
Tak ada yang menantang dalam keseharian ku selepas tragedi penyekapan kedua adikku, aku menjalani hari seperti orang normal, eh! Bukannya aku memang normal.
Tak pernah ada perdebatan, tak pernah ada misi, tak pernah ada juga pertarungan membuat ku merasakan kenyamanan.
Semua berjalan seperti yang ku inginkan, ketenangan pun selalu ku dapat, banyak yang memintaku untuk bergabung dengan mereka apa bila ada misi yang menantang namun aku menolak, bahkan datang ke organisasi yang ku jalankan pun aku sudah tak pernah hanya menerima laporan saja.
***
Hari ini hari yang ku tunggu.
Karena hari ini aku dan kedua adikku akan pulang ke desa kelahiran kami setelah sebelumnya mendapat ijin dari pihak terkait masing-masing.
Aku dari pihak kantor, pitri dari pihak kampus, dan Indri dari pihak sekolah.
Kami berangkat setelah melaksanakan solat subuh.
Kami berhenti sejenak di sebuah kedai bubur untuk sarapan, tepatnya Indri yang meminta karena jujur aku tak suka Bubur jika bukan saat sakit saja aku memakan itu, dan beruntungnya aku tak pernah sakit, bukan tak pernah namun terlalu jarang, jika saja bukan karena perkelahian mungkin aku tidak akan sakit.
Indri dan pitri sarapan, sedang aku hanya minum teh tawar saja itu lebih baik untukku.
" Teh nanti belanja dulu ya! " Ucap Indri
" Belanja apa? " Tanyaku heran, bukankah kami akan pulang kenap harus berbelanja.
" Belanja apa! Ya belanja oleh-oleh buat para ponakan aku yang lucu-lucu itu juga buat ibu dan bapak " jawabnya dengan wajah kesal.
Pitri setuju dengan ucapan Indri, dan aku bagaimana lagi aku hanya bisa mengiyakannya, karena ini juga buat orang-orang yang ku sayang jadi tak masalah.
Ponselku berbunyi saat kami sudah kembali kedalam mobil, ku lihat layar nya sebuah panggilan masuk dari teman hati.
Enggan rasanya aku mengangkatnya, namun jujur aku ingin mendengar suaranya, jika terus seperti ini bagaimana bisa aku melepas nya dari hatiku.
" Kenapa tak di angkat? " Datar pitri bertanya
" Sedang tidak ingin mengangkat panggilan! " Santai ku menjawab
" Nanti kalu sudah sampai di pusat perbelanjaan bangunkan tth " ucapku lagi, karena saat ini yang menyetir pitri.
Tak ada jawaban dari mereka akupun memilih memejamkan mataku, dan tertidur.
__ADS_1
***
Pitri vov
Aku merasa kasihan pada tth ku, sedari dulu perjuangannya selalu saja penuh rintangan.
Kadang aku suka berpikir ' apa dia tak ingin menjalani hidup seperti para temannya saja ' namun pikiran itu sirna kala aku mendengar ucapannya yang mengajari kami agar hidup lebih maju.
Dia sudah seperti ibu bagiku, mengajariku, menjagaku, membesarkan aku, bang sandi juga Indi, merawat kami dengan kasih sayang dengan penuh perhatian.
Apakah dia sering marah? Tentu! Dia akan marah ketika kami berpikiran tak sama dengannya, berpikir untuk tidak meneruskan pendidikan kami dan memilih bekerja, dia juga sangat marah ketika bang sandi memilih tak melanjutkan sekolahnya.
Berbagai cara dia lakukan untuk membujuk bang sandi namun hasilnya tetap sama.
Tth ku sudah populer sedari dia sekolah, aku masih ingat banyak teman sekolah nya yang berusaha untuk menjadi kekasihnya namun teteh selalu menolak gara-gara dulu teteh merasakan kecewa.
Namun aku merasa kagum padanya, walau dia banyak yang suka dia bersikap biasa saja tak pernah menyombongkan diri bahkan selalu bersikap seolah tak ada apa-apa.
Dulu aku suka berpikir ingin menjadi seperti teteh ku, namun melihat semua rintangan yang dia alami aku merasa ngeri, hingga teteh menyuruh ku untuk belajar bela diri agar terbiasa dengan kehidupannya.
Aku menurut, karena jujur ku juga suka dengan olah raga itu, beruntung aku memiliki teteh sepertinya, kalu dulu dia belajar bela diri hanya di kampung ku dan sederhana sedang aku, berkat tth ku, aku belajar di tempat yang bagus, kehidupan ku dan kuliah ku dia yang menanggung entah dia banyak uang dari mana, namun aku percaya setiap rupiah yang dia miliki halal.
Kasihan jika melihat kisah percintaannya, dia memang tidak pernah bercerita tentang pribadinya yang satu itu, namun melihat kekalutan yang nampak di wajahnya jika membicarakan kekasih aku jadi tau bahwa kisahnya dengan kak ripa'i tidak selalu baik-baik saja namun aku selalu mendoakan yang terbaik tentangnya.
Pribadinya yang dingin membuat dia berteman dengan orang-orang yang seperti itu juga, tadinya begitulah pikir ku namun setelah ikut berteman dengan semua teman tth ku aku jadi tau, bahwa mereka tak seperti itu bahkan jauh dari kata dingin yang ada semuanya pada nyablak.
Hari ini dia mengajak kami untuk pulang ke desa entah ada apa karena tak seperti biasanya, namun aku sungguh senang saat di ajak pulang bersama seperti ini.
Tth bilang dia merasa lelah, entah lelah yang seperti apa, dan aku berinisiatif untuk mengemudikan mobil biar tth istirahat saja di bangku belakang.
Sesuai permintaan kami, teteh membiarkan kami membawanya ke pusat perbelanjaan.
Dia memang sebaik itu, buktinya dia juga menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya seperti te Asiah kemarin saat terkena musibah juga masih banyak Asiah lain yang dia tolong dan menganggap nya keluarga.
Kami sudah sampai di pusat perbelanjaan, melihat tth tertidur lelap rasanya tak tega membangunkannya, namun berbeda dengan Indri.
Dia membangunkan teh Rinjani dengan suara cempreng nya.
" Apa sudah sampai? " Tanya teh Rinjani saat sudah terbangun
__ADS_1
" Sudah! " Pelanku menjawab
" Di mana Indri? " Tanyanya
" Dia turun lebih dulu setelah membangunkan tth " jawabku
" Kita turun " ajak ku dan teteh tersenyum
Meski baru bangun tidur dia tetap terlihat cantik padahal dia tak pernah mau merawat diri, seperi aku dan Indri namun kecantikannya seperti seorang yang rajin merawat diri, aku sedikit iri dengan itu, kecantikannya seperti sudah menempel dari lahir.
" Mau belanja apa? " Tanyanya setelah kami masuk dalam pusat perbelanjaan itu
" Entah, kita nyari Indri dulu " jawabku, karena Indri entah sudah di mana
" Ikut aku! " Ucap tth ku dan aku menurut, sepertinya tth ku sudah hapal betul dengan Indri.
Tth membawaku ke toko baju, aku tak ingin membeli itu namun setelah melihat Indri aku jadi paham kalu tth ku membawaku pada Indri bukan untuk belanja baju.
Aku ingin menghubungi Julian, aku lupa kalau aku belum memberi tahu dia aku pulang hari ini, ya! Julian kini kekasihku, berkat bantuan tth ku aku jadi tau kalau Julian juga menyukaiku, dan tth memberiku ijin untuk menjadi kekasihnya asal semuanya di batas wajar.
Ponselku ternyata baterai nya habis, aku melihat ke arah tth ku dan dia tersenyum seolah mengerti tatapanku.
" Bolehkah! " Ucapku dan teh Rinjani langsung memberikan ponselnya.
Aku pun tak menunggu lagi segera ku lakukan panggilan pada Julian, hanya sebentar karena Julian juga sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Saat aku ingin mengembalikan ponsel teh Rinjani, sebuah panggilan masuk dari teman hati yang ku tau itu ka ripa'i di ponsel teh Rinjani, aku penasaran dengan kisah mereka apa lagi sudah beberapa bulan terakhir aku tak pernah melihat ka ripa'i main ke rumah membuat ku sedikit curiga.
Ku beranikan diri mengangkat panggilan itu, sungguh ini pertama kalinya aku lancang.
" Akhirnya kau mau mengangkat panggilan dariku! " Ucapnya setelah panggilan ku angkat.
" Wa'allaikum sallam!! Maaf ka ini bukan teh Rinjani " ucapku setelah KA ripa'i selesai bicara.
" Lalu!! Kau pitri kah, dimana Rinjani dan kenap dia tak mau mengangkat panggilan ku lagi " ucapnya, terdengar nada frustasi darinya.
" Aku enggak tau apa masalah kalian, tapi teh Rinjani, aku dan Indri sedang dalam perjalanan pulang ke desa " jelasku padanya.
" Baiklah terimakasih dan maaf tadi aku kira kau Rinjani " ucapnya, dan panggilan aku putuskan secara sepihak karena ku lihat teh Rinjani mendekat padaku.
__ADS_1
Ternyata benar pikiran ku tentang hubungan teh Rinjani dan kak ripa'i sedang tak baik-baik saja namun aku juga tak mau ikut campur karena tth ku tak suka itu.