
Aku tak tahu apa yang aku rasakan dalam hati kecilku pada hari itu..
Malam yang memberi aku sebuah kejutan besar dalam seumur hidupku, saat dimana aku menjumpai suamiku telah bahagia dengan istri barunya, Visha, yang tak lain adalah sahabat baikku sendiri..
Dia yang mengajarkan aku apa artinya persahabatan, dia yang membuat aku menyadari bahwa di dunia ini, tidak ada yang namanya ketulusan..
Aku bahkan tak pernah menduga dia akan mengkhianati aku setelah dirinya memintaku untuk tidak mempercayai Allianz, dia mengatakan padaku bahwa penantian selama ini yang aku lakukan hanya untuk Allianz akan sia-sia, tak akan berbuah apapun..
Namun rupanya dia sendiri yang membuat aku harus kehilangan segalanya, dia yang membuat aku harus kehilangan suamiku, dan juga kebebasanku, kebebasan yang terpaksa direnggut selama dua setengah tahun di dalam penjara, dan mirisnya lagi, ia merebut segalanya dariku, suamiku yang paling aku cintai, dan karena dia juga, aku akhirnya sadar, betapa bodohnya aku selama ini, yang tak pernah memahami apa arti sebuah cinta.
Cinta yang datang namun tak pernah tulus untukku, cinta yang tulus, namun tak bisa mengalah dari egonya, dari harga dirinya, dari kekerasan hatinya.
Namun pada malam itu, takdir seolah mengubah segalanya..
Entah aku harus merasa senang atau bersedih saat mendengar berita mengejutkan yang harus aku dengar dengan kedua telingaku..
"Naikkan lagi!"
"Satu.. dua…. Tiga…"
Wanita itu sedang berada di dalam ruangan operasi. Dengan alat pacu jantung yang sejak tadi terus saja dicoba untuk menyelamatkannya..
Peluru memang berhasil dikeluarkan dari jantungnya, namun pendarahan hebat terjadi, dan jantungnya berubah menjadi sangat lemah..
Aku tak menangis, namun tak juga mampu tersenyum, terbayang di depan mataku semua yang telah terjadi di antara kami, semua yang pernah dia lakukan padaku, semenjak dia menjadi kawan baikku, lalu setelah itu berubah menjadi perusak rumah tanggaku, dan berlalu menjadi musuhku, ya, semua yang kami lalui seolah berputar seperti roda mobil yang bergerak di jalan raya..
"Naikkan lagi!!"
"Nyonya, Nyonya Visha meninggalkan ini untuk Nyonya.."
Pelayan itu memberi Hana sebuah surat, surat yang ditulis seperti telah direncanakan, karena tulisan tangan itu sangat rapi, namun isinya, benar-benar membuat Hana merasa sesak.
Hallo, Hana?!
Apa kabarmu hari ini? Aku tahu kau pasti masih sangat terkejut dengan semua yang aku lakukan padamu malam ini, tapi mungkin, sepucuk surat ini mampu mewakili rasa bersalah di dalam hatiku padamu..
Kau menunjukkan padaku betapa Allianz membuat kita seolah menjadi wanita yang sama, bahkan kau juga mengira dia akan menyakiti kita dengan cara yang sama pula..
Aku bukannya tidak mempercayai kamu, tapi aku hanya mencintai satu orang pria, aku tidak bodoh, aku bukan wanita bodoh yang akan bertahan dengan seorang pria jahat yang telah mengkhianati aku dengan pernyataan cintanya padamu..
Tapi aku hanya yakin pada diriku sendiri, aku yakin kalau suatu hari nanti, dia akan berubah jadi lebih baik, dan dia akan berubah karena aku yang merubahnya..
Aku tahu betapa besar kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, di masa lalu, bahkan semalam, aku sangat bersalah padamu, karena itu, mohon maafkan aku, Hana…
Aku telah berjanji akan menyambut suamiku malam ini dengan hangat saat dia pulang, karena aku tahu, bagimu kebahagiaan kami lebih penting dari rasa sakit itu..
Aku telah memilih untuk menjalani hidup dengannya, membawa dia sejauh mungkin darimu, karena aku ingin dia cintai, aku ingin dia perhatikan, sama seperti saat dia bersamamu, aku juga ingin merasakannya..
kalau kau merasa terluka karena ucapan dariku, maka kau salah, karena sekarang dia adalah suamiku, dan dia sudah jadi masa lalu kamu, seharusnya yang terluka adalah aku, saat mendengar dia masih mencintai kamu, bukan aku, istrinya yang sekarang..
Namun aku telah memaafkan semua yang terjadi, meskipun aku tak yakin apa mungkin kau juga telah memaafkan orang seperti aku, yang terlalu besar dalam membuat kesalahan terhadap dirimu, tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku memaafkan Allianz dan juga kamu yang mungkin masih saling mencintai..
Aku hanya bisa berharap suatu hari aku bisa menjumpai dirimu lagi, namun jika tak ada kesempatan bagiku untuk berjumpa denganmu lagi, aku harap kau tak pernah menyimpan dendam untukku di hatimu..
__ADS_1
Sekali lagi, maafkan aku, Hana…
Hana menutup surat berisi curahan hati Visha panjang lebar yang berniat mengajak Allianz pergi jauh dari tempat ini, hanya untuk sekedar menghindari dirinya, yang masih mampu membuat Allianz jatuh cinta.
Hana kini menjadi diam, ia tak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaan di dalam hatinya yang amatlah rumit. Membenci Visha? Bagaimana dia bisa membenci wanita itu, sedangkan sejak dahulu, ia adalah orang yang paling menyayangi Visha lebih dari siapapun, mungkin juga termasuk untuk Allianz.
Namun merasa senang pun tidak, ia tak akan pernah merasa senang dengan keadaan yang menimpa sahabatnya saat ini. Melihat wanita itu terbaring koma di ranjang operasi, dengan oksigen yang terus membantunya bernafas, dengan alat pacu jantung yang mencoba membuat degup jantungnya kembali normal.
Tapi, takdir agaknya berkata lain..
Degup jantung itu hanyalah salam perpisahan dari Visha untuknya.
Bip..
Dan suara panjang nan menakutkan itu terdengar dengan keras di kedua telingaku, meskipun aku berada di luar ruangan, terbatas oleh kaca dan dinding yang tebal..
Pada saat itu, air mataku barulah luruh terjatuh menggenang di pipi, deras mengalir tanpa aku sadari, hingga menyadarkan aku, betapa lemahnya diriku yang sebenarnya, seolah aku adalah batu gunung yang keras, namun ternyata, aku selemah es mencair terkena pansa matahari..
Tubuhku ambruk di kursi tunggu, di samping Alvis, balita tak berdosa yang akhirnya menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya..
Aku tatapi Alvis sebentar, dengan perasaan ibaku, namun aku palingkan lagi arah pandanganku, karena aku sungguh tak sanggup menatap balita itu dengan waktu yang sedikit lama..
Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Alvis kelak saat ia tahu, ibunya telah tewas karena peluru yang ditembakkan oleh sang ayah..
Dan sejak tragedi di malam itu, aku jadi sadar, apa artinya menjadi seseorang yang pemaaf, apa artinya menjadi seseorang yang acuh, tak peduli dengan apa yang telah mereka lakukan dalam hidup kita..
Sejak awal aku memilih mengalah, karena bagiku, Visha adalah adikku sendiri, semnetara dia juga jauh lebih muda dariku, kurang kasih sayang dari seorang pria, hingga akhirnya aku mengalah mengikuti apa maunya, sampai harus aku relakan pula suamiku direnggut olehnya..
Ssshhhh
Ssssssshhhhhhh
Suara hujan yang amat deras mengiringi langkah kaki Hana meninggalkan pemakaman Visha. Setelah malam tadi Visha langsung meninggal di rumah sakit, pagi ini, saat hujan deras melanda, wanita itu pun akhirnya masuk juga dalam liang lahat, meninggalkan sang putra satu-satunya hasil buah cintanya dengan Allianz, Alvis.
Hana terlihat membuka ponselnya sesaat setelah dia memasuki mobilnya. Ia membuka pesan yang belum terbaca sama sekali, ada puluhan pesan dari kencang Visha sebelum kejadian itu terjadi.
Satu persatu pesan ia baca, dan ada satu pesan yang membuat dia tercengang kala membacanya..
Aku terlalu banyak dosa, aku harap kau mau memaafkan aku..
Lagi-lagi pesan seperti itu yang di tulis oleh Visha untuknya. Ia hanya bisa tersenyum kecut saat selesai membacanya.
Bagaimana aku tidak memaafkan kamu? Sedangkan kamu dan aku hanyalah korban dari orang yang sama, bedanya, kau pergi darinya karena dia membuat kamu pergi, dan aku lari darinya karena kau yang membuat aku berlari menjauh..
Dia tersenyum menutup layar ponselnya, setelah nomor Visha dia block dan dia hapus dari deretan kontak di ponselnya.
"Apa kita akan langsung pulang, Nyonya?" Tanya Zarren pada Hana.
"Aku punya janji yang harus aku tepati, tolong antarkan aku padanya.."
Dengan celah Zarren mengemudikan mobil milik Hana, menuju sebuah rumah yang telah berubah menjadi sepi, rumah mewah yang tak lagi berpenghuni, seolah rumah itu telah mati, tak ada satu orang pun yang tinggal di sana, kecuali seorang balita dengan beberpaa pelayan dan bodyguardnya.
__ADS_1
Hujan masih deras mengguyur, membasahi bumi tiada ampun, mungkin langit sedang tidak mau hitung-hitungan dengan tanah tandus di bumi. Sejak menjelang terbitnya matahari, sampai sekarang, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, hujan masih saja setia menemani Hana dalam setiap perjalanannya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Hana saat dia sudah berada di dalam rumah tersebut, melihat balita mungil anak dari sahabatnya dan juga mantan suaminya.
"Nyonya, maafkan aku, aku tidak bisa mengurus Alvis seorang diri, hartaku tak cukup untuk memberi dia makan," ucap suster itu penuh rasa iba.
"Ya, aku tahu, tapi aku sungguh tidak bisa membawanya ke rumahku, meski itu pesan terakhir mendiang Visha untukku.." jawab Hana pada mulanya dia menolak permintaan terakhir dari Visha.
"Nyonya, jika anda tidak bisa merawat Tuan Muda Alvis, lalu dengan siapa dia akan hidup? Jujur saja Nyonya, aku memang sangat menyayangi tuan, tapi uangku juga tak akan cukup untuk menghidupi Alvis untuk beberapa tahun ke depan," ucap wanita suster itu.
Hana jadi bimbang. Ia bukannya merasa dendam dengan kedua orang tua Alvis, hanya saja, dia pun tak yakin bisa menjaga Alvis di rumahnya, mengingat kesibukannya bekerja, dan lagi, apa ia masih bisa membagi waktunya Anatar bekerja dan menemani Alvis di rumahnya?
Pikirannya berdebat dengan kacau, merasa bingung dengan tindakan selanjutnya yang harus dia lakukan. Ia tak mungkin membiarkan anak ini hidup lantang lantung seorang diri di jalanan, sebab ayah ibunya telah pergi darinya.
Namun, ia juga tak akan mungkin bisa merawat Alvis di dalam rumahnya.
Arkh! Kenapa tidak? Bukankah rumahnya terlalu besar untuk dia tempati seorang diri? Bukankah semenjak kepergian Zhoulin, ia jadi merasa kesepian dan memang membutuhkan seorang teman di dalam rumahnya?
Lagipula uang bukan masalah utama untuknya, asal semua orang di sekelilingnya merasa bahagia, ia pasti rela melakukan apapun dengan uangnya sendiri.
Apalagi, dia bukan iblis seperti Visha dan Allianz, yang tega menyakiti hati orang lain dengan akal licik dan pengkhianatan yang amat menyakitkan. Ia wanita normal, yang berpegang teguh pada Agama, dan juga kebenaran.
Ia tak mungkin tega melihat Alvis menjadi anak tanpa didikan orang tua yang hidup terlantar di jalan raya, sedangkan dia menikmati masa tuanya hanya dengan uang dan kesepian.
Setelah lama berdebat panas dengan otaknya, Hana akhirnya bisa membuang nafas dengan panjang, lalu mencoba mengambil keputusan yang tepat.
Di tarik saja senyuman di bibir manisnya, dia tatapi suster yang tengah menggendong Alvis dalam pelukannya, lalu dia tatap mata balita tanpa dosa di hadapannya itu.
"Baiklah, Ibu Hana bukan orang yang tega melihat kamu terlantar, kamu menangis, maka Ibu Hana juga pasti akan ikut menangis, kau tahu, sayang? Ibu Hana tidak bisa punya anak, jadi kehadiran kamu nantinya, akan menjadi anak adopsi ibu, kau senang mendengarnya?!"
…….
"Kau gila!!"
Namun keputusan Hana tentu saja mendapat pertentangan oleh sahabat karibnya, Naira dan juga Ardian.
Berbeda dengan Ardian yang hanya bisa diam dan melihat situasi yang mulai memanas, Naira terus saja mengomel tiada henti pada Hana, selalu menyalahkan Hana atas keputusan yang sangat menjengkelkan itu.
"Bagaimana kau bisa mengadopsi putra dari wanita yang mengkhianati kamu? Bahkan melihat wajah pengkhianatnya saja membuat aku merasa muak!! Kau memang sudah sangat gila!!" Ucap Naira sangat kesal, dan seperti biasa, cerewet, banyak tanya.
"Nai, apa kamu lupa? Dia juga keponakan kamu, dia, kan, anak kakak kandung kamu.." ucap Hana membuat Naira berhenti bersikap keras kepala, dan perlahan mulai menatap dua mata milik Alvis yang warnanya bahkan sama persis dengan mata kakak kandungnya.
Melihat dua mata mungil itu, Naira jadi diam membisu.
Ya, dia memang sangat mirip dengan kakakku, apa aku setega itu?
"Bagaimanapun juga, semarah apapun kau pada Allianz dan juga Visha, kau tetap Bibi dari bayi ini, apa kau tidak malu, jika suatu hari nanti, dia menanyakan siapa dirimu, karena kau terus membenci dia sampai beranjak dewasa?!"
Ya, dia benar, aku tak mungkin membenci anak tidak berdosa ini hanya karena kedua orang tuanya, namun apakah aku dan Hana tidak terlihat seperti orang bodoh, yang malah mengasuh Alvis, putri dari seorang wanita yang menghancurkan kehidupan kami semua?
Tidak!
Anak itu bukan petaka seperti kedua orang tuanya, anak itu, tak akan Hana didik menyerupai kedua orang tuanya, yang harus mengalami nasib buruk sebagai balasan akibat kelakuan mereka sendiri.
"Baiklah, dia memang butuh seorang keluarga, aku adalah bibinya, mana mungkin aku tega membuang dia ke jalan raya.."
__ADS_1
Ya, seperti yang aku harapkan, Naira pun menyetujuinya, kami tidak bodoh, hanya saja, kami masih punya hati, dan masih punya pemikiran, bagi kami, membuang anak yang tidak berdosa, membuat kami pantas di cap sebagai pendosa sama seperti Visha dan juga Allianz, karena itulah, terkadang kami terlihat bodoh, padahal, kami memang hanya merasa semua orang sama seperti kami, yang hidup tanpa merugikan orang lain, dan mati tanpa meninggalkan beban pada orang lain, itu saja sudah cukup melukiskan gambaran di dalam hatiku..