Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 84


__ADS_3

Aku mengendarai mobil mewah itu, sungguh aku sangat menyukainya, telepon ku berdering kembali, ku lihat nama Fitri yang tertera di layar segera aku mengangkatnya,karena ponselku terhubung dengan mobil maka akupun tak perlu memakai genset.


" Wa'allaikum sallam! " Jawabku setelah mendengar salam dari sebrang telpon


" Apa tth sudah sampai ?" Tanya suara di sebrang sana


" He'mh! kemarin, maaf tidak langsung mengabariku! " Jawabku


" Apa tth sedang mengemudi ?" Tanya suara di sebrang sana


" Iya! apa semua baik-baik saja ?" Aku bertanya balik, takutnya terjadi sesuatu


" Tentu, Fitri menelpon hanya untuk memastikan kalu tth baik-baik saja! " Jawab suara di sebrang sana


" Tentu! " Asalku


" Kapan tth akan pulang ?" Tanyanya kembali, aku menjawab " tidak tau ". Kami terus mengobrol, beruntung Fitri menelpon, jadi aku tak merasa sepi dalam perjalanan ke bandara.


Fitri juga memberi laporan, kalau dia dan Julian sudah membereskan semua masalah yang sempat tertunda di organisasi.


Bahkan dia bilang kini aku tak perlu mengkhawatirkan itu, sudah ada dia yang akan membereskan semuanya.


Panggilan aku tutup, kala aku sudah di depan bandara karena aku harus menghubungi anta.


" Aku di parkiran, kau dimana ?" Tanyaku, saat panggilan di angkat oleh anta.


" Baiklah aku akan ke sana!" Ucapnya dan langsung memutus panggilan


Lebih dari lima menit aku menunggu, namun belum juga ada tanda-tanda anta akan datang hingga aku merasa mengantuk.


# aku sudah di parkiran # anta


Begitulah pesan yang ku dapat.


Aku keluar dari mobil, ku edarkan pandangan mencari sosok anta, namun dia dari belakang mengejutkan ku.


" Sudah lama. ?" Tanyaku


" Lumayan!" Asalnya


Dia melirik mobil yang ada di sampingku,


" Ini milik mu ?" Tanyanya, seraya tersenyum mengejek


" Sudah pasti bukan! " Jawabku


Aku menyuruh anta untuk masuk, sedang aku memasukkan kopernya ke bagasi.


Saat sudah selesai, dan ketika aku mau masuk di kursi kemudi, anta sudah duduk di sana.


" Biar aku yang menyetir!" Ucapnya, akupun tak bersuara hanya menurut saja

__ADS_1


" Kemana kita akan pergi ?" Tanyanya, saat mobil sudah berjalan


Aku memberikan alamat yang akan kami tuju, dia sempat bertanya alamat siap itu, dan siapa yang tinggal di alamat itu, namun aku menjawab " nanti kau juga akan tau ".


Aku bertanya pada anta, apa dia sudah makan? Dia bilang sudah. Maka akupun hanya diam saja, hingga pikiran ingin bertanya tentang yanah padanya muncul.


" Apa kau yakin, jika yanah tidak akan mencintaimu ?" Tanyaku sedikit berhati-hati, pasalnya yang ku tanyakan itu pribadi mereka


" Kenapa ?" Dia malah baik bertanya padaku


" Tidak apa-apa! " Asalku menjawab


" Mau aku beri tahu sesuatu! " ucapnya, akupun menoleh.


" Sejujurnya, sampai saat ini aku masih menunggumu, menunggu jawaban darimu. Namun melihat cincin di jari manis mu, aku yakin kesempatan itu sudah tak ada " lanjutnya berkata.


Ku lirik tangan ku yang tersemat cincin itu, ada perasaan tak nyaman mendengar ucapan anta.


Namun mau bagaimana lagi, aku sungguh tak memiliki perasaan sedikitpun padanya.


" Tak perlu seperti itu, kau tau banyak gadis cantik bukan di luar sana yang mengejar ku. Jadi kau tak perlu khawatir aku merebut mu darinya! " Lanjutnya lagi berucap.


Aku masih saja diam, tak punya sedikitpun keinginan untuk menjawabnya soal itu.


Dia melirikku, senyum ku terukir kala saling bertemu pandang dengannya.


" Sepertinya keuanganmu cukup baik, hingga kau memiliki salah satu mobil termahal di dunia. Bahkan akupun tak memilikinya." Aku tersenyum mendengar ucapan nya kali ini, bagaimana tidak, dia bilang aku membeli mobil ini mana mampu.


" Kau bercanda, ini bukan milikku! " Jawabku, anta melirik ku heran, mungkin dia bingung milik siapa mobil yang ku pake ini.


Aku bersuara kembali.


" Mobil ini milik teman ku." Lanjutku berkata.


" Apa temanmu sekaya itu ?" Tanyanya, dan itu membuat ku tersenyum.


" Mungkin " asalku menjawab.


Sepanjang perjalanan aku dan anta saling mengobrol, banyak yang dia tanyakan padaku, dan aku menjawabnya jika pertanyaannya bisa ku jawab.


Berangkat menjemput anta pukul 11 malam, dan sekarang kami sampai tepat pukul 2 malam. Karena jarak dari tempat Wira ke bandara cukup lumayan.


Saat masuk, aku mendapati Wira yang masih sibuk dengan berkas di tangannya, ku hampiri dia untuk mengenalkannya pada anta. Saat di depannya dia menatapku datar, aku tersenyum menanggapinya.


" Dia temanku yang aku maksudkan tadi! " Ucapku, Wira bangun dari duduknya dan beralih menatap anta.


Anta mengulurkan tangannya.


" Anta " singkatnya, dan Wira pun sama, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan anta.


" Aku Wira, semoga kita bisa berkerja sama " ucapnya yang di tanggapi anta heran.

__ADS_1


Anta melirikku, Wira juga sama. Mungkin dalam benak anta bertanya 'berkerja sama', dalam benak Wira 'gadis ini belum menceritakan apa maksudnya meminta laki-laki ini datang kemari'. Ya mungkin begitulah dalam pikiran mereka.


" Aku lelah, bisakah kakak ku yang baik ini menceritakan padanya, sungguh aku ingin istirahat." Ucapku, setelahnya berlalu meninggalkan kedua laki-laki di depanku.


Aku masuk dalam kamarku, ingin melakukan panggilan pada adikku namun sudah malam. Akhirnya aku memilih memejamkan mataku dan tertidur, sedang aku tak tau kedua laki-laki yang ku tinggalkan tadi sekarang sedang apa.


***


Pagi harinya.


Aku tertidur setelah melaksanakan sholat subuh, entah kenapa rasanya badan ku lemah sekali, mungkin karena kurang tidur. Yun membangunkan aku pukul 11 siang, dia bilang tidak biasanya aku tidur kembali.


Aku hanya diam saja saat Yun berbicara begitu, Yun juga memintaku untuk segera mandi karena dia akan mengajakku untuk belanja, guna membeli keperluan untuk nanti malam.


" Keperluan nanti malam, apa? Gaun aku sudah ada, semua sudah lengkap " pikirku, namun tak berbicara hanya menurut saja.


" Kenapa mengajakku ?" Tanya anta, yang ternyata di ajak juga oleh Yun.


" Karena kali ini kalianlah pemerannya, aku dan Wira hanya jadi pendamping saja " ucapnya.


Tak ada pertanyaan lagi, kamipun pergi menuju pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Anta yang mengemudikan mobilnya, Yun duduk di sampingnya anta, sedang aku di bangku belakang bersama Shin Hye, gadis kecil ini terus saja mengajak ku bercanda juga bercerita, hingga aku bertanya padanya tentang keinginannya setelah dewasa nanti.


Bodoh, itukan nanti sedangkan gadis di samping ku ini masih kecil.


" Shin Hye, jika kau dewasa kau ingin seperti apa ?" Tanyaku lembut, dia menatapku dan berkata.


" Jika dewasa nanti, aku ingin seperti bibi " jawabnya.


" Sepertiku, kenapa ?" Tanyaku heran.


" Bibi sangat cantik, juga baik hati. Selain itu bibi juga wanita yang berani! " Jelasnya, aku tersenyum samar, gadis pemberani ya, bahkan aku tak tau aku seberani apa.


" Itukan menurutmu! " Asalku, namun dia malah meminta persetujuan ibunya, juga anta tentang ucapannya barusan


" Tidak!, Iya kan mah bibi Rinjani memang cantik, juga baik, bukan begitu paman ?" Ucapnya, ku dengar tawa kecil dari kursi depan, anta juga Yun.


" Anda tau kan nona, jika anak kecil tak bisa berbohong. " Ucan Yun, aku hanya diam saja.


Mobil tetap melaju. Sesekali anta baik Yun ikut menimpali candaan Shin Hye, hingga perjalanan pun terasa menyenangkan.


Sampai di tempat tujuan, aku,Yun, juga Shin Hye, di turunkan anta tepat di depan pintu masuk, sedang dia pergi ke tempat parkir setelah menurunkan kami. Kami masuk lebih dulu tak menunggu anta, lagian dia bilang juga tinggal saja tidak apa-apa.


" Kau mau membeli apa ?" Tanyaku pada gadis kecil di sampingku.


" Aku hanya ingi eskrim! " Jawabnya seraya melihat ke arah ibunya.


" Baiklah, kalau begitu biar mamah mu yang belanja, kau ikut aku. Kita makan eskrim! " Ucapku yang di anggukki oleh Shin Hye.


" Aku akan mencari tempat penjual eskrim, jika sudah belanjanya temui aku di sana. " Ucapku.


" Baiklah, aku titip Shin Hye." Ucapnya, setelahnya berlalu entah ke mana.

__ADS_1


__ADS_2