
Dua bukti sudah tersimpan rapi di dalam galeri ponselku
...*Kita tinggal menunggu waktunya aja Lela,, siap siap aja...
...Kejutan besar dari aku akan ku berikan untuk mu*...
Batinku
Detik demi detik berganti menjadi menit dan hari berganti menjadi bulan
Tiga bulan sudah ku lewati dan kini aku menunggu hal tersebut. Waktu tiga bulan ku gunakan untuk mengurus perusahaan yang kini semakin berkembang pesat
Mengumpulkan pundi pundi uang kini menjadi alihan ku agar fokusku teralihkan dari masalah itu. Dengan memforsir diriku sendiri bahkan aku terkadang lupa tanggal dan lupa hari
Namun dengan hal tersebut kini perusahaan baru ku berkembang dengan sangat baik dan sudah meluas sampai ke asia dan eropa
Enam perusahaan kini sudah berkembang sejajar
Saat ini aku duduk di ruang tamu dan menunggu kedatangan Gio
"Assalamualaikum" ucapku karena melihat Gio datang tanpa salam maupun permisi
"Tanda tangani ini agar semuanya cepat selesai" ucap Gio
Ku lihat sebuah kertas yang ku duga surat cerai yang berada di atas meja
Selama tiga bulan juga Gio selalu tinggal dengan Lela tanpa ada sedikit pun waktu untukku. Namun itu merupakan hal biasa bagiku
Ku ambil surat tersebut namun ternyata tangan Lela mencegahnya
Apa maunya wanita ini batinku
"Dengan syarat kamu tidak akan menuntut harta gono gini" ucap Lela
"Kenapa" tanyaku sambil mengernyit kan dahi
Padahal sebenarnya aku juga tak ingin menuntut pembagian harta. Karena setelah kejadian itu semua aset yang di berikan Papa Rei pada Gio diambil setengahnya
"Dasar wanita matre menikah dengan Gio untuk memoroti hartanya doang kan terus kalau cerai dapet harta gono gini iya kan" ucap Lela dengan nada sinis
"Biasalah wanita miskin ya gitu" ucap Tika
Ya, kedatangan Gio tidak lah sendiri,, di temani dengan istri keduanya dan juga mertuanya
"Ok aku gak akan menuntut harta gono gini" ucapku
Ku ambil surat itu yang sudah di lepaskan oleh Lela dan ku tanda tangani dengan cepat
__ADS_1
Brak
Ku letakkan bulpoint ke atas meja dengan kasar sambil menyodorkan kertas itu pada Gio
"Puas?" ucapku lalu pergi menuju taman belakang
Ku dudukkan tubuhku di pinggiran kolam renang dan ku biarkan kakiku menjuntai masuk ke dalam kolam
Dingin,, itulah yang ku rasakan pada kaki ku seperti hatiku yang saat ini mendingin bahkan membeku
Begitu banyak luka yang ku dapatkan dari pernikahan ini. Mulai dari penghianatan, penghinaan, dan perceraian.
Bahkan selama tiga bulan ini banyak sekali hinaan yang terlontar dari mulut Tika yang membuatku muak.
Dari wanita matre sampai wanita tak punya harga diri yang terkadang membuatku ingin sekali menampar mulutnya namun tak pernah ku lakukan.
Dan kini waktu membongkar semuanya akan semakin dekat
Sedangkan di dapur para ART sedang mengintip dan menguping pembicaraan mereka
"Mereka emang ya gak ada akhlak" ucap Ratih dengan gemas sambil mengepalkan tangannya
"Bi Ani udah kan ini minumannya" ucap Sie
"Udah"
Bahkan kini semuanya prihatin dengan nasib Arlla yang begitu mengenaskan mendapatkan suami seperti Gio
Bukannya memberikan kebahagiaan bahkan hanya memberikan luka
"Eh gak seru dong kalau cuma teh manis" ucap Diron
"Terus" tanya Misa
Diron mengambil kotak garam dan menambahkannya pada minuman itu
Seketika wajah mereka semua memerah menahan tawa
"Sie antar" ucap Diron
"Iya iya"
Sie mengantarkan minuman tersebut untuk mereka semua
"Ini minumannya" ucap Sie kemudian pergi dan kembali mengintip
Mereka bertiga kompak mengambil cangkir teh di depan mereka dan meminumnya
__ADS_1
Byurrr....
"Teh apaan nih asin blee" desis Tika
"Apa apaan ini" ucap Gio geram
"Pasti mereka sengaja nih" ucap Lela
"Pecat aja sih mereka" ucap Tika mulai mengompor ngompori
"Ani Nina Misa" panggil Gio dengan kesal
Seketika wajah Ani Nina dan Misa berubah menjadi pasi
Mereka bertiga mendekat ke arah Gio dengan kepala tertunduk
"Panggil semua pelayan disini" ucap Tika
"Bukannya hanya mereka bertiga" tanya Gio
"Kamu gak liat yang nganter tadi beda orang" ucap Tika
Misa memanggil semua pekerja yang ada disana
"Kalian semua sengaja ya" bentak Gio
"Jawab!!"
"Iya memang kenapa" ucap Ila dengan berani
"Berani kamu" bentak Gio lagi
"Berani kenapa enggak" ucap Ila lagi
"Kalian semua saya pecat sekarang juga kalian pergi dari sini" ucap Gio
"Siapa yang berani memecat mereka hah" ucap Arlla tak kalah lantang
Karena mendengar sebuah teriakan dari arah luar membuat nya berdiri dan menghampiri nya
"Aku kenapa" ucap Gio
"Bahkan mereka bukan pekerjamu kenapa kau berani memecat mereka"
"Kata siapa? Ini adalah rumahku" ucap Gio
"Lupa apa amnesia" tanya Arlla dengan tatapan sinis
__ADS_1