Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Makan Yang Lahap


__ADS_3

Hingga pada beberapa saat kemudian..


Tik tok tik tok!


Jarum jam terus berputar, menunjukkan waktu yang terus berjalan tanpa berhenti.


Terhitung sudah lebih dari setengah jam sejak Naira menutup wajahnya dengan kedua tangan, hingga pada saat ini, makanan keduanya sudah terasa dingin.


"Kau masih belum mau membuka matamu?" tanya Ardian, sudah mulai lelah dengan kelakuan istrinya.


Wanita itu hanya menggeleng saja.


"Hahh! kau sudah membuat makanan kita dingin, apa mau aku pesankan lagi? lihatlah! semua orang yang memperhatikan kita sudah pergi! tinggal kita berdua yang masih duduk dengan rapi di tempat ini!" ucap Ardian pada istrinya.


"Ah? benarkah? apa mereka semua sudah pergi?" mengintip di sela-sela jari, "oh? mereka semua sudah pergi!" membuka kedua tangan dengan raut wajah penuh kegembiraan.


"Lihat saja! aku akan makan sampai puas!" ucap Naira sambil mengambil sumpit dari tempatnya, "hum, semua yang ada di sini kelihatan sangat menggugah selera!" ucapnya mungkin sedikit di buat ngiler dengan keadaan makanan lezat di atas meja di depan mereka.


"Kau kelihatan sangat lapar!" ledek sang suami sambil sesekali menatapi istrinya.


"Ya, kau benar, aku sangat lapar, kau tahu? menunggu mereka semua pergi sungguh penantian yang sangat lama bagiku, maaf, ya, kamu jadi tidak bisa kembali ke kantor karena aku, karena telah menunggu aku memakan semua ini.." Pintanya merasa bersalah.


"Apa bagimu aku merasa di repotkan? kau adalah istriku, aku tidak akan merasa begitu karena kau, makanlah yang banyak, jangan terburu-buru, kau bisa tersedak, kalau mau nambah lagi, pesan saja, aku akan menghabiskan hari ini bersama keluarga besar kita.." Ucap Ardian sambil tersenyum ramah.


"Baiklah, kau memang sangat baik, suamiku yang paling aku cintai.. emmuach!!" kecupan bibir sekilas.


"Wow! kau berani mencium aku di depan umum," merasa terkejut, "bisakah melakukannya lagi?" kadar basah di bibir masih agak kurang.


"Mahal! kau tidak bisa terus mendapat ciuman dariku di depan umum, kau tahu?" mendekat ke arah Ardian, "sejujurnya aku merasa malu karena itu.."


"Ahahahaha.... dasar istriku, ada-ada saja kelakuan kamu ini! mungkin inilah alasan aku selalu menyukai kamu, kau benar-benar bukan wanita yang membosankan, selalu memberi aku hal yang baru.."


"Tentu saja aku tidak membosankan, kau pikir aku ini wanita penghibur? yang kalau sudah selesai menghibur, kembali menjadi membosankan begitu?"


"Memangnya kau tahu apa soal wanita penghibur?" tanya Ardian penuh ledekan.


"Jangan bertanya seperti itu, kau terkesan sangat meledekku, padahal kau sendiri sungguh tidak tahu apapun tentang hal itu juga.." Jawab Naira.


"Ya, ya," mengangguk saja, "kau benar, kita adalah satu pasangan yang bertemu dan bersatu dalam indahnya cinta pertama, aku akui tidak ada wanita yang lebih menarik dari dirimu.."


"Kau berkata terlalu jujur Ardian, makanlah, jangan di buat kenyang dengan gombalan kamu itu, kau tidak akan sehat kalau hanya makan ucapan kamu saja.."


"Ah, kau ini!"


Drrrttt Drrrttt

__ADS_1


Ponsel Ardian terdengar berbunyi, bergetar dan membuat saku celananya terasa bergerak.


"Sebentar, ya," ucap Ardian sambil mencoba mengambil ponsel miliknya.


"Angkat saja," ucap Naira sambil terus melahap makanan.


"Orang kantor!" ucap Ardian lagi, mengisyaratkan pada istrinya kalau dia sedang mendapat telepon penting.


Iya, mungkin memang penting.


Bip!


"Hallo," sapa Ardian untuk pertama kalinya.


"Hallo, pak! apakah anda bisa datang ke kantor saat ini juga?!"


"Cih! kau baru saja memanggil aku, Pak!" Ardian terkekeh mendengar suara Allianz memanggilnya.


"Ayolah, jangan buat aku berada dalam kesulitan, kau harus bantu aku menyelesaikan masalah ini, apa salahnya aku memanggil kamu dengan sebutan Pak!?"


"Baiklah, ada apa memangnya? apa ada hal yang penting?"


"Banyak yang datang untuk melamar pekerjaan, tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana harus memulainya.."


"Luis katamu? dia sendiri tidak masuk ke kantor hari ini, apa dia tidak memberi tahu padamu kalau hari ini dia juga cuti?"


"Ah? kau benar! dia juga mengatakan hal yang sama padaku, di mana Sanni? apa dia juga tidak ada di sana?" tanya Ardian lagi.


"Dia sedang di tugaskan untuk terjun ke lapangan, dan di sini tidak terlihat atasan penting yang pandai mengurus hal semacam ini.."


"Kalau begitu, kau terima saja formulir pendaftaran dari mereka semua, aku akan melihatnya nanti, tunggu sebentar, aku akan segera kesana.."


"Cepatlah datang!"


"Baik!"


Bip!


"Ada apa?" tanya Naira pada sang suami.


"Kakak kamu bahkan tidak tahu bagaimana mengatasi hal sekecil itu, nampaknya aku tidak bisa menemani kamu, sayang, aku harus segera pergi dan menemui kakak kamu," ucap Ardian penuh sesal.


"Tidak apa-apa, pergilah dan urus pekerjaan kamu, aku bisa sendiri, kok!" jawab Naira dengan senyuman manisnya.


"Baiklah, maafkan aku, aku tidak bisa menjaga ucapanku," dia terlihat mengambil sesuatu dari dalam dompet miliknya, lalu terlihat memberikannya pada Naira, "bayar saja dengan kartuku, jangan membuang uang di dalam kartu kamu kalau hanya untuk makan di luar," ucapnya penuh perhatian.

__ADS_1


"Kau tidak perlu repot-repot begini, kan?" Naira terlihat bingung.


"Tidak apa-apa, aku kan jarang mentraktir kamu makan atau belanja di luar, jadi pakai saja sesuka hatimu."


Padahal baru kemarin rasanya dia mengajak aku berbelanja barang-barang mahal saat mencari perlengkapan untuk Luzia juga..


"Baiklah, aku akan pergi," bangun dari duduknya, "sampai jumpa sayang.."


Cup!


Mengecup kening Naira dengan lemah lembut, lalu pergi..


"Hati-hati, ya.. jangan sampai terburu-buru ke kantornya.." pesan Naira pada sang suami.


"Kau juga, jangan sendirian di luar, cepatlah kembali ke rumah sakit!!" dan suaminya juga terdengar memberi dia pesan singkat.


Hum!


"Tomyam ini enak sekali, apa aku bisa pesan satu lagi?"


Terlihat mengangkat tangan..


"Mbak!"


"Iya, Nyonya.."


"Aku mau tomyam ini satu lagi.."


"Baik, Nyonya.."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Hari ini adalah hari yang sangat membuat aku senang, semua urusan aku terasa begitu mudah terjadi, dan bisa aku urus dengan cepat, dan sekarang, aku sudah masuk ke kantor Ardian, bagaimana pun caranya, aku harus di terima di sini!"


Wanita itu rupanya telah masuk ke dalam perusahaan Ardian, dan terlihat menenteng formulir pendaftaran yang juga telah di sertakan beberapa syarat di sana.


Entah apa yang dia lakukan, hingga dengan mudahnya dia masuk ke dalam perusahaan Ardian, padahal dia sendiri hanya tamat SMA.


Huhh! hari pertama aku masuk ke sini, aku benar-benar harus di terima, aku tidak boleh mendapat penolakan dari sini!


Wanita itu nampak percaya diri dengan beberapa dokumen palsu yang akan menjadi jalan masuknya di ke dalam perusahaan Ardian.


Dia sungguh bakal pembawa petaka!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2