
Di tengah-tengah nikmatnya sang suami yang tengah asik menyeruput kopinya, di bagian kursi yang agak jauh di sana terlihat Visha yang masih di buat tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya.
Ia melihat suaminya sendiri tengah menyodorkan kartu ATM milik suaminya sendiri, yang dia taksir berisi puluhan milyar. Yang menjadi pertanyaan dalam hatinya adalah, untuk apa suaminya memberikan kartu itu pada pria yang menjadi alasan suaminya untuk pergi?
Tidak akan mungkin suaminya memberikan uang sebegitu besarnya jika tidak ada sebuah kepentingan mendesak, tapi kali ini, bukankah suaminya sudah melakukan kebohongan yang sangat besar darinya?
Ya, maklum saja jika Visha terus bertanya-tanya apa yang terjadi pada suaminya dan pria itu, bukankah dia tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka di ujung sana?
Apalagi suasana cafe yang sangat ramai di siang hari, di saat jam makan siang seperti ini memang menyulitkan siapapun untuk mendengar lebih jelas.
Ia pun terus saja menyelidik, melanjutkan menguntit suaminya kemana saja nanti sang suami akan pergi.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian, suaminya terlihat beranjak dari kursinya, setelah menghabiskan satu cangkir kopi yang ia pesan beberapa saat yang lalu.
Ia meninggalkan bill di atas meja, dan kemudian bergerak keluar dari kafe. Di tengah-tengah rasa keingintahuannya mengenai masalah suaminya, Visha pun akhirnya juga harus bangkit membuntuti suaminya lagi sampai dia menemukan jawaban sesungguhnya dari Allianz.
Aku harus mengerti apa yang terjadi padamu, All..
...----------------...
Sementara itu, di kantor H.A. Group, semua orang masih di buat senang atas hasil kasus tentang wanita itu.
Mereka semua agaknya merasa sedikit lega karena penjualan mereka kembali normal, dan masalah bisa mereka selesaikan hanya menghabiskan waktu setengah hari saja.
Hanya saja, ada yang tak pernah bisa membuat Hana tak habis pikir, siapa pula yang telah berusaha untuk menjatuhkan bisnisnya sampai berbuat curang begitu.
Ia pun ingin sekali mengetahui dalang di balik kejadian ini, bukankah wanita itu mengatakan kalau dia mendapat uang dua milyar dari seorang pria?
Ia lantas melupakan hal lain, dan tertuju pada satu topik perbincangan di otaknya mengenai pria itu, dan juga kiriman uang itu.
Jika wanita itu memang mendapat transfer uang dari seorang pria, bukankah seharusnya ada riwayat yang menampilkan dari rekening mana wanita itu mendapat kiriman uang dua milyar tersebut?
Aish!
Kenapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya? Hana jadi bersemangat. Di ambillah benda pipih di atas meja kerjanya, lalu dia gunakan untuk menghubungi seseorang.
Tak menunggu waktu lama, dia pun mendapat respon dari seberang, menampilkan suara seorang laki-laki yang sejak awal dia percaya untuk melakukan semua yang dia perintahkan.
"Hallo, Nyonya, kenapa memanggil saya?"
Tanya laki-laki dari seberang.
"Hallo, Zarren, kau harus membantu aku kali ini," ucap Hana pada laki-laki muda di sambungannya.
"Membantu soal apa, ya, Nyonya?"
"Aku ingin tahu sesuatu mengenai wanita itu.."
"Tunggu, Nyonya! bukankah kau menyerahkan kasus ini pada pihak berwajib? kenapa sekarang kita juga harus bertindak?"
"Aku hanya minta kamu untuk mencaritahu saja, kau pasti bisa melakukannya.."
"Baiklah, apa yang harus aku lakukan?"
"Aku ingin tahu riwayat transaksi terakhir di rekening miliknya.."
...----------------...
Lama dia membuntuti suaminya, ia akhirnya kembali menemukan suaminya yang menuju ke sebuah rumah. Rumah yang tak sebesar rumah mereka memang, mungkin benar kalau Allianz ingin bertamu di rumah temannya.
Terlihat dengan jelas mobil Allianz masuk ke dalam pelataran rumah tersebut, dan tak lama setelah itu, Allianz pun turun dari mobilnya.
__ADS_1
Ia terlihat menutup pintu mobilnya, dan tak lama setelah itu, keluar lah seorang laki-laki dengan berteman istri cantiknya di sebelahnya.
Ouh, rupanya ini rumah kawan bisnisnya..
Visha memang agak ingat wajah laki-laki yang menyambut kedatangan Allianz di sana. Wajah laki-laki itu tak asing baginya, bahkan terasa amat sangat familiar. Ya, itu rekan kerja Allianz di kantornya..
Perasaan Visha jadi sedikit lebih kesal. Ia yang pada mulanya berasa paling nomor satu di samping suaminya, menjadi wanita yang selalu saja berbangga diri, seolah hanya dia yang mendukung suaminya dalam posisi apapun, nyatanya kali ini dia mendapat suguhan yang sangat menarik dari suaminya.
Pada saat di rumah, Allianz tidak mengatakan satu patah katapun padanya, laki-laki itu memilih untuk diam dan mengacuhkan dia tanpa berpikir kalau Visha juga butuh alasan mengapa dia diam.
Tapi apa yang dia lihat sekarang? bukankah suaminya malah pergi ke rumah sahabat dan sekaligus rekan kerjanya saat sedang di hadapkan sebuah permasalahan?
Apa bagi Allianz pundak Visha masih belum juga cukup untuknya menumpahkan segala kegundahan dan keluhan di hatinya?
Kenapa pria itu masih saja di buat sibuk mencari tempat lain untuk mencurahkan segala keluh kesahnya di saat ada istri yang siap menampung beban hidupnya di dalam rumahnya sendiri?
Ya, kesal sekali, seolah tak lagi di anggap, apalagi di butuhkan. Perasaan Visha yang pada mulanya menganggap semuanya memang wajar, laki-laki memang butuh ketenangan, tapi saat ini, semua pemikirannya mengenai hal itu, hancur sudah.
Suaminya sudah jelas masih belum bisa menerima dirinya menjadi istrinya di dalam rumahnya sendiri. Suaminya masih saja menganggap dirinya sebagai orang lain yang masih jauh dari hidupnya.
Lalu apa gunanya Allianz menikahinya selama ini? jika setiap ada masalah, dia bukanlah tempat pelarian bagi suaminya, dia hanya lukisan yang di pajang dengan indah di rumahnya, namun hanya sebatas untuk di pandang, di sentuh atau di jadikan tempat bersandar pun tidak.
Ia menjatuhkan kepalanya di atas kemudi mobil. Menangis saja dia di sana dengan penuh kekecewaan di dalam hatinya yang baru saja tertanam untuk suaminya.
Baru dia sadari menikah bukan karena cinta membawanya terlarung dalam malapetaka hebat di tengah perjalanan biduk rumah tangganya.
Ia tak pernah menyangka suaminya akan menanam kekecewaan sedalam ini di hatinya, ia bahkan tak pernah mengira sang suami akan memilih lari darinya saat terkena masalah, yang dia sendiri bahkan tak pernah tahu apa masalah yang di hadapi oleh suaminya itu.
Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan yang mendalam, Visha pun akhirnya membangkitkan kepalanya, menghapus air matanya, dan kemudian memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
Ia berpikir mungkin tempat ini adalah pelabuhan terakhir bagi suaminya untuk bersandar mengistirahatkan pikirannya dari berbagai macam masalah.
Mengenai permasalahan soal bisnis itu, tentu saja hanya sedikit, bahkan mungkin hanya sepucuk kuku dari rahasia yang di genggam erat oleh suaminya itu.
Di masa lalu, dia bahkan begitu lihai menyembunyikan rahasianya dari Hana, lalu apakah seorang pria akan berubah menjadi lebih baik saat dia hidup dengan wanita yang berbeda di masa depan?
Jawabannya, mungkin saja iya, mungkin juga tidak!
Tak!
Istri dari rekan kerjanya menyuguhi dia dengan satu gelas teh, pada mulanya wanita itu menawarkan kopi pada Allianz, hanya saja, Allianz menolaknya, beralasan dia sudah menenggak satu gelas kopi di kafe barusan.
Sebenarnya itu bukan suatu alasan, karena memang sebelumnya Allianz telah menghabiskan satu cangkir kopi di kafe sebelum beranjak kemari.
"Ini teh nya, silahkan di minum dulu.." tawar wanita itu sambil terduduk di sebelah suaminya.
"Terima kasih," ucap Allianz lalu kemudian terlihat menyeruput teh dari istri sahabat baiknya itu.
"Dengar-dengar, kau baru saja dapat bonus besar dari bos, ya? katanya kau juga dapat cuti dua hari, memangnya kamu lakukan apa sampai Pak Direktur senang?" tanya sahabat Allianz yang bernama Erik itu.
"Aku hanya membuat penasaran naik, tapi hanya setengah hari saja, setelah itu, semuanya kembali jadi seperti biasanya, tidak jauh lebih tinggi dari grup Naira.." jelas Allianz pada sahabatnya.
"Ck! di kalahkan adik sendiri, bagaimana perasaan kamu punya adik yang tajir melintir begitu?" tanya Erik sedikit bercanda.
"Kami sudah lama tidak bertemu, entah karena dia yang terlalu sibuk, atau mungkin karena pernikahan ku dengan Visha, aku tidak bisa menebaknya.."
"Salah kamu sendiri, sudah punya istri main macam-macam di belakang, harusnya kamu cari tahu dulu adik kamu di pihak yang mana," ucap Erik memberi Allianz petuah.
"Hahh!" Allianz menghembuskan nafasnya dengan kasar, "aku tahu pernikahan kami berdua memang seolah membawa petaka dalam hidupku," ucap Allianz seolah tak sadar dengan apa yang dia katakan barusan.
Sepasang suami istri di depannya terlihat saling menatap bingung, mendengar perkataan dari Allianz barusan.
__ADS_1
Selama ini hubungan rumah tangga Allianz dan Visha jauh dari berita miring, jangankan berita negatif, keduanya bahkan tak pernah meninggalkan sisi romantis dan kecocokan sebagai pasangan di hadapan umum, kenapa sekarang Allianz jadi curhat soal rumah tangganya dengan Visha?
Padahal sebabnya dia datang ke rumah Erik bukankah dia ingin mengistirahatkan otaknya dari permasalahan jenuh mengenai kasus itu? kenapa sekarang dia malah jadi membawa-bawa masalah rumah tangga segala?
Apa memang selama ini dia sebenarnya tak pernah nyaman berumah tangga dengan Visha? atau mungkin, Visha menjadi salah satu permasalahan hidupnya?
Aish! jadi bicara soal rumah tangga di sini.
"Tidak apa-apa, bukankah semua keluarga pasti akan mengalami hal semacam ini? sejujurnya aku tidak punya masalah dengan istriku, dia sangat lembut, dan juga perhatian, hanya saja aku punya masalah....."
Drrrttt Drrrttt
Mendadak ponsel Erik berdering, ia yang baru saja ingin mendengar ucapan dari Allianz malah harus menghentikan perbincangan ini, membuat Allianz hanya bisa mengalah dengan pasrah.
Padahal sebelumnya Allianz berharap akan dapat solusi dan juga bantuan terbaik untuk mengatasi masalahnya dengan Pak Direktur itu, tapi, ya, sudahlah, mungkin sudah jalannya dia harus menyelesaikan semuanya seorang diri.
Lagi pula, bukankah tidak semua orang bisa membantunya? apa lagi kalau sampai Erik tahu apa yang sudah dia lakukan terhadap H.A. group, bisa saja Erik akan mengadukan segala yang dia lakukan pada Tuan Lu Zafier.
Aish! Untung saja dia belum bercakap-cakap mengenai topik itu.
"Iya, baik, baik, saya akan segera kesana.." ucap Erik lalu setelah itu terlihat menutup sambungan.
"Kenapa memangnya?" tanya Allianz pada Erik.
"Ada masalah dalam laporan keuangan di kantor, aku harus kesana sekarang," ucap Erik sambil bangun dan membenarkan jas hitamnya, "hahh! padahal aku baru saja pulang, bukankah jam kerja seharusnya sebentar lagi akan selesai?" gumam Erik agak kesal.
Pria yang baru saja pulang beberpaa menit yang lalu akhirnya harus kembali di sibukkan lagi oleh pekerjaan di kantornya.
Allianz tak berpikir macam-macam soal berita yang di sampaikan oleh Erik barusan, ya, dia memang mengira semuanya akan normal-normal saja, jadi dia masih bisa berpikir positif.
"Kau jangan sungkan, kalau masih mau di sini, maka stay saja dulu, kalau mau bermain dengan anakku juga boleh, dia sangat aktif, jadi kau harus bisa berinteraksi dengan baik bersamanya," ucap Erik sambil mengancing jas hitamnya, di bantu pula oleh istri tercintanya, "mungkin kau mau anak laki-laki? jadi berlatihlah menghadapi anakku dulu, baru berpikir memberi Alvis adik laki-laki," ucap Erik dengan candaannya.
Allianz terkekeh saja mendengar ucapan nakal dari sahabat baiknya itu, "ck! aku sudah punya anak laki-laki, anak angkatku juga laki-laki, jadi sudah pernah merasakan mengurus anak laki-laki seperti apa.."
"Kau pikir aku tidak tahu? kau hanya menghabiskan beberapa hari saja dengan anak angkat kamu sebelum kau mendapati istrimu bermain api dengan pria lain, apa kau lupa kau pernah menceritakannya padaku?"
"Ya, kau memang benar, kejam sekali.."
"Baiklah, lupakan semua masalah kamu, dan bermain saja dengan anakku, akan sedikit menghibur hatimu, aku pergi, sampai jumpa.." ucap Erik pada sahabat dan juga istrinya, lalu mengecup kening istrinya dengan sangat hangat.
Langkah kaki Erik kemudian terlihat bergerak menuju ke luar rumah, dan di luar sana, ia terlihat memasuki mobil silver miliknya tanpa bantuan dari siapapun.
Istrinya menatap dari balik jendela, mengantarkan kepergian sang suami dengan tatapan matanya, sampai akhirnya bayangan mobil suaminya tenggelam dari pandangan.
Allianz kembali menyeruput teh miliknya, sambil meraih ponsel dari sakunya.
"Laki-laki memang tidak pernah puas dengan satu wanita.." tapi ucapan dari istri cantik milik Erik membuat dia terhenti dari aktivitas meraih ponselnya.
Ia tertegun mendengar selarik kalimat yang di lontarkan oleh istri sahabat baiknya barusan, entah itu untuknya, atau untuk si Erik, dia tidak tahu, tapi yang pasti, dia pun merasa tersindir dengan ucapan wanita itu barusan.
"Aku tahu suamiku juga sering bermain wanita di luar sana, saat dinas ke luar kota, saat pulang lembur dari kantornya, aku tahu dia selalu di puaskan dengan makhluk bernama wanita penggoda.." sambung wanita itu lagi, membuat Allianz terdiam.
Ia memang mengetahui semuanya tentang Erik, yang suka mencari hiburan saat jenuh dengan istrinya yang kumal dan tidak terurus dengan baik, semuanya dia tahu.
Wanita itu mendadak beralih menatap Allianz dengan tajam, lalu mendekat ke arah Allianz.
Jantung Allianz bergemuruh hebat, tak tahu juga apa yang akan terjadi pada detik berikutnya, apa mungkin wanita ini akan segera melahap dan menghabiskan tubuhnya, atau bagaimana, dia sama sekali tidak tahu!
"Kau pun juga sama, mana ada pria yang puas dengan satu wanita!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1