Kehidupan Penuh Luka

Kehidupan Penuh Luka
Bab 163


__ADS_3

Lichyia keluar dari dalam mobilnya dan melangkah kan kaki nya menyusuri koridor rumah sakit tengah mencari seseorang


"Dokter Lichyia" panggil seorang wanita berpakaian putih


"Eh suster Lia ada apa" tanya Lichyia menatap suster Lia asisten pribadi nya


"Nyonya Arin dan Diego sudah menunggu di ruangan anda" ucap suster Lia


"Baiklah terima kasih ya" ucap Lichyia


Lichyia berjalan menuju lift kaca rumah sakit milik keluarga nya, Keluarga Wijaya yang kini dia pegang dan mengatur nya. Berprofesi sebagai dokter sekaligus direktur rumah sakit itu membuat wanita itu begitu di segani oleh bawahannya


"Pagi Nyonya Arin" sapa Lichyia sambil masuk ke dalam ruangannya


"Dokter Lichyia" ucap Arin berbinar dan beranjak dari duduk nya menyambut kedatangan dokter cantik itu


"Maaf saya terlambat tadi ada sedikit macet" ucap Lichyia tidak enak hati


"Ah tidak masalah dok mmm sayang salim dulu sama tante cantik nya" ucap Arin memerintah Diego


"Pagi tante cantik" sapa Diego


"Pagi juga sayang kamu apa kabar" tanya Lichyia


"Diego baik kalau tante gimana" tanya Diego dengan senyum manis

__ADS_1


"Dokter juga baik udah siap berobat" tanya Lichyia dan di balas anggukan kepala oleh bocah kecil itu


Lichyia memeluk erat Diego menghantarkan rasa sayang ke tubuh kecil itu yang kini menderita penyakit Leukimia dan untung saja cepat di ketahui


"Dokter" panggil Arin membuat Lichyia melepaskan dekapannya


"Iya"


"Waktu itu dokter pernah bilang kalau mau menikah ya apa sekarang sudah menikah" tanya Arin


"Alhamdulillah sudah dua hari yang lalu" ucap Lichyia sambil tersenyum?


"Selamat ya dok semoga pernikahan nya sakinah mawadah warrohmah" ucap Arin tulus sambil memeluk tubuh tinggi dokter itu


"Makasih Rin"


Lichyia duduk di kursi kebanggaan nya dan mulai berbicara serius dengan Arin soal Diego


"Nanti Diego akan di rawat sama salah satu dokter disini kebetulan dia lulusan luar negeri dan baru satu tahun dia berada di rumah sakit ini tapi tenang aja dia sudah cukup pengalaman gimana" tanya Lichyia


"Boleh aja sih tapi apa... mmmm apa bisa Diego di rawat disini saja jangan sampai ke luar negeri" ucap Arin dengan raut wajah khawatir


"Jika seandainya nanti Diego harus di bawa ke luar negeri semua biaya tetap saya yang tanggung termasuk biaya transportasi dan biaya lain lainnya" ucap Lichyia


"Jangan!! Saya gak enak sama dokter" ucap Arin

__ADS_1


Lichyia hanya tersenyum memahami kekhawatiran dari ibu satu anak itu


"Kita ke dokter nya dulu nanti kita baru tau tindakan apa yang harus di lakukan" ucap Lichyia


Arin menganggukkan kepalanya meng'iya'kan ucapan Lichyia


"Ayo sayang" Lichyia berjalan mendahului dan di belakangnya ada Arin yang menggendong Diego di tangan nya


"Dokter" panggil suster Lia yang hendak masuk ke ruangan Lichyia berpapasan dengan Lichyia yang hendak keluar


"Iya kenapa"


"Dokter Rasya tadi mencari anda"


"Katakan saya sedang sibuk saya ada urusan lain jika ada kepentingan khusus bisa bicara dengan saya waktu jam makan siang nanti" ucap Lichyia dan melanjutkan langkahnya


Mereka bertiga memasuki lift karena saat ini mereka berada di lantai paling atas khusus untuk ruangan dokter berjabatan tinggi


Tok.. tok.. tok..


Lichyia mengetuk tiga kali ruangan salah satu dokter yang bekerja disana. Sebuah papan nama tergantung indah di pintu bertuliskan Dr. Dimas


"Sus dimana dokter Dimas" tanya Lichyia pada salah satu perawat disana


"Oh lagi di ruangan Flamboyan 1" ucap perawat itu kemudian pergi

__ADS_1


"Kita tunggu disini dulu" Mereka bertiga duduk di kursi depan ruangan. Meskipun Lichyia memiliki jabatan tinggi disana namun dia masih memiliki etika untuk tidak sembarang masuk ke ruangan orang.


__ADS_2