
Hari sudah malam Julian dan ripa'i pun sudah pulang, kini aku sedang di kamarku menatapi cincin yang tersemat di jari manis ku.
" Sudah benarkah yang aku lakukan,kenapa perasaan ku biasa saja,apakah masih ada sesuatu yang belum membuatku puas " batinku.
Sejujurnya bila dirasa lelah, aku memang sudah lelah Namun jika menyerah maka semua akan sia-sia juga.
Selama ini aku selalu mencari semua ini bukan, semua yang sekarang aku miliki, memiliki pekerjaan yang bagus, ilmu yang berguna, materi untuk bisa memajukan kedua adikku dan tentunya bisa membanggakan orang tuaku, namun ntah mengapa semua terasa hampa semu bagiku.
" Andai saja semuanya terasa lebih ringan " gumam ku
Ringan yang aku maksud, tak ada hambatan tak selalu bertemu dengan kepahitan bahkan kegagalan. Ya, aku juga sering kali mengalami kegagalan tak selalu kemenangan. Tak dapat melihat mereka yang tak seharusnya dapat terlihat, jujur seringkali itu juga terasa berat untukku namun mau bagaimana lagi aku hanya bisa menganggap itu sebuah anugerah yang diberikan Allah jadi aku hanya bisa pasrah dan mengamalkannya.
Sering kali aku juga berpikir 'jika saja orang tuaku selalu menggenggam ku' mungkin semuanya akan terasa lebih ringan untukku, namun mau bagaimana lagi takdirku harus seperti ini, menjadi wanita mandiri untuk bisa mengurus semuanya.
Larut dengan semua pikiran ku sampai aku terlelap tidur, saat aku terbangun ku dapati kedua adikku tidur bersamaku ntah kapan mereka masuk aku tak menyadari itu.
Karena waktu subuh sudah tiba akupun membangunkan keduanya dan beribadah bersama, selesai dengan itu kedua adikku kembali ke kamar mereka sedang aku pergi ke dapur, ntah kenapa aku ingin membuatkan mereka sarapan.
Kedua adikku menghampiri ku dan ikut sarapan bersamaku
" Tth Anter kamu " ucapku sembari terus memakan sarapanku
" Siapa? Iin maksudnya ?" Suara Indri
" He'mh" singkat ku menjawab
" Tumben biasanya te Fitri " asal adikku, aku tersenyum mengingat tak pernah aku meluangkan waktu untuknya karena sudah ada Fitri pitri pikirku yang bisa menjaganya.
" Tth lagi pengen aja " asalku,
Gantian Fitri yang bersuara
" Sudah merasa yakin ?" Tanyanya aku menoleh, dia menatap ke arah tanganku yang terdapat cincin. Aku tersenyum samar entahlah
" Jika masih seperti ini jangan di paksakan, kasihan kak ripa'i " lanjutnya bicara
Aku sudah selesai dengan sarapanku akupun membawa piring kotor bekas ku makan ke dapur dan membersihkannya.
" Aku menyayangimu tapi masih ada yang mengganjal di hatiku,ku yakin bukan tentang perasaan ku padamu namun apa itu aku juga tidak tau, mungkin aku akan pulang ke rumah nanti " pikirku
Fitri menyusul dan mencuci piring bekas dia dan Indri tadi, aku sudah menawari jika aku saja yang membersihkan namun dia tak memberikan piring itu, aku pun memilih kekamar guna berganti pakaian karena akan mengantar Indri ke sekolah.
" Sudah siap " suaraku sekedar basa-basi
Indri menoleh dan mengangguk
" Fit mau pake motor apa mobil ?" Tanyaku
" Motor aja lebih suka " jawabnya, karena dia ada kelas siang jadi dia masih bersantai
" Kalau gitu tth brangkat dulu " ucap ku dan dia mengangguk
Aku mengantarkan Indri kesekolah ya, Indri tidak bisa diam dia terus berbicara ini dan itu, sesekali keluhan juga keluar dari mulutnya yang cerewet namun aku tak mempedulikannya.
Kami sampai di depan gerbang sekolah Indri dia berpamitan padaku, aku kembali mengendarai mobilku menuju suatu tempat.
Saat sampai di tempat itu senyum ku terukir mengingat terakhir kali aku datang ke tempat itu.
" Apa kamu sedang sibuk " gumam ku, ingin melakukan panggilan namun takut dia sedang sibuk.
__ADS_1
Aku besantai sejenak di tempat itu, bersandar pada pohon besar di belakang ku sesekali menarik nafas ku panjang menikmati udara segar yang ada di sekitar sini, ku rasakan tangan ku di sentuh, merasakan sentuhan itu aku tau pasti yang menyentuh ku bukan dari bangsaku.
Aku membuka mata dan mendapati sosok gadis kecil yang cantik, ku lirik kiri kanan ku sebelum mengeluarkan suara dirasa sepi akupun tersenyum.
" Kau dari sini ?" Tanya ku dan dia mengangguk
" Sudah lama ?" Tanyaku lagi dia mengangguk kembali.
Aku suka melihat sosok gadis kecil ini begitu cantik dan manis.
Dia menyentuh tangan ku kembali kali ini menggenggamnya aku menoleh dan dia tersenyum.
Dia tak mengeluarkan suara, kami memandangi udara yang tak terlihat, ku lirik dia sesekali tersenyum sedikit penasaran maka akupun melihatnya dalam.
Aku tersenyum melihat bagaimana gadis kecil ini begitu kuat di masa waktu dia masih hidup.
" Kadang yang kita pikir mudah berbanding balik dengan kenyataannya " ucapnya tiba-tiba
" Apa kau merasa tenang ?" Tanyaku
" He'mh, aku bahagia berada di sini " ucapnya, nampak senyum manis di bibirnya
Aku tak bertanya kembali, kupikir tadinya dia ingin meminta bantuan ku seperti yang sudah namun ternyata dia hanya ingin menemani ku.
Ku lirik jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 10 siang, aku teringat dengan Asiah. Ah bagaimana bisa aku tak mengingatnya, aku mengirimkan pesan pada Gibran.
#bagaimana ?# pesan ku terkirim pada Gibran, ya hanya Gibran tida ku cantumkan gelar dokternya
Tak mendapat jawaban aku sedikit khawatir, sosok gadis kecil itu tersenyum menatapku
" Pergilah temui jika itu lebih baik " lembutnya berucap
" Datanglah kapan saja, dan ajak dia sudah lama juga dia tak kesini " ucapnya membuat ku merasa bingung ' dia, siapa '
Aku tersenyum, pasti ripa'i karena aku tau tempat ini juga karena dia yang membawaku ke sini.
" He'mh " singkatku seraya mengangguk
" Aku pergi " lanjutku dan meninggalkan tempat itu setelah mendapat anggukan darinya
***
Satu jam lebih aku berkendara menuju rumah sakit tempat Asiah di rawat, aku sempat berhenti saat melihat penjual buah dan membelikan buah beberapa jenis buah untuk Asiah, aku ingat kalau Asiah suka sekali buah-buahan.
Dengan perasaan senang aku masuk ke kamar rawat Asiah, saat masuk aku mendapati Gibran ada di sana sedang melepas infus yang tertancap di tangan Asiah.
Aku tersenyum melihat Asiah yang sudah bisa tersenyum kembali.
" Sudah lebih baik " tanya Gibran padaku saat aku di sisi asiah
" Eemmm " singkat ku
" Bagaimana keadaannya ?" Tanyaku balik
" Sudah bisa pulang, kau hanya tinggal urus sisa pembayarannya saja " jawabnya aku tersenyum menatap Asiah
" Kalau begitu aku permisi " lanjutnya dan keluar dari ruangan
Aku tersenyum pada Asiah dan dia juga tersenyum padaku " terimakasih " kata yang keluar dari mulutnya, aku tak menjawab hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
" Aku bawakan ini, mau makan sekarang " tanyaku
" Boleh " singkatnya
Aku mencuci beberapa buah yang bisa di makan tanpa di potong, buah buat Asiah tapi aku juga ikut memakannya, sesekali kami saling melempar canda aku juga sempat menanyakan orang yang berstatus kekasih Asiah, apa dia sudah memberi kabar dan Asiah mengangguk.
" Dia bukan kekasihku lagi kami sudah putus saat dia tau aku sakit parah " sayupnya bicara, aku menarik nafas
" Biarkan, masih banyak laki-laki di luar sana " asalku sekedar ingin menghibur, maklum aku tak pernah menghibur orang karena sikap dinginku jadi tak tau caranya.
Asiah tersenyum dan mengangguk, Gibran masuk dan menatap kami.
" Hasilnya sudah keluar dan semua baik, hanya saja masih harus rajin kontrol nanti aku kasih tau jadwalnya " jelasnya, ku lirik Asiah nampak wajah bingung padanya
" Kenapa ?" Pelan ku bertanya, Asiah melihatku
" Dari desa ke sini jauh Jani " pelannya juga, aku tersenyum paham dengan kebingungan di wajahnya
" Tinggal di tempat ku dulu sampai pengobatan mu benar-benar selesai, dan kau benar-benar sembuh " ucapku, Gibran masih di tempatnya berdiri tadi
Aku beralih padanya
" Sampai berapa lama ?" Tanyaku
" Sampai keadaanya benar-benar sembuh " jawabnya
Asiah menengahi kami
" Apa tidak bisa di puskesmas saja kontrolnya " tanya Asiah
" Tidak apa-apa jika di puskesmas itu ada dokter spesialis jantung, nanti aku buatkan jadwalnya " ucapnya, aku menatap Asiah tajam
" Selesaikan pengobatan mu disini, dan lekas sembuh, jika sudah sembuh ingin pergi maka pergilah " datarku berucap, aku ingin Asiah di tangani dengan baik dan sembuh dengan cepat agar tak membuat keluarganya khawatir lagi, dan diapun tak merasakan sakit itu lagi. Dia tertunduk mendengar ucapan ku Gibran juga hanya diam saja
" Tapi aku tak mau merepotkan kamu lagi " ucapnya, aku menarik nafas dalam merasa sesak mendengar ucapan Asiah
" Tinggal dengan ku dan jangan mengkhawatirkan apapun, soal orang tuamu mereka bisa kapan saja datang jika ingin menemui mu " lembutku meyakinkan Asiah
" Aku selesaikan yang lain dulu " lanjutku dan pergi keluar guna menyelesaikan pembayaran
Aku tak tau jika Gibran juga ikut keluar dari ruangan Asiah
" Rinjani bagaimana kau bisa bersikap seperti itu ?" Tanyanya, bersikap seperti itu, seperti apa maksudnya namun aku tak mengeluarkan suara
" pantas Wiliam selalu mempertahankan perasaanya padamu " ucapnya lagi
" Maksud anda " asalku seraya tak menghentikan langkah ku
" Kau tau, banyak wanita yang mencoba masuk dalam kehidupan Wiliam, mencoba mengisi hatinya, namun dia selalu menolak dan berkata jika dia sudah memiliki penjaga hati yang selalu setia menunggunya " ucapnya menjelaskan namun aku hanya diam
" Aku juga penasaran seperti apa wanita yang begitu Wiliam banggakan untuk menjaga hati nya, dan setelah tau ternyata keyakinan Wiliam memang tak salah " lanjutnya lagi
" O ia, kalian sudah mengenal sedari SMA benar ?" Tanyanya aku menoleh dan menjawab
" Benar "
" Mmhhh, ternyata yang dia katakan tentang mu semuanya benar " asalnya lagi berucap, aku sudah sampai di meja resepsionis dan menanyakan rincian pembayaran
" Aku keruangan ku dulu " pamitnya aku mengangguk
__ADS_1