
Asik bercerita, tak terasa ternyata sudah pukul sepuluh malam namun acara belum selesai
" Teh ibu bilang pulang tth kan besok mau berangkat lagi " Fitri memperingatkan ku
" He'mh tth pulang sekarang " ucapku, akupun pamit pada yang lainnya
Fitri adikku kini sudah klas dua SMA sedang Indri dia klas satu smp
Aku sering mengirim uang ke ibuku untuk kebutuhan adik ku sekolah, walau tak banyak sering ku sisihkan untuk mereka
Sedang kedua ponakan ku tak lagi tinggal dengan ibu ku, mereka di bawa mas Rendi semenjak menyandang status sebagai istri mas Rendi tth ku hanya di perbolehkan mengurus anak-anaknya dan ibu mas Rendi saja sedang tugas rumah di serahkan pada art
Alhamdulilah sedikit demi sedikit kebahagiaan menghampiri keluargaku
**************
Hari ini aku sudah kembali ke kelas, aku di panggil ke ruang dekan ntah mau apa
Tok
Tok
" Permisi " sopan ku seraya membuka pintu
" Dena Rinjani masuk " titah pak dekan
" Saya dengar kamu akan menyelesaikan pendidikan di tahun ini " tanyanya
" Iya pak " jawab ku
" Apa kamu sudah siapkan skripsi nya " tanya nya lagi
" Sedang saya siapkan pak " jawabku
" Segera selesaikan dan ingat saya tak mau jika ada salah sedikit pun di mata pelajaran saya " ucapnya aku mengangguk
" Kamu boleh pergi " dia mempersilahkan ku pergi
" Aku pasti bisa " tekad ku setelah keluar dari ruangan itu
Sumpah dengan bersusah payah aku menyelesaikan setiap materi yang di berikan para dosen penentu sungguh aku berharap tak ada kesalahan
" Rinjani gimana skripsinya sudah selesai " tanya Vera
" Sudah cuma nggak tau diterima atu tidak nya " ucap ku
" Sudah kamu serahkan " tanyanya lagi
" He'mh tinggal nunggu keputusan akhir aja " lesuku
Ntah lakh aku sudah semaksimal mungkin mengerjakannya semoga hasilnya pun tak mengecewakan
Dua Minggu kemudian sebelum wisuda aku di sidang, bukan sidang dalam pengadilan yah
Semua ku jawab tanpa ragu, setiap materi ku jelaskan kembali tanpa bertele-tele, dan sungguh tak ada ketegangan dalam hati ku mungkin karna pertanyaan mereka jawabannya sudah ada di otak ku, tinggal ku putar saja semuanya menjadi rangkaian yang pas
Dua jam aku di ruangan itu hingga aku di persilahkan keluar, lega rasanya
" Gimana " tanya pika Vera juga di sana
" Keputusannya besok " jawab ku
" Semoga kita bisa wisuda bareng yah " ucap Vera aku mengangguk
Bukan hanya aku saja, seluruh siswa yang menargetkan tahun ini wisuda juga menjalani sidang skripsi
***
__ADS_1
Akhirnya hari ini kami wisuda dan nilai pun tak mengecewakan setelah menjalani beberapa tahap bahkan harus PKL juga, hari ini kami bisa merayakan nya
Aku masih menunggu orang tuaku datang mereka bilang sudah sampai soalnya mereka berangkat dari jam 3 subuh, sungguh aku terharu
Aku melihat mereka, bapak dan ibuku dengan pakaian sederhananya namun tak membuat ku merasa malu justru bangga, dengan keadaan mereka yang sederhana tapi putrinya bisa wisuda
Aku menyalami mereka dan menuntun mereka ke tempat para orang tua yang sudah di sediakan
" Dena itu orang tua Lo " tanya salah satu teman ku tepat nya kami hanya satu jurusan saja
" Biasa saja, bahkan mungkin jauh dari biasa, gue pikir lo anak orang kaya taunya " yang lain menimpali, aku tak menggubris hanya diam saja
" Dena apa masih ada yang kamu tunggu " tanya Vera, mungkin karna dia melihat ku masih celingukan mencari sosok yang ku rindukan
Ripa'i, aku memberi tu dia kalu aku akan wisuda hari ini dan dia janji akan datang, mungkin aku terlalu berharap dia akan datang sedang jarak sangatlah jauh bagiku
" Ver ver emang masih ada yang dena tunggu siapa coba, pacar pun dia tak punya " ejek mahasiswi lain yang selalu menyebut ku tak laku padahal yang mau ngantri
" Hemhhh Mada ada yang mau sama dia, dia kan gadis belagu yang sok jual mahal " timbal yang lain
" Diam kalian, kalau kalian tau siapa pacarnya Pasti kalian iri " tiba-tiba suara Ros membelaku
" Sumpah Lo, mana ada dia punya pacar " ejek lagi yang ku dengar
" Dia teman gue dari SMA, gue kenal dia lebih dari kalian kenal dia " Belanya lagi, sedang aku tak menghiraukan
" Sudah lakh biarkan saja lagian acara sebentar lagi akan mulai " datar ku, Ros pun duduk di samping Vera sedang samping kiri ku ada pika
Sebelum nama kami di sebut beberapa sambutan pun menjadi pengisi acara, semua bertepuk tangan saat salah satu pengusaha muda dari luar negri menjadi investor di universitas itu saat nama nya di sebutkan aku sedikit terkejut, namun terkejut lagi saat melihat langsung orangnya
Tepuk tangan memenuhi aula, Sura riuh dari para gadis bersautan
Bagaimana tida dia sangat tampan dan mapan lama tak jumpa banyak sekali perbedaannya sedang aku apalah
Dia memberikan beberapa sambutan, saat selesai tepuk tangan riuh kembali
" Rinjani benarkah dia ripa'i " tanyanya, ntah lah aku juga masih sedikit bingung
Ripa'i Wiliam Wilson, begitulah nama yang terdengar di telingaku
Acara semua sambutan sudah selesai ripa'i di persilahkan duduk di bangku paling depan, ntah kenapa aku merasa seolah dia tak mengenal ku jadi akupun hanya memasang wajah datar
Satu persatu para wisudawan dan wisudawati di sebut hingga selesai setelah selesai Julian naik lagi ke podium dia meminta ku juga naik katanya ingin mengumumkan sesuatu
Perasaan ku tak enak semoga bukan sesuatu yang selama ini ku hindari
Dugaan ku tidak meleset benar saja dia menyatakan perasaannya yang tak pernah ku respon selama ini
" Dena maukah kau menjadi kekasih ku " pintanya sembari berlutut dan mengulurkan tangannya, bukannya senang aku malah kesal
Aku hanya diam saja hingga ku dengar suara di depan sana
" Julian lo buang-buang waktu tau nggak nyatakan perasaan Lo sama dia, dia tu batu tau nggak " suara gadis yang ku denger
" Lo yan dosen ganteng aja dia tolak Lo cuman modal ganteng aja mana mau dia sama Lo, mungkin cewe kayak dia itu lebih suka om om kali " timbal pemuda di depan sana
" Dena aku tak peduli dengan penilaian mereka terhadap mu aku tau kamu, jadi apa kamu mau menjadi kekasih ku " lanjut Julian kala mendapati aku hanya diam
Sungguh air mata ku sudah hampir mau terjatuh mendengar cemoohan di depan sana pasalnya selama disini aku mendapatkan cemoohan itu
Aku melihat ke arah ripa'i, dia masih duduk bersama para dosen di sana tak bergeming menambah sedih hati ku
" Julian apa mungkin kau tak akan membuat ku menunggu seperti yang lainnya " tanya ku sekedar ingin memastikan reaksi ripa'i namun dia masih datar jauh dari yang ku harapkan
Ku pikir ripa'i akan datang di hari ini untuk ku, untuk menambah kebahagiaan ku namun aku hanya mendapat kecewa
" Tentu Dena bila perlu kita langsung bertunangan mumpung kedua orang tua kita disini kita rintis semuanya dari nol " ajaknya meyakinkan ku
__ADS_1
Tangan ku terulur ingin menyambut tangan Julian namun terhenti karna suara seseorang
" Berani kamu menerimanya kamu akan melihat mayat disini " datar suara itu penuh penekanan
Aku menoleh ke sumber suara itu dan melihat ripa'i berdiri dari duduknya dan menghampiri ku
Julian berdiri ketika ripa'i sudah sampai di antara kami
" Apa hanya segitu kesetiaan mu " tanyanya padaku, malah di balas pertanyaan oleh Julian
" Maaf tuan apa hubungan anda dengan Dena " tanyanya heran
" Kau tanya aku siapa, tanyakan padanya " jawab ripa'i seraya melihat kearah ku
" Siap dia Dena " tanya Julian datar
" Dia," lirih ku sembari menahan air mata yang terus ingin keluar namun tetap ku tahan sebisa mungkin
" Kenapa tak bisa menjawab, selama ini aku tersiksa menahan rindu tapi ternyata kamu menikmati peran sebagai gadis rebutan para laki-laki ini " ucapnya tegas
" Apa yang anda katakan tuan " ku yakin Julian sudah sangat bingung
" Siapa dia Dena " tanya Julian lagi padaku
Sungguh panggung saat ini seolah menjadi pertunjukan bagi yang lain dengan kami bertiga sebagai sorotannya
" Dia, laki-laki yang selama ini membuat ku jadi bahan ejekan kalian, dia laki-laki yang selama ini menjadi alasan ku selalu menolak kalian, dan dia juga laki-laki yang membuatku merasakan hampa nya menunggu dengan ber modal kepercayaan, namun saat dia dihadapan ku tangis kekecewaan yang ku dapat bukan kebahagiaan yang seperti ia janjikan " ucapku terbata karna tak lagi dapat menahan tangis ku
" Kau Julian ingin menjadikan ku kekasih mu kan baiklah asal kau tak memintamu menunggu aku bersedia " ucapku seraya menahan emosi yang meluap
Seketika aku merasa tubuhku di dekap kuat oleh ripa'i
" Jangan berharap kau bisa lepas dari ku " ucapnya pelan
Aku melepaskan pelukan itu sekuat tenaga
" Menjauh dari ku tuan ripa'i yang terhormat " kesal ku air mata ku terus saja terjatuh meski sudah ku hapus berulang kali
" Aku kecewa ripa'i sangat kecewa kejadian yang sudah silam terulang kembali dalam hidup ku Pai " lirihku tiba-tiba aku tak mampu menopang tubuh ku aku terduduk
Ros dan orang tuaku berlari kearah ku, mereka mencoba untuk membangunkan ku
" Rinjani kamu kuat nak " ucap ibuku, aku malu harus menangis di hadapan ibu ku hanya karna perasaan kecewa pada laki-laki sangat malu
Saat sedang mencoba berdiri aku mendengar suara yang aku rindu juga
" Rinjani " teriaknya membuat semua yang ada di sana menoleh
Pemilik suara itu berlari kearah ku, ku lihat ka nay, ka Tio Andi juga mbak Rena menghampiriku lebih dulu ka nay yang sampai pada ku dan memelukku, aku menangis di pelukannya
" Maaf kami terlambat, apa tak sesuai rencana " tanya ka Tio pada ripa'i
" Wah Dena drama apa ini " salah satu siswi bersuara
Para petinggi universitas menyalami Andi dan memberi hormat padanya, aku heran namun tak ku hiraukan
Vera dan pika juga menghampiri ku
Tarr
Tamparan mendarat di pipi tampan ripa'i dari Vera
" Saya tak tau siapa anda tuan dan saya juga tak peduli, tapai ini kali pertama saya melihat sahabat saya menangis " geramnya
Vera dan pika mendekat, pika menuntun ibu ku untuk keluar dari tempat ini dan Vera menuntun ku dia mengambilku paksa dari KA nay
" Minggir kalian " Vera mendorong ka nay dan menggandeng tangan ku
__ADS_1