
Setelah semua yang terjadi, kini Hana akhirnya mendekam di dalam jeruji besi. Dengan suhu yang terkadang panas, dan terkadang juga dingin sekali, dia lalui semua itu untuk lima tahun ke depan.
Dia meringkuk, tak bisa lagi berkata-kata, atau pun sekedar menghembuskan nafasnya dengan tenang.
Bau busuk yang datang dari ruangan di sebelah memang membuat dia tak bisa banyak bergerak, sekalinya bergerak, dia pasti akan muntah.
Entah siapa yang menempati sel di sampingnya, yang jelas, bau busuk yang di hasilkan pemilik sel di sampingnya itu sungguh amat mengganggunya.
Dalam diam dia merenung, memikirkan bagaimana nasib dirinya untuk lima tahun ke depan, lebih lagi, bagaimana nasib Zhoulin kecilnya setelah ia tinggal pergi.
Semua itu sungguh menghantui dia siang dan malam, sampai akhirnya satu Minggu pun berlalu..
Rasanya lambat sekali harus melalui satu Minggu pertama di dalam sel tahanan. Bak satu tahun di dunia luar, yang di penuhi dengan kekosongan, dan kesepian.
Glek!
"Bu Hana, ada seseorang yang datang berkunjung!"
Setiap kali anggota jaga mengatakan hal demikian, sungguh betapa senangnya hati Hana, setidaknya masih ada yang ingat akan dirinya, masih ada seseorang yang peduli pada nasib malangnya di dalam penjara.
Bergegas saja Hana bangkit, setiap kali ada panggilan untuknya.
Dia berjalan keluar, di pakaikan borgol di tangan, dan di giring oleh dua penjaga.
Miris sekali saat melihat keadaan Hana sekarang, keadaan yang sungguh memaksa dia harus bertahan dalam satu tempat kumuh yang amat sempit.
Dia berjalan menuju ke arah keluar, dan mendapati sosok Ardian dengan Zarren yang terduduk di sana, menanti kehadiran dia dari dalam sel.
"Kau yang membayar denda lima milyar itu, kan?" tanya Hana pada Ardian sesaat usai dia terduduk di depan Ardian.
"Ya! kau benar, aku yang membayar dendanya," jawab Ardian tanpa menolak sedikitpun.
Mendengar penuturan jujur dari mulut Ardian, membuat Hana sedikit merasa kecewa. Dia berharap suaminya lah yang membayar semua dendanya, tapi di mana dia, Hana pun tak pernah tahu.
__ADS_1
Satu Minggu dia di tahan dalam sel, Allianz tidak pernah datang untuk sekedar menjenguknya, dia juga tak pernah mengirim pesan atau apapun padanya, sejauh ini, Hana benar-benar di buat kesepian oleh Allianz.
Dia hanya butuh sosok pria yang datang dan pergi hanya untuk sekedar menemui dia meski hanya satu minggu sekali saja, atau setidaknya, ia bisa melihat potret Zhoulin saat sedang bermain di rumah, dia rindu semua yang ada dalam rumah suaminya, tapi dia sama sekali tidak bisa mencurahkan semua yang ingin dia ungkapkan, karena pada dasarnya, semua yang dekat dengannya, tidak bisa mendampingi dia untuk sekarang.
Wanita itu masih diam, bingung ingin menjelaskan suasana hatinya yang amat menyedihkan. Dia tak mampu menahan gejolak amarah dan rasa sesak yang entah perasaan apa di dalam hatinya.
Namun dia tak mampu mengutarakan, dia hanya bisa merenung dalam diamnya, berusaha tegar untuk menghadapi segala beban batinnya.
"Bagaimana kabar Zhoulin?" tanya Hana dengan lirih.
"Dia baik, aku sudah memperingatkan suster dan pelayan untuk mengurusnya, aku memberi mereka hukuman berat kalau berani macam-macam dengan anakmu, kau bisa tenang dan lega, karena dia tidak melulu mencari kamu.."
"Tidak melulu...."
"Ada saatnya dia harus jadi laki-laki mandiri, lagi pula dia juga semangat hidupmu, jadi buat wajahnya menjadi penyemangat perjuangan kamu di sini."
Hana mengangguk lirih, "aku mengerti.."
"Allianz ada di mana?"
Ardian nampak biasa-biasa saja dengan pertanyaan dari Hana. Meskipun dia sendiri sejujurnya tidak sanggup mengatakan semua yang terjadi pada suaminya itu, tidak, untuk saat ini, biarlah semua menjadi bayangan semu, Hana tidak boleh tahu semuanya, atau dia akan merasa semakin tertekan di dalam jeruji besi.
"Dia tugas di luar kota, sejak setelah kau di sidang, dia langsung berangkat, tidak tahu kapan dia akan kembali.."
"Oh, tugas.."
Entah mengapa Hana tidak mempercayai kata-kata Ardian barusan. Dalam hati kecilnya, ada yang tidak beres dengan suaminya itu, namun apalah daya, ia tak mampu mengungkap semuanya di depan Ardian, biarlah kecurigaan di hatinya tetap berada di sana, tak perlu di umbar-umbar untuk sekarang, tidak tahu nanti..
"Tolong jaga Zhoulin untukku," ucap Hana dengan kesedihannya.
"Aku janji akan menjaga anakmu, kau tak perlu risau, dia aman bersamaku.."
"Apa Naira masih belum tahu aku di penjara?"
__ADS_1
"Dia menanyakan kabarmu sejak empat hari lalu, dia juga bertanya padaku kenapa ponselmu tidak pernah aktif, aku hanya bilang untuk mengabaikan kamu saja, lagi pula kamu juga butuh waktu untuk menyendiri, ya, dia akhirnya mengangguk dan mengiyakan, tidak tahu untuk hari ini, aku bahkan tidak minta izin padanya saat hendak pergi kemari, dia masih tidur dengan bayi kecil keduaku dalam perutnya.."
"Syukurlah, kau tak perlu susah-susah untuk memberitahu dia, akan lebih baik kalau dia tidak tahu apapun mengenai aku.."
"Ya!"
💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Langkah kaki Ardian kini terlihat keluar dari lapas, dan meninggalkan tempat jahanam itu dengan Zarren dan juga Luis.
Ketiga pria tampan dan gagah itu nampak berwibawa dengan penampilan mereka yang sangat rapi.
Mereka berjalan menuju mobil Ardian, dan masuklah mereka bertiga ke dalam mobil tersebut.
Blam!
Pintu di tutup dengan rapat, dan mereka semua terlihat memasang sabuk pengaman.
"Aku sungguh tidak tega menyaksikan kisahnya yang pilu.." Ucap Zarren setelah tiba di dalam mobil.
"Menurut aku, dia yang tertindas di sini, bukankah seharusnya Tuan Allianz yang di penjara?" ucap Zarren pada mereka lagi.
"Tuan Allianz di penjara? kenapa sampai bisa sejauh itu? hey, Zarren, dia tidak punya catatan kriminal di kepolisian, mana bisa dia di penjara tanpa kasus, ada-ada saja.." Umpat Luis dengan kesalnya di belakang kemudi.
"Entahlah, aku hanya kesal saja pada pria itu, istrinya sedang di hukum dan harus melalui semua itu selama lima tahun ke depan, tapi Tuan Allianz, dia malah pergi, berbulan madu dengan istri barunya, apa menikah dua kali dengan dua wanita berbeda memang terasa lebih menyenangkan?" tanya Zarren dengan polosnya.
Sementara, sang Tuan hanya terlihat mendengar ocehan mereka berdua, sambil menikmati mobil yang mulai bergerak keluar dari area tersebut.
"Itulah masalahnya, kita berdua belum pernah menikah, mana tahu bagaimana rasanya punya dua istri, sudahlah, aku jadi kesal dengan Tuan Allianz, bisa-bisanya dia melakukan hal ini saat istrinya sedang di timpa masalah.."
Karena hanya pria bodoh yang akan melakukannya..
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1