
Allianz terlihat mengejar, dan mencoba menggapai wanita itu. Suasana di kantor memang masih lumayan sepi, dan apa yang mereka lakukan, selain cctv, maka tidak ada yang bisa melihatnya.
"Tunggu!" ucap Allianz lagi sambil meraih tangan Visha.
Grep!
Visha memaku di tempat. Hatinya grogi, dan juga bergemuruh hebat, tatkala mereka melakukan kontak fisik, meskipun hanya sebatas saling bersentuhan tangan.
Wanita itu terlihat berbalik, dan menatap Allianz dengan kedua matanya yang menyorot tajam.
"Apa lagi? kau mau apa lagi sekarang? plis! jangan ganggu aku, aku hanya ingin ketenangan, dan kau, kau sudah merusak masa depanku! kau sudah menodai aku, dan kau sudah membuat hidupku hancur!" dia terlihat menitihkan air matanya, padahal dia sama sekali tidak ingin menangis.
"Baiklah, aku mengerti apa yang sedang kamu rasakan, jadi sekarang, apa yang kamu mau? kau mau uang? atau mobil? aku akan berusaha mengabulkannya, asal kau tidak mengatakan kejadian malam itu pada siapapun, kau mengerti?" tawar Allianz yang cukup tinggi, ya, setidaknya rahasia mereka di malam itu tidak ada yang akan tahu.
"Kau pikir aku gila harta? kau pikir harga diriku bisa aku jual dengan uang?" Visha terlihat menggeleng perlahan, "tidak! aku bukan wanita murahan! kau harus tahu itu!"
"Aku tahu, aku juga tidak bisa memungkiri, kejadian di malam itu memang kesalahanku, aku minta maaf, aku yang salah, tapi tolong, jangan kau umbar kejadian malam itu, aku mohon!" ucap Allianz sambil terus memohon pada Visha.
"Enak sekali hidup kamu, mas!? kau menodai aku, dan sekarang, kau minta aku untuk diam? kau pikir aku bisa kau kendalikan?" tanya Visha sedikit kesal.
"Bukan maksud aku untuk menodai kamu malam itu, hanya saja, aku sudah lama tidak pernah merasakannya, dan saat aku melihat kamu, tubuh kamu, kau begitu menggoda hasratku, aku jadi tidak tahan untuk.." tidak mampu melanjutkan.
"Aku tahu! bagimu, aku ini hanya pelampiasan saja, kan? aku tahu, kamu hanya mencintai istri kamu, Hana!"
Jlger!!
Bak di sambar petir di siang bolong, hati Allianz dan jantungnya bergemuruh hebat kala mendengar wanita itu mengucap nama istrinya, dan hal itu sontak saja membuat dirinya begitu terkejut.
"Apa? kau kenal Hana? kau mengenali istriku?" tanya Allianz terlihat mendesak.
__ADS_1
"Kau pikir siapa aku? aku ini sahabat istrimu, yang menemani dia saat dia dalam pelarian meninggalkan kamu! tapi aku sungguh tidak menyangka, kalau aku akan di tiduri oleh suaminya, aku sungguh tidak sanggup mengatakan apapun lagi sekarang!" menangis terisak.
"Jadi, kenapa kau bisa ada di sini? apa kau sengaja datang ke sini, dan ingin menghancurkan pernikahan kami?" tanya Allianz mendesak Visha.
"Kau pikir aku hina? Allianz! aku datang ke sini karena pelarian, aku ingin lari dari tempat itu, tapi aku bahkan tidak pernah tahu, kalau aku akan kembali di pertemukan dengan kamu dan Hana di sini, aku tidak pernah menyangka!"
"Cih! kau pikir aku mempercayainya? dasar wanita penipu!" umpat Allianz pada Visha, tidak mudah mempercayai wanita seperti itu.
"Penipu katamu? kau mengatakan aku sebagai seorang penipu? lalu apa bedanya dengan kamu, yang menipu istrimu, memenjarakan rahasia besar kita berdua di malam itu, kau pikir kau bukan seorang penipu?"
"Dengar! aku tidak mau kau datang ke rumahku, dan bertemu Hana, kau harus pergi sejauh yang kau bisa, aku tidak mau rumah tanggaku terguncang hanya karena kesalahan satu malam bersama dengan wanita seperti kamu!"
"Diam kau! aku juga tidak pernah menginginkan hal ini untuk terjadi, aku sungguh tidak pernah mengira akan menjadi teman tidur satu malam suami sahabat aku sendiri, tapi asal kau tahu saja, kau sudah membuat hidup aku hancur, dan itu artinya, kau harus tanggung jawab padaku!"
"Tanggung jawab? apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menikahi kamu, begitu?" tanya Allianz sedikit kesal, dan merasa gila.
"Ya, nikahi aku, kau harus menebus semua dosa-dosa yang kita lakukan di malam itu, kau harus menikahi aku, atau kalau tidak, aku akan datang pada istrimu, dan menceritakan semuanya pada Hana!" dia terlihat mengancam Allianz dengan segala cara.
Wanita jahat itu berhasil membuat Allianz merasa terjebak antara dua pilihan yang sulit. Dia menggaruk kepalanya yang sejujurnya tidak terasa gatal sama sekali.
Sial! bagaimana dia bisa ada di sini!?
"Heng! ini bahkan baru saja di mulai, tapi kau sudah terlihat runyam, aku pikir aku akan mudah memiliki kamu kalau begitu!" gumam Visha terlihat puas.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Hari ini adalah hari pertama Hana membuka bisnis kue nya, yang sebenarnya juga dengan bantuan Naira. Namun sayangnya, di hari penting ini, Naira bahkan tidak menengok sebentar saja ke sana.
Dan dengan terpaksa, Hana hanya melakukan pembukaan ini seorang diri, dan hanya di bantu oleh seorang pelayan saja.
__ADS_1
"Syukurlah, aku bisa membuka toko kue di sini, aku harap aku punya keberuntungan yang lebih besar di sini!" ucap Hana sambil tersenyum, dan sesekali menatap putra kecil tampannya yang sedang berada dalam gendongan suster.
Namun hatinya juga sedikit ganjal pada sikap Naira yang terasa menjauh darinya. Wanita itu bahkan tidak menghubungi dia selama satu Minggu, tepatnya setelah mereka berdua menghabiskan waktu setengah hari bersama saat itu.
Dia jadi merasa cemas, pun bingung pada sikap Naira yang terkesan aneh begini. Hana akhirnya memilih untuk mengambil ponselnya dan mulai mencoba menghubungi Naira.
Tut.... Tut..... Tut....
Namun panggilannya bahkan di abaikan saja oleh Naira. Wanita itu agaknya memang marah padanya, hanya saja, dia tidak tahu pasti apa alasan Naira merasa jengkel pada dirinya.
"Ini anak kenapa, ya? kok aneh banget!" gumamnya dengan lirih.
Namun dia mencoba acuh, mencoba baik-baik saja dan tidak berpikir terlalu aneh. Dia hanya berusaha fokus pada hari ini, hari di mana dia harus mulai bekerja, dan menjadi wanita karir yang hebat di masa depan.
Ini adalah permulaan, dan dia tidak lagi terkejut saat kembali terjatuh, karena baginya, jatuh bangun dalam bisnis hanyalah sebuah siklus kehidupan saja.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi kamu, kau tidak ada niat untuk mengangkatnya!?" tanya Ardian yang masih mencoba menggunakan setelan jas hitamnya di depan cermin.
"Aku masih marah sama dia, lagi pula paling dia mau bilang kalau hari ini adalah hari pertama dia membuka toko kuenya," ucap Naira dengan malas.
"Kau tidak mau bangun dari kasurmu?" tanya Ardian pada sang istri.
"Kenapa memangnya?"
"Aku jadi makin tergoda kalau kamu bangun agak siang.." Mendekat, lalu mengecup bibir ranum Naira.
"Ardian! kau harus pergi ke kantor! jangan mulai, deh!"
__ADS_1
"Ayolah, lagi pula hanya sebentar saja, kok!"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺