
"Hari ini kau akan pulang terlambat? baru saja mulai bekerja, tapi Ardian sudah menyuruh mu untuk lembur?" tanya Hana sambil mengantar suaminya menuju ke teras depan.
"Iya, aku masih butuh banyak pelatihan, untung saja aku tidak hanya mengambil jurusan kedokteran dulu, coba kalau aku hanya fokus pada satu bidang, aku mungkin sekarang masih harus kesulitan."
"Baiklah, kau berhati-hati di jalan, musim hujan di sini lebih dingin dari yang aku kira, pakai jaket tebalmu saat keluar ruangan, ini akan sedikit membantu suhu badan kamu supaya tidak terlalu dingin," wanita itu menyodorkan jaket tebal untuk suaminya.
Sang suami tersenyum senang, "terima kasih, sudah hadir kembali dalam hidupku.."
Cup!?
Dengan romantis, Allianz mengecup bibir Hana yang ranum, lalu dengan segera beranjak menuju mobil dinasnya.
"I Love you, istri baikku.." Ucap Allianz dengan romantis pada istrinya..
"Love you, too.."
Allianz terlihat memasuki mobilnya, lalu pintu di tutup..
Vrooooooommmmmmm..
Mobil melaju dengan kencang, meninggalkan kediaman keduanya dan juga istrinya yang sedang berdiri tegak di depan pintu.
"Oh, aku harus menghubungi Naira, dia mungkin bisa membantuku menemukan tempat yang aku inginkan.."
Hana terlihat mengambil ponsel di dalam sakunya, lalu mencoba menghubungi Naira.
Tut... Tut... Tut....
Namun tiga kali panggilannya dia abaikan. Bagaimana tidak, bukankah Naira sedang asik menikmati jamuan sarapan pagi yang sangat nikmat dan menggugah selera?
"Ada apa dengan anak ini? apa aku terlalu pagi dalam menghubunginya?" gumamnya pada diri sendiri.
Wanita itu kemudian terlihat masuk ke dalam rumahnya, dan menengok sang putra yang sudah segar sehabis mandi pagi.
"Ututu.. putra ibu tersayang, kau sudah mandi? apa suster yang telah memandikan kamu?" dia mencoba berkomunikasi dengan Zhoulin.
Zhoulin kecil hanya tersenyum saja, dan merespon ucapan ibunya dengan penuh kebahagiaan.
"Oh iya, sus, hari ini aku mau ajak Zhoulin jalan-jalan, kau juga ikut, ya," ucap Hana pada susternya.
"Baik, nyonya," jawab suster itu singkat saja.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Ah? iya, iya, aku tahu," dia terlihat sedang berbincang melalui sambungan.
Brrrrrtttttt!
Suara blander yang sedang menghancurkan buah jeruk untuk di jadikan jus terdengar setelah Naira terlihat memencet salah satu tombolnya.
"Kau kan tahu aku tidak sibuk, aku sudah meluangkan waktu hanya untuk hari ini, jadi tenang saja, lagi pula ada ibu mertua dan ayah mertua juga yang sedia menemanimu.."
"Iya tapi tetap saja kau harus datang ke rumah sakit!!! bagaimana kalau ibu sudah lupa caranya mengejan? aku tidak yakin apa aku bisa melahirkannya nanti?"
Rupanya yang kini sedang terdengar cerewet di ponsel Naira adalah si Luzia yang hendak melahirkan.
Dia sudah berada di rumah sakit sejak pagi sekali, takut saja kalau-kalau dia akan melahirkan lebih awal..
Tapi ternyata, sampai jam sembilan pagi pun dia masih belum juga merasakan tanda-tanda mau melahirkan.
"Sudahlah! jangan bicara aneh-aneh! kau seorang ibu, mana mungkin tidak bisa melahirkan satu buah hati saja? dasar kau memang kadang-kadang suka bicara sembarangan!"
Naira terlihat menuangkan jus jeruk yang sudah berhasil ia buat ke dalam gelas yang ada di atas meja makan.
Tiga gelas yang harus ia isi, satu untuk Ardian, satu untuk dirinya sendiri, dan satunya lagi untuk putra kesayangannya, Shi Yuan.
Cup!
Lalu berciuman mesra antar bibir dengan bibir.
"Halo, makan sarapan kamu, ini jus jeruknya.." Naira sudah selesai menuangkan jus jeruknya, sambil mendengar ocehan-ocehan ruwet dari adik iparnya itu.
"Pokoknya sebelum aku di eksekusi, kau harus sudah datang ke rumah sakit, aku tidak mau dengar kata terlambat sedikitpun dari mulut kakak ipar! oh iya, kakak Ardian juga harus ikut, dia yang bertanggung jawab di sini!!!"
"Ah? kenapa dia?" tanya Naira agak bingung dengan perkataan adik iparnya.
"Siapa yang menghubungi kamu?" tanya Ardian sambil memakan roti lapisnya.
"Adikmu! tepatnya adik cerewet milikmu!!"
"Ouh.."
"Tentu saja dia yang harus bertanggung jawab, dia yang sudah mengenalkan aku pada Antonio, dan karena dia sudah menikahkan aku dengan pria ini, aku jadi hamil di buatnya, jadi dia harus datang, menjadi saksi atas keluarnya bayi pertama kali.."
__ADS_1
"Baru kali ini aku mendengar orang mau melahirkan, tapi hebohnya minta ampun, dasar kau!" umpat Naira pada adik iparnya.
Ardian hanya tersenyum saja, terasa lucu melihat kelakuan dua wanitanya.
"Sudahlah! aku mau sarapan! jangan ganggu aku, aku akan segera datang!"
Bip!
Kini Naira terlihat duduk berhadapan dengan sang suami, dan bergabung untuk menyantap sarapan mereka berdua.
"Adikmu sangat cerewet, aku bahkan tidak bisa mengatasinya saat bicara.."
"Heng, kau sudah tahu dia bukan dari ayah yang sama denganku, kan? menurut kamu dia lebih mirip siapa? aku atau mendiang Doni?" sang suami malah terlihat meledek.
"Sebenarnya dia lebih mirip ke sisi Doni, tapi untunglah dia tidak memiliki kepribadian temperamen seperti pria itu, ah, kenapa jadi bicara soal anak itu lagi.." dia buru-buru menghilangkan otak buruk tentang Doni pada saat itu juga.
"Hari ini kau ingat ada janji dengan Dokter Andrew, kan?" tanya Ardian pada Naira.
"Iya, aku ingat, kita harus berangkat sekarang, kan?"
"Apa kau sudah siap?"
"Cih! bukankah hanya pemeriksaan berkala saja? kenapa memangnya? apa ini sangat menyulitkan aku?" sekarang Naira yang terlihat sangat percaya diri.
"Baiklah, bagus sekali kalau kamu sudah siap, di mana anak kita? dia belum selesai bersiap?" dia masih mengunyah makanannya.
"Dia harus berdandan dengan tampan, atau kalau tidak, dia tidak akan di sukai banyak gadis di sekolahnya, hahaha..." dia tertawa dengan sangat puas.
"Dia meniru dirimu saat masih muda, kau suka sekali berdandan cantik, hanya untuk sekedar mencoba memikat hatiku, mungkin dia juga melakukan hal yang sama.."
"Apa soal aku yang mengejar cinta kamu itu memang benar adanya?" tanya Naira pada suaminya dengan wajah yang agak cemas.
"Itu memang benar, memangnya kenapa? kau sendiri bahkan menolak banyak pria hanya demi aku, pada awalnya mereka bergosip kau memang mengejarku karena aku tampan dan kaya, tapi nyatanya, saat aku koma pun, kamu masih saja setia menungguku sampai aku sembuh.." ucap Ardian terlihat bersyukur, "aku bersyukur memiliki kamu dalam hidupku," dia mengusap tangan istrinya.
"Ehem!!" namun suara itu, memberi merek sedikit rasa was-was.
Suara iblis kecil yang sudah terlihat berdiri tegak di depan pintu yang menuju ruang makan.
Dia bahkan terlihat begitu merah. Mungkin dia sedang sangat marah.
"Shi Yuan, sejak kapan kau ada di sana??" Naira bertanya dengan canggung.
__ADS_1
"Kalian sudah melupakan aku!!"
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·