
"Apa adik kamu lebih mementingkan anak angkat itu di banding aku? sebenci itukah dia padaku, Mas?" tanya Visha pada sang suami, membuat suaminya berhenti bermain dengan anaknya.
"Dia hanya kesal, setelah kita beri kado anak ini, dia pasti akan luluh, jangan terlalu mempersulit keadaan, yang penting kan masih ada aku.." Ucap Allianz tidak lupa juga senyum manisnya.
"Hah.. jadi aku harus terus mengalah? begitukah? mas, bagaimana kalau Hana keluar dari penjara kelak? apa kau akan tetap di sini untukku, atau kau akan memilih adik dan istri pertama kamu lalu meninggalkan aku?" mendadak ia bertanya satu hal yang membuat Allianz sedikit kesal.
"Vish, kau jangan bicara macam-macam, aku tidak mau berdebat denganmu, sudah cukup Naira membuat aku puas berdebat, kau cobalah untuk jangan mendebat aku, kau mengerti?"
"Mendebat kamu? hey! aku hanya wanita biasa, yang kau nikahi tanpa sepengetahuan Hana, aku sedang menuntut atas hakku, dan juga hak anakku, aku hanya ingin memastikan kalau suatu hari kau tidak membuang aku meski Hana sudah kembali.."
Merasa situasi semakin memanas, Allianz buru-buru menenangkannya. Ia tak mau kejadian ini mempersulit hubungannya dengan Visha. Ya, bagaimanapun juga, dia berhutang budi pada wanita yang telah melahirkan anak untuknya ini.
"Baiklah, sayang, aku minta maaf, aku janji, tidak akan berbuat seperti yang kau bayangkan, aku akan tetap mencintai kamu, dan mengerti akan posisi kamu... Baik, sekarang, kau tenanglah, jangan banyak pikiran, ya?"
Visha mengusap air matanya, entah ia sedih karena ia takut kehilangan Allianz, atau ia sedih karena seakan keluarga Allianz tidak pernah mengakuinya, ia sendiri pun tidak tahu.
Hanya saja, untuk saat ini, dia butuh seseorang untuk menopang hatinya yang kacau.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Aku dengar Visha melahirkan hari ini.." Ucap Ardian malam harinya usai di sibukkan seharian mengajak Zhoulin jalan-jalan ke kebun binatang.
"Ya, aku juga mendapat kabar dari kak Allianz, dia si bilang katanya aku harus ke sana, ya, mendukung Visha saat melahirkan.." Jawab istrinya sambil menyambar camilan di atas meja.
"Terus, kamu jawab apa?" tanya Ardian lagi.
"Mana mungkin aku mau, ya, aku bilang aku sedang menghabiskan hari liburku dengan Zhoulin." Jawab Naira atas pertanyaan dari suaminya.
"Hahh! aku jadi bingung dengan keadaan keluarga kita sekarang," ucap Ardian lagi.
"Bingung kenapa?"
"Rasanya makin jauh saja, gara-gara kejadian dua tahun lalu, semuanya mendadak berubah total, yang jadi korban, ya, si Hana, kasihan dia, harus menanggung semua beban masalah seberat ini seorang diri, sedangkan suaminya, lihatlah! dia bahkan masih saja di buat sibuk oleh istri keduanya, dia bahkan makin jatuh cinta sama Visha, dan perlahan-lahan mulai melupakan Hana, huhh! andai saja semuanya tidak seperti ini, bukankah seharusnya kita akan bahagia selepas kepulangan Hana dari kota S?" tanya Ardian pada istrinya.
"Kau benar, susah payah kita mencari wanita itu, bahkan sampai harus keluar banyak uang untuk di kerahkan, seharusnya kita sedang berkumpul dan menikmati waktu kebersamaan kita di sini, bukankah kedatangan Visha dan mendiang Lu Zamorgan sungguh sebuah bencana?"
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Hana kelak saat tahu semuanya.." Mendadak Ardian merasa sedih.
"Aku dengar dia punya keringanan hukuman, katanya karena dia bersikap baik selama di dalam penjara, jadi hukumannya akan di kurangi, apa itu benar?"
"Ya, meski masih belum jelas benar seperti itu atau tidak, tapi yang aku dengar dari Hana kemarin begitu.."
"Baiklah, kita tunggu saja, apa kabar itu memang benar adanya.."
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Langit senja di ufuk barat mulai tenggelam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya malam pun hadir, menutup senja indah di balik bukit, dan menghadirkan bintang-bintang yang bertaburan dengan indah di langit.
Berteman rembulan yang seolah tersenyum, di iringi semilir angin yang dingin, suara gemericik air kolam ikan yang mengalir di belakang rumah mereka, malam ini rasanya senang sekali.
__ADS_1
Malam pertama bayi mereka berdua masuk ke dalam rumah mereka, dan akan menjadi pengisi keheningan selama ini, bayi yang tampan dengan nama Alvis, gabungan antara nama Allianz dan juga Visha. Bukankah mereka sungguh merencanakan nama yang sangat bagus untuk buah hati pertama mereka?
Semenjak malam itu, kehidupan keduanya di penuhi warna, bak pelangi yang tersusun dengan rapi, agaknya seperti itulah jalan hidup mereka yang selalu berhias kebahagiaan dan juga kehangatan.
Makin lama Allianz makin lupa apa tujuan awalnya dia menikahi Visha, untuk membalas dendam? tidak lagi, sekarang ia menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan semenjak menikah dengan wanita ini.
Di tambah lagi kehadiran buah hati yang menjadi pemanis hubungan keduanya, semakin sini rasanya semakin menyenangkan.
Melihat tumbuh kembang anak yang seolah begitu cepat terjadi, melakukan sesi pemotretan bersama, sampai menyuapi anak berdua, semua itu dia lakukan, yang kini atas nama kasih sayang.
Ia sadar, ia amat menyayangi keduanya, tak ingin kehilangan mereka berdua, dan seolah tidak perlu lagi ada wanita lain yang menghiasi hidupnya, ya, seperti Hana...
Baginya Hana sudah lama mati, tak lagi ia sentuh nama itu meski lewat relung hati terdalamnya, karena sekarang hidupnya sudah sangat sempurna.
Kemewahan yang mereka punya, rumah yang besar, mobil yang bagus, uang banyak, dan satu hal lagi yang paling penting, kehangatan sebuah keluarga.
"Buka mulutmu sayang... aaaaa..."
Si kecil yang sudah berusia sembilan bulan nampak membuka mulutnya, dan masuklah satu sendok bubur suapan dari Allianz ke dalam sana..
"Yeayyyy!!!"
Prok!
Prok!
Prok!
"Sayang, kau tidak mau makan?" tanya Visha dengan lembut pada suaminya..
"Aish! sebentar sayang, aku sedang memasukkan satu sendok bubur untuk Alvis, lihatlah, dia sangat lahap memakannya, aku tidak tega kalau harus meninggalkan dia.."
Visha memiringkan senyumannya, sambil terus bergerak menata hidangan makan malam untuk sang suami.
Rutinitas kesehariannya memang selalu seperti itu, hanya di saat hari libur saja dia tidak memegang centong nasi dan tidak menggunakan celemek.
Setiap hari libur, Allianz selalu melarang istrinya untuk masak di rumah, dan memilih untuk mengajak wanita itu makan di luar. Katanya biar tak cepat tua.
Perhatian yang selalu di berikan oleh Allianz untuknya memang semakin membuat dia jatuh cinta, bahkan sangat dalam.
Allianz selalu memanjakannya dengan berbelanja barang-barang yang mewah, membelikan tas baru, dan sering juga memberi hadiah setelah ia mendapat bonus besar dari kantornya.
Kini Visha nampak mendekat, lalu memeluk sang suami dari arah belakang. Ia melingkarkan tangannya di leher suaminya, dan bermanja di sana.
Usia suaminya yang sembilan tahun jauh lebih tua darinya membuat dia selalu merasa nyaman di dekat pria ini, karena sikap Allianz yang sangat dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan mereka.
"Sayang, bukankah kau juga lapar? apa kau sungguh tidak ingin makan lebih dulu?"
"Aaahhh, sayang jangan membujuk aku dengan lembut seperti itu, aku jadi tidak bisa menahannya," jawab suaminya dengan lembut pula.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita makan, Alvis akan di urus suster, jadi pikirkan juga perut kamu, oke?"
"Kau memang sangat perhatian.."
Memang, Visha semakin perhatian pada suaminya, apa lagi setelah dia merasa cinta suaminya sekarang sudah seutuhnya menjadi miliknya, seolah seluruh dunia tidak lagi penting bagi Visha, selain kebahagiaan yang kini ada pada dirinya.
Keduanya beranjak dari ruang tengah, yang letaknya tak jauh pula dari ruang makan. Seorang suster mendekat ke arah Alvis dan bergantian menyuapi bayi kecil itu.
Sementara ayah dan ibunya terlihat menyantap hidangan makan malam bersama di ruang makan.
Keduanya terlihat duduk berhadapan sambil menyantap lezatnya masakan Visha yang memang amat menggiurkan, meskipun setiap hari harus mencicipinya..
Seolah tak bosan terus menerus memakan hasil olahan tangan Visha, Allianz justru selalu enggan memakan makanan luar saat dia bekerja di kantornya, selalu membawa bekal dari rumah, dan sorenya, usai kerja pun langsung pulang ke rumah, hanya untuk makan makanan Visha.
Hanya hari libur saja yang ia gunakan satu keluarga untuk rehat sejenak dari rutinitas yang biasa mereka kerjakan, karena baginya, hari libur adalah kesempatan bagi dia dan Visha untuk beristirahat sejenak.
"Bagaimana kabar perusahaan? aku rasa, kau semakin senang akhir-akhir ini, apa kau merasa sangat baik bekerja di sana?" tanya Visha pada sang suami yang tengah lahap makannya.
"Ya, lumayan membuat aku pusing, akhir-akhir ini aku harus di sibukkan dengan berbagai dokumen pembangunan yang sedang di kerjakan di kota M, mungkin bulan depan aku harus terbang ke sana untuk mengurusnya langsung di lapangan," ucap Allianz pada istrinya.
"Semkga sukses.." Begitulah ucapan singkat dari Visha dengan tulus pada suaminya atas ucapan Allianz yang sangat panjang barusan.
"Kau mau ikut?"
"Apa?"
"Ya, setidaknya kita bisa jalan-jalan dan berlibur untuk beberapa hari di sana, lumayan, kan, katanya tempat wisatanya sangat ramai, apa kamu tidak tertarik untuk berlibur ke sana?"
"Baiklah, akan aku pikirkan..."
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Blam!
Pintu mobil di tutup, mereka sudah siap pergi bekerja sekaligus berlibur untuk beberapa hari ke depan.
Atasan Allianz memberi izin pada mereka untuk berlibur selama satu Minggu usai Allianz berhasil menyelesaikan pekerjaan di kota M.
Tak perlu di ragukan lagi, otak cerdas yang memang di miliki oleh Allianz berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih cepat, hingga akhirnya atasan Allianz merasa puas dengan hasil pekerjaan pria itu.
Ya!
Akhir-akhir ini dia memang acapkali mendapat pujian, karena kerja keras dan kerja baik yang ia lakukan selama ini, tak bisa di pungkiri, perusahaan memang menjadi semakin maju usai kedatangan Allianz di sana.
"Sayang, aku sudah selesai.. Kita bisa menghabiskan waktu satu Minggu untuk berlibur di sini..."
"Terima kasih kau telah memberiku kebahagiaan.."
Cup!?
__ADS_1
ππππππππππ