
Aku segera menyusul ke klinik kampus dan disana sudah ada Irene yang sedang mengobati luka Ardan
"Ren" panggilku
"Iya" ucapnya sambil menatap ku
Irene mulai menyingkir dari Ardan dan memberi ku ruang
"Kau kenapa" tanyaku pada Ardan
"Kenapa apanya,,, jelas jelas aku bonyok gini" ucap Ardan dengan ketus
"Salah sendiri kenapa berantem" ucapku
"Ada sedikit salah paham doang" ucap Ardan
"Lagian itung itung olahraga juga" lanjut Ardan
"Olahraga? Dengan cara membuat tubuh sendiri sakit gitu" ucapku
Aku melangkah mengambil kain lap dan dan air es yang ada di atas meja
Ku arahkan kain lap itu ke luka memar yang ada di wajah Ardan
"Ss awww" ringis Ardan
"Gak sakit?" tanyaku menyindir
"Ya enggak lah ngapain sakit kan dia sendiri yang nyari penyakit" sahut Irene
"Oh ya La tadi gak sengaja gue lihat lu ama F.. "
"Apa? Gak ada apa apa" ucapku menyela
"Dia senior sih katanya" ucap Irene
"Gue gak tanya"
"Ya udah kalau gak tanya gue kan cuma bilang" ucap Irene
Aku berdiri dan melangkah keluar dari klinik tersebut
__ADS_1
Sebentar lagi aku ada kelas dan Irene juga menyusul diriku
Sedangkan Ardan di tinggal sendiri di dalam klinik itu
"Woyyy gue di anggurin" teriak Ardan
"Ishhh punya temen gak ada akhlak semua" desis Ardan
"Untung sayang kalau gak udah... "
Aku dan Irene masih melangkah menyusuri koridor dan mengarah pada suatu ruangan
...****************...
Setelah kelas selesai aku dan Irene kembali ke kantor dengan menggunakan mobil masing masing
Dua puluh menit perjalanan ku tempuh dengan kecepatan sedang
Citt..
Aku turun dari dalam mobil dan memberikan kunci pada security untuk di parkirkan
Aku melangkah menuju lift meninggalkan Irene yang masih di parkiran basement
"Siang juga" sapaku balik padanya
Brakk...
Karena tak fokus aku menabrak seseorang
"Awww" ringisku karena dahiku sakit
Aku mendongak dan menatap seseorang yang ku tabrak tadi
Aku berwajah masam seketika setelah melihat Ario lah yang ku tabrak tadi
Sedangkan Ario hanya berwajah datar sambil menatapku
"Nona Arlla tidak apa apa" tanya Max
"Hmmm gak apa apa ini sakit sedikit habis nabrak kulkas" ucapku dengan senyum terpaksa
__ADS_1
"Siapa yang kamu sebut kulkas" tanya Ario
Barulah dia mau bicara setelah dari tadi berwajah datar
"Gak ada" ucapku ketus sambil melangkah hendak melewati dirinya
Namun ternyata dia memegang pergelangan tangan ku
"Maaf saya buru buru saya sibuk" ucapku sambil mencoba melepas tangannya
"Jawab saya dulu" ucap Ario dingin
"Kamu,,, " ucapku singkat
"Apanya"
"Iya kamu yang saya sebut kulkas,,, kamu itu kulkas" ucapku ketus
Dia semakin menarik diriku membuatku terhuyung ke belakang dan dengan sigap dia menarikku agar tak terjatuh
Namun sekarang dia memelukku dengan erat sambil menatap wajahku
Aku yang kesal hanya membuang muka dan malu karena di jadikan bahan tontonan oleh karyawanku
"Lepaskan" ucapku sambil mengeratkan gigiku
"Tarik kata katamu" ucapnya
"Gak mau" ucapku ketus
"Tarik kata katamu atau kau akan seperti ini terus" ancam nya
Aku tak kehabisan akal dan takut dengan ancamannya tersebut
Aku menginjak kakinya dengan sangat keras menggunakan high heels ku
"Kenapa? sakit" tanyaku setelah berhasil lepas
Ku lihat dia sedikit meringis kesakitan
Dan dengan cepat aku berjalan santai menuju lift
__ADS_1
Dengan segera aku memencet lantai empat puluh dan pintu tertutup rapat karena lift mulai bergerak naik