Kehidupan Penuh Luka

Kehidupan Penuh Luka
Bab 35


__ADS_3

"Lupa apa amnesia" tanya Arlla dengan tatapan sinis


"Ini rumah milik aku bahkan surat surat rumah sudah selesai dan atas nama ku" ucap Arlla


"Dan bahkan kamu juga gak bisa Ila Sie Ratih Diron ataupun Pak Beni karena mereka aku yang bawa jadi kamu gak punya hak apa apa" ucap Arlla lagi membuat Gio diam seribu bahasa


"Ayo kita pergi" ucap Gio kemudian pergi keluar dan diikuti oleh Lela dan Tika


"Pecundang,,, kalah kabur" ucap Arlla dengan sinis


"Makasih nya udah bantu kita" ucap Ani


"Gak masalah jangan takut" ucapku


Aku berjalan menuju mobilku dan pergi menuju ke sebuah daerah yang terletak lumayan jauh dari kawasan rumah ku saat ini


Satu jam lama perjalanan ku tempuh akhirnya sampai pada tujuanku


Mobilku masuk menuju sebuah perumahan ellit yang sudah ku bangun


Disana hanya ada beberapa rumah mewah dan banyak rumah sederhana


Rencananya akan ku bawa semua keluargaku untuk tinggal disini agar tidak tinggal berjauhan dan juga berada di pusat kota


Sedangkan perumahan yang ku tinggali sekarang jauh dari perusahaan dan pusat kota karena Gio memilih tinggal di pinggiran kota


Sebuah kawasan khusus keluarga Denata dan Arjaya. Beberapa sanak saudara juga akan ku ajak tinggal disini juga.


"Selamat datang nona muda" sapa seorang laki laki orang kepercayaan ku

__ADS_1


"Pagi Drew" sapaku


Aku memasuki perumahan kecil itu dengan langkah pelan


"Ok sisanya aku serahkan semuanya sama kamu" ucapku kemudian meninggalkan Andrew sendiri


Aku masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kantor karena banyak hal yang harus aku urus


Brakk..


Ku tutup pintu mobil dan ku berikan kunci mobil pada security untuk di parkirkan


Langkah kakiku menuju lift untuk sampai ke lantai empat puluh


Ting


Setelah pintu lift terbuka aku berjalan pelan menuju ruangan ku


Aku hanya menjawab dengan senyum getir


Irene bertatapan dengan Tari dengan wajah heran


Aku masuk ke dalam ruanganku dan tak lama Irene, Tari dan Dira masuk juga


"Ada apa" tanyaku


"Harusnya kami yang tanya ada apa" tanya Irene


"Kalian lupa" ucapku

__ADS_1


"Enggak kami nggak lupa apa dia udah.. " ucap Dira menggantung


Aku menghela nafas berat kemudian aku menganggukkan kepala


"Gila tuh orang" sungut Tari


"Tau tuh kalau gue disitu udah gue tendang tuh orang gak bisa bahagiain cuma bisa nyakitin doang laki macam apa itu" ucap Irene berapi api


"Mending lu nyewa pengacara biar cepet kelar tuh urusan" ucap Dira


"Udah barusan gue udah hubungin" ucap ku sambil menyandarkan punggungku


"Terus si Lela masih jadi sekretaris apa udah keluar" tanya Irene


"Mana gue tau" ucapku acuh


Dira pergi keluar kemudian masuk lagi dengan setumpuk bekas


"Ini semua harus lu tanda tangani" ucap Dira


"Astaga Dira lu gak tau apa sahabat lagi galau lu kasih kerjaan gak ada akhlak lu" ucap Tari


"Tapi ini penting Tari" ucap Dhira membela diri


Aku mengambil bulpoint yang ada di atas meja kemudian membubuhkan tanda tangan pada berkas berkas tersebut


"Kalian balik kerja aja jangan ngerumpi" ucapku


"Siap bu bos" ucap mereka kemudian keluar dari ruanganku

__ADS_1


Mungkin nanti aku akan pulang ke rumah Mama Sandra untuk mengatakan tentang semuanya padanya dan yang lainnya


Aku juga merindukan adik kecilku yaitu Bella yang kini masih berusia empat bulan


__ADS_2