
"Asal kau tahu saja, suami kamu juga bodoh, bukankah Alvis anakku adalah seorang laki-laki? kenapa dia mengatakan padaku aku belum pernah merasakan punya anak laki-laki?" ucap Allianz sedikit bercanda, ya, mungkin dengan begitu bisa membuat topik perbincangan yang berbeda, tidak selalu membicarakan soal permainan pria dengan wanita penggoda.
"Aku tidak sedang bicara tentang anakmu yang laki-laki atau pun perempuan, aku juga tidak sedang membicarakan suamiku yang bodoh, hanya saja, aku tidak suka jika seorang pengkhianat di biarkan hidup tenang dan damai.." ucap wanita itu sambil menatap ke luar jendela lagi.
Allianz menjadi diam. Dia tak tahu apa yang sedang di katakan oleh wanita ini, ia tak punya pilihan lain selain tidak berkata-kata menyahut pembicaraan wanita itu.
Namun tak lama dia terdiam, datanglah wanita itu mendekat ke arahnya, kemudian dengan nakalnya mencondongkan badannya, semakin dekat ke arah wajah Allianz, menampilkan dua gundukan besar di dadanya yang terlihat dengan jelas menggoda iman Allianz.
"Ka-kau.. mau apa kamu?" tanya Allianz dengan sangat gugup.
"Aku tahu siapa wanita yang kau cintai, dan siapa wanita yang menjadi istrimu saat ini," ucap wanita itu dengan lirih, "kau memberi dia cincin beberpaa saat yang lalu, tapi aku tak yakin kau memberi cincin itu padanya karena cinta, atau mungkin, kau memberikannya, karena ingin menutupi kebusukan hatimu yang sebenarnya, mungkin saja, bukan?" menarik kerah kemeja Allianz, dan mendekatkan bibirnya ke leher Allianz.
"Ugh.."
Wanita itu terdengar melenguh, mencoba menggoda dan menggoyahkan iman Allianz di rumahnya sendiri. Dengan nafas yang berhembus memburu, wanita itu semakin liar menggerayangi tubuh Allianz dengan sepuluh jari tangan nakal miliknya.
"Tidak!" namun pria itu tersadar.
Dia mundur dan mencoba menjauhkan kedua tangan istri sahabat baiknya dari tubuhnya, mencoba menahan sentuhan wanita itu sebelum berubah menjadi lebih liar lagi.
Ya, dia memang punya nafsu yang kadang tidak bisa dia kendalikan, jadi di saat mendapat rangsangan semacam ini, bukankah itu akan sangat mengganggu pertahanannya?
"Tidak, jangan sentuh aku!" ucap Allianz semakin menolak keras.
Wanita itu terdiam. Dia terdiam dan berdiri dengan tegak di hadapan Allianz, sambil sesekali mengatur nafasnya, dan juga irama jantungnya yang tak mampu di kendalikan saat berada di hadapan Allianz.
Pesona Allianz memang tidak ada yang mampu menandinginya, meski usianya sudah hampir berkepala empat, tapi dia punya ketampanan dan wibawa yang luar biasa, hingga tak akan sulit baginya menggaet wanita manapun sesuka hatinya, termasuk juga istri Erik yang ikut terpesona dengan ketampanan dan juga postur tubuhnya.
Apalagi wanita bernama Sheila itu telah lama tidak pernah di puaskan nafkah batinnya oleh suaminya sendiri, jadi tidak akan heran kalau dia begitu rindu akan belaian dan juga kehangatan dari pelukan seorang pria.
"Aku hanya ingin merasakan, bagaimana aku di perlakukan dengan hangat, bagaimana di sentuh oleh seorang pria," ucap Sheila dengan sedih, "hanya itu saja, semenjak putraku lahir, aku tidak pernah mendapat sentuhan dari suamiku, aku tidak pernah merasakan yang namanya di sentuh oleh suami aku sendiri, lihatlah aku, aku hidup bergelimang harta, tinggal di dalam rumah yang mewah, tapi aku tak pernah bahagia, apa lagi semenjak aku tahu alasan kenapa suami aku tidak pernah menyentuhku.." wanita itu terlihat memalingkan mukanya dari hadapan Allianz.
"Karena dia telah di beri kepuasan oleh wanita lain..." sambung wanita bernama Sheila itu sambil berderai air mata.
Allianz masih saja tak bergeming dari tempatnya. Masih setia mengamankan posisi tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan wanita itu, dan masih mencoba untuk berpura-pura tidak tahu apapun.
"Aku tahu kau juga mengetahui hal itu, kenapa kau juga menyembunyikannya dariku?" tanya wanita itu masih memalingkan muka.
"Ak-aku, aku tidak punya urusan dengan rumah tangga kalian.." jawab Allianz sedikit gelagapan.
Mendengar jawaban dari Allianz, wanita itu sontak saja kembali menatap Allianz dengan tatapan di penuhi air mata, "kalian memang sama saja!" ucap wanita itu, lalu terlihat dengan jelas dia yang mulai menyerang lebih dulu, dan mencoba menaklukkan Allianz dalam pelukannya.
"Tidak, Sheila! sadarlah! kau tak boleh melakukannya!" tolak Allianz dengan keras, tapi tetap saja wanita itu terus saja memaksa, bahkan ia terlihat menyobek bajunya di depan mata Allianz hingga terlihat menyembul saja belahan dadanya yang putih merona, dengan ujung berwarna merah muda nan menggelora.
Melihat situasi semacam ini, Allianz menjadi diam. Dia tak bisa apa-apa lagi sekarang, pemandangan di depan matanya membuat dia tak bisa berkutik lagi.
Ya, mungkin akan percuma saja dia mencoba menolak, wanita itu bahkan tak akan pernah melepaskan dirinya dari jeratannya.
Allianz terlihat menata degup jantungnya dan juga nafasnya yang terus saja memburu, di tambah lagi dua bola kenyal milik istri sahabatnya yang ranum, seolah telah lama sekali tak pernah di gunakan atau pun di nikmati.
"Aku ingin balas dendam pada suamiku, pada Erik!" ucap wanita itu membuat Allianz semakin tertegun, "aku ingin dia tahu betapa besar kekecewaan yang aku rasakan selama ini, aku ingin dia merasakan semua yang aku rasakan.."
"Tapi aku bukan orang yang tepat untuk membalas dendam," jawab Allianz.
"Tolong bantu aku..."
"Kau jangan gila! aku tidak mau mengkhianati istriku sendiri," jawab Allianz atas perkataan Sheila.
"Aku tahu kau tidak mencintai Visha, kau hanya mencintai mantan istri kamu itu, iya, kan?"
Mendengar situasi yang semakin berubah menjadi sangat rumit, Allianz bergegas mendorong wanita itu, dan mencoba menyelamatkan diri dari jerat kasih wanita ini.
Ia tak mau berurusan terlalu jauh dengan wanita yang menjadi istri dari Erik selama beberapa tahun.
Allianz mendorong wanita itu hingga terjatuh saja di atas sofa dan dengan segera, ia bangkitkan tubuhnya menjauh dari Sheila.
"Dengar, kau tahu aku mencintai wanita lain selain istriku, tapi kau tak pernah tahu betapa kau dalam bahaya jika sampai kau menyentuh tubuhku!" ucap Allianz sedikit memberi peringatan dini.
__ADS_1
"Aku akan menyebarkan seluruh informasi ini kalau kau tidak mau membantu aku!"
"Silahkan saja kau membuat onar di media, dan lihat seberapa banyak manusia yang akan mempercayai ucapan kamu!" jawab Allianz dan dengan segera dia berlalu meninggalkan rumah sahabat karibnya juga wanita gila itu.
Wanita gila yang hampir membuat dia terjebak dalam permasalahan rumit. Dia harus segera lari dari sana sebelum semuanya berubah menjadi semakin rumit.
"Dasar wanita gila!" umpat Allianz sambil memasuki mobilnya dan kemudian terlihat membawa mobilnya keluar dari area perumahan.
Wanita bernama Sheila itu kemudian tersenyum miring. Ia membenarkan kembali posisi bajunya yang berantakan, lalu dengan perlahan mengambil sebuah ponsel yang dia letakkan di nakas.
Dengan puasnya dia menghubungi seseorang dari seberang, memberi informasi yang telah dia tunggu-tunggu.
"Bagaimana?"
Tanya seseorang dari seberang.
"Tentu saja aku berhasil, istrimu ini wanita yang pintar, jadi urusan semacam ini, akan sangat mudah aku atasi.." jawab Sheila atas pertanyaan dari suaminya.
"Heh! baguslah, aku juga punya kejutan, sepertinya karir Allianz sebentar lagi akan segera hancur, jadi tidak sabar ingin memutar semuanya di depan semua orang!"
"Jangan lupakan bonus untuk istrimu juga, ya.."
"Haha, tenang saja, aku akan memberikannya untukmu, apa kau tadi memperlihatkan tempat favoritku padanya?"
"Hanya itu saja senjata terampuh yang bisa melumpuhkan dia, tapi dia sama sekali tidak terpengaruh, yang penting aku sudah mendapat sebuah cuplikan istimewa untuk aku berikan ke Visha, dengan begitu, Allianz akan mendapat kerugian dari perusahaan dan juga dari istrinya.."
"Hahaha, istriku ini memang sangat pintar!"
...----------------...
"Bagaimana? apa sudah dapat buktinya?" tanya Hana pada seseorang saat mereka sudah di pertemukan di dalam ruangan kerja Hana.
"Tidak Nyonya, aku rasa semua catatan dan juga riwayat keluar masuk baru saja di hapus, aku tidak mendapati apapun di sana, uang dua milyar yang katanya di kirim ke rekeningnya pun tidak ada," jelas Zarren pada Hana.
"Tapi tidak mungkin wanita itu yang menghapusnya, bukankah wanita itu sedang dalam masa tahanan sebelum sidang? apa ada yang mengutak-atik rumahnya sebelum kau datang?" tanya Hana pada Zarren.
"Ucapan orang tidak selalu benar, periksa cctv di sekitar apartemen, dan temukan orang mencurigakan yang bisa saja masuk ke dalam apartemennya." Ucap Hana memberi perintah.
"Baik, Nyonya!" ucap Zarren sambil bangkit dan kemudian berlalu meninggalkan Nyonya besar itu di dalam ruang kerjanya.
Di tinggal Zarren seorang diri, Hana menjadi bengong. Memikirkan siapa kiranya yang membuat semua kejadian ini terjadi, mengapa seolah-olah semuanya sudah di atur dan sudah di gerakkan oleh seseorang?
Apa benar dugaannya, ada seseorang yang mengendalikan permasalahan ini dari kejauhan? apa orang yang menyuruh wanita itu yang melakukannya?
Bisa saja itu terjadi, bukankah semua pembunuh pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk menyembunyikan bangkai kejahatannya?
"Baiklah, mari kita lihat seberapa pandai kau bermain!"
Drrrttt Drrrt
Bip!
Mengangkat panggilan.
"Hallo?"
"Kita punya meeting di luar dengan klien baru, sekarang kita harus segera berangkat!"
"Baiklah, aku akan segera keluar! beri aku lokasinya sekarang!"
"Baik, Nyonya.."
Bip!
...----------------...
Di tengah perjalanan Allianz menaruh dari rumah sahabat baiknya, ia mendapat telepon dari seseorang, yang kemudian mengharuskan dia untuk segera berhenti dan mengangkatnya.
__ADS_1
Ia tahu ada hal penting yang harus dia dengar dari laki-laki ini, semoga saja dia mendapat kabar yang memuaskan.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Allianz.
"Semuanya sudah beres! tapi aku melihat ada laki-laki yang datang setelah aku berhasil mengembalikan kartu ATM wanita itu."
"Seorang laki-laki katamu?" tanya Allianz merasa kurang jelas.
"Iya, dia masuk ke dalam apartemen wanita itu dan tak lama setelah itu kembali keluar, memasukkan kartu ATM ke dalam sakunya.."
Mendengar penjelasan dari laki-laki di seberang, membuat Allianz menebak-nebak akan suatu hal.
"Itu pasti orang suruhan H.A. Group." Gumamnya, "baiklah, akan aku transfer sisanya ke kartu itu," ucap Allianz lagi.
Bip!
Ia tersenyum, akhirnya semuanya sudah dia selesaikan. Semua orang tidak akan pernah tahu dia yang mengendalikan semua ini, ya, dia akan aman sekarang.
Dia akhirnya kembali menginjak pedal gas mobilnya, dan melaju saja mobilnya segera pulang ke rumahnya sendiri.
Niat hati ingin menginap di rumah Erik malam ini, untuk sekedar mengistirahatkan pikirannya sejenak dari beragam masalah, nyatanya harus tetap kembali berkahir pulang.
Padahal dia tak ingin berlalu ke rumahnya, mengingat entah mengapa otaknya selalu merasa pusing tiap kali berhadapan dengan Visha saat dia sedang mendapat masalah semacam ini.
Entah mengapa wanita itu tetap saja membuat dia tak bisa berpikir dengan tenang saat sedang mengalami permasalahan seorang diri, ya, jujur saja, baginya tak ada yang sempurna, entah itu Hana, atau pun Visha, keduanya sama saja, baginya hanya beban pikiran saja.
Hahh! merasa lelah dengan pemikiran dalam otaknya, juga perasaan yang jenuh saat memikirkan harus kembali pulang ke rumahnya, dia akhirnya jadi malas sendiri.
Dia jadi memutar otaknya, dan berpikir untuk tidak pulang ke rumah. Hanya saja, kemana dia harus pergi sekarang!? apa dia harus pergi ke rumah Naira?
Aish!
Mana mungkin, bukankah dia sedang tidak baik-baik saja dengan adik kandungnya itu?
Hahh! baiklah, mungkin malam ini dia memang harus tidur di hotel untuk sementara. Ia tak mau di ganggu saat dalam kondisi otaknya butuh pencairan, apa lagi kalau sudah sampai di rumah, dan wajah Visha lagi yang dia temui, huhh! jenuh sekali rasanya..
Laki-laki itu pun akhirnya memantapkan jadwal untuk malam ini, dia akan menginap di hotel untuk membuat pikirannya segar kembali.
Dia bahkan tak lagi peduli dengan Visha yang mungkin saja sedang sibuk mengurus anaknya di rumah. Rasanya tidak lagi, dia tak lagi peduli, bahkan rasa peduli yang dia berikan pada Visha, tak akan mampu di bandingkan dengan rasa peduli yang pernah dia berikan untuk Hana.
Kini dengan suara mesin mobilnya yang terdengar halus, dia melaju saja dengan kencang menuju hotel.
Drrrttt Drrrttt
Bip!
"Halo?" sapa Allianz untuk memulai percakapan.
"Hallo, All, hanya ingin mengingatkan, Minggu besok akan ada perayaan ulang tahun perusahaan, katanya Tuan Lu Zafier, selaku pemilik perusahaan juga akan datang ke pesta itu, jadi aku hanya ingin mengatakan padamu untuk mempersiapkan diri, dan jangan lupa juga untuk mengajak istrimu itu.."
Rupanya itu panggilan dari Erik.
"Aku kira kau mau bicara apa, aku pasti akan ingat, lagi pula malam ini aku tidak akan pulang ke rumah.."
"Kenapa tidak pulang? kau bilang kau tak punya masalah dengan istrimu."
"Aku memang tidak punya masalah, tapi kau juga tahu, wanita selalu membuat kepala kita serasa mau pecah, kalau aku pulang dalam keadaan jenuh, dia pasti akan menghujani aku beribu-ribu pertanyaan, aku sedang malas berdebat."
"Haha, baiklah, baiklah, nikmati saja waktumu jadi bujangan lagi! aku harus kembali bekerja!"
"Ya!"
Bip!
"Hah, anak ini, macam dia punya kejutan saja buatku!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1