Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Maafmu Tiada Lagi Berguna Bagiku


__ADS_3

Allianz membaca surat yang di berikan oleh mantan istrinya, Hana. matanya membola terkejut melihat surat itu mendarat di atas telapak tangannya, dengan isi yang tak pernah bisa dia maafkan.


"Maaf, aku harus memecat kamu dari perusahaan.." ucap Hana tanpa menatap ke arah Allianz sedikitpun.


Mendengar dan melihat bukti pemecatan tidak terhormat dari atasannya, yang tak lain adalah mantan istrinya sendiri, tentu saja Allianz tak terima.


Tangannya gemetar menahan emosi yang akan meluap-luap tak bisa dia kendalikan jika sampai lepas dari tahanan.


Hatinya panas pedih melihat sebuah perlakuan yang menjengkelkan dari Hana untuknya.


Apa seburuk itu dia, sampai Hana pun memilih untuk menyingkirkan dia? Namun kembali lagi, semua ini tidak akan pernah terjadi jika Visha tidak campur tangan mengurus pekerjaannya.


Bukankah dia di pecat sudah pasti karena ulah Visha kemarin pagi?


"Aku tidak bisa mempertahankan seseorang yang tidak berkompeten seperti anda!" Ucap Hana dengan bengisnya, bahkan tatapan matanya sama sekali tidak memancarkan perasaan iba sama sekali.


"Kau memecat aku? Hanya karena kemarin kau bertengkar dengan Visha?" Tanya Allianz memastikan semuanya memang benar.


"Tidak!" Jawab Hana agak berbohong memang, "aku tidak suka saat seorang laki-laki bekerja tanpa profesionalitasnya, lebih baik mundur saja dari pada tidak bisa bersikap tegas!"


"Jadi kau menyalahkan aku karena aku tidak bisa tegas pada istriku sendiri?" Tanya Allianz kali ini dengan nada yang agak tinggi.


Mendengar pertanyaan dari Allianz, membuat Hana harus mengalihkan pandangannya dari beberapa berkas di atas meja yang harus dia periksa.


Di tutuplah beberapa berkas di atas meja dengan kedua tangannya, lalu ia mencoba mengalihkan pandangannya menuju ke arah wajah Allianz.


"Aku tidak mau mendapat masalah dari masalah pribadimu dan juga Visha! Aku juga harus memikirkan perusahaanku, memikirkan diriku yang bisa saja terseret masalah karena kejadian kemarin, aku tidak mau namaku tercemar karena kalian!" Jawab Hana dengan sangat tegas, pun lugas.


"Hahh!" Allianz mengeluarkan nafasnya dengan sangat kasar, tidak terima dengan perlakuan Hana yang menurut dia tidak profesional sebagai seorang atasan, "kau memecat aku karena masalah pribadiku? Orang macam apa kau ini?"


"Masalah pribadimu akan menyeret namaku juga, jadi sebelum semuanya terlambat, aku harus mengambil keputusan ini!" Jawab Hana lagi, seolah tak kehabisan kata untuk menjawab jawaban dari semua pertanyaan Allianz, "lagipula kenapa kau cemas? Apa kau sungguh tidak memiliki uang, sampai-sampai kehilangan pekerjaan di perusahaanku kau bisa sedepresi itu? Atau memang kau sudah tidak bisa bekerja lagi di perusahaan lain, karena mereka tahu kasus kamu di masa lalu?" Tanya Hana mencecar mantan suaminya.


Merasa di hina mentah-mentah, Allianz akhirnya membangkitkan tubuhnya. Di pukul saja muka meja di hadapannya, hingga menimbulkan suara yang amat keras.


Brak!


Namun Hana tak bergeming, pun tak terkejut. Agaknya kedua telinganya sudah tidak asing lagi mendengar hal seperti itu di masa lalu, hingga terbawa sampai sekarang, andaikata Allianz meledakkan bom di hadapannya pun dia tak lagi terkejut atau pun memejamkan matanya.


Pria itu dengan perlahan mendekat ke arah Hana, mengungkung di depan wanita itu, menatap kedua netra Hana penuh dengan kemarahan, kekecewaan, dan beragam perasaan yang tak bisa dia ungkapkan satu per satu.


Ia tahu semua yang dia pendam seorang diri di dalam hatinya tak akan ada gunanya jika dia ungkapkan di depan wanita ini. Toh, semuanya yang ada pada dirinya sekarang telah berubah gelap tak lagi berwarna dan berhias kebahagiaan seperti dulu.


Sekarang dia menjadi gelap, gelap mata, pun gelap di hati. Dia terlihat mundur, menyadari dirinya yang tak lagi punya harga diri dan tenggelam jatuh akibat sebuah kenikmatan dunia yang menyesatkan.


Entah mengapa kesadaran itu mendadak menghampiri otaknya tatkala menatap wajah Hana dengan sangat dekat, bahkan lebih dekat di banding saat bersama Visha.


Meski wanita itu memalingkan mukanya, seolah jijik sekali meski untuk sekedar melihat wajahnya, tapi karena itulah dia merasa sadar, sadar akan segalanya, sadar akan harga dirinya yang jatuh hanya karena uang, dan wanita!


Ia melepaskan kedua tangannya dari kursi tempat Hana bersandar, di jauhkan tubuhnya yang semula condong mengunci Hana dengan jeratannya.


"Baiklah, aku minta maaf..."


Entah mengapa mulutnya berkata demikian. Lidahnya pun juga sinkron tak bisa di kendalikan saat mengucapkan kalimat sederhana namun penuh arti itu.

__ADS_1


Setelah sekian lama mereka tak pernah akur, hanya selalu berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain, jika berjumpa hanya ada sorot kebencian dan kesalahpahaman, dan kini, kata-kata itu membuat keduanya bergetar ngeri.


Ada perasaan yang tak mampu di mengerti oleh keduanya, perasaan yang saling bercampur menguatkan isi hatinya yang sebenarnya masih sangat terluka karena kejadian di masa lalu di antara mereka.


Namun kata-kata maaf dari Allianz barusan seolah memecah segalanya. Memecah perasaan yang terpendam selama beberapa tahun terakhir, menguak segala macam isi hati yang selama ini tak dapat terungkapkan.


Namun apalah daya, keduanya sama-sama tak berdaya. Keduanya hanya bisa saling diam dan tak bisa mengungkapkan apapun di sana, hanya bisa saling memaku terkejut mendengar kata maaf dari Allianz.


Merasa canggung dengan kejadian ini, Hana buru-buru kembali memfokuskan pikiran dan arah matanya ke arah beberapa berkas di atas meja, seolah juga menyiratkan perintah pada Allianz untuk segera pergi.


Karena ia tak mau perasaan seperti ini terlalu lama dia rasakan.


Bukankah lebih baik menjauh, dari pada dekat dan kembali mengingatkan dia akan kejadian masa lalunya yang amat mengerikan?


Merasa tengah di usir secara halus oleh Hana, Allianz pun menyadarinya. ia segera berbalik dan berpikir untuk segera pergi dari sana.


Namun dia sangat terkejut, saat dia dapati seorang wanita yang tengah berdiri di pintu keluar, memasang wajah sedih dan terlukanya dengan sangat mengerikan.


"Visha?" Gumam Allianz dengan lirih, seketika membuat Hana harus kembali mendongak dan melihat siapa yang datang di luar sana.


Namun wanita di pintu keluar itu terlihat menangis sembari bergerak berlari cepat meninggalkan Allianz dan Hana di sana, membuat Hana juga harus bangkit dari kursinya dan menatapnya pergi.


Sang pria tak bergeming dari tempatnya. Ia malah memaku saja tidak berniat mengejar sang istri sama sekali, membuat Hana tercengang kala melihatnya.


"Kenapa kau tidak mengejarnya?" Tanya Hana pada Allianz.


Pria itu tak menjawab. Ia hanya terlihat menitihkan air matanya, lalu menangis tersedu-sedu di depan Hana, dengan posisi membelakangi Hana, memunggungi Hana, sampai Hana pun tak bisa melihat seberapa sakit tangisnya itu.


Hana menjadi diam seribu bahasa. Perasaannya yang semula meronta menginginkan di luapkan amarahnya pada pria ini, mendadak redam, bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk di kursi kembali, melukiskan betapa perasaannya kali ini tak bisa di mengerti.


Namun lagi dan lagi dia malah terdiam, tak punya kekuatan untuk menanyakannya pada Allianz. Bukankah ia memang tak punya hak untuk bertanya lagi pada pria itu?


Baginya, pertanyaan itu memang sangatlah menjijikan!


Hiks hiks hiks..


Tangisan pria itu malah makin meronta, menjatuhkan tubuh pemiliknya ke lantai, membanting tubuh Allianz dengan penuh penyesalan, membunuh Allianz dengan perasaan rumit yang tumbuh subur di dalam hatinya.


Namun Hana tak menggubrisnya. Ia tak menoleh sedikitpun ke arah Allianz, meski kedua matanya tak bisa berbohong, ingin sekali meluruhkan air matanya yang sudah menggenang membuat keduanya terlihat berkaca-kaca.


"Hana, salahkah jika aku masih mencintai kamu... Hiks hiks.."


Deg!


Jantung Hana bergemuruh dengan sangat cepat, mewakili hatinya yang juga tak bisa diam meronta, tatkala mendengar ucapan Allianz barusan. Ucapan yang akan membuat dia lumpuh dan menjadi orang paling hina di dunia ini jika dia sampai membalasnya.


"Aku masih mencintai kamu, aku menikahi Visha karena kau yang mengkhianati aku, aku menikah dengan dia tapi otakku masih saja memikirkan tentang dirimu, sudah aku coba melupakan kamu, aku coba mengkhianati kamu untuk membalas dendamku padamu, mengabaikan kamu yang tengah tersiksa di dalam jeruji besi, berharap dengan begitu aku akan semakin membencimu, menceraikan kamu, dan kemudian mencintai Visha sepenuh hatiku, tapi mengapa? Mengapa bayang-bayang kamu malah semakin gencar menghantui otakku setelah kau kembali dan memunculkan wajahmu di depanku?" Ucap Allianz penuh sesak.


"Kau bahkan selalu saja hadir dalam mimpiku di setiap malam, padahal seharusnya aku membenci kamu karena kau melakukan pengkhianatan padaku di masa lalu, tapi kenapa aku malah tidak bisa membenci kamu? Bahkan saat kau menghinaku tatkala kau sudah berada di atas, aku bahkan menerimanya dengan senang hati, seolah lebih baik dirimu yang bahagia dari pada diriku sendiri.."


Hiks hiks...


Kali ini Hana tak mampu lagi membendung air matanya. Luruh sudah berlian bening dari matanya, jatuh membasahi pipinya yang manis dan juga anggun.

__ADS_1


Ia mendengar jawaban langsung dari Allianz soal pertanyaan yang membendung di hatinya tak mampu dia ungkapkan.


Namun apakah dia harus merasa senang? Apa dia akan sangat puas saat sudah mendapatkan jawaban yang sesuai dengan feelingnya?


Tidak!


Ia malah makin benci dengan sosok pria di depannya ini. Ia malah tak lagi punya rasa iba atau mungkin hanya sekedar belas kasihan untuk Allianz. Baginya contoh pria seperti ini tidak pantas mendapatkan simpatinya.


Semua ucapan yang di lontarkan Allianz padanya barusan, sama sekali tidak membuat hatinya tergerak, sama sekali tidak membuat arahnya berbelok, apalagi sampai berbalik kepadanya.


Sampai kapanpun tak akan pernah terjadi!


"Mengapa aku malah merasa bersalah setelah mendapati diriku yang membalas dendam padamu karena kau mengkhianati aku dengan mendiang Lu Zamorgan? Mengapa sekarang jadi aku yang merasa manusia paling hina?"


"Karena kau memang hina! Kau memang tidak pantas aku maafkan, kau memang orang yang paling bersalah di sini! Kau membuat aku hanyut dalam cinta yang buta, cinta yang membutakan kedua mataku, dan cinta yang pada akhirnya juga harus membunuh perasaanku! Lalu sekarang, kau juga hendak melakukan hal yang sama pada Visha, kau menjeratnya dalam sebuah ikatan hingga dia jatuh cinta dan tak bisa lepas dari perasaan itu, namun diam-diam kau malah mengkhianati cintanya, kau malah berpikir menikahi dia untuk membalas dendam padaku! Sekarang lihat siapa yang hina di sini! Aku atau kau?!"


Allianz mendiamkan tangisnya. Bagaimanapun dia merasa malu berada di depan Hana, mengungkapkan semua yang dia rasakan selama beberapa tahun ini, terkekang dalam pernikahan yang dia rencanakan sendiri bersama Visha, percobaan balas dendam pada sosok Hana yang entah mengapa sekarang di matanya bahkan hanya seorang wanita yang terpaksa mendapat tuduhan darinya.


Dan kini dia bangkit, membangkitkan tubuhnya dengan hina, menguatkan dirinya meski seolah ia telah mati.


Mati sebelum kematian!


Di tataplah wajah Hana yang masih berpaling dari tatapan kedua matanya, mungkin wanita itu benar-benar merasa jijik dengan dirinya itu.


Ya, mungkin memang benar.


Ia akhirnya mulai bergerak keluar dari ruangan, menitah kakinya yang lemas dan hampir limbung untuk segera pergi dari tempat itu.


Ia tak pernah punya niat untuk menyusul Visha meski di mana wanita itu berada, yang dia lakukan selanjutnya hanyalah, mencoba meluruskan jalan yang telah berbelok.


Semoga dia tak kehilangan dua-duanya.


Begitulah pikir pria serakah itu, pikir seorang pria yang meskipun telah di sadarkan oleh sebuah keadaan, namun tetap saja ia tak ingin kalah dalam peperangan, ia tak ingin keinginannya runtuh dan harus mengalah oleh kejamnya takdir. Bagaimanapun, jika bukan Hana, maka setidaknya Visha masih harus berada dalam genggaman tangannya.


Dari sini, pertanyaan mulai mencuat, apakah kata-kata penyesalan di atas memang benar dia rasakan sendiri, atau ia hanya sedang berpura-pura saja mengatakannya, membuat pembelaan untuk dirinya sendiri, seolah ia tak pernah salah, ia tak pernah menduakan Hana secara perasaan, hanya untuk bisa mendapat posisi kembali di samping Hana, karena Hana yang sekarang bukanlah Hana yang dia temui di masa lalu.


Ya, entah mengapa sekarang terjadi saja pemikiran seperti itu di dalam otak Hana. Entah pemikiran itu memang benar, atau mungkin hanya sekedar perasaannya saja, tapi perasaannya mengatakan, Allianz bukanlah seorang pria yang tulus mengatakan kata maaf di mulutnya.


Pasti ada maksud tersendiri mengapa Allianz mengatakan semua itu padanya barusan, ya, begitulah pemikiran Hana sekarang.


Aku mungkin pernah bertanya-tanya bagaimana kau bisa mencintai aku sedalam itu di masa lalu, dan bagaimana kau bisa mengacuhkan aku secepat itu dengan Visha..


Namun rupanya aku memang terlalu bodoh sampai berusaha memikirkannya, padahal seharusnya aku tahu, perasaan kamu padaku, dan perasaan kamu pada Visha, tak pernah tulus berasal dari hatimu..


Selama ini aku mengenalmu, aku tak pernah mendengar kata maaf dari mulut kamu, kecuali kalau kau benar-benar membutuhkan seseorang di sampingmu, dan mendukung, atau lebih tepatnya, membantumu dalam segala hal, termasuk...


Uang!


Dan sejak aku punya pemikiran seperti itu, lantas hatiku tertutup dengan tiba-tiba meskipun jujur saja, masih ada sedikit rasa di hatiku untuk dirimu...


Mengapa itu sampai terjadi?


Karena aku bukan wanita yang bisa di butakan oleh cinta seperti dulu, mata hatiku kini telah terbuka, dan aku, memilih mengalahkan perasaan cintaku, di banding harus mengulang luka untuk yang kedua kalinya..

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2