
Esok paginya aku tak mendapati ripa'i pulang, bahkan dia juga tak memberi kabar walau hanya lewat ponsel, padahal dia bilang kalu dia akan kembali.
Tak mau berpikiran buruk, aku pun memilih bangun dari tempat tidur pergi kekamar mandi guna membersihkan diri dan berwudhu.
Hingga pagi menjelang ripa'i belum juga kembali, sedang aku sudah mendapat kabar dari ojah kalau hari ini perusahaan yang akan kami ajak kerjasama sudah bisa membuat jadwal temu, dan jadwal itu ternyata hari ini.
Sedikit dilema, haruskah aku pulang sekarang atau menunggu ripa'i lebih dulu.
Jika menunggu ripa'i, aku yakin aku akan kehilangan kesempatan ini padahal ku sudah lama menunggu kesempatan ini datang.
Namun jika aku pulang sekarang bagaimana dengan ripa'i, mencoba menelponnya pun sia-sia karena jangan kan dijawab tersambung pun tidak, kemudian aku memilih mengirimkan pesan, jika nanti dia sudah mengaktifkan kembali ponselnya aku yakin dia dapat melihat pesan itu.
# aku pulang sekarang ada urusan pekerjaan yang harus ku urus # pesan ku terkirim pada teman hati, ya, nama itu masih belum ku ganti di kontak ku.
Aku langsung berpamitan pada pitri, tak lupa juga pada Sekar karena dia yang mengurus rumah ini mulai sekarang.
Aku pergi hanya mengunakan motor saja tak membawa mobil, menurutku mengunakan sepeda motor lebih cepat dari pada menggunakan mobil, mungkin bukan itu alasan yang tepat, tepatnya aku lebih menyukai sepeda motor daripada mobil.
***
Aku tak langsung pulang kerumah, namun memilih ketepatan dimana ojah sedang menungguku disana yaitu pabrik.
" Lebih cepat dari dugaan " seloroh ojah saat aku memarkirkan motor ku dia menghampiriku
" Eemmm " singkatku
Ojah menatapku misterius entah apa yang dia ingin dariku.
" Kenapa? " Heran ku bertanya
" Tidak ada, hanya saja,,,!" dia menggantung ucapannya
" Kenapa?, apa semua berjalan sesuai rencana " tanyaku kembali
" Tidak, namun aku melihat mu seperti bukan pengantin baru, apa kau belum tidur dengannya " ucapnya, hah, apa yang dia katakan tidakkah ada pribahasa lagi
" tidur dengannya? " heran ku
__ADS_1
" Eemmm, jangan-jangan kalian belum itu,," ucapnya misterius
" Apa sih nggak jelas deh " elak ku, aku memang tau arah pembicaraannya namun malas untuk memperjelas nya bagiku itu pribadi tak harus orang lain tau.
" Udah ayo nanti terlambat " ucapku mengajaknya untuk masuk keruangan ku
Sampai di dalam ruangan, ojah menjelaskan semuanya, aku kagum padanya hanya sebentar saja aku menjelaskan tentang dunia bisnis dia sudah bisa menerapkannya ya walau pun belum sempurna, tapi aku yakin dia akan terbiasa, dan dari terbiasa itu dia akan menjadi luar biasa bukan begitu.
Selesai menjelaskan semuanya, ojah tiba-tiba muntah namun hanya cairan bening dan hanya sedikit, aku panik, aku takut dia sedang sakit namun saat aku menawarkan akan membawanya ke dokter dia malah tersenyum.
" Tidak perlu, aku tidak sakit " ucapnya
" Tidak sakit! Kamu tau wajahmu pucat apa itu bukan sakit namanya " ucapku seraya membawanya ke sopa yang ada di ruangan ku
" Beneran aku nggak sakit, kamu tak perlu khawatir karena aku sedang hamil bukan sakit " jelasnya, aku hanya diam dan tersenyum.
" Benarkah " ucapku agar lebih yakin akan apa yang ku dengar dan ojah mengangguk
" Selamat ya, aku sungguh bahagia mendengarnya " ucapku tulus
" Eemmm, kau segeralah menyusul " ucapnya aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
" Jika dia dalam kesulitan hamba mohon bantulah dia, jika dia dalam bahaya maka selamatkan dia, jika dia tak bisa pulang maka tunjukan dan permudahkan jalan untuknya pulang, engkau tau hamba sedang bimbang menantinya " hatiku membatin
Bahkan itu ku ucapkan pula dalam solat ku.
Malam kembali menyapa, rasanya angin malam ini terasa berbeda, hembusannya terasa sunyi, bahkan seolah menusuk dalam tubuhku.
Aku mencoba berinteraksi dengan sesuatu yang hanya aku sendiri yang tau, menanyakan dimana dia dan apakah dia baik saja, namun sama saja, seolah ada yang menghalangi karena aku tak dapat menemukan jejak ripa'i.
Lelah dengan semuanya aku mencoba memejamkan mata dan tertidur karena saat ini hanya itu yang bisa ku lakukan, menjaga agar tubuhku tetap sehat dan bugar agar aku bisa mencari ripa'i.
***
Hari berganti dengan cepat, bahkan ini sudah Minggu ketiga dan aku masih belum menemukan titik terang tentang ripa'i.
Aku sudah mencoba mencari taunya di lingkungan Wilson karena aku takut ripa'i di sekap disana, namun sama saja hasilnya nihil.
__ADS_1
Satu bulan kemudian, aku mendapatkan kabar dari sahabatku, dia bilang melihat seseorang yang mirip dengan ripa'i, bahkan dia sudah lebih dulu mengawasi orang itu sebelum memberi tahu padaku.
Aku senang mendengar kabar itu walau, kabar itu belum tentu kebenarannya namun aku akan mencari taunya.
Yang membuat ku sulit mengerti, jika ia itu ripa'i sedang apa dia di Jerman, apa yang sedang dia kerjakan hingga tak mengabariku bahkan mungkin dia tak sadar kalau dia pergi saat aku baru satu hari menjabat sebagai istrinya, aku yakin ripa'i dalam bahaya, dia sedang tak baik saja, aku paham kenapa dia tak mengaktifkan ponselnya karena aku yang memberi tahunya dahulu agar tak menggunakan nomor itu jika dia sedang berurusan dengan orang berlatar bawah tanah.
Mendengar kabar itu aku langsung berpamitan pada ibu dan bapak, alasannya aku akan kembali kerumah yang mas Rendi berikan padaku, aku juga bilang kalau ripa'i sedang sibuk dan tak bisa menjemput ku.
Dalam perjalanan pun aku tak tenang. otak ku sudah merancang segala rencana agar aku bisa menyusulnya ke Jerman bagaimana pun caranya.
Sampai di rumah hari sudah malam, bahkan aku tak sadar kalau aku mengganggu istirahat orang yang ada di dalam rumah.
" Tth tak membawa kunci, bisakah kamu turun dan membuka pintu " ucapku saat panggilan di angkat oleh pitri dan itupun mungkin panggilan yang sudah ke seratus kali kalau kata orang bohong mah.
Tak lama pintu dibuka dan nampak lah wajah lelah adikku, aku tersenyum melihatnya seperti itu pasalnya, aku tak pernah mengganggu istirahat adik-adik ku.
" Maaf menganggu tidur mu " ucapku seraya melangkah masuk kedalam rumah
" Apa terjadi sesuatu? " Tanyanya saat aku sudah duduk dan dia ikut duduk dengan ku.
" Tidak ada, tidurlah kembali " jawabku, jika kukatakan sekarang dia akan akan ikut tak bisa tidur nantinya jadi mungkin nanti saja saat aku memerlukan bantuannya.
Adikku menatapku mungkin tak yakin dengan jawabanku, namun aku kembali berucap.
" Tidurlah, semua baik saja, tth kemari karena baru mengantar ripa'i ada pekerjaan mendadak jadi dia harus terbang malam ini juga " bohong ku padanya, percayalah selama ini aku tak pernah berkata bohong pada kedua adikku, karena aku sekalu berusaha mengajarkan kejujuran jadi mana mungkin aku sendiri yang berbohong, namun kali ini aku rasa itu yang bisa ku lakukan.
" Kalu gitu tth juga tidur " datar nya berucap
" tth lapar, tth mau masak mie instan dulu, kau duluan saja " ucapku
Akhirnya dia menurut dan pergi kembali ke kamarnya, sedang aku memilih membaringkan tubuhku di bangku yang ku duduki seraya membuka ponselku mencari nama seseorang yang mungkin bisa membantuku.
# aku membutuhkan bantuanmu # pesan ku terkirim pada seseorang.
Tak berani menelponnya karena aku yakin dia sedang tertidur pulas dalam pelukan istrinya jadi hanya mengirim pesan saja, aku yakin dia akan melihat pesan ku besok pagi.
Sekali lagi, sepertinya aku akan merepotkan nya, karena jika tak padanya aku tak tau harus meminta bantuan pada siapa karena dia yang memiliki kuasa di dunia bawah tanah bahkan banyak lagi.
__ADS_1
" Ripa'i, tunggulah dan bersabarlah sebentar lagi aku akan menjemput mu "