Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 78


__ADS_3

Sejak mendapat kabar dari Gibran kalau ripa'i di luar negri sejak saat itu juga aku tak bisa menghubungi ripa'i, sudah hampir tiga Minggu aku hanya bisa menunggu kabar darinya ku tau dia akan mengabariku kapan pun itu jika dia baik-baik saja, namun sampai sekarang masih belum, aku khawatir kalau dia tidak baik-baik saja.


Aku sudah bekerja kembali sedikit menyibukkan diri dengan pekerjaan ku membuat ku sedikit lepas dari memikirkan ripa'i, aku juga sempat bertanya pada asisten ripa'i kenapa dia tak ikut bersama ripa'i dia bilang ripa'i menyuruhnya memantau keadaan di perusahaan yang ada di sini, dan itu semakin membuat ku bertanya-tanya namun percayalah sikap itu tak keluar hanya sikap datar yang nampak dariku bukan kekhawatiran.


Gibran sering mengunjungi ku guna memastikan aku baik-baik saja alasannya, dan dia juga memeriksa keadaan Asiah jika kerumah.


" Apa sudah ada kabar tentang ripa'i ?" Tanyanya padaku, aku meliriknya


" Aku masih menunggunya " asalku menjawab dan kembali berfokus pada layar televisi di depan ku


Sesekali Gibran melihat ku memperhatikan aku, ntah apa yang dia pikirkan tentangku.


" Teh Jani kak Lian dan te Fitri bilang, katanya ka Lian mau main ke sini juga yang lain " tutur Indri, ya saat ini Julian dan Fitri sedang di kota c guna membereskan sisa pekerjaan waktu itu.


" Tentu bilang tth menunggu " jawabku seraya tersenyum senang, lama teman ku tak pernah berkunjung terakhir berkunjung beberapa tahun yang lalu.


" Kalau gitu Iin pesankan makanan ya kita makan-makan " senangnya, dasar anak ini pikirannya hanya kesenangan


" Tidak perlu tth masak sendiri saja, Iin mau temenin tth ke pasar " tanyaku, dan diapun dengan antusiasnya menjawab " mau " sudah dapat ku pastikan jika dia seperti ini pasti ada yang dia inginkan.


Aku menoleh pada Asiah


" Yah aku ke pasar dulu ya kamu di rumah aja, takut nanti kamu capek " ucapku sembari berdiri untuk mengambil kunci motor ku dan


Saat aku kembali ke ruang tv Asiah sudah tak di sana


" Keman Asiah ?" Tanyaku pada Gibran


" Dia bilang mau istirahat " jawabnya, aku melirik jam di tangan ku ternyata jam 1 siang mungkin dia bosan dan mau tidur siang pikirku, Indri datang dan berkata


" Ayo kita berangkat " ajaknya


" Aku yang antar kalian " Gibran bersuara aku menoleh ke arahnya


" Tidak perlu aku bisa sendiri " tolak ku santai


" Tidak apa, aku hanya mau memastikan kalian aman " lanjutnya menjawab, namun bukan aku yang membalas ucapannya


" Memang kami kenapa, bukankah aku sama tth hanya mau ke pasar " seloroh Indri aku tersenyum mendengar ucapan adik bungsuku ini


" Pokonya aku antar kalian, mari " kekeh nya


Aku dan Indri hanya menurut malas juga jika terus berdebat.


Gibran mengendarai mobilnya membawa kami ke pasar terdekat Iin terus menuntun jalannya, tak membutuhkan waktu lama kamipun sampai.


" Kau tunggulah disini pak dokter " sindir ku agar dia tak ikut dengan kami ke dalam pasar


" Aku ikut " kata yang tak ku inginkan keluar dari mulutnya aku memandangnya datar kemudian berlalu meninggalkannya dan Indri, Indri mengikutiku di belakang dengan Gibran.


Aku memilih sayuran yang ingin ku masak tak lupa juga yang lainnya, daging juga ada karena Indri bilang dia ingin di buatkan rendang, sempat menolak dan memberikan pilihan ayam goreng saja namun dia tak mau, sudah ku duga bila ikut ke pasar pasti ada maunya, aku melirik Gibran mukanya biasa saja ku pikir dia akan tak suka suasana pasar namun ternyata dia cukup bersahabat dengan itu terbukti ketika dia ikut memilih daging yang bagus dengan Indri.


Indri bersama Gibran sedang aku mengikuti mereka dari belakang gantian mungkin ya tadi aku yang meninggalkan mereka, sesekali keluar tawa kecil dari Indri sedang Gibran hanya tersenyum, aku melihat seorang bapak tengah termenung akupun menghampirinya tanpa di ketahui Indi dan Gibran


" Pak saya minta cabe merahnya ya setengah kilo aja " basa-basi ku tak mungkin juga aku langsung bertanya ada apa pak kenapa murung, ais sangat tak masuk akal, dan aku memilih membeli cabe saja dan dia berkata

__ADS_1


" Alhamdulilah, ada juga yang beli " aku tersenyum mendengar ucapan bapak paru baya itu, usianya sedikit lebih tua dari bapak ku namun dia masih bekerja keras


" Apa dari pagi sepi pak " tanyaku


" Bapak baru buka neng " jawabnya tangannya terus memilih cabe bagus yang ku minta


" Loh baru buka, kenapa nggak dari pagi kan lebih banyak orang ke pasar saat pagi pak " tanyaku lagi


" Bapak habis dari rumah sakit dulu neng " jawabnya


" Ini neng cabe nya " bapak itu memberikan cabe itu, aku masih penasaran dengan bapak ini jadi aku membeli lagi sesuatu yang tak ingin ku beli namun ku beli, pemborosan namun tak apa


Iin dan Julian menghampiriku, mungkin mereka sudah sadar jika aku tak ada di belakang mereka.


" Loh siapa yang sakit pak ?" Tanyaku sedikit khawatir karena mengingat usianya


Iin hendak bersuara tadinya namun tak jadi kala aku langsung bertanya pada bapak itu, malah Indri ikut memilih sayuran yang ku tunjuk " jangan lupa wortel nya " ucapku pada Indri


" Loh kan tadi sudah be...." Indri tak melanjutkan katanya karena aku memandangnya datar dan dia paham kalau dia harus diam, bapak penjual menerangkan anaknya yang sakit


" Oh sakit apa ?" Tanyaku sok polos, padahal dengan bertanya begitu aku membuat bapak itu sedih karena harus mengingat kembali sakit anaknya


" Dokter bilang dia hanya mag neng, namun sudah akut " jelasnya


" Ya mungkin karena makannya tidak teratur karena bapak kurang memperhatikannya " lanjutnya lagi seraya tersenyum namun senyum itu membuat ku terasa perih


" Kan ada ibu pasti pak di rumah " ucapku asal namun bapak itu tersenyum


" Maaf pak saya tidak bermaksud lancang " ucapku, paham dengan senyum bapak itu, Indri dan Gibran hanya menjadi pendengar


" Berapa pak " tanyaku


" 105 ribu neng " ucapnya aku tersenyum dan membayar dengan uang lebih, bapak itu menatap ku heran


" Ambilah anggap sedekah buat bapak " ucapku


" Bapak bilang bapak belum mendapat sepeserpun kan " lanjutku bapak itu malah terharu dan mencium tangan ku sontak saja aku menarik tangan ku karena itu tak pantas, ku kembalikan kehormatannya dengan berbalik mencium tangannya


" Tak pantas jika bapak yang mencium tangan saya sejatinya derajat tak membuat saya tinggi di bawah yang lemah bagi saya tetap bapak yang tinggi karena bapak orang tua " datar ku tak suka dengan perlakuan bapak itu, Indri menepuk bahuku menyadarkan aku dari sikap dingin ku yang mulai terlihat


" Makasih neng, bapak sangat terimakasih " ucapnya aku mengangguk


" Berapa usia anak bapak " tanya ku


" Mungkin seumuran dengan neng ini hanya saja dia laki-laki " jawabnya


" Semoga kelak dia bisa mengangkat derajat bapak ini kartu nama saya jika ada sesuatu jika butuh telpon saja " ucapku sopan, bapak itu mengangguk seraya terus berterimakasih


Aku melangkahkan kakiku keluar pasar dan di ikuti Iin juga Gibran, ku dengar Gibran bertanya pada Indri


" Apa tth mu selalu seperti itu ?" Tanyanya pada Indri di belakang ku, mungkin dia penasaran dengan ku karena sikap ku selalu datar padanya


" He'mh " singkat Indri


Gibran membukakan bagasi mobilnya dan akupun memasukkan belanjaan ku, kemudian masuk dalam mobilnya setelah selesai menyimpan semua belanjaan ku, ku lirik jam di tangan ku sudah pukul 2 siang

__ADS_1


" Langsung pulang " tanya Gibran aku mengangguk


" Tth " suara Indri dengan nada yang ku hapal betul


" CK, tth Indri mau beli baju dulu boleh ?" Ucapnya


" Punya duit " candaku, ya sebenarnya dia pasti punya hanya saja jika sedang keluar bersama ku pasti minta aku yang membayar jika berbelanja


" Nggak punya, tapi kan punya tth " ucapnya seraya cengengesan Gibran pun tersenyum mendengar ucapan Indri


" Hanya baju " ucapku, mobil sudah melaju


" Sepatu baru juga boleh " enaknya berucap aku menggelengkan kepala


Aku meminta Gibran untuk mampir di pusat perbelanjaan terdekat mengingat tak banyak waktu yang tersisa, aku tak tau jam berapa teman-teman ku akan sampai nanti.


" Jangan lama-lama dapat langsung temui tth di sana " ucapku sembari menunjuk tempat makan yang ada di sana, Indri mengambil card yang ku berikan seperti biasanya saat dia akan belanja maka aku hanya memberikan kartu saja tak menemani.


Ku pikir Gibran akan di mobil saja ternyata juga ikut turun dia menemani Indri belanja aku memilih memesan minum di tempat yang ku tunjuk tadi.


Saat sedang menikmati minuman ku seseorang menyapa ku


" Hai apa kabar ?" Sapa nya aku mendongak ku dapati anta sedang berdiri di depan ku


" Kabar baik " ramah ku, karena dia juga sudah dekat dengan ku dari dulu


" Sendiri saja ?" Tanyanya lagi sembari ikut duduk di depan ku


" Dengan si bungsu " jawabku


" Lalu dimana dia "


" Sedang belanja " jawabku


" Kenapa tak ikut belanja " ucapnya membuat ku menarik nafas panjang dan dia tersenyum


" Masih sama ya " selorohnya aku hanya meliriknya dia ikut memesan minuman


" Kau sendiri saja " tanyaku balik


" He'mh, " singkatnya


Aku mengobrol dengannya sesekali kami tertawa kecil kala, aku juga menanyakan kenapa dia tak menjadi pacar yanah sungguhan, dia sedikit kaget namun setelahnya biasa saja, kami juga mengingat dan menceritakan ulang bagai mana kami dulu hingga keluar kata-kata yang membuat ku diam


" Ku pikir aku yang kan menyematkan cincin itu di jari manis itu, kau tau seandainya aku seberani ripa'i mungkin sekarang kau sudah menjadi istriku " ucapnya dengan sesekali tersenyum


" He'mh, ku pikir aku juga memiliki perasaan terhadap mu,namun salah aku hanya merasa nyaman karena kau teman pertama yang mengerti aku " jelasku


" Miris ya, dulu aku yang pertama dekat denganmu, anggaplah begitu karena ku selalu menghindari teman laki-laki kecuali amin " ucapnya aku tak menyangka dia masih ingat amin.


" Tuan reksa " ucap seseorang di belakang ku, aku menoleh dan mendapati Gibran dan Indri


" Kak anta " ucap Indri seraya tersenyum mungkin senang karena habis berbelanja


Sedang aku sedang bingung.

__ADS_1


__ADS_2