat baiknya itu, dan di usaplah punggungnya, merasa sangat senang karena pada akhirnya mereka kembali berkumpul bersama.
"Aku sangat senang saat mendengar kabar ini, Hana," ucap Naira pada sang sahabat, sambil melepas pelukan Hana.
Hana beralih memeluk Ardian, dan laki-laki itu pun meresponnya dengan baik.
"Senang melihat kau bebas.." Ucap Ardian pada Hana.
"Baiklah, hari ini, apa kau sudah siap menyambut kebebasanmu?" tanya Naira pada Hana.
"Ya, aku sudah sangat siap.."
Dan yang lebih siap lagi, adalah memberi kejutan untuk suamiku, Allianz.. Dia pasti akan sangat senang saat melihat aku kembali lebih awal!
Benak Hana berbicara, merasa sangat senang karena pada akhirnya dia akan segera berjumpa dengan suami tercintanya.
Vroooooommmmmm
Mobil melaju dengan kencang saat Hana dan dua sahabat karibnya membawa dia masuk. Lega sekali karena mendapat keringanan hukuman, menjadi dua setengah tahun penjara, lebih cepat dan sangat cepat dari yang di perkirakan.
Tak sia-sia dia selalu bersikap baik di penjara, merasa menyesal dengan kasus pembunuhan yang ia lakukan pada Morgan, dan akhirnya, karena semua yang dia lakukan di dalam penjara, kini menuntun dia untuk bebas dari penjara.
Syukurlah!
Dia akhirnya bisa kembali menghirup udara segar setelah sekian lama harus hidup pengap di dalam jeruji besi, tanpa kawan, atau pun lingkungan yang bersih, sekarang, dia akhirnya bisa terbang dengan dua sayap indah miliknya lagi.
"Kau sangat senang, aku akan membawa kamu bertemu Zhoulin lebih dulu, apa kau mau?" tanya Naira pada Hana.
"Tentu saja aku mau, dia yang paling aku rindukan selama di dalam tahanan, dia juga pasti sangat merindukan aku.."
Keduanya tersenyum, saling bergandeng tangan, dan saling merasa gembira dengan takdir baik untuk hari ini.
Terlihat amat jelas wajah Naira yang bahagia di mata Hana, hanya saja, Hana tak pernah tahu betapa runyamnya pikiran Naira memendam permasalahan antara dia dan Allianz.
Berpikir bagaimana caranya dia memberitahu semua yang terjadi selama hampir tiga tahun terakhir ini, bagaimana caranya di memberitahu semuanya?
Di saat yang bersamaan, dua orang terlihat berjalan bergandengan dengan hangat di bandara usai mereka turun dari pesawat yang membawa pulang mereka dari libur singkatnya.
Keduanya nampak bahagia, semakin hangat dan juga semakin dekat, seolah tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka, meski keluarga sekalipun.
"Sayang, aku lapar, apa kita bisa cari tempat makan lebih dulu?" tanya sang suami pada istrinya sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.
"Aku tahu kau pasti sangat lapar, baiklah, mari kita cari restoran." Jawab istrinya sambil masuk ke dalam mobil dan menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
Sang suami hanya membalasnya dengan senyuman puas, karena dia punya kejutan istimewa untuk istrinya ini. Meski mungkin ia sedikit mengalami keterlambatan, tapi semoga saja Visha bisa mengerti.
Di tutuplah pintu mobil mereka, dan melaju saja mobil mewah itu menuju ke arah restoran.
Mereka nampak gembira sekali, bahkan liburan kali ini sungguh amat berkesan bagi mereka yang memang baru pertama kali melakukannya tanpa anak atau siapapun, ya, hanya berdua saja.
Hanya sekitar lima belas menit mereka membutuhkan waktu untuk tiba di restoran yang mereka tuju, turunlah mereka dari mobil, dan lekas masuk ke dalam restoran.
Mereka berdua memakan makanan yang sudah di pesan setelah beberapa menit lamanya menunggu.
__ADS_1
Lahap sekali keduanya makan, sampai di akhir cerita tentang makan bersama itu, Allianz mendadak menunjukkan sesuatu pada Visha tanpa berkata satu patah kata saja.
Visha meletakkan sendok dan garpu di tangannya, dan beralih kebingungan pada pria yang kini menjadi suaminya itu.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya wanita itu sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Vish, aku tahu aku tak pernah melamar kamu, kita menikah juga karena terpaksa, tapi hari ini, aku akan membuktikan padamu, kalau aku sungguh mencintai kamu.."
Ucapan dari mulut Allianz seolah membuat dia mati, mematung tak berdaya di kursinya. Antara terkejut, tak percaya, dan terharu melihat sebuah cincin yang ada di kotak biru di hadapannya.
Bukan hanya terlihat menawan, tapi ia juga tahu, cincin itu punya harga yang lumayan fantastis.
Satu set cincin itu di tunjukkan oleh Allianz padanya, membuat Visha menjadi semakin bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada menit selanjutnya.
"Lalu, apa maksud kamu?" tanya Visha sekali lagi.
"Apa kau mau menerima aku sepenuh hatimu? apa kau mau menerima cintaku yang datang terlambat ini?" pria itu sebenarnya terlihat amat tulus.
Visha terkejut, di tutuplah mulutnya dengan kedua tangannya, tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia saksikan itu.
Allianz melamarnya, pria itu bahkan ambruk di hadapan Visha bak pasangan muda yang melakukan acara lamaran sebelum pernikahan.
"Mas, apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Visha masih saja gugup gemetar.
"Aku bertanya padamu, Vish! aku mencintai kamu, apa kamu mau menerima aku yang mencintai kamu di waktu terlambat seperti ini?"
Visha menitihkan air mata harunya di depan Allianz, dan juga di saksikan oleh puluhan pasang mata para pengunjung di sana.
"Tentu saja aku menerima kamu," jawab Visha dengan senyum harunya.
"Apa kau tidak akan menyesal hidup selamanya bersamaku?"
"Kau pikir aku akan begitu? jika aku menyesal, bukankah aku sudah meninggalkan kamu saat kamu jatuh miskin dan tidak punya apa-apa? aku akan mencintai kamu dalam keadaan apapun, percayalah, cinta kita akan tetap abadi, Mas.."
Dengan senyuman yang mengembang sempurna di bibir Allianz, pria itu memasangkan cincin di jari manis Visha yang masih saja kosong, pun Visha yang kemudian memasangkan cincin pula di jari manis suaminya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mereka sudah pulang dari acara menjenguk Zhoulin di rumah Miranda pada siang harinya, sampai akhirnya Hana memilih untuk segera pulang ke rumah suaminya.
"Hana, bisakah kau menginap saja di rumah kami? aku cemas padamu, jangan pulang lebih dulu, ya?" tawar Naira mencoba untuk membuat Hana tidak pulang ke rumah itu, karena rumah itu sekarang sudah kosong sejak lama.
"Nai, aku harus pulang, Allianz pasti sedang kesepian sekarang, aku harus datang untuk menghiburnya, kau tahu, kan, aku juga harus kembali minta maaf padanya.."
"Hana, bukan maksud aku untuk melarang kamu kembali, hanya saja, sekarang Kak Allianz sudah tidak tinggal di sana lagi.."
"Um? apa maksud kamu? dia sudah pindah?" Hana masih belum curiga dengan kata-kata yang terucap dari mulut Naira.
"I-iya, dia, dia sudah bekerja di tempat lain, dan otomatis, dia juga harus mencari rumah yang dekat dengan kantornya.."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Semilir angin yang terasa segar meski dia berada di dalam taksi. Karena dia sengaja membuka kaca hanya untuk menikmati udara segar yang sangat ia rindukan sejak lama.
Ia tersenyum, ya, sejak tadi dia selalu tersenyum, saat Naira mengatakan kalau suaminya sudah jadi wakil CEO di perusahaan milik Lu Zafier.
Huhh!
Untung saja Tuan Muda Lu Zafier tidak membenci dia seperti yang ia bayangkan, ia amat bersyukur saat mendengar penjelasan itu dari Naira.
Hanya saja, ia tak pernah tahu akan ada kejutan yang tengah menunggu kedatangannya.
Tersenyum saja dia, sampai akhirnya mobil taksi berhenti di sebuah tempat, di depan rumah yang sangat besar dan mewah, bercat putih yang di padu padankan dengan nuansa abu-abu.
Hana tersenyum, di pandanglah rumah itu dengan seksama, rumah ini bahkan sepuluh kali lipat jauh lebih besar dari rumah mereka dahulu, aish, yang benar, ya, rumah mendiang ibu mertuanya.
__ADS_1
Ia masih tak bergeming, memilih untuk menunggu dari dalam taksi saja, karena pikirnya, orang sibuk pasti tidak akan pulang di jam seperti ini, paling tidak, tunggu sampai dua jam lebih saja.
Ia pun masih setia menunggu, sesekali matanya melihat dan menatapi situasi sekitar rumah yang memang terlihat sepi, sampai akhirnya ia melihat seorang suster mengajak anak kecil keluar dari rumah itu.
Senyumnya mulai agak buram, di pandanglah anak kecil berjenis kelamin laki-laki itu yang tengah asik makan dalam gendongan susternya, lalu hanya sebentar saja, setelah itu mereka pun terlihat masuk kembali ke dalam rumah.
Hana hanya bisa mengacuhkannya, tak punya pikiran negatif atau pun semacamnya, dia tilik lagi jam di ponselnya, ya, selama ini ponsel miliknya dia titipkan di rumah Naira dengan aman, jadi setelah dia bebas, dia bisa menggunakannya kembali.
Terlihat sudah jam dua siang di sana, Hana memilih untuk sebentar saja memejamkan matanya, sampai tak terasa waktu sudah agak sore, terdengar mobil yang kemudian datang menuju pelataran rumah tersebut.
Hana terkejut. Di usaplah matanya sampai wajah pucatnya terlihat sangat bersih, lalu dia kembali duduk dengan rapi sambil menatapi mobil hitam mewah yang baru saja terparkir di pelataran rumah tersebut.
Hana tersenyum, saat melihat seorang pria laki-laki yang turun dari mobilnya, mengenakan kacamata hitam, membuat tampilannya berubah sangat tampan dan bergaya.
"Itu suamiku..." Ucap Hana dengan lirih, lalu dengan bergegas dia mencoba membuka pintu taksi.
Namun mendadak, kejutan pun ia dapat. Ia urung membuka pintu taksinya usai mendapati Allianz yang berjalan ke sisi kiri mobil, dan hendak membukakan pintu mobil untuk seseorang.
Ia terdiam sebentar, sampai akhirnya, dia mendapat kejutan besar di sana.
Seorang wanita berpakaian mewah, mengenakan kacamata hitam, dan memiliki bibir yang cukup merah menggoda terlihat turun dari mobil Allianz dengan senyum lebarnya, mengucapkan terima kasih pada Allianz.
"Terima kasih, sayang..."
Deg!
Jantung Hana serasa mau berhenti saat ia menyadari kalimat itu terucap dari mulut wanita itu. Meskipun dia tak terlalu jelas mendengarnya, tapi gerakan bibir wanita itu benar-benar jelas mengucapkan kata sayang pada Allianz.
Ia tertegun. Ia tak mampu bergerak, atau sekedar berbicara saja rasanya tak lagi bisa.
Tak lama setelah itu, keluarlah sosok anak kecil tadi bersama dengan suster yang sama yang tadi menggendongnya dan menyuapinya makan.
"Hai sayang...." Anak itu di rengkuh saja oleh ibu dan ayahnya dan di peluklah dia dengan hangat.
"Alvis sayang, apa kau merindukan ayah dan ibu?" tanya Visha pada anak laki-laki miliknya.
Di saat itu, barulah Hana sadar, ada yang tidak beres dengan suaminya. Ia masih diam di dalam mobil, sambil terus memperhatikan wanita itu, mencoba menerka siapa dia sebenarnya.
Hingga pada menit berikutnya, wanita itu terlihat membuka kacamata hitamnya, dan memperlihatkan dengan jelas siapa dirinya pada sosok Hana.
Jlger!!
Bak petir yang menyambar di siang bolong, hati Hana remuk sudah di hancurkan oleh sebuah pemandangan mengagumkan di depan matanya.
Sosok wanita yang telah lama ia cemaskan, pun ia rindukan, dan wanita itu, kini dia bersanding di samping suaminya. Apa mungkin semua yang ia pikirkan tentang hubungan mereka benar?
Hana memilih untuk beranjak dari kursinya, dan membuka pintu taksi. Di buka saja oleh wanita itu, dan kemudian berdiri saja Hana di sisi taksi yang mengantarnya.
Di dengar kan dengan jelas apa yang sedang di bicarakan oleh mereka berdua di halaman rumah itu, sampai akhirnya, ia mendengar sebuah kalimat yang amat melumpuhkannya.
"Kau lihat? ibu kamu masih segar, kan, walaupun sudah berbulan madu dengan ayahmu ini?"
Hana tak mampu berkata-kata lagi, semua yang ia saksikan, dan semua yang dia dengar, sudah mengatakan dengan jelas, kalau mereka punya hubungan istimewa, mungkin layaknya suami dan istri.
Dia terjatuh, bersandar di taksinya, dan menangis di sana, menangis dengan lirih, namun berteriak sekencang-kencangnya di dalam hati.
Hancur dan remuk sudah hatinya yang memang sudah rapuh. Begitu kejamnya apa yang dia alami saat itu, begitu kejamnya perlakuan suaminya yang tega mengkhianatinya dengan sahabat karibnya sendiri.
Ia masih terus menangis, meratapi kebodohan, dan juga pengkhianatan kejam yang harus dia alami lagi, dan juga lagi.
Seolah tidak ada habisnya takdir mengecewakannya, hingga ingin sekali ia menyerah. Namun benarkah ia harus mengambil jalan pintas untuk menyerah pada takdirnya?
Ia masih terus menangis, namun kali ini dia tak mau larut. Sudah habis baginya sebuah kesabaran, mengalah, dan menerima, semua itu sudah tidak bisa lagi dia lakukan.
Ada kalanya dia harus bangkit dari keterpurukan, ada kalanya juga dia harus melawan pengkhianatan. Pengkhianat adalah sampah, apa dia akan menangisi sampah yang pantas untuk di buang?
__ADS_1
Lalu apa yang akan dia lakukan sekarang? apa dia bisa mengakhiri perang hatinya dan mampu mengambil keputusan tepat untuk masa depan rumah tangganya bersama Allianz kelak?
Flashback Off?!!!