Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Melihatnya Di H.A. Group


__ADS_3

*Entah apa yang sedang terjadi dalam kehidupanku saat ini*..


*Entah bagaimana bisa aku menjadi serapuh dan tidak berdaya seperti ini, terlihat bodoh di depan semua orang, dan terlihat seperti orang gila*..


*Aku yang semula mendapat julukan wanita tercantik yang berhasil mengambil hati seorang direktur marketing bernama Allianz, padahal aku yang telah menemani dia sejak awal berjalan*.


*Tapi kini, senja seolah telah berada di pelupuk mata. Aku memang masih muda, tapi kecantikan ini, barulah aku rasakan tidak ada gunanya lagi*..


*Otak yang di asah dengan cara di paksa, menuntut pekerjaan untuk mencari uang dalam jumlah besar dan tentu saja dalam posisi berkelas*..


*Aku mampu melakukan hal itu, tapi saat aku di hadapkan dengan masalah rumah tangga antara aku dan Allianz*....


*Aku malah jadi sangat rapuh*..


*Kakiku bahkan tak lagi mampu berjalan ke arah yang entah kemana aku tuju, aku bingung dengan hidupku, dan juga beragam sisi yang membawaku seakan menjadi orang paling gila di dunia ini*..


*Aku dengar begitu jelas suara Sheila yang mengatakan dia sedang bersama suamiku, dia sedang tidur dalam pangkuanku, dan dia sedang menikmati kehangatan dalam pelukanku*..


*Tapi ternyata, akulah yang terjebak dalam situasi rumit ini karena kebohongan dia padaku*..


*Aku jadi bertengkar dengan suamiku, bahkan ia tak pernah pulang dengan alasan menginap di hotel akan lebih memudahkan dia menuju ke tempatnya bekerja. Sejujurnya, di mana dia bekerja pun, aku tak pernah tahu*..


*Dia terus saja mengalihkan perbincangan kami saat aku berusaha bertanya di mana tempat dia bekerja. Ia selalu beralasan akan memberitahu aku nanti setelah mendapat gaji pertama*...


*Aku merasa di bohongi sana sini, merasa jadi manusia yang penuh dengan kecurigaan pada suamiku sendiri*..


*Jika aku berkata aku tidak sakit hati, itu bohong! hati siapa pula yang tak sakit saat di bohongi oleh suami sendiri, meskipun kini aku menjadi bimbang, antara tidak percaya pada suamiku sendiri, dan juga tidak mempercayai panggilan aneh di ponselku*..


*Tapi bagiku, kebohongan yang Allianz lakukan padaku, sudah lebih dari cukup membuat hatiku pedih*..


*Sekarang aku hanya ingin menemui suamiku, aku ingin mengajak dia bicara dan berterus terang apa yang sebenarnya terjadi*..


*Hidup selama dua bulan lebih tanpa adanya kabar, hanya bisa bertanya sedang apa kau dan kenapa kau tidak pulang, bagiku sungguh sangat membosankan*..


*Aku harus tahu mengenai semuanya, aku harus membuka semua yang telah kau sembunyikan dariku selama ini*..


*Bukankah seorang istri wajib tahu apa yang di lakukan oleh suaminya di luar sana? hanya saja, mungkinkah dia tidak akan lari saat aku temui nanti*?


Cittttt!!


Mobil Visha di rem mendadak saat dia tak sengaja melihat suaminya yang baru saja keluar dari hotel seorang diri.


Visha memang menduga suaminya akan menginap di hotel ini, ia tahu uang saku suaminya tak begitu banyak, jika tak melakukan pekerjaan yang berpenghasilan tinggi, ia tak akan mungkin datang ke hotel dengan harga per malam yang fantastis.


Namun belum juga dia sampai di pelataran hotel, ia malah menjumpai suaminya yang sudah bersiap pergi entah kemana, tentunya dengan pakaian yang sangat rapi.


Mungkin saja Allianz akan pergi ke kantor tempat dia bekerja sekarang.


Pada mulanya Visha ingin turun dan menemui suaminya. Tapi melihat situasi yang tidak memungkinkan sama sekali membuat ia akhirnya urung melakukannya. Ia hanya bisa terdiam di mobilnya, sambil mengantarkan langkah kaki Allianz menuju ke taksi dengan kedua matanya.


Tak begitu lama ia menunggu, sampai akhirnya mobil taksi yang di tumpangi suaminya pun mulai bergerak.


Ia pun menyusul dari belakang dengan harapan ia akan segera berjumpa dengan suaminya dengan sangat bahagia, ya, jika tidak bahagia, minimal suaminya akan sedikit merasa senang bisa berjumpa dengan istrinya.


...----------------...


"Benar sekali, Nyonya, dia bekerja di sini.." ucap Zarren sambil memperlihatkan berbagai dokumen anggota milik seseorang.


Hana menatap dan membaca beberapa larik tulisan di atas kertas, sampai akhirnya, dia tercengang melihatnya.


"Dia terpilih saat selesai yang di lakukan sekitar satu bulan yang lalu, dia punya kinerja yang bagus, bahkan di kantor kita pun, dia sangat rajin, entah dia tahu ini perusahaan anda atau bukan, tapi yang jelas dia sangat berkompeten dalam bidang pemasaran," ucap Zarren dengan datar, "terhitung penjualan kita naik 0,4 % sejak dia terjun langsung ke lapangan dan mengurus semuanya dengan sangat baik.."

__ADS_1


Pak!


Hana meletakkan semua kertas dalam genggaman tangannya di atas meja dengan lumayan agak keras hingga terdengar suaranya sampai ke telinga Zarren.


"Bodohnya aku yang tidak tahu hal ini, kenapa aku sampai lalai dalam seleksi itu? biasanya aku yang mengecek karyawan baru yang lulus seleksi, saat itu, aku malah sibuk mengurus proyek di Utara itu.." ucap Hana sambil memijat keningnya.


"Apa perlu saya katakan pada Axel untuk memecat dia demi kenyamanan anda?" tawar Zarren dengan ramahnya.


Namun Hana langsung mengangkat tangannya, memberi kode pada Zarren untuk berhenti bicara, "tidak perlu! dia mau bekerja di mana, itu terserah dia, lagi pula perusahaan tidak bisa memecat karyawan yang memiliki kinerja tinggi dan berkompeten, jadi biarkan saja, aku tidak akan mengganggu siapapun," ucap Hana dengan santainya.


"Baik, Nyonya.."


"Zarren, pagi ini aku belum sarapan karena berangkat terlalu pagi, aku harus keluar terlebih dahulu untuk sarapan, tolong antarkan aku.." ucap Hana dengan datar.


"Baik, Nyonya..."


Kini Zarren terlihat bangkit dari kursinya, meninggalkan Hana di dalam ruangan dan kemudian menyiapkan mobil di luar.


Sementara itu, terlihat Hana yang juga menyusul setelah ia berhasil mengemas ponsel dan beberpaa barang miliknya dimasukkan ke dalam tas kecilnya.


Ia kemudian berjalan menyusul Zarren di belakang dengan wajah bingungnya. Bagaimana tidak, ia mendapati mantan suaminya yang ternyata telah bekerja di perusahaan miliknya selama satu bulan terkahir.


Ia bukannya tak suka, hanya saja, rasa canggung dan kesal itu masih ada. Tapi suaminya bahkan lulus seleksi dan berhasil di terima di perusahaan miliknya tanpa dia ketahui.


Yang membuat Hana kesal dan juga bingung adalah, rekaman cctv yang berada di tangan Axel, rekaman cctv yang mengambil kejadian di malam sebelum terjadinya tragedi wanita mengamuk di tokonya, ia bahkan mendapati ciri-ciri pelaku pria itu mirip dengan Allianz, dan ia tak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu ternyata adalah benar.


Bukankah hal itu sama seperti dia mempekerjakan seorang pengkhianat dalam perusahaannya sendiri?


Aish!


Langkah kakinya bahkan di penuhi dengan kebimbangan. Sampai akhirnya, keluarlah dia dari kantornya.


Namun yang sangat membuat dia terkejut adalah, ia berpapasan dengan seseorang.


Keduanya memaku di tempat saat saling berhadapan dan berjumpa setelah kejadian pertemuan mengejutkan dalam pesta ulang tahun perusahaan Lu Zafier.


Hana memiringkan senyuman di bibirnya. Ia menatap wajah Allianz yang nista dengan sangat heran. Bagaimana bisa dia dan mantan suaminya kembali di pertemukan dalam perusahaan miliknya itu? apa sampai sepayah itu sosok Allianz, sampai harus turun dari jabatan direktur marketing menjadi karyawan biasa yang terjun langsung ke lapangan?


"Hah! kau rupanya.."


Pria bertubuh kekar dan brewok di dagunya itu terlihat menatap Hana penuh dengan kebencian, ia bahkan tak mengira akan secepat ini berjumpa dengan Hana.


"Kenapa? kau mau menertawakan aku?" ucap Allianz, "kau ingin menghina aku karena sekarang aku yang jadi bawahan kamu?!"


"Ck!"


Hana hanya terlihat kesal menghadapi pria keras kepala dan tidak mau kalah ini. Ia bahkan tak habis pikir, di saat kondisi sedang seperti ini, Allianz masih saja mengutamakan gengsinya.


"Apa Visha sudah tahu?!"


Deg!


...----------------...


Di sisi lain, Visha telah tiba di sisi jalan tempat mobil menepi, tepatnya di depan area perkantoran milik Hana.


Ia ingin sekali turun dari mobilnya, melihat taksi yang di tumpangi Allianz berhenti dan masuk ke dalam kantor itu, membuat dia penasaran kantor mana yang berhasil memberi suaminya sebuah pekerjaan.


Ia melongok ke atas, melihat nama yang tertera di gedung dengan bentuk yang besar, memperlihatkan nama dari perusahaan yang di pijaki suaminya sendiri.


Jeder!!!

__ADS_1


Namun dia begitu terkejut saat melihat nama perusahaan di sana. Ia bahkan tak bisa bernafas sejenak tatkala kedua matanya menangkap hasil penelitian yang mengejutkan.


*H.A. Group*?!


Ya! suaminya bekerja di perusahaan yang di kelola oleh Hana, bekerja di perusahaan milik mantan istrinya, dan sekarang, ia akhirnya tahu apa yang di sembunyikan oleh suaminya dari dulu.


Hatinya bergetar tak menentu. Pada mulanya ia tak menitihkan air matanya sama sekali. Ia hanya bisa tertegun dan tak bisa berkutik dari mobilnya, seolah ada magnet yang menarik tubuhnya untuk diam di dalam mobil.


Ia masih saja tak percaya dengan kenyataan yang dia lihat saat ini. Hatinya hancur dan tidak karuan, kecewa pada suaminya yang ternyata telah menjadi bagian dari perusahaan yang di kelola oleh mantan istrinya.


Kecewa karena tak kunjung mendapat penghasilan baginya tak seberapa besar di banding kekecewaan akibat di bohongi oleh suaminya sendiri.


Pantas saja Allianz selalu menolak jika di tanya di mana dia bekerja, dan apa posisinya dalam perusahaan itu, rupanya inilah yang di maksud oleh Allianz, inilah rahasia suaminya selama ini.


Hingga akhirnya, dia kuatkan lagi hatinya. Ia tegarkan dirinya untuk melangkah keluar dari mobil.


Ia buka pintu mobil dan keluarlah tubuhnya dari sana, mencoba untuk mencari penjelasan dari suaminya.


Langkah kakinya agak ragu, pun agak terasa berat. Tapi sekuat tenaga dia coba untuk meyakinkan hatinya, meyakinkan perasaannya, dan memaksa kakinya untuk terus melangkah maju.


Sampai pada akhirnya, ia mendapat pemandangan yang tak pernah terduga.


Suaminya tengah berdiri dan bercakap-cakap dengan mantan istrinya di depan perusahaan Hana. Wajah Hana yang semakin terlihat cantik pun awet muda, dengan pakaian branded serba mahal dan berkelas membuat hatinya bergemuruh semakin hebat.


Berdiri saja tubuhnya memaku dari kejauhan menandai mereka berdua di sana, menatap keduanya dengan penuh kebencian dan juga kesedihan.


Telinganya mencoba awas mendengar, meneliti apa saja yang di bicarakan oleh kedua orang di sana, di paksa saja ia untuk mendengar semuanya dari kejauhan.


"Dia tidak tahu.." jawab Allianz dengan lirih.


Hana membuang nafasnya dengan kasar tatkala mendengar jawaban yang telah dia duga dari Allianz.


Sudah pasti Visha tidak tahu apa yang suaminya lakukan di belakangnya. Ia sudah menduganya sejak beberapa hari lalu saat Visha mendatangi rumahnya dan berkata kalau suaminya sudah tidak pulang selama lebih dari satu bulan.


Ia tertegun tanpa menatap ke arah Allianz sedikitpun. Baginya pemandangan wajah Allianz di depan matanya hanya akan mengotori pandangan matanya saja.


"Dia lelah mencarimu, dia juga datang ke rumahku menanyakan apa aku pernah melihat kamu atau tidak.." ucap Hana sambil terus memalingkan muka, enggan untuk menghadap ke arah Allianz, "dia pasti akan sangat kecewa karena kau tidak pulang!"


"Kau sedang menasehati aku? kau pikir kau ini dewa?!" tanya Allianz dengan sangat kesal.


"Dewa? kau pikir aku dewa? apa dewa akan merasa sakit saat hatinya terluka?!" tegas Hana di depan wajah Allianz, "aku hanya memberitahu kamu, seorang wanita yang hidup dengan pria dalam rumahnya, dia akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk laki-laki itu, jika kau menyakiti dia sama seperti yang kau lakukan padaku, artinya kau harus bisa berkaca diri, seberapa pantaskah kamu untuk wanita, sampai kamu tega menyakiti dua wanita dalam hidupmu sendiri!"


Visha masih menatap keduanya dari kejauhan, menangkap pertengkaran kecil antara Hana dan Allianz di sana, merasa sedikit malu pada dirinya sendiri yang telah mengkhianati Hana, tapi yang dia lihat saat itu adalah, Hana malah membelanya.


"Aku tahu tidak ada wanita yang sempurna, apa lagi wanita cacat seperti aku, dan wanita pengkhianat seperti Visha.." ucap Hana dengan penuh luka.


Visha memicing. Matanya menatap dengan nanar wajah Hana pada saat mengatakan dia seorang pengkhianat, entah mengapa air matanya mendadak luruh dan jatuh mengenai pipi manisnya.


"Tapi kamu juga tidak selamanya tak bersalah, kau mungkin menuduh aku selingkuh dan kemudian berpaling pada Visha untuk pelarian semata, tapi dia adalah wanita yang sudah ditakdirkan untuk kau jaga dalam hidupmu! pantaskah kau menyakiti tulang rusukmu sendiri?!" pertanyaan dari Hana menohok kepada Allianz membuat pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, merasa benci entah pada hal apa.


"Diamlah! aku tidak mau berdebat denganmu, meski kau atasanku, tapi jika kau terus menjatuhkan harga diriku hanya karena masa lalu.."


"Yang aku bicarakan ini bukan masa lalu! aku sedang membicarakan yang sedang terjadi!! bukankah kau tak pernah tahu bagaimana khawatirnya istri kamu karena kamu tidak pulang selama satu bulan lebih?" Hana menoleh, dan tak sengaja melihat Visha yang tengah berdiri mematung di parkiran kantornya, membuat dia tertegun melihatnya.


Melihat wajah Hana yang berpaling dan malah berdiam dalam pandangannya, membuat Allianz ikut menoleh.


Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Visha di parkiran sana, dengan air mata yang sudah menguasai pipinya..


"Jelaskan secara pelan-pelan! jangan buat kesalahan kedua.." ucap Hana lalu akhirnya beralih pergi menuju ke mobilnya.


"Aku berharap kau tidak mengulangi lagi kebodohan kamu itu!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2