Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 103


__ADS_3

Lawan ku sudah terkapar namun aku enggan melepaskannya, Andi memegang tanganku dia memelukku untuk menenangkan aku.


" Sudah! " Lembutnya berkata


Aku menatap benci pada orang yang menyandra kedua adikku, bahkan adik keduaku harus babak belur karenanya.


Ku lepaskan diriku dari pelukan Andi, aku mendekati orang yang sudah terkapar tadi namun ia masih sadarkan diri.


Ku cengkram kuat bajunya ingin, rasanya aku menghajarnya kembali karena rasa perih di hatiku belum sepenuhnya terlepas.


Saat itu aku benar-benar menjadi tak terkendali, yang biasanya aku hanya akan melumpuhkan lawan namun kali ini aku ingin sekali membunuh lawan.


Andi memegang tangan ku yang memegang kuat baju bagian leher laki-laki di hadapan ku namun aku menepis tangannya.


" Bukankah kau mengincar aku, lalu kenapa kau menyakiti kedua adikku " datar ku berucap, bukan menjawab dia malah tersenyum miring membuatku semakin jengkel.


Aku tak mau membuang waktuku, aku mendekati kedua adikku. Indri lagi-lagi memelukku, dengan menangis dia terus saja mengoceh tentang ketakutannya.


Mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat ku merasa perih, bagaimana bisa aku tak mampu menjaga adikku sendiri, dan bagaimana bisa aku egois seperti ini, hanya karena sebuah perasaan adikku menjadi korbannya.


Saat aku, Andi dan beberapa orang lainnya ingin keluar dari ruangan itu, orang bayangan Andi ternyata menyusul kami, aku melihat Haris yang tertunduk dan Julian yang di papah.


Kami keluar bersama dari gedung itu tanpa menoleh kembali kebelakang,


Saat sudah berada di dalam mobil, ya kami menggunakan mobil dan motor yang kami bawa di bawa yang lain.


Dari jendela mobil aku melihat ke arah gedung itu dan ternyata sosok itu masih ada wajahnya nampak muram, seolah ia juga ingin ikut pulang.


" Tunggu sebentar! " Ucapku dan Andi langsung menatapku heran


" Apa ada yang tertinggal? " Tanyanya memastikan bahwa tak ada yang tertinggal


" Tidak ada! Hanya sebentar " ucapku kembali kemudian aku keluar dari mobil dan menghampiri sosok itu, dia kembali memintaku untuk mengikutinya.


" Bisakah kalian ikut aku " ucapku pada orang bayangan Andi.


Mereka mengangguk kemudian mengikutiku.


Kami terus berjalan hingga sampai di tempat kami tadi bertempur.


' kenapa kau membawaku ku kembali kemari ' batinku berucap dan dia seolah tau itu.


" Tunjukan " ucapku, karena aku yakin sosok ini ingin menunjukan sesuatu padaku.


Dia memintaku untuk membongkar sebuah tembok entah ada apa di dalam tembok itu.


Sesat pikiran ku menangkap sebuah pemikiran yang mengerikan, mungkinkah dalam tembok itu ada jasad sosok ini.

__ADS_1


Karena tak ada alat berat untuk membongkar tembok itu akupun kembali ke mobil.


" Bisakah orang mu mengurus ini, di dalam ada mayat yang sengaja di kubur dalam sebuah tembok, tidak ada alat berat yang bisa di gunakan untuk membongkarnya " ucapku pada Andi seraya terus menatap pada tubuh pitri yang berada di samping Andi.


" He'mh, akan aku pastikan mereka mengurus semuanya! Masuklah kita harus membawa pitri ke rumah sakit terlebih dahulu " ucapnya dan aku menurut.


Mobil membawa kami ke sebuah rumah sakit terdekat yang ada di kota itu, pitri dan julian pun langsung di tangani oleh pihak rumah sakit saat kami turun dari mobil.


Ingin rasanya aku memberi tahu ibu dan bapak ku namun rasa takut mereka akan kecewa pada ku membuat ku mengurungkan niat untuk memberi tahu mereka.


Akupun memilih menelpon Gibran.


" Ada apa? Apa semua baik-baik saja? " Tanyanya langsung saat panggilan dia angkat.


" Bagai mana keadaan mu disana apa kau sudah bertemu ripa'i? " Tanyanya kembali saat tak ada jawaban dariku.


" Aku sudah kembali, semua baik-baik saja! Tolong beri tahu Asiah kalau aku sudah pulang namun belum bisa kembali ke rumah, jadi aku minta kau ikut menjaganya " ucapku menjelaskan.


" Baiklah! " Ucapnya dan tak bertanya kembali.


Selesai menghubungi Gibran, aku menghubungi Sam dia harus tau keadaan julian karena dia yang selalu dekat dengan Julian.


Tak lama dokter yang menangani kedua adikku dan Julian menghampiri kami.


" Keluarga pasien " ucap dokter itu


" Saya! " Datarku, melihat wajah ku yang hanya datar dokter itu seolah tak percaya jika aku tth dari kedua adikku.


" Oh! Begini, pasien wanita baik-baik saja tak ada yang perlu di khawatirkan namun, pasien laki-laki mengalami luka yang serius mungkin karena pukulan benda tumpul atau sebagainya, jadi dia harus di rawat " jelas dokter itu.


Aku kaget, sangat kaget tak percaya, namun mengingat sudah dua hari mereka tak pulang dan selama itu juga mungkin Julian menjadi mainan mereka.


" Lalu! Lakukan saja yang terbaik " ucapku


Dokter itu paham dan dia meninggalkan kami, aku berjalan menuju kamar rawat kedua adikku, ku lihat kedua adikku sedang terlelap, wajah lelah terlihat jelas pada mereka, oh astaga! Kedua adikku mengalami semua ini karena aku.


" Maaf tth lalai menjaga kalian, tth tidak bisa mencegah ini terjadi pada kalian " ucapku pelan.


Aku duduk di antara dua sisi pembaringan pasien, terus saja berkecamuk dengan rasa bersalah pada kedua adikku.


Andi datang bersama seorang wanita cantik yang tak lain mbak Rena. Ah, wanita itu, kecantikannya masih sama tak memudar sedikitpun.


Dia berjalan mendekatiku seraya tersenyum.


" Kenapa aku harus menjumpai mu hanya dalam keadaan seperti ini, tidak bisakah kita berjumpa dalam keadaan baik-baik saja " ucapnya padaku sat sudah t pat di hadapan ku, namun aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


" Bagaimana keadaannya, apa baik-baik saja? " Lanjutnya bertanya padaku saat tak mendapat jawaban dariku

__ADS_1


" He'mh, dokter bilang mereka baik-baik saja hanya butuh istirahat saja " jawabku.


" Bagaimana dengan mbak Rena? " Tanyaku balik


" Aku! Aku kenapa? " Dia malah membalikkan pertanyaan ku mungkin niatnya untuk menghiburku, namun karena sedang seperti ini aku hanya membalas ucapannya dengan tatapan saja.


" Baiklah! Aku baik-baik saja " lanjutnya berucap, mendengar jawabannya aku hanya tersenyum.


Seseorang masuk dan membawakan sesuatu.


" Ini tuan " ucap utang itu seraya memberikan bawaannya pada Andi


Andi mengambilnya dan orang itu kembali ke luar.


" Makanlah lebih dulu, maaf aku membawakannya kemari karena aku tau kamu Takan mau meninggalkan mereka walau hanya untuk makan saja " ucapnya sembari menyerahkan makanan itu padaku.


" Kau juga, makanlah bersamanya temani dia " ucapnya kembali namun pada mbak Rena.


Mbak Rena terus memaksaku untuk tetap makan walau aku terus menolak, rasanya selera makan ku tak ada yang ada hanya rasa marah entah untuk siapa.


" Buka mulutmu! " Ucap seseorang, aku menoleh pada orang itu memastikan pendengaran ku tak salah.


Mataku berbinar saat melihat sang pemilik suara, air mataku mengalir begitu saja.


" Kenapa tak mengatakannya padaku " ucapnya, aku mengusap kasar air mataku, biarlah aku hanya terlihat lemah di hadapan yang lain saja bukan di hadapannya agar kelak jika aku benar-benar kehilangannya aku tak akan menangis.


" Karena ku tau kau juga sedang tak baik-baik saja " datar ku berucap.


Ripa'i mendekatiku untuk memelukku namun aku menolak, ya suara yang ku dengar milik ripa'i entah siapa yang memberi tahu dia kalau aku sudah kembali ke negara ku, ah! Bodohnya aku, kenapa aku lupa kalau ripa'i bisa melakukan apa saja sendiri tanpa harus ada yang memberi tahu dia.


" Kenapa? " Tanyanya, mungkin dia merasa heran karena biasanya di saat rapuh seperti ini aku akan diam saja ketika dia akan memelukku.


" Tidak apa! " Datar ku berucap.


Jujur saja hati ku merasa kalau yang aku lakukan salah, karena di saat seperti dia yang aku butuhkan.


" Baiklah! Kalau begitu makanlah dulu walau hanya sedikit " halusnya memintaku untuk makan.


Tak menolak, akupun memakan makanan yang Andi belikan untukku, walau tak habis namun cukup untuk mengganjal perut ku.


" Aku akan mengantar mu pulang, mari! " Ucap Andi pada mbak Rena seolah sengaja ingin meninggalkan kami berdua.


" Apa mbak tak ingin menemaniku? " Tanyaku pada mbak Rena dengan pandangan terus pada kedua adikku.


Mbak Rena tak langsung menjawab dia lebih dulu melirik pada Andi seolah meminta persetujuan.


" Maaf Jani, mbak besok ada meiting pagi, jadi mbak nggak bisa nemenin kamu, mbak pulang dulu ya ini sudah malam sekali, mbak permisi " ucap mbak Rena lembut, dari nada suaranya aku yakin sebenarnya mbak Rena ingin menemaniku namun karena ada ripa'i dan persetujuan Andi, jadi dia lebih memilih menurut pada Andi.

__ADS_1


mohon maaf salah up episode 🙏🙏


harusnya up episode 103 dulu baru 104 😁✌️✌️


__ADS_2