
Saat sedang asik melihat foto ripa'i, sebuah panggilan masuk di ponselku.
" Privat nomor " gumam ku
Aku mengangkat panggilan itu siapa tau penting atau panggilan yang sejak tadi kutunggu.
" Sebutkan kata kuncinya " ucapnya ketika panggilan ku angkat
Aku berpikir mungkinkah ini orang Andi berarti kata kuncinya sama akupun menyebutkannya dan dia langsung meminta maaf.
" Maaf nona bukan saya meragukan, namun ini demi keamanan " ucapnya
" Eemmm " singkatku menjawab
Rasanya sudah lama aku tak berada di keadaan seperti ini, bahkan aku pikir aku sudah Takan berurusan kembali dengan mereka, namun pada kenyataannya sesuatu yang sudah terkait dalam hidup kita akan selalu datang walau tak sesering itu.
Dia bertanya apa tujuan ku dan aku menjelaskan, saat sedang menjelaskan semuanya makanan yang ku pesan datang maka aku hanya mendengarkan tak bersuara sampai pelayan yang menyajikan makanan ku pergi baru aku bersuara kembali.
" Ada apa nona, kenapa anda tiba-tiba diam? " Tanyanya saat tak mendpat respon dariku
" Maaf tadi ada sedikit kendala, baiklah aku sudah menjelaskan semuanya, aku ingin lapornnya sesegera mungkin akan aku kirimkan fotonya padamu " ucapku
" Baik, kalau begitu saya tutup panggilannya " jawabnya dan menutup panggilan saat aku menjawab " he'mh "
Aku melihat kearah makanan yang tadi sudah tersaji, rasanya enggan untuk memakannya namun aku harus memekannya karena badan ku harus tetap vit agar selalu bisa menghadapi segala kemungkinan yang akan datang, lagi, aku tak tau bahaya apa yang akan menghampiri saat aku kesana nanti.
" Selamat makan " ucapku pelan, kemudian tersenyum getir, aku tak tau ucapan itu untuk siapa untukku sendiri atau untuk orang yang sedang membuat ku khawatir.
Dengan hati tak tengan pun ternyata aku masih bisa memakan makanan ku, walau sedikit terasa gambar namun tetap menyantapnya karena ku pikir sayang jika sudah ku bayar namun tak kumakan.
Selaesi dengan itu aku kembaki mengendarai mobil ku menju tempat kelahiran ku, saat ini aku ingin pulang dan meminta restu pada kedua orang tua ku agar apa yang akan aku hadapi nanti diberi kemudahan.
***
Tepat pukul 4 sore aku sudah memasuki perkampungan di desaku, banyak yang menyapa ku dengan ramah dan akupun membalas dengan senyuman mereka mereka tau yang di dalam mobi itu aku karena aku membuka kaca mobilku.
Sedari tadi aku merasakan ponselku beberapa kali bergetar karena aku menyimpan ponsel ku di saku celana jadi dapak ku rasakan getarannya.
Getaran itu sepertinya tada pesan masuk karena jika panggilan yang masuk bukan bergetar melainkan berbunyi.
Akhirnya aku sampai di rumah, ku ucapkan salam begutu turun dari motor, karena orang rumah sedang bersantai di depan rumah makannya aku langsung mengucap salam tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Sudah pulang lagi? " Tanya ibu, ada apa dengan pertanyaan itu seolah ibu melarang ku pulang namun aku tau bukan itu maksudnya.
__ADS_1
" Iya " singkat ku menjawab seraya melepas sepatuku
" Mana salaki Jani "
( Mana suamimu) tanya ibu saat aku ikut duduk di sampingnya
" Tidak ikut " lagi aku hanya singkat menjawab
" Kunaon "
( Kenapa ) tanyanya kembali, sebelum menjawab aku menatap wajah ibu sekilas dan tersenyum
" Ripa'i sedang berada di luar negri Bu, nanti kalau sudah pulang dia pasti kesini " jawabku lembut tak mau ibu merasa khawatir dengan aku yang selalu pulang sendiri walau setelah menikah
" Oh, ya sudah makan dulu sana " ucapnya
" Nanti, Jani belum melaksanakan asar, Jani mau mandi dulu selesai dengan semuanya baru Jani makan " jawabku kemudian berlalu meninggalkan ibu dan sandi yang masih duduk di luar.
Saat membuka pintu kamar, aku melihat bayangan kenangan saat pertama kali ripa'i tidur di kamar ku, walau belum terjadi apa-apa antara kami namun aku merasa senang kala kenangan itu ku ingat kembali.
" Maaf malam itu aku tak memberikan hak mu " gumam ku dengan sedikit pentesalan di hatiku.
Aku langsung mengambil pakaian di lemari juga handukku, kembali aku tersenyum kala tangan ku menyentuh handuk yang pernah digunakan ripa'i, aku mengambil handuk itu takenggunakan handuk yang beiasa aku gunakan, kemudian pergi menuju kamar mandi.
Tersiram air dingin rasanya menyegarkan tubuh ku, bukan hanya tubuh, namun otak kuga pikiran ku terasa sejuk dan segar.
Bayangkan jika manusia hanya memiliki keberanian Tanpa ketakutan, sudah pasti akan banyak manusia yang akan sok di muka bumi ini, dan jika tak ada keluhan lalu mungkin takkan ada penilaian pula dan pasti semuanya takkan ada batasan.
Paham dengn keadaan saat ini aku hanya bisa berdoa, dan meminta agar aku selalu di berikan keikhlasan agar apa yang akan aku dengar atau aku lihat bisa ku relakan.
Selesai dengan semua ritual ku, aku pergi kedapur mencari ibu karena diluar beliau tak ada, dan benar saja ibu sedang di dapur.
" Sedang apa? " Tanyaku dan ibu menoleh
" Masak " jawabnya, aku menoleh ke meja makan yang sudah penuh dengn beberapa masakan lalu apa lagi yang mau ibu masak.
" Bukanya di meja sudah banyak masakan yang sudah ibu masak " ucapku, ibu menoleh padaku
" Iya, ibu mau kembuat sayur kesukaan mu " ucapnya
" Terimakasih, tapi tidak perlu ini sudah cukup " balasku
" Ibu sudah menyiapkan bumbunya dan sayurannya pun sudah ibu bersihkan, tunggu sebentar ya biar ibu tumiskan sebentar " ucapnya kembali sembari tangannya terus mengiris tomat
__ADS_1
" Eemmm, Jani tunggu, kalau gitu Jani ketempat Abang dulu ya " ucapku dan mendapat anggukan dari ibu, setelah itu langsung keluar dari dapur menuju tempat Abang ku.
Sampai di rumah Abang, aku disambut kkedua keponakan ku yang sekarang sudah mulai akrab dengan ku. ku dapati juga tth ipar ku yang cantik tengah tersenyum melihat ku. aku menghampirinya dan menyalaminya.
" Bersama ripa'i " kata pertama yang keluar dari mulutnya kala aku selesai menywlaminya
" Tudak " jawabku
" Oh, sudah makan " tanyanya, aku tersenyum, memnah dia selalu paham dengan ku
" Belum, lagi nunggu ibu membuat sayur tumis kesukaan Jani " jawabku
" Oh " singkatnya menanggapi
" Abang dimana? " Tanyaku karena aku tak melihatnya
" Ada dikamar tadi sedang solat " mendengar jawabna tth ipar ku membuat ku tersenyum.
Ya begitulah, semenjak menikahi gadis cantik nan Soleha ini Abang ku banyak berubah, bukan perubahan yang menghawatirkan namun membanggakan bagiku dan ku yakin bagi orang tuaku juga.
" Bagaimana kesehatannya? " Tanyaku khawatir, walau Abang ku sudah sembuh namun masih harus cek up beberapa kali lagi.
" Alhamdulillah sudah jaaauuh lebih baik " jawabnya dengan wajah senang, jika mengingat wajahnya saat Abang berada di rumah sakit sungguh menyedihkan, jangan kan senyum nya bahkan sapanya pun seolah enggan dia keluarkan saking khawatirnya dia takut di tinggalkan suaminya.
Saat sedang asik berbincang, ibu manggilku untuk makan namun aku jawab nanti sebentr lagi, tak lama Abang juga menghampiri kami sebelum menyapa ku Abang menanyakan anaknya terlebih dahulu pada istrinya.
" Anak-anak dimana Bu? " Tanyanya pada istrinya
" Kewarung yah, tadi Jani memberi mereka uang dan mereka langsung pergi kewarung " jawab sang istri.
Abang beralih padaku
" Kapan datang? " Tanyanya
" Tadi jm 4 " jawabku
" Abang sudah sehat? " Tanyaku balik
" Alhamdulillah sudah jauh lebih sehat " jawabnya seraya tersenyum hangat pada ku
" Alhamdulillah kalau begitu " ucapku, bersyukur Abang ku sudah sehat
" Bersama ripa'i? " Tanyanya, aku tak langsung menjawab, berpikir dulu apa sebaiknya ku katakan saja pada abang ku semuanya.
__ADS_1
Aku tersenyum pada abng ku, dan abng ku menatapku serius, paham dengan situasi yang ku ingin kan tth ipar ku meninggalkan kami.
" Yah ibu susul anak-anak dulu ya, sudah sore, Jani ngobrol dulu sama Abang ya " ucapnya lembut dan aku mengangguk, wanita ini sungguh pengertiannya luar biasa.