Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 116


__ADS_3

Hari ini, hari kedua aku menemani kakak ku, yang biasa di panggil oleh teh Rinjani Abang, aku sempat bergantian dengan tth ipar ku istri dari kak Dedy, namun karena dia memiliki anak kecil jadi dia tak ku ijinkan untuk menginap, biar aku saja yang memantau keadaan disini, sedang teh Rinjani! Dia sedang sibuk dengan pabrik yang baru di bukanya, aku memintanya agar tak mengkhawatirkan keadaan kakak karena ada aku yang akan menjaganya.


Kaka ku sempat menanyakan teh Rinjani, ku bilang saja dia sedang ada urusan dan tentu kakak ku akan mengerti itu.


Hari ini ibu juga akan menjenguk kakak teh Rinjani yang bilang, namun dia tak bisa mengantar, jadi ibu dan bapak akan di antar oleh tetangga dengan membawa mobil teh Rinjani.


Adik bungsuku sudah kembali ke kota karena dia harus sekolah, sedang aku, aku sengaja mengambil cuti untuk bisa membantu di sini.


Aku sebenarnya khawatir membiarkannya hanya seorang diri, mengingat kejadian terakhir kali yang terjadi padanya atas kelalaian yang ku buat, membuat ku selalu tak tenang, namun teh Rinjani bilang akan ada yang menjaga dan menemani Indri yaitu temannya, percayalah semua temannya selalu bisa di andalkan.


***


Lima hari sudah aku selalu menemani kakak ku, dan kini dia sudah berada di kamar rawat sejak dua hari lalu. Dokter yang merawat kakak ku memberi tahu kalau kakak ku bisa pulang cepat jika keadaanya terus membaik. Aku merasa lega mendengar itu, jadi aku langsung memberi tahukannya pada teh Rinjani.


# dokter bilang dalam beberapa hari lagi kakak bisa pulang, karena keadaannya sudah jauh lebih baik # pesan yang ku kirim padanya.


Tak mendapat balasan darinya, namun aku tau dia juga pasti senang apa lagi dia yang paling dekat dengan kak Dedy.


***


Hari keenam,


Aku tak menemani kakak ku karena teh Rinjani yang disana, aku hanya diminta mengawasi pabriknya saja.


Wanita tangguh sepertinya membuat ku selalu merasa senang jika mendapat perintahnya, dia juga bilang kalau julian akan menjemput ku hari ini, jadi setelah aku selesai di pabrik, aku diminta pulang ke kota agar bisa menemani Indri karena teman yang teh Rinjani mintai bantuan tak bisa menemaninya lagi karena suatu keperluan.


Dan benar saja, Julian menjemput ku dan kami kembali bersama setelah berpamitan pada ibu dan bapak, tak lupa kami juga sempat mampir menengok kakak Dedy dan berpamitan pula padanya.


***


Rinjani vov


Melihat kakak ku bisa kembali tersenyum, membuat ku bisa bernafas lega.


Saat ini aku sedang menemaninya, sudah hampir satu Minggu aku tak menemaninya bahkan sekedar menengoknya karena urusan pekerjaan, namun aku percayakan kakak ku pada adikku pitri ku yakin dia bisa di andalkan, dan hari ini aku menyuruhnya untuk kembali bersama julian, ku dengar kabar kalau adik bungsuku sedang diawasi seseorang dan itu membuat ku takut, menyuruhnya pulang pun tak mungkin karena dia sedang sekolah disana bukan sedang bermain.


Melihat keadaan kakak ku aku teringat perkataan ku pada ripa'i, jika kakak ku sembuh dan sudah bisa kembali kerumah dia boleh menikahi ku.


Aku belum mengabarinya soal keadaan kakak ku, dan kakak ku pun sempat menanyakan itu.


" Apa kau sudah memberitahu ripa'i? " Tanyanya yang ku tanggapi dengan keheningan.


" Beritahu dia, apa kamu tak kasihan padanya, jangan terus mempermainkan dia kasihan " kata yang keluar dari mulut kakak ku, dan kata itu seolah perintah untukku, maka akupun memberitahu dia.


# Abang sudah boleh pulang besok # pesan yang ku kirim pada teman hati


# mmhhh! Dan aku akan segera kembali, beri tahu ibu dan bapak agar mencari hari dan tanggal yang baik # teman hati, pesan yang ku dapat darinya.

__ADS_1


Dia tak langsung menelpon ku, berarti sedang sibuk atau melakukan sesuatu.


# apa kamu yakin # balas ku


# kenapa? Apa selamanya kamu akan meragukan aku # teman hati


Aku hanya diam setelah membaca pesan drinya, mungkinkah aku meragukannya, pikir ku


# jangan khawatir, bang herdi akan kesana untuk mewakili ku meminta mu pada keluargamu, ku mohon jangan menolak lagi # teman hati


# mmhh! Aku akan menunggu # balasku


# terimakasih, aku menyayangimu Rinjani # teman hati, sekilas aku mengulas senyum membaca pesan itu


# terimakasih # balasku


# hanya itu # teman hati


# maksud mu? # balas ku


# apa kau tak menyayangiku juga? # teman hati, lagi senyum ku mengembang membaca pesannya.


# tentu! Aku juga menyayangimu # balasku


# benarkah, maka tinggu aku kembali, aku sedang ada urusan ku kabari lagi nanti # teman hati.


Dokter yang memeriksa kakak ku tersenyum saat melihat ku, namun aku hanya acuh, jujur aku sedikit tak suka padanya, mengingat sikap saat pertama kali Bertemu dengannya membuat ku jengkel.


Aku berjalan ke bangku yang ada di kamar itu, mengamati interaksi antara dokter dan pasien, kakak ku tersenyum pada dokter itu saat dokter itu mengajaknya bicara, bukan! Tepatnya menggodanya entah itu tentang apa.


Tak lama ponselku berdering, tidak nyaring namun cukup untuk sampai ke telinga, kakak ku sempat menengok padaku dan aku hanya tersenyum padanya.


Ku angkat panggilan itu, panggilan dari nomor Sem, dia tak akan menelpon jika tidak penting, pikirku.


" Diman kau? " Suara yang ku dengar saat sudah mengangkat panggilan itu.


" Di tempat kelahiran ku! " Datar ku menjawab


" cek! " Suara yang ku dengar


" Kenapa? " Tanyaku, sedikit bingung, mengingat sikap Sem bukan seperti ini.


" Sebenarnya aku sedang butuh bantuan mu " ucapnya, aku mengulas senyum. Untuk pertama kalinya Sem membutuhkan bantuan dariku.


" Katakan, ku usahakan agr bisa membantumu " ucapku, namun hanya keheningan yang menjawab mungkin dia tahu untuk mengatakan apa itu.


Ku lirik dokter yang tadi memeriksa kakak ku saat dia pamit akan keluar kamar, aku pun mengangguk untuk mengiyakan.

__ADS_1


" Katakan, atau aku tutup telponnya " ucap ku kembali, saat masih tak ada suara di sebrang telpon sedang panggilan masih terhubung.


" Aku menginginkan Vika! " Ucapnya lantang


" Vika! Bukankah kau bilang dia bar-bar " ejek ku padanya, bukan tapa alasan. Dulu aku sempat menyinggungnya dengan vika, namun dia bereaksi berlebihan, seolah merasa jijik padanya, ku tanya kenapa? Di a bilang karena sikapnya.


" Ya itu sebelum aku tau sipat asli darinya " jawabnya pelan, jika sekarang dia di hadapan ku, sudah ku pukul kepalanya.


" Maksudmu? " Aku masih saja mencari bahan ejekan darinya dengan terus berpura-pura tak mengerti maksudnya.


" Ayolah Rinjani! Ku tau kau tak sebodoh itu " ucapnya, membuatku sedikit memasang muka kesal


" Beberapa bulan ini aku di kejutkan dengan sipat Vika yang tak pernah dia tunjukan pada kita, ah salah, mungkin hanya aku yang tak tau sipat itu " lemahnya berkata kala aku hanya diam.


" Baiklah, nanti di waktu yang tepat aku pastikan dia menjadi milik mu, jika dia mau " ucapku


" Apa maksudmu? " Tanyanya


" Jika dia tak mau denganmu, aku tak bisa memaksanya " jelasku, karena sudah tau maksud Sem menelpon jadi aku memutuskan untuk memutuskan panggilan.


" Sudah dulu ya, aku sedang di rumah sakit, Abang ku yang sakit, jadi kau tak perlu bertanya, aku matikan " ucapku, dan setelahnya mematikan panggilan.


Aku melihat kearah kakak ku, matanya terpejam entah tidur atau tidak, namun aku tak mau mengganggunya.


Aku membereskan semua barang kakak ku agar besok saat sudah di perbolehkan pulang semua sudah siap.


Benar ternyata kakak hanya memejamkan matanya namun tidak tidur.


" Jani pikir Abang tidur " ucapku saat dia memandang ku.


" Kemari! " Pintanya padaku, akupun mendekat


" Maaf Abang selalu merepotkan mu, Abang merasa sudah saatnya kamu menemui kebahagian mu bukan terus memikirkan kami " ucapnya pelan, dia mendidikan tubuhnya yang tadinya hanya berbaring.


" Jani senang bisa membantu keluarga Jani, Jani juga tak pernah merasa direpotkan " jawabku


" Justru Jani merasa tak berguna saat tau Abang sakit parah, Jani merasa tak becus, Jani merasa lalai maafkan Jani " pelanku berucap seraya mencoba mendung air mata yang akan mengaliri pipi.


" Kemari! " Abang ku merentangkan kedua tangannya agar aku masuk dalam pelukannya.


Sungguh ini pertama kalinya aku merasakan pelukan kakak ku, karena aku atu dia walau dekat tak pernah saling memeluk jika sedang merasa rapuh malah menyembunyikan rasa rapuh kami masing-masing dan menunjukan wajah baik-baik saja.


" Menangis lah " ucapnya saat aku dalam pelukannya.


" Maaf Abang tak pernah memperhatikan mu, Abang selalu bersikap seolah kau gadis yang selalu kuat dan tak pernah rapuh " ucapnya seraya mengelus punggungku.


Aku tak bersuara masih merasa nyaman dalam pelukan abang ku, tak ingin juga melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


Dalam hati, ingin rasanya aku menumpahkan semua rasa lelah ku, bercerita padanya bahwa aku juga bisa menangis kala merasakan terlalu lelah dalam menjalani kehidupan ini, namun ku urungkan karena tak mau kalau sampai kakak ku merasa kasihan padaku.


__ADS_2