Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Hamil


__ADS_3

"Iya, jauh lebih siap yang kau kira, dan jauh lebih baik dari pada yang aku bayangkan, aku semakin luas dalam mengingat, aku juga ingat pertama kali kita melakukannya di kota M!"


"Apa? ibu? apa yang kalian bicarakan? apa kalian sedang membicarakan soal permainan yang membuat kita tidak bisa melupakannya?" tanya Shi Yuan mendadak menimbrung saja.


"Aish! kau ini! kenapa kau sampai mengatakan semuanya di depan Shi Yuan? apa kau lupa dia ini iblis kecil yang selalu menganggu waktu kita berdua?" tanya Ardian sambil menepuk jidatnya dengan tangannya sendiri.


"Ahahaha.. aku lupa, iya, kan, ayah, kita kan dulu pernah bermain krambol berdua di sana, iya, kan, dan untuk pertama kalinya ayah mengajarkan ibu bagaimana cara mainnya, iya, kan, ayah?" sambil mencubit paha sang suami.


"Aduh!" teriakan kecil, terkejut akibat sentilan maut tangan mungil milik Naira, "hahaha.. iya, iya, kau benar, ibu benar, kita bermain krambol di sana waktu itu, kau masih belum ada, jadi tidak tahu akan hal itu, iya, kan, ibu?" tanya Ardian pada istrinya.


"Ahahaha... ayah benar sekali..."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dan kini, hari demi hari telah di lalui, hampir dua bulan lamanya Hana mendekam di balik jeruji besi, menikmati suasana dingin dan penuh kesendirian di sana.


Ia hanya bisa mengeluh, mengadukan nasibnya yang memilukan pada angin yang selalu menusuk, menghujam hati dan pikirannya.


Sejauh ini, tidak ada satu orang pun yang menjenguknya, selain Ardian dan juga Naira. Bahkan sang suami sekalipun, pria itu tak pernah lagi memunculkan batang hidungnya pada Hana, meskipun hanya sebentar saja.


Rindu?


Siapa pula yang tak rindu, apa lagi pada suami dan anak angkatnya itu. Namun dia tak punya daya, tak lagi bisa berbicara, atau mengeluh pada siapapun selain dirinya sendiri.


Sedang apa Zhoulin, sedang apa sang suami sekarang, bagaimana kabar mereka berdua, ia hanya bisa mendengar semua itu dari Naira.


Hawa di dalam tahanan ini dingin sekali, udara yang langsung masuk melalui lubang yang berada di tembok bagian atas, membuat dia tak bisa tidur dengan nyenyak saat malam hari.


Dan itulah yang di rasakan oleh Hana di setiap malamnya, merasakan kedinginan dan kesepian di dalam tahanan, tanpa berteman oleh siapapun.


Berbanding terbalik dengan Hana yang masih merasa tak nyaman dengan keadaan di dalam tahanan, Visha dan Allianz nampak semakin mesra, menikmati dua bulan pertama sebagai suami dan istri.


Kini mereka masih saja berselimut kehangatan di dalam pelukan penuh cinta dan kemesraan mereka berdua..


Dengan tubuh yang sama-sama polos, tak terhalang oleh satu lembar kain tipis pun, mereka tetap berpelukan di dalam selimut tebal, usai melakukan olahraga pagi yang menyenangkan.


Hingga pada akhirnya, suara dering ponsel Visha membuat keduanya bergeming, dan perlahan mulai terbangun dari tidurnya.


Bip!


"Hallo?" sapa Visha untuk pertama kalinya setelah mengangkat panggilan.


"Benar ini dengan Nona Visha?"


"Ya, benar! dengan saya sendiri!" ucap Visha sambil bangun dari tidurnya, lalu menutupi area dadanya yang polos, "kenapa, ya, pak?"


Mata Visha nampak melebar, usai menyadari seseorang yang begitu penting tengah mencoba menghubungi dirinya.


"Baiklah, perusahaan kami mengundang anda untuk menghadiri wawancara kerja siang ini, kami sudah melihat semua dokumen pendaftaran anda, dan anda masuk dalam kriteria yang kami inginkan!"


"Benarkah? baiklah, pak, saya akan datang untuk wawancara siang ini, terima kasih atas informasinya!"


Bip!


Allianz terlihat mulai membuka matanya, usai suara berisik terdengar dari mulut Visha, yang kemudian berhasil membuat dia terjaga.


"Ada apa, Vish?"


"Mas! aku dapet undangan wawancara, bagaimana menurut kamu?" tanya Visha dengan girangnya..


"Bagus, lah.. selamat, ya, kamu sudah mendapat pekerjaan.."


"Kamu masih belum mau panggil aku sayang?" tanya Visha dengan nada cemberut, seolah ingin sekali laki-laki itu memanggil dia dengan sebutan itu.

__ADS_1


"Baiklah, selamat, ya, sayang... kamu sudah mendapat pekerjaan, aku turut senang mendengarnya.."


"Terima kasih, sayangku... kamu harus antar aku pergi hari ini.."


"Iya, aku pasti anter.."


Dengan suara lembut, dan ekspresi yang sudah mulai berubah, menjadi lebih lembut dan manis tentunya, Allianz menganggukkan permintaan sang istri.


Ia sekarang menjadi lebih nyaman bersama dengan Visha, di banding dahulu saat masih bersama Hana.


Bersama Visha yang notabene memang bukan dari kalangan berada, di tambah lagi Visha merupakan wanita yang tidak terlalu mementingkan karir, lebih suka mengurus keperluan suaminya, dia jadi senang, saat setiap ia pulang ke rumah, Visha sudah ada di sana, membersihkan rumah, dan makanan sudah tersedia di atas meja.


Jika Visha pulang agak malam, karena keadaan terdesak, wanita itu selalu mengabari suaminya, dan meminta izin untuk pulang agak larut.


Tak lupa juga makanan yang selalu ia pesan setiap kali ia harus pulang terlambat, merasa cemas suaminya akan pulang dalam kondisi kelaparan.


Semua yang di lakukan oleh Visha, membuat Allianz semakin nyaman di buat wanita ini, dan tidak lagi diingatnya sosok wanita yang menjadi istri pertamanya, Hana...


Entah wanita itu sekarang tengah kedinginan, atau mungkin saja sedang sakit, dan hampir mati, Allianz seolah tak lagi peduli.


Kehidupan yang indah dan tenang bersama sosok Visha membuat dia lupa akan segala masalah yang menghampiri dirinya, termasuk juga masalah hak asuh Zhoulin yang mendadak berada di tangan adiknya.


Sampai pada waktu itu, Allianz dan Visha sudah berada di puncak kejayaan. Setelah satu tahun berlalu, bahkan Allianz sudah menduduki jabatan sebagai wakil CEO di salah satu perusahaan ternama kedua milik keluarga Lu Zafier, yang bercabang di kota X.


Tak butuh waktu lama untuk Allianz dan Visha bangkit dari keterpurukan, hingga akhirnya mereka mampu membeli rumah yang jauh lebih besar dari rumah lama mereka.


Tak hanya rumah, mereka juga mampu membeli mobil, membuka butik dan salon yang pada akhirnya harus di kelola oleh Visha.


Wanita itu pun tak lagi cemas untuk persoalan dokumen palsunya, karena nyatanya, dokumen palsu yang ia miliki, telah membawanya ke puncak kejayaan, tanpa ada satu orang pun yang tahu, termasuk juga suaminya.


"Hahaha... kau benar, kita memang selalu melewatkan gula setiap kali masak, mungkin itu yang membuat aku lebih kurus.." Ucap Allianz pada sang istri.


Mereka berdua tengah di buat sibuk oleh beragam bahan masakan di atas meja dapur, mencoba mengolah dengan kedua tangan mereka yang bekerja sama, hingga membuat tim yang serasi.


"Baiklah, akan aku beri sedikit gula, dan juga garamnya.."


Allianz menaruh sedikit gula, dan tak lupa juga sejumput garam yang ia ambil dari wadahnya, lalu mengaduk masakannya yang masih berada di dalam panci.


Sebentar saja dia mengaduk, sampai akhirnya dia meminta sang istri untuk mencicipi hasil olahan tangannya.


"Kau cobalah, apa ini enak, atau tidak..."


"Kalau masakan kamu, tentu saja enak.."


"Katanya kadang kurang gula sama garam, coba lah rasakan sedikit saja.."


"Baiklah, akan aku coba.." Visha menyeruput sedikit kuah yang ada di dalam sendok, dan kemudian mengecapnya, mencoba merasakan hasil masakan dari sang suami.


"Umm!"


"Bagaimana? apa ini enak?" tanya Allianz sambil memasang ekspresi gugupnya.


"Umm, sayang, ini enak sekali, kau membuatnya dengan sangat sempurna.." Puji Visha dengan wajah berbinar.


"Benarkah? apa kau tidak sedang membohongi aku?" tanya Allianz sekali lagi.


"Untuk apa aku berbohong? kalau tidak percaya, cicipi saja sendiri!" ucap Visha.


"Haha, baiklah, aku percaya padamu, dan aku juga percaya pada diriku sendiri, hahahaha...."


"Aish! kau ini!"


Huekkk!!

__ADS_1


Mendadak wanita itu mual, dan rasanya ingin sekali muntah.


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Allianz dengan cemas.


Ya, sekarang mereka tak lagi canggung memanggil sayang, atau pun semacamnya, seperti yang sudah di bilang sejak awal, mereka menjadi semakin romantis, dan semakin lengket, seolah mereka sudah benar-benar saling mencintai.


"Entah! aku juga tidak tahu.."


Huekkk!!


"Vish, kau baik-baik saja?"


"Tidak!"


Huekk!


Dengan lari yang cukup cepat, Visha menuju kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perutnya di dalam closet.


Huekk!


Huekk!


Dengan bergegas, Allianz mencoba menyusul istrinya usai dia mematikan kompornya.


"Sayang, kau sungguh baik-baik saja?"


"Iya, sudah sedikit lebih baik.."


"Apa kita ke dokter saja? biar lebih jelas.."


"Baiklah..."


Dua orang itu akhirnya meninggalkan rumah mereka, dan juga meninggalkan masakan mereka berdua yang masih belum termakan sedikitpun.


Dengan cepat Allianz memapah istrinya untuk masuk ke dalam mobil, dan kemudian melaju lah mereka menuju ke rumah sakit.


Kini mereka telah terduduk berdampingan, usai seorang dokter memeriksa apa yang terjadi pada Visha.


"Bagaimana dokter?" tanya Allianz ingin sekali cepat-cepat mengetahuinya.


"Ibu tidak sakit, rasa mual, muntah, dan juga pusing, memang wajar di alami oleh ibu yang sedang mengalami masa kehamilan, jadi tidak apa-apa," ucap dokter itu, membuat Allianz dan Visha terkejut.


"Apa, Dok?" wajah Visha sudah nampak terkejut setengah mati.


"Hamil?"


"Loh? memangnya kalian masih belum tahu?"


Dan kecewanya lagi, Allianz serta Visha menggeleng, karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Padahal dalam hati Allianz, dia tidak ingin memiliki anak dari hubungannya dengan Visha, karena bagaimanapun juga, dia hanya menggunakan hubungan perkawinan ini sebagai ajang untuk membalas dendam pada Hana.


Namun masihkah Allianz memikirkannya? apa baginya mendekam di penjara untuk waktu lima tahun, di tambah lagi dengan pengkhianatan yang dia lakukan dengan Visha, masih juga belum cukup untuk membalas dendam pada Hana?


Tak apalah, anak ini, justru akan menjadi penghancur buat Hana, jadi apa salahnya aku merasa senang? lagi pula, sudah lama aku juga ingin kehadiran buah hati yang aku tanam sendiri, bukan hasil dari permainan orang lain..


"Mas, apa kau senang?" tanya Visha dengan ragu.


"Aku sangat senang, kau membuat aku menjadi laki-laki yang sempurna..."


Cup!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2