
Dan semuanya kini telah berlalu, berubah menjadi buliran kebahagiaan yang kembali hadir setelah bertahun-tahun tak pernah terasa menjumpai kehidupan mereka.
Dua puluh tahun telah terlampaui, seakan dunia begitu cepat berputar, seolah semua yang pernah terjadi di masa lalu pun perlahan mulai terlupakan, tergantikan dengan senyuman manis yang tak pernah bosan diceritakan.
Dua puluh tahun di luar, tanpa adanya penghalang jeruji besi yang menghalangi pergerakannya, memang terasa jauh lebih cepat dan lebih mudah dilalui, dibandingkan dengan dua puluh tahun harus berada dalam penjara, menikmati udara pengap yang terkadang seolah ingin membuat paru-parunya sesak, lalu kemudian mati.
Namun kini, semuanya telah berlalu begitu cepat, hingga dua puluh tahun itu pun akhirnya dapat terlewatkan.
"Mama!!!!!!"
Tak tak tak tak tak tak tak tak!!
Suara derap langkah kaki manusia itu terdengar menggaung membuat suara bising di seluruh ruangan rumah luas yang hanya diisi oleh beberapa orang saja.
"Mama!!! kemarilah!!! lihat hasilnya!!!!!" teriak dia lagi, seolah tak pernah puas sebelum melihat mama kesayangannya merasa bahagia.
"Apa yang membuat kamu seperti ini? apa kau menang lotre?"
Sosok wanita tua tengah berjalan dengan langkah kakinya yang masih saja terlihat sehat meskipun usianya sudah termasuk tua.
"Lihat apa yang anakmu bawa!!" ia menunjukkan benda di tangannya, dan menampilkan senyum kebahagiaan di bibirnya.
Sang ibunda menatap sebuah benda di tangan putranya, sebuah pencapaian luar biasa dari putranya, yang pada saat itu juga telah berhasil membuat dirinya membola, menatap dengan penuh keterkejutan hebat.
"Apa? apa kau sungguh melakukannya? apa kau sungguh berhasil? apa anakku berhasil?" tanya sang ibunda masih saja dibuat tak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya.
Namun anaknya mengangguk, memperlihatkan namanya tertulis di atas kertas, sebagai salah satu mahasiswa lulusan terbaik di universitas kedokteran, membuat sang ibu harus kembali menitihkan air mata penuh haru untuknya.
"Hah! Mama sungguh mempercayainya, mama tahu kau akan lulus dengan nilai yang memuaskan! selamat anakku! selamat!!" ucap ibundanya sambil meraih tangan anaknya, dan mengecupnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Mama, semua ini berkat mama, jika mama tidak berjuang keras menyekolahkan Alvis, Alvis tidak akan mungkin seperti ini, terima kasih, mama.."
Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu berakhir dalam pelukan ibunya, dengan penuh kehangatan dan haru bahagianya, seakan seluruh dunia kini berada dalam genggaman tangannya.
"Sayang, tidak ada yang lebih membuat mama bahagia, kecuali jika kau bahagia.." ucap Hana dengan senyumnya yang sudah semakin tua dan keriput.
...----------------...
"Mama, aku membawa hadiah ini untuk mama," menunjukkan kertas yang sama seperti yang dia tunjukkan pada Hana, "lihat, ini adalah hasil kerja keras Alvis, Ma, juga kerja keras Mama Hana selama ini, aku sangat berterima kasih pada Mama Hana, karena, jika tidak ada Mama Hana, mungkin semua ini tidak akan pernah berada dalam genggaman tanganku," ucap Alvis dengan senang hati.
Di sampingnya, Mama Hana terlihat terus berada dalam rangkulan putranya, dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
"Tapi semua ini juga tidak akan pernah bisa Alvis raih, kalau bukan karena Mama Visha yang membuat Alvis semangat, Mama Visha juga sangat berperan penting dalam kemajuan hidup Alvis, terima kasih, Ma, mama sudah membuat Alvis jadi orang yang paling beruntung di dunia ini, terima kasih telah melahirkan aku, mama bahagia di sana, jangan menangis terharu seperti Mama Hana, karena Mama Hana memang selalu menangis terharu karena aku, jadi untuk Mama Visha, jangan lakukan hal yang sama seperti Mama Hana, ya!?"
Mereka berdua terlihat menyimpulkan senyuman mereka, saling menatap penuh kasih sayang.
Kini mereka berdua telah pergi dari area pemakaman Visha, meninggalkan pusara Visha yang kini telah diselimuti kebahagiaan, menatap anaknya yang sangat bahagia hidup dengan sahabat yang pernah dia sakiti. Ia bahkan tak pernah tahu, putranya menjadi orang sukses, itu juga berkat Hana.
Ia nampak ciut pandangannya, terlihat bekas ia menahan air mata sampai terlihat kedua matanya merah dengan jelas. Jas hitam yang dia kenakan seolah telah usang, bahkan mungkin sebenarnya sudah tak lagi layak dia kenakan.
Hanya saja, ia tak punya uang, ia juga tak punya makanan untuk santap sorenya.
Ya, meski begitu, nampak senyuman tipis terlukis di bibirnya. Setidaknya dia telah menepati janjinya, menunggu dua puluh tahun dalam kurungan, dan akhirnya, pada hari ini, tepat setelah dia baru saja keluar dari jeruji besi, dia akhirnya bisa menatapi putranya yang telah tumbuh dewasa, bersama dengan seorang wanita yang pernah ia sakiti.
*Ya, seperti janjiku padamu, Hana, orang yang pertama kali akan aku lihat setelah bebas adalah Alvis! sayangnya, aku sudah tak punya nyali untuk mendekati kalian berdua, aku malu, malu sekali*!
Ia pun perlahan berjalan mendekat ke arah pusara Visha, dengan mata yang berkaca-kaca, dengan hati yang luka dan seolah remuk hancur berkeping-keping.
Visha, wanita yang telah dia bunuh, dia hancurkan masa depannya, dan bahkan dia hancurkan kehidupannya, kini dia tak lagi bisa memandangi wajah muda nan cantik itu, selain melalui potret yang bersandar pada batu nisan, menggambarkan betapa ayu dan manisnya wajah itu di masa muda.
__ADS_1
Ia tak duduk, pun tak menangis, hanya mencoba untuk lebih tegar, dan tidak mau mengusik Visha di dalam sana.
Penyesalan memang akan selalu datang terlambat, dan kini semuanya telah berlalu, semua telah terjadi, tinggal penyesalan saja yang selalu tumbuh di dalam hatinya, seolah menghantui otaknya, membuat dirinya tak bisa bangkit dengan benar.
Setiap kali ia ingin bangkit, bayang-bayang masa lalu bersama Visha dan Hana, selalu menghantuinya, menghentikan langkah kakinya, dan kemudian menjatuhkan tubuhnya di tempat.
*Hanya satu hal yang perlu kau ketahui, Vish! aku sungguh menyesal melakukannya*..
...----------------...
Dan pada akhirnya, cerita Hana dan konflik rumah tangganya telah berada di ujungnya, entah masih ada cerita apa lagi di masa depan kelak, hanya saja, terkadang kehidupan seperti yang terjadi pada Hana masih bisa terulang kembali..
Semua yang telah berlalu maka biarlah saja berlalu, mungkin hanya salam perpisahan sederhana yang bisa di katakan dalam kesempatan kali ini.
Sekali lagi, penyesalan memang selalu datang di akhir cerita, menjadi bumbu penyedap yang lezat untuk dikonsumsi, menjadi bagian akhir paling menyesakkan di dada kita, sama seperti Allianz yang pada akhirnya harus kehilangan segalanya, dua wanita yang sama-sama dia cintai, dan kejamnya lagi, bahkan putranya juga harus terenggut dari kehidupannya.
Semua itu karena keserakahan, serakah pada cinta, serakah pada dunia, dan uang!
Untuk semua akun yang telah membantu membuat author sangat bersemangat menghabiskan cerita ini sampai sejauh ini, terima kasih banyak πππ
Meskipun mohon maaf, karena banyak kesalahan, jalan cerita yang tidak mudah dipahami, karena memang, yah, inilah author recehan, jadi ya beginilah, mohon maaf yang sebesar-besarnya, sekali lagi terima kasih untuk dukungannya, yang suka kasih komentar, seneng bgt, karena kalian sudah menyempatkan waktu kalian untuk memberi semangat untuk saya βΊοΈβΊοΈ
Dan semoga, kita bisa kembali berjumpa di lain kesempatan, dengan wajah yang berbeda, tentunya semoga dengan cerita yang jauh lebih menarik lagi dibanding sebelumnya, terima kasih untuk semuanya ππππ
Akhir kata..
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
bye bye πππ
__ADS_1
salam cinta dari author π€π€πβ₯οΈ