
Masih dalam pelukan kakak ku, bahkan aku sampai ikut berbaring di sampingnya, dia menyuruhku bercerita tentang keseharian ku, tak ku tolak, ku ceritakan keseharian ku bahkan sampai yang ekstrim sekaligus, aku juga memberi tahu dia kalau aku pernah sampai tak sadarkan diri.
Kakak ku hanya mendengarkan seraya mengelus kepalaku. Ku rasakan kasih sayang yang tulus itu, sekilas aku teringat pada ripa'i, dia yang selalu mendengarkan ku kala aku sedang lelah, sedih, dan senang ku.
Saat aku berhenti bercerita, kakak ku bertanya padaku tentang ripa'i.
" Apa selama ini dia yang selalu di sampingmu? " Tanyanya padaku, aku mendongak menatap pada wajah kakak ku yang tirus namun tetap tampan.
" Eemmm! Dia selalu menjadi tempat sandaran yang nyaman untuk Jani bercerita " jawabku tanpa ragu.
Kakak ku tersenyum dan mengelus punggungku.
" Abang selalu memperhatikan dia, kala dia sedang ikut pulang bersamamu, Abang yakin dia mampu menjagamu menggantikan Abang kelak " ucapnya lembut
" Memang Abang tak mau menjaga Rinjani lagi? " Tanyaku dengan sedikit candaan, karena aku tau bukan maksud dia tak ingin menjagaku, namun dia ingin ada orang yang akan selalu menjaga dan menemani ku.
" Abang sayang Jani, tentu Abang akan selalu menjaga Jani juga adik-adik Abang yang lain " jawabnya
" Terimakasih, selama ini Jani sudah membantu Abang menjaga adik-adik Abang yang sangat Abang sayangi " lembutnya lagi
" Jani yakin akan menerimanya kali ini? " Tanyanya, aku hanya mengangguk pelan
" Lalu, pernikahan yang seperti apa yang Jani inginkan? " Tanya ya lagi
" Sederhana, Jani tak mau kemewahan, bahkan bila perlu cukup hanya akad saja setelah ya makan-makan cukup " jawabku pasti, karena aku tak mau kalau sampai nanti ada yang tau tempat kelahiran ku, dan lagi aku harus tetap melindungi keluargaku, karena aku tak tau musuh ku yang mana yang akan berbuat nekad seperti waktu itu.
" Apa tak sebaiknya langsung resepsi, sederhana saja " ucapnya, dan ku jawab dengan gelengan kepala.
Ternyata cukup lama kami saling bercerita, kakak ku yang menceritakan tentang anak-anak dan istrinya yang tak bisa jauh darinya, dan aku tentang ku dan perjuangan ku. Tak ku sadari ternyata hari sudah malam dan kantukku pun sudah menyerang.
" Jani solat isya dulu, setelahnya nyari makan nanti balik lagi " ucapku
" Eemmm! " Jawab kakak ku
Akupun pergi dari kamar rawat kakak ku menuju mushola yang ada di rumah sakit itu, setelah itu aku pergi keluar rumah sakit untuk mencari makan.
Hanya berjalan, karena saat masuk area rumah sakit,ku lihat ada warung makan di depan saja, berjalan kaki dengan santai sembari menikmati angin malam area rumah sakit yang tak ku suka baunya.
Sampai di warung makan, ku dapati beberapa pekerja rumah sakit juga sedang memesan makanan di sana, aku acuh dan memesan makanan ku, sederhana saja namun tak ku sangka jika ada yang jilid.
" Kemarin-kemarin sombongnya minta ampun, seolah orang paling banyak duit " sindir yang ku dengar dari salah satu pekerja dari rumah sakit itu, ku tau dia bekerja di rumah sakit di mana kakak ku di rawat dari seragamnya.
Aku hanya diam saja menanggapinya, toh tak harus juga aku perlihatkan uang ku padanya tak ada gunanya.
Makanan yang ku pesan di sajikan, dan akupun menyantapnya dengan tenang, sesekali aku membalas chat dari para sahabat dan teman ku, tak pernah aku mengabaikan mereka.
__ADS_1
Makanan yang ku makan hampir habis, namun tak ku habiskan kala seorang anak remaja mungkin seumuran adik bungsuku datang, dia memesan hanya nasi putih saja dengan hanya di temani kuah sayur.
Aku menatapnya dalam, karena saat melihat wajahnya tersirat kesedihan juga kebingungan, ku pandang jauh gadis itu hingga air mata ku menetes. Dia melihat ke arah ku dan memberikan aku tisu.
" Siapa yang sakit? " Tanyaku hanya sekedar basa-basi, karena aku tau ibunya yang sedang sakit dan sepertinya parah.
" Ibu saya Kak " pelannya menjawab
Makanan yang dia pesan di sajikan, hanya nasi putih dan kuah sayur seperti yang ku dengar, aku meminta pemilik warung makan membawakan lauk cukup banyak, tak lupa juga sayur. Ku letakan di depannya, ku suruh dia memakan apa saja yang dia mau namun dia sedikit enggan.
" Jangan khawatir, aku yang akan membayar " lembutku namun mendapat kecaman dari bangku sebelah
" Sendirinya saja hanya makan nasi putih, sayur kangkung dan tempe saja sok-sokan mau bayarin makanan orang " begitulah bunyinya cukup nyaring, aku menoleh ke arah sumber suara dan dia hanya diam saja.
" Makanlah, aku akan mengurus pembayaran ibumu juga " ucapku sembari mengelus punggung tangan gadis remaja itu dan dia tersenyum namun matanya berair.
Dia memakan makanan yang dia mau, aku tersenyum melihatnya makan dengan lahapnya seolah dia baru bertemu dengan makanan.
" Pelan-pelan, nanti tersedak " ucapku dan dia tersenyum
Selesai makan aku membayar dan pergi dari tempat itu, aku mengikuti gadis itu, memintanya untuk membawaku pada keluarganya tepatnya ibunya yang sedang di rawat.
Sampai di depan sebuah kamar, gadis itu membuka pintu kamar itu, dan memprsilahkan ku untuk masuk.
" Dimana bapak mu? " Tanyaku pada remaja itu, dan ku lihat usia ibunya mungkin hampir sama dengan ku.
" Ayah, tidak ada " jawabnya seraya menunduk
Aku tak bersuara lagi namun mendekati wanita yang anak itu panggil ibu.
" Sepertinya saya lihat mbak sudah sehat " ucapku seraya melihat kearahnya meneliti, dan tak ada yang salah pada wanita di hadapanku ini.
" Dokter bilang ibu sakit parah " remaja itu yang menjawab dengan wajah sedih, ya mungkin dia pikir ibunya sekarat.
" Kenapa anda tega membohongi anak anda sendiri " tanyaku pelan tak mau di dengar remaja itu
" Apa maksud anda? " Tanyanya seolah tanpa dosa
" Katakan apa yang menjadi masalah anda tak bisa keluar dari tempat ini, tahukah anda kalau anak anda rela hanya makan nasi putih saja " geram ku, sabar ku sudah sedikit terpancing
" Saya memang sudah sembuh, namun karena saya tak punya uang makanya saya masih disini " jawabnya sayu
" Lalu kenapa Anda harus membohongi anak anda sendiri " datar ku, dia melirik pada anaknya seolah tak ingin anaknya mendengar pembicaraannya.
" Siapa nama mu? " Tanyaku pada pada remaja itu, dia mendekat dan memberi tahu namanya
__ADS_1
" Saya rindi kakak " jawabnya, aku tersenyum pada anak itu.
" Rindi bisakah kau ke bagian administrasi dan meminta dokter yang merawat ibumu datang kemari " ucapku lembut pada remaja itu dan dia menurut.
" Katakan " ucapku pada wanita di hadapan ku
" Saya tidak mau membebaninya, saya sudah meminta bantuan dari pihak rumah sakit agar memberi keringanan " jelasnya
" Dengan " tanggap ku
" Membiarkan saya pulang, dan saya akan kembali bekerja, dan mencicil pembayaran pengobatan saya " jelasnya seraya mengusap air mata yang ingin keluar dari matanya
" Suamimu? " Tanyaku
" Suami! Entah dia dimana, saat aku mengandung rindi dia sudah pergi meninggalkan kami " jelasnya, aku tak mau percaya begitu saja sebelum mendengar keterangan dari pihak rumah sakit.
" Maaf! " Pelanku
" Tidak perlu, karena pertama kalinya ada yang mau mendengar ku " ucapnya
" Maksudmu " aku heran mendengar ucapannya
" Selama ini kami hanya hidup berdua, dan jauh dari tetangga, karena tetangga berpikir rindi anak yang tak di inginkan " lemahnya, belum sempat aku membalas ucapannya seseorang masuk.
" Nona Dena! " Kata yang keluar dari seseorang, aku menoleh dan mendapati dokter yang merawat kakak ku. Dia menatapku dan tersenyum
" Sedang apa anda di sini? " Tanyanya kemudian
" Saya mau tau keadaan ibu ini " jawabku
" Apa dia sodara anda, hingga anda peduli padanya " ucap sang dokter
" Tentu, dia sodara dengan saya " jawabku telak, tak berbicara kembali dokter itu memeriksa wanita itu.
" Semuanya baik-baik saja " jelasnya seraya melirik pada anak wanita itu.
Aku pham ada sesuatu yang sepertinya tak untuk di ketahui remaja itu.
" Baiklah! Bisa saya berbicara sebentar dengan dokter " ramah ku
" Mari, kita bicara di luar saja "
Dokter itu berjalan lebih dulu keluar kamar, aku memandang wanita itu sebentar, sungguh aku kasihan padanya.
" Saya permisi dulu " pamitku
__ADS_1