
Wanita itu nampak berjalan menuju ke dalam ruangan bersama dengan sang suami, lalu setelah itu, bayangan mereka berdua pun hilang dari pelupuk mata Naira.
Entah mengapa ada rasa senang tersendiri saat aku lupa segalanya, lalu kedua mertuaku datang, dan meminta maaf, seolah hari paling sial di sepanjang hidupku, yang sama sekali tidak mampu aku ingat, hari ini, saat dia meminta maaf dan berterima kasih padaku, semua hal buruk itu sirna dan hilang, padahal, aku sendiri masih belum mengingat apa yang terjadi di masa lalu.. Semoga kedatangan kedua mertuaku adalah awal yang baik untuk keluarga kami..
Kriettt!!
Naira menoleh, sang suami rupanya memilih keluar dari ruangan itu, dan mencoba berjalan sambil tersenyum ke arahnya dengan manis.
"Oh, istriku," merentangkan kedua tangannya, bahkan hampir menangis.
Iya, mata Ardian nampak berkaca-kaca, jadi sudah pasti pria itu hampir saja meledak tangisnya.
"Ada apa denganmu, sayang? kau baik-baik saja?" tanya Naira agak bingung.
Namun..
Hap!
Pria itu langsung saja memeluk sang istri dan mendekap tubuh kecil istrinya dalam pelukannya yang amat menyesakkan. Jujur saja, Naira mungkin merasa sesak karena pelukan itu.
Huhh!
Bisakah kau juga memikirkan bagaimana kondisi terkini dari istrimu, Ardian?
"Apa yang kau lakukan? kau menangis?" tanya Naira dalam pelukan suaminya.
"Aku menangis, melihat adikku melahirkan, dan berjuang sekuat tenaga untuk membawa anaknya lahir ke dunia ini, aku sungguh merasa bersalah pada istriku, kenapa aku masih saja ingin menghamili kamu, padahal perjuangan melahirkan jauh lebih sulit dari pada membuatnya!"
π ( Ekspresi Naira ).
"Dasar kau!" umpat wanita itu sambil memukul bahu sang suami.
"Aw!" melepas pelukan dan memasang wajah bingung, "sayang, kenapa kau memukul aku? apa salahku?"
"Kau ini, sedang dalam masa-masa lega karena habis di suguhi ketegangan yang luar biasa, bisakah pemikiran kamu tidak melulu menuju ke arah sana?" dia terlihat kesal.
"Baiklah, apa yang kau mau? kita makan di luar, supaya kau bisa tenang, dan berhenti mengamuk pada suami kamu ini! ayo!" ajak Ardian, berharap bisa meredakan tingkat emosi yang sudah hampir memuncak di dahi istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan makan sampai puas! kau jangan menyesal telah mentraktir aku nanti!" ucap sang istri padanya.
"Oke! ayo kita makan sampai puas!"
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Oke, mulai hari ini, aku harus bekerja yang lebih giat dan lebih baik, ini semua demi masa depanku dan Hana, aku akan mencoba merubah diriku, jadi lebih baik dari sebelumnya.."
Pria itu tengah mencoba memulai pekerjaan barunya dengan lebih serius. Berbeda dari beberapa Minggu yang lalu, saat dia masih saja malas dan lebih mementingkan minum-minum dari pada pekerjaan, kini dia sudah mulai mencoba terjun lebih baik dalam pekerjaan ini.
Ini semua dia lakukan demi sang istri, Hana yang selalu dia cintai, dan tidak akan pernah bisa tergantikan.
Itu mungkin, tidak tahu nantinya bagaimana.
"Pak, anda mungkin butuh sekretaris baru yang bisa membantu anda jadi lebih baik," ucap salah seorang pria yang tengah berdiri di sampingnya.
"Pak, saya ini karyawan biasa seperti anda, mana mungkin saya membutuhkan sekretaris handal, macam Ardian! tunggu saya lebih hebat dari anda dan bisa naik jabatan, lalu setelah itu, baru kau sarankan aku untuk mencari asisten untukku!" ucap Allianz terlihat bercanda dengan sahabat barunya.
"Hahaha... semoga saja kau cepat naik jabatan, All! aku tahu, bagi orang seperti kamu, yang memiliki hubungan darah langsung dengan CEO kita, mau naik jabatan juga tidak terlalu susah, mungkin kamu bisa sedikit mencoba membujuknya.." Ucap Valhein, pemuda yang kini jadi rekan kerja Allianz.
"Baiklah, sebentar lagi jam makan siang, kau mau makan di kantin?" ajak Valhein sambil menilik jam di tangannya.
"Oke, aku akan menyelesaikan yang satu ini dulu, tunggu aku sebentar."
"Baiklah!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Makanlah yang banyak, kau harus punya lebih banyak tenaga untuk memulihkan badanmu," ucap Naira pada suaminya saat mereka berdua telah tiba dan menghadap deretan makanan di restoran.
"Kau memang selalu saja perhatian untuk soal makanan, baiklah, aku akan makan yang banyak, supaya aku cepat memberimu putri seperti Luzia," ucap Ardian setengah meledek.
"Jadi kau masih berpikir untuk memiliki anak lagi? aku pikir, kamu sudah sangat kasihan saat melihat Luzia melahirkan seperti itu, rupanya kau masih saja menginginkan seorang putri," sekarang dia tersenyum agak lebar.
"Bagaimanapun juga, aku tidak mau memusingkan dirimu, jika kamu tidak mau tambah anak, ya aku akan mengalah, satu saja sudah cukup mengganggu waktu kebersamaan kita," dia terlihat mulai mengungkapkan isi hatinya tentang anak kecil itu.
"Apa kau sedang memiliki rasa dendam karena anak kamu?"
__ADS_1
"Iya, kau benar, dia tidak pernah mengizinkan aku untuk dekat dengan dirimu, dia sudah seperti pacarmu saja, dan aku, aku hanya selingkuhan kamu, bagiku itu sungguh tidak adil sama sekali.." Dia terlihat kesal dan sedih.
"Lalu apa yang kau mau? dia kan juga anak kamu," dia menyantap makanannya.
"Tentu saja aku hanya bisa mengalah, bagaimana pun juga, dia Ardian Junior, jadi aku tidak akan pernah membencinya, hanya saja, aku juga butuh banyak waktu bersama istriku.." menatap penuh cinta.
Berbunga-bunga..
Namun Naira hanya terlihat menutup mukanya, dan menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mulai agak memerah.
"Kenapa kau tutup mukamu saat aku bicara seperti itu?" tanya sang suami sambil mencoba membuka tangan istrinya.
"Kau membuat aku malu, lihatlah, semua orang menatap kita karena ucapan kamu barusan, mungkin mereka pikir, aku tidak memberi kamu jatah yang sepadan selama ini.." jawab Naira dengan malunya.
"Ahahahahaha.. hahahahaaaa.. ada-ada saja istriku ini, kau malu karena itu? apa kau sudah bisa memastikan mereka menatap kita berdua karena mendengar perkataan kita barusan? bagaimana kalau ternyata dia menatap kita berdua karena kecantikan dan kelembutan di wajahmu?" tanya Ardian mencoba menggoda istrinya.
"Ah, kau membuat aku semakin malu saja, dasar kau!" dia terlihat semakin rapat menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ayolah, buka tanganmu, aku juga harus menatap wajah kamu saat malu seperti itu, berbagilah.."
"Tidak akan! makan saja, aku akan membungkusnya nanti!"
"Hahahaha.. yang benar saja, baiklah, aku akan makan, tapi setelah kau berhasil mengatasi rasa malu kamu.." ucap Ardian pada istrinya.
"Apa maksud kamu?"
"Aku tunggu sampai kau membuka tanganmu, dan makan dengan tenang.."
"A?"
Menunggu..
Setia menunggu..
Masih setia menunggu..
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1