Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 89


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke rumah kami hanay diam tak ada yang bersuara, aku larut dalam pikiran ku yang terus berkecamuk seolah tiada henti, sedang anta aku tak tau apa yang menyebabkan dia enggan untuk bersuara karena biasanya dia tidak bisa diam jika dengan ku.


Sungguh aku memang merasa tenang tak mendapat banyak pertanyaan dari anta, kerena pikiran ku sedang kalut jadi tak apa kali ini aku sedikit egois.


Tak berselang lama mobil berhenti, namun aku merasa sedikit heran! Pasalnya tempat mobil berhenti bukan di rumah melainkan di sebuah gedung besar yang menjulang. Anta memintaku untuk turun, dan akupun menurut.


" Untuk apa kita kemari?" Tanyaku pada anta, dan dia hanya melirik ku sekilas tanpa menjawab.


Kami masuk kedalam gedung itu. Banyak orang yang menunduk pada kami, salah, mungkin pada anta.


Tak mau banyak tanya akupun hanya mengikuti langkah anta, dia membawaku ke suatu ruangan yang megah, rapih, juga mewah.


" Duduklah! " Titah anta padaku saat kami sudah berada di dalam ruangan itu.


" Kau belum sarapan bukan? " Tanyanya padaku, dan aku hanya mengangguk.


Dia mengangkat gagang telpon yang ada di atas meja direktur, ya! Saat ini kami sedang berada di ruangan direktur, entah siapa direktur itu aku tak tau.


Anta meminta pada seseorang agar membawakan makanan ke ruangan tepat Kemi berada, setelahnya meletakan kembali gagang telpon itu.


Tak ada kata yang keluar antara kami, aku tak ingin bertanya juga toh nanti juga aku akan tau.


Tiba-tiba pandangan ku melihat ke arah yang jauh dari kata normal, sebuah peristiwa terpampang jelas di depan ku entah anta melihat atu tidak.


Aku merasa sedikit pusing di kepalaku setelah peristiwa itu melebur, akupun menyandarkan kepalaku di senderan bangku yang ku duduki.


" Kenapa! Apa kau juga melihatnya? " Ucap anta dan dia berjalan ke arah ku.


Ah! Ternyata anta juga melihatnya,


" He'mh, kau juga! " Datarku sembari terus merasakan pusing di kepala ku.


" He'mh! " Singkatnya.


Dia duduk di sebelahku dan menatap ku.


" Sejak kapan kau memiliki anugrah itu! Apa sedari lahir? " Tanyanya, seraya terus memperhatikanku.


" Tidak! " Jawabku.


" Lalu? " Tanyanya kembali, sepertinya anta menginginkan jawaban yang detail atas pertanyaannya.


" Sudahlah! Aku tak ingin membahas itu, dan untuk apa kita kemari? " Tanyaku, berusaha mengalihkan pertanyaan anta, karena jujur aku malas membahas hal yang seperti itu.

__ADS_1


Tak lama seseorang mengetuk pintu,anta mempersilahkan si pengeruk untuk masuk dan diapun masuk.


" Maaf tuan! Ini pesanan anda " sopran nya berucap.


Seorang laki-laki, mungkin seumuran kami juga yang masuk membawakan makanan.


" Letakan! Apa Jian belum datang? " Tanyanya pada laki-laki itu.


" Belum tuan! Apa masih ada lagi yang anda perlukan tuan? " Tanya laki-laki itu pada anta.


" Tidak! " Datar anta menjawab.


" Kalau begitu saya permisi tuan, nona! " Sopan nya, kemudian membalikan badan setelah anta menganggukkan kepalanya dan langsung pergi.


Anta beralih melihat ku, ku tangkap raut kesal dari wajahnya entah pada siapa, mungkin pada ku!.


" Makanlah! Kita akan pulang setelah menemui Jian, kita membutuhkannya " ucapnya.


Aku menurut, menikmati makanan yang ada di hadapanku begitu juga dengan anta.


Sampai selesai menghabiskan makanan, orang yang kami tunggu belum juga datang aku sudah merasa sedikit bosan.


Membuka kembali ponselku berulang-ulang itu terus ku lakukan guna mengusir ke Bisman ku, sedang anta dia sedang asik dengan tumpukan berkas yang ada di meja sana. Sesekali dia tersenyum mencibir pada kertas yang ada di tangannya, entah dia sedang membaca apa hingga seseorang masuk tanpa mengetuk pintu.


Anta tersenyum manis dan hangat pada wanita itu, entah kenapa melihat anta tersenyum pada wanita lain membuat aku juga ingin ikut tersenyum. Sungguh ada perasaan lega di hatiku, seolah aku melepaskan beban.


" Arantha! Kau di sini? " Ucap wanita itu pada anta, he'mh! Sudah ku duga pasti salah satu dari wanita yang pernah anta bilang.


" He'mh, aku memerlukan bantuan mu ! " Datar anta berucap.


" Sungguh! Tentu dengan senang hati aku akan membantumu " antusias wanita itu.


Wanita cantik itu beralih melihatku, saat dia mengamati ku, aku balik menatapnya hanya dengan sikap biasa saja, toh aku juga belum panjang kali lebar siapa wanita di depan ku ini.


" Nona! " Kata yang keluar dari mulut wanita cantik itu. Aku hanya diam.


Berbeda dengan anta, dia yang menjawab rasa heran yang ada di benak wanita cantik itu.


" Dia tunangan ku! " Datar anta berucap, sontak saja gadis cantik di samping anta itu membulatkan matanya, mungkin rasa tak percayanya muncul.


" Lantas kenapa kau meminta bantuan dariku! Dan untuk hal apa? " Wanita itu tak kalah datar membalas ucapan anta.


Aku tak ingin bersuara, hanya ingin mendengarkan. Aku juga mau tau seberapa lihai anta mengahadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


Terjadi sedikit cekcok antara mereka namun aku tak mau menengahi, aku malah asik dengan majalah yang ada di hadapanku.


Bosan membuka-buka majalah itu, aku menutupnya kembali dan menajamkan pandangan ku pada kedua manusia di hadapan ku, jujur aku sudah merasa bosan dari sejak datang kemari dan sekarang di buat menjadi semakin bosan dengan Serama yang mereka buat.


Aku berdiri.


" Permisi! Aku mau pulang " datar ku pada dua manusia di hadapanku, mereka menoleh dan anta menghampiriku.


" Baiklah! Aku sudah menjelaskannya padamu, dan jika kamu tak bisa menerima keputusanku maka aku pastikan takan ada lagi koneksi antara kita " ucap anta pada wanita itu saat tepat di sampingku.


Anta menuntun tanganku keluar dari ruangan itu, namun langkah kami terhenti! Wanita itu menghentikan kami.


" Tunggu! Baiklah aku akan membantu kalian, dan maaf soal sikap ku tadi, aku hanya tak rela kau menjadi milik wanita lain " kata yang keluar dari mulut wanita itu. Sungguh aku tersenyum melihat keberanian wanita di hadapan ku ini, karena dia berani mengutarakan isi hatinya.


" Sepertinya kau akan di repot kan oleh dua gadis Yang benar-benar menginginkanmu " bisik ku pada anta. Dia tersenyum dan berbisik padaku.


" Sayangnya gadis yang ku inginkan tak menginginkan ku "


Akhirnya, kamipun mendapat sekutu baru di tempat asing ini. Setelah semuanya sudah beres aku dan anta pun pamit untuk pulang, dan sepanjang perjalanan anta akhirnya tak mendiamkan aku lagi, dia sedikit mengajak ku mengobrol.


***


Mobil sampai di kediaman Wira, aku turun dan masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Karena kepalaku masih sedikit pusing, jadi aku langsung menuju kamar ku ingin langsung beristirahat.


Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, dan ku nikmati kenyamanan yang ku rasakan hingga akupun tertidur.


***


Ripa'i vov


Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman besar Wilson. Wilson jika boleh memilih aku tak ingin nama besar itu, karena nama itu orang-orang yang aku sayangi direnggut dari ku, bahkan kini gadis yang aku cintai pun dalam masalah.


Selama ini dia sudah berbesar hati dengan mau terus menungguku, namun ketika saat waktu ku untuknya aku belum bisa menemaninya karena nama besar Wilson.


Entah perjanjian apa yang dulu ayah ku setujui aku tak mengerti, namun hanya satu hal yang dapat aku pastikan, semua ini hanya tipu daya saja.


Aku tersenyum saat teringat kembali kejadian semalam, memang tak terjadi apa-apa antara aku dan Rinjani, namun semalaman bersamanya membuat ku bahagia walau hanya menemaninya saja. Ada rasa kasihan di hatiku saat melihatnya menangis, namun juga rasa bangga.


Kasihan, karena aku dia harus mengalami sesak kembali di dadanya ku tau itu. Bangga, karena dia wanita yang pantas aku perjuangkan, bangga, memiliki nya sebagai kekasih, jika bisa! Sudah ku jadikan dia istri sedari dulu agar tak ada yang bisa merebutnya dariku.


" Jani! Jika aku tidak bisa membahagiakan mu, atau bahkan selalu membuatmu merasa sesak, maka aku ijinkan kau pergi dari hidupku untuk mencari kebahagian mu. Aku janji itu! " Gumamku.

__ADS_1


__ADS_2