
Tanpa aku sadari aku sampai tertidur di bangku itu, terbangun saat adik bungsuku membangunkan aku.
" Kenapa tidur disini? " Tanyanya saat aku terbangun
Tak lama pitri juga datang
" tth tidur disini? " Tanyanya juga
" tth ketiduran bukan sengaja tidur disini " jawabku, kulihat Indri sudah rapih dengan seragamnya sedang pitri, sepertinya dia juga baru bangun
" Iin berangkat sama siapa? " Tanyaku balik
" Dianter te pitri " jawabnya, aku beralih menatap pada pitri, dia masih terlihat sangat lesu
" biar tth aja, tunggu sebentar tth mandi dulu hanya sebentar " ucapku kemudian masuk dalam kamar ku.
Saat aku sudah rapih dan keluar kamar, aku melihat ibunya rindi sedang menyiapkan susu hangat untuk Indri, aku menghampiri Indri.
" biasanya kau membuat susu hangat sendiri kenapa sekarang manja " datar ku berucap, aku tak suka jika Indri seperti ini aku takut dia akan menjadi manja
" bukan iin yang nyuruh, ibu rindi yang maksa " jawabnya aku hanya dia dan ikut memperhatikan Sekar membuat susu hangat
Aku meneguk air putih dan mengambil sepotong roti kemudian pergi keluar.
" tth nggak sarapan " ucap Indri
" Ini apa " jawabku sembari menunjukan roti di tanganku.
Aku duduk di bangku yang ada di luar, menikmati sepotong roti yang kubawa tadi.
" Apa kamu sudah sarapan " gumam ku, kemudian tersenyum miring mengingat bahkan aku belum sempat menyiapkannya sarapan di pagi hari, mungkin indah rasanya bisa sarapan bersama orang yang kita sayang setelah berstatus suami istri.
Indri menghampiri ku dan berucap
" Kenapa tersenyum sendiri " ucapnya, aku menoleh padanya
" Tidak, hanya sedang membayangkan kau sudah lulus saja " candaku namun dia menjawabnya
" Sebentar lagi ko " ucapnya
" Sudah ayo " ajak ku
Indri hanya diam saja kala aku sudah menaiki motorku.
" Kenapa hanya diam? " Tanyaku
__ADS_1
" Dengan rok ini, tth mau Iin menaiki motor oh tidak " jawabnya
Aku menatapnya keseluruhan, Emma, biasanya dia membawa motor sendiri atau di antar pitri pake mobil, dia belum pernah dibonceng motor memakai rok.
Aku beralih pada mobilku, namun aku sadar kalau aku membawa kunci motor bukan kunci mobil. Aku tersenyum pada Indri.
" Kalu begitu ambilkan kunci mobilnya " ucapku
Saat Indri berbalik pitri sudah di ambang pintu dan melempar kunci pada Indri, Indri menangkapnya dan memberikannya padaku kamipun berangkat menuju sekolah Indri, sekalian aku mau mengurus rindi juga sayang rasanya jika dia harus putus sekolah sedang hanya menunggu beberapa bulan untuk lepas dari sekolah alias lulus.
Sampai di sekolah aku tak langsung turun karena ponsel ku berbunyi jadi aku mengangkat panggilan terlebih dulu.
" Kau duluan saja tth mau angkat telpon dulu " ucapku pada Indri dan dia menurut
Sebelum mengangkat panggilan aku menatap dulu pada ponselku, siapkah aku membicarakan semuanya padanya.
" Ada apa? " Tanyanya saat panggilan ku angkat
" Entahlah, aku belum bisa memastikan ada apa, tapi aku sangat membutuhkan bantuan darimu " ucapku, sedikit ragu aku mengatakan itu, bukan apa, pasalnya kini Andi tak sendiri lagi dia sudah berkeluarga aku takut mbak Rena terusik jika aku terus meminta bantuannya.
" Aku membutuhkan koneksi darimu " ucapku langsung
" Apa yang terjadi? " Tanyanya jika saja dia di depan ku dapat mungkin aku dapat melihat wajah khawatirnya
" Belum tau makanya aku membutuhkan koneksi darimu " ucapku
" Bukan kota tapi negara " jawabku
Tiba-tiba saja aku merasakan ngilu di hati ku, rasanya dadaku terasa sesak entah kenapa seperti sangat susah untuk ku bernafas.
" Jani,,,, Jani,,,,!! " Andi memanggil nama ku mungkin karena aku hanya diam saja.
" He'mh " jawabku setelah kurasakan kelegaan.
" Katakan di negara mana kau membutuhkan informasi ku " tanyanya kembali
" Jerman " jawabku
" Baiklah segera ku sambungkan padamu, tetap kabari aku jangan meninggalkan ku atau bahkan mengabaikan aku paham!! " Ucapnya kemudian mematikan panggilan secara sepihak, bahkan aku belum sempat mengeluarkan kata " ya " untuk menjawabnya.
" Entahlah, aku sendiri merasa khawatir " gumam ku
Aku menatap pada sekolahan Indri, aku ingat kalau aku kesini bukan hanya untuk mengantar Indri namun juga memiliki tujuan lain.
Sampai di lorong sekolah, aku langsung menuju ruang guru kebetulan aku tau dimana ruang gurunya karena aku sendiri yang mengutus sekolah Indri walau kadang di bantu pitri.
__ADS_1
Ku ketuk pintu kepala sekolah, dan terdengar suara seseorang menyuruhku untuk masuk.
" Permisi pak " sopan ku saat sudah didalam ruangan itu, seperti biasa, para guru yang lain sibuk menatapku entah apa yang mereka tatap dariku.
" Ada yang bisa di bantu " ucap laki-laki yang mungkin seumuran Andi. Melihat laki-laki itu aku sedikit heran karena yang ku tau kepala sekolah disini bukan dia
" Saya mau bertemu pak kepala sekolah " datar ku berucap.
Laki-laki itu menatap ku, aku sedikit memicingkan mata karena tatapannya sama sepertiku tatapan heran.
" Kamu bukan murid disini? " Tanyanya padaku
" Tentu " jawabku
" Oh pantes, dan wajar kalu kamu tidak tau saya, sebelumnya sekolah dimana? " Ucapnya
Sekolah, tidakkah dia melihat cara berpakaian ku, apa anak sekolah berpakaian seperti ku juga.
" Saya wali murid di sekolah ini, dan siapa anda " ucapku mulai tak bersahabat dengan tatapan dari laki-laki didepan ku
" Saya kepala sekolah disini " jawabnya
" Dan maaf, daya pikir anda murid pindahan makanya anda mencari kepala sekolah " ucapnya
" Oh, jadi anda kepala sekolah disini,maaf juga saya tidak tau anda karena sudah sangat jarang saya datang ke sekolah " jawabku merasa tak enak juga, namun kenapa aku tak tau kalau kepala sekolah disini sudah di gantikan bukankah aku juga berhak tau, karena aku juga ikut berperan disekolah ini.
Dan akhirnya obrolan serius terjadi antara kami, aku mengatakan semua yang memang menjadi niatku datang kemari dan sukurnya dia mengerti dan paham, tadinya aku takut kalu dia akan berpikiran lain namun karena ku terangkan semuanya dia paham dan mengatakan akan mengurus semuanya dan rindi bisa segera bersekolah.
Selesai dengan urusan di sekolah aku kembali mengendarai mobil ku menuju tempat bang herdi semoga ada informasi yang bisa membuat ku sedikit tenang.
Ku dengar ponsel ku berbunyi dan aku meliriknya, karena mobil ku bukan mobil semahal itu yang bisa disambungkan dengan ponselku jadi aku harus menepi dulu.
" Semua sudah beres dia akan memberikan informasi kepadamu secepat mungkin, tunggu saja " kata seseorang di sebrang telpon saat panggilan ku angkat
" Terimakasih audah mau membantu ku " ucapku dan panggilan langsung dia putus begitu saja setelah menjawab " he'mh "
Aku kembali mengendarai mobil ku, jarak ke rumah bang herdi cukup jauh jadi aku harus sedikit bersabar ditambah lalulintas yang cukup padat membuatku harus cukup sabar.
Sungguh kecewa rasanya hatiku, jauh perjalanan yang ku tempuh tak membawakan hasil.
Bang herdi tak ada di tempat, menurut penjaga yang ada di kompleks itu bang herdi sudah lama tak pulang kerumah itu yang artinya ripa'i juga tak datang kemari lalu kemana perginya dia malam itu.
Setelah meminta sedikit bantuan dari penjaga kompleks aku langsung meninggalkan tempat itu dengan perasaan semakin tak tenang.
Aku menepikan mobilku di sebuah cafe guna untuk mengisi perutku karena ku lirik jam di tangan sudah menunjukan pukul dua siang, pantas saja perutku sudah lapar dan tadi pagi aku hanya memakan sepotong roti saja.
__ADS_1
Langsung saja aku memesan makanan yang ingin ku makan setelah di dalam sana, seraya menunggu pesanan datang aku membuka galeri foto yang ada ponselku, melihat foto pengantin ku bersama ripa'i, aku memperhatikan wajah ripa'i dalam foto yang tersenyum tanpa beban mencerminkan betapa bahagianya dia saat itu, jika saja aku tau dia akan lama pergi, mungkin aku akan memilih ikut dengannya.
" Sepertinya kau memang senang membuat ku menunggu " ucapku pelan