
Tak berselang lama bus pun jalan.
Bis cukup padat penumpang bahkan aku pun sampai tak duduk, cukup lama aku berdiri dan itu membuatku sedikit pegal, tak lama seorang laki-laki dewasa berdiri dan menyuruh ku duduk, tadinya aku menolak namun karna dia terus memintaku duduk dan katanya dia juga akan segera turun maka aku menurut.
" Terimakasih kak " ucap ku.
" Sama-sama " balasnya.
Benar saja tak lama laki-laki itu turun setelah bis berhenti, sebelum turun ia menoleh dan tersenyum entah pada siapa mana mungkin pada ku.
Satu setengah jam aku dalam bis itu dan tempat ku turun sebentar lagi, turun bukan berarti sampai namun aku turun untuk berganti kendaraan.
Tak lama mobil angkot datang dan aku pun menaiki itu, karna ini angkot yang akan membawa ku ke tujuan tanpa harus turun dan menaiki angkutan lain lagi.
" Bang di depan berhenti! " pintaku pada supir angkot itu, tanpa ada jawaban dan angkot pun berhenti.
Setelah turun dari angkot aku memasuki komplek perumahan, seperti biasa aku akan ke pos satpam dulu.
Sesampainya di pos satpam,
" Siang pak " sapa ku.
" Siang, eh neng Rinjani " karna satpam itu sudah tau dan mengenal ku, juga tujuan ku datang ke komplek itu.
" Apa kabar neng? " lanjutnya lagi.
Aku tersenyum sebelum menjawab, " baik pak. "
Satpamnya cukup ramah kalau sudah mengenal, coba pas waktu pertama belum kenal wih sadis.
Flash back on
"Siang pak? " sapa ku ramah, karna kata tth di komplek itu tak bisa masuk tanpa melapor dulu, kecuali penghuni kompleknya.
" Siang, ada yang bisa saya bantu " jawabnya ketus aku sampai males buat nanya lagi sebenarnya, namun aku tetap bersikap biasa.
Dan mode ramah ku seketika ku ganti menjadi mode datar.
" Maaf pak mengganggu sebentar, saya mau minta tolong di antar ke alamat ini " pinta ku tanpa basa-basi.
" Ada perlu apa? dan Ade siapa? sepertinya saya baru liat " datarnya juga.
" Saya ada perlu sama orang yang ada di alamat itu " aku mulai sedikit kesal.
Tanpa menunggu dia bertanya lagi aku berjalan seenaknya saja, masuk ke komplek perumahan itu, dan tanpa ku duga satpam tadi malah memegang tangan ku dan memutarnya ke belakang aku hanya diam saja karna aku tau itu juga salah ku.
" Jangan main masuk aja, jelasin dulu kamu siapa, mau ketemu siapa, jangan-jangan kamu temennya anak berandalan yang suka bikin onar itu. " cerocos nya.
" Saya Rinjani, saya dari kampung datang ke sini mau ketemu tth saya " jelas ku.
" Yang benar kamu siapa tth kamu " tanyanya galak.
" Nuryati, dia art di alamat yang tadi saya kasih " dan setelahnya baru lah aku di antar ke alamat itu.
Cukup jauh dari pos satpam kami berjalan, tiba-tiba langkah ku terhenti kala melihat seorang anak remaja sedang di pukuli, entah siapa yang memukulnya, usia anak yang di pukuli itu tak jauh berbeda dengan ku, dan yang memukuli cukup dewasa.
Sekilas aku melirik satpam itu, dia tampak hanya berdiam diri saja tanpa mau menolong. kaki ku melangkah menghampiri mereka satpam yang tadi bersama ku sempat mencegah ku namun tak ku hiraukan.
Saat ia akan melayangkan tinjunya lagi, tangannya kalah cepat dengan tangan ku yang menahan tangannya agar tinju itu tak mendarat lagi pada tubuh remaja itu.
" Siapa kau, berani sekali menghentikan tinju ku? " geram nya.
Aku hanya diam, dan tangan ku terulur pada remaja tadi untuk membantunya berdiri.
" Beraninya kamu? " pria dewasa itu tambah geram nampaknya padaku.
Aku menoleh sesaat ku pandang pria dewasa itu dari atas hingga bawah memastikan pikir ku benar.
" Maaf, saya hanya mencegah kemungkinan terjadi nya pembunuhan " jawab ku.
" Apa maksud mu " kesalnya.
__ADS_1
" Anda enggak bisa lihat anak ini babak belur, dan mungkin akan mati jika anda terus memukulnya seperti tadi. " cerocos ku.
" Saya tidak perduli anda punya masalah apa dengannya, tapi tolong jangan pake kekerasan apalagi saya lihat anda sepertinya cukup dewasa. " lanjut ku.
Seulas senyum aneh nampak di wajahnya, dan aku menoleh pada laki-laki remaja tadi dia sepertinya takut akan senyum itu aku hanya mengamati, tak lama pak satpam datang menghampiri ku.
" Maaf tuan saya yang bertanggung jawab pada gadis ini dan saya permisi membawanya. " ujarnya pada pria dewasa itu.
Pak satpam menarik tangan ku, dan mungkin dalam langkah kami yang ke tiga kami di hentikan oleh pria itu.
Ku lihat wajah pak satpam nampak resah, entah lah aku tak tau siapa pria yang sedang ku tolong itu, dan siapa pria yang tadi memukulinya sepertinya pak satpam cukup tau.
Aku berhenti dan berbalik,
" Maaf, saya masih ada hal yang lebih penting " ucapku, pria itu mendekat dan meraih tangan ku memutarnya ke belakang. ku rasakan ada tenaga yang cukup besar karna aku pun sedikit meringis menahan ngilu di tangan ku.
" Beraninya kamu, setelah menghadang ku memberi pelajaran pada adik kurang ngajar ini dan kamu mau berlalu begitu saja, atau jangan jangan kamu juga salah satu temannya " panjang kali lebarnya.
Aku terkejut, kaget, ternyata benar dugaan ku dari cara ia memukul dan yang di pukul tak melawan sama sekali bahkan meminta tolong, aku yakin bahwa yang memukulnya pasti anggota keluarga atau kerabat.
" Bukan bang dia bukan teman ku, ku jamin dia bersih " jelasnya pada pria yang tadi bertanya padaku.
Karna kurasa dia memutar tangan ku lebih keras lagi, maka aku memberontak, dalam sekejap kini kondisinya berbalik aku yang memegang tangannya di belakang.
" Kau cukup kasar juga tuan pada seorang remaja seperti ku " seloroh ku kesal.
Pria itu memberontak, dan karna tenaganya yang besar dia bisa melepaskan diri dari ku.
Aku bingung saat menyadari satpam yang bersama ku tadi tak ada, dan saat aku kembali melihat pada pria tadi dia tengah tersenyum mengerikan mungkin pikirnya aku sedang mencari bantuan pada satpam tadi.
" Kau boleh juga manis " celetuknya, mendengar kata manis aku bergidik.
Dia mendekati ku dan hendak memegang tangan ku kembali, namun aku menepisnya dengan cepat.
" Boleh juga " tanpa di duga dia hendak melayangkan tinju pada ku namun beruntung suara seseorang menyelamatkan ku.
" Rinjani! " suara yang tak asing bagi ku, aku menoleh.
" Oh jadi nama mu Rinjani " kata yang keluar dari pria itu, aku menoleh dan tersenyum malas.
Tth menghampiri ku dan memegang tangan ku kemudian berbisik.
" Jangan bikin ribut di tempat orang " begitulah kira-kira.
Aku tersenyum saat aku melihat pak satpam tadi ternyata dia tidak hanya membawa tth ku saja, namun juga seorang pria dewasa yang sepertinya majikannya.
" Maaf tuan, gadis ini adik dari art ibu saya " jelasnya.
" Kau beruntung manis karna ada tuan Rendi yang menyelamatkan mu, bawalah gadis itu dan bilang padanya jangan suka mencampuri urusan orang lain. "
Dia pergi sambil menarik tangan laki-laki remaja itu.
Flash back off
" Mau ketemu tth nya ya neng? " tanya pak satpam.
" Ia pak, saya permisi ya pak " aku pun masuk komplek perumahan itu.
Langkah ku terhenti di depan rumah tempat tth ku bekerja.
" Assallamuallaikum "salam ku. setelah tadi memencet bel dan mendengar pintu di buka.
" Wa'allaikum sallam " jawab seorang wanita yang tak lain tth ku.
Aku di bawa masuk lewat pintu belakang, di beri makan karna tth ku tau aku pasti belum makan, aku hanya memakannya sedikit karna aku masih merasa capek.
" Kumaha si jaya Jeung Siti cageur " ( gimana jaya sama Siti sehat ), begitulah tanya nya.
" Alhamdulillah sehat teh " jawab ku.
" Alhamdulillah kalau sehat mah, tth nya juga jadi tenang kerja nya. "
__ADS_1
Tak banyak percakapan antara kami karna begitulah tth ku, pribadinya yang diam membuat ku tak terlalu dekat juga dengannya.
Aku mengistirahatkan tubuh ku sebentar di tempat tidur tth ku, ia sempat menanyaiku, sekolah ku, dan kabar orang di rumah. seperti itu kira-kira tiap aku datang menemuinya.
***
Saat terbangun, aku melirik jam di dinding kamar menunjukan pukul tiga sore aku berdecak. bisa-bisanya aku ketiduran selama dua jam dan tth ku belum membangunkan ku.
Karna merasa sudah sore aku melenggang ke luar kamar mencari tth ku namun tak ku temui, tiba-tiba suara seseorang mengagetkan ku.
" Nak sedang mencari apa? " seorang wanita paru baya bertanya, umurnya tak jauh dari ibuku.
Aku sedikit terkejut namun segera menetralkan nya.
" Ibu! " ucap ku sembari mencium punggung tangannya, wanita itu tersenyum.
" Knapa, lagi cari nur? " tanya Bu Santi beliau majikan tth ku.
" Iya Bu, soal nya Jani mau pamit pulang " jawab ku.
" Ko buru-buru " tanyanya lagi.
" Nggak ko Bu, Jani sudah dari tadi di sini bahkan sempat ke tiduran " jawabku sopan.
" Oh ya, ko saya tidak tau " ucapnya.
Aku hanya tersenyum tanpa niat menjawab pertanyaan ibu Santi lagi.
" Saya lihat nur tadi kayaknya mau buang sampah ke depan. " lanjut ibu itu
" Mmhhh, ya sudah Bu ini sudah sore saya akan ke depan saja menemuinya sekalian pamit. " akupun menyalami wanita itu dan langsung berpamitan.
Ternyata benar te nur ada di depan komplek,
aku menghampiri nya.
" Teh Jani pamit mau pulang, ini sudah sore juga " ucap ku, setelah itu menyalami tangannya dan mengucap sallam, lalu pergi dari komplek itu.
Aku tengah menunggu angkot yang akan ku tumpangi sampai ke jalan di mana aku bisa mendapati bis, cukup lama aku berdiri karna di tempat itu bukan halte jadi tak ada tempat untuk duduk.
Beberapa menit kemudian aku belum juga mendapat angkot, ku lihat jam di tangan terus berputar tak lama sebuah motor matic berhenti di depan ku aku menyipitkan mata.
" Hai! " sapa orang yang mengendarai motor tadi, dia menyapa ku setelah membuka helem nya.
" Pa'i " replex aku menyebut namanya dan dia hanya tersenyum.
" Abis dari komplek, mau pulang? " tanyanya.
" Ia " singkat ku.
" Ko masih di sini knapa? " Tanyanya.
" Belum dapat angkot " jawabku
" Mau aku Anter sampe depan " tawarnya.
" Boleh, kalau nggak ngerepotin " jawabku.
" Enggak ko! " asalnya.
Aku pun naik motor yang di kendarai ripa'i.
Ripa'i, remaja yang waktu itu aku tolong dari amukan sang Kaka menurut nya, namun sebenarnya aku sebaiknya tak harus melakukan pertolongan itu karna ternyata ia pantas mendapatkannya.
Flash back on
Waktu itu untuk yang ke tiga kali nya aku datang ke komplek itu di suruh tth ku, guna mengambil uang milik ponakan ku dari ibunya .
" Hai! "sapa ramah seorang pria remaja.
Aku hanya diam tak menanggapi,
__ADS_1
" Nama kamu siapa? "aku masih tetap diam.