
Tak ada yang terlewati oleh kami,
Setelahnya te EMI menuntun aku dan Caca ke sebuah pintu, ku pastikan di balik pintu itu ada seseorang yang menanti ku, itu pikir ku.
Ku ketuk pintu itu, ku buka, tak lupa ku ucap salam juga.
" Assallamuallaikum! " suaraku, hampir tak terdengar karena kaget bercampur sedih melihat orang yang ku sayang tengah terbaring dengan pakaian tebal, namun tubuh nya nampak kurus.
" Wa'allaikum sallam " jawabnya seraya tersenyum, ya senyum itu sudah dua Minggu aku tak melihat nya.
Aku melangkah mendekat padanya, begitu juga Caca. ku yakin dia juga sama kagetnya dengan ku, wajah tampan, dan manis itu begitu tirus dan pucat namun tetap memaksakan tersenyum.
Ku raih tangannya terasa dingin, aku tak sanggup melihatnya, rasanya aku menyesal pernah berpikir kalau dia tengah melupakan ku karna ada yang baru. hampir saja cairan bening di pelupuk mataku terjatuh, namun tak jadi karna Caca menyentuh bahuku, nampaknya dia tau aku sedang rapuh karna melihat orang yang ku sayang tengah berbaring lemah.
" Dodol! " kata itu keluar dari mulut ku.
" He'mh " jawab nya pelan.
" Ko bisa begini, kenapa? " tanyaku, dan begitu terkejutnya aku saat mendengar jawaban nya.
" Karna mempertahankan kamu Oneng. " dan air mata yang tadi tak sempat jatuh pun akhirnya terjatuh.
Bagaimana tidak, ternyata yang aku alami dia juga mengalaminya. dia juga menceritakan semuanya, bagai mana dia bertahan saat terakhir dia memuntahkan darah namun dokter bilang tidak ada penyakit yang serius semua keluarganya merasa aneh dan membawanya pada pak Kiai.
" Jadi, kiai juga yang bisa mengobati mu. " tanyaku ragu, dan dia hanya mengangguk.
Tangannya terulur memegang wajah ku untuk menyapu air mata yang terus turun tanpa tau malu nya dari mataku.
" Ternyata si Oneng bisa nangis juga ya, yang katanya cewe tangguh. " selorohnya, seraya tersenyum mengejek.
" Tapi tidak apa kamu cengeng, di depan ku saja dan itu juga untuk ku, terimakasih. " lanjutnya aku hanya mengangguk sebagai jawaban ia.
Kami pun berbagi cerita. Caca yang menceritakan kalau aku berpikiran Sukma punya cewe lain, dan semua yang kami alami, baik di sekolah, atau di rumah, tentang dirinya juga dia ceritakan, sesekali tawa terdengar dari keduanya aku senang melihatnya tertawa dan tersenyum.
Saat aku tengah menatapnya dia balik menatap ku, tadinya ku pikir karna dia sedang mendengarkan cerita Caca jadi kupikir dia tidak akan sadar kalau aku tengah menatapnya.
" Kemari lah! " pinta nya, karna aku sedang duduk dengan te EMI setelah tadi bertukar tanya dengannya.
" Ia knapa? " setelah aku duduk di tepi ranjang berdampingan dengannya, jangan salah, Caca te EMI juga ada di kamar itu.
" I LOVE YOU! " bisik nya, seketika senyum ku mengembang.
" eh'emmm, lupa ya di sini ada orang pake mesra-mesraan. " cerocos Caca kulihat, te EMI juga tersenyum.
Ku lihat jam di tangan ku sudah menunjukan jam 5 sore, aku pun berpamitan, kulihat wajah laki-laki yang ku sayang sedikit murung, aku menatapnya, dan tersenyum memberikan semangat serta meyakinkan nya semua akan baik-baik saja.
" Aku pulang ya udah sore! " pamit ku.
" He'mh hati-hati, maaf tidak bisa mengantar! " Ucapnya
" He'mh,Assallamuallaikum! " pamitku padanya,
Dan begitu pula pada keluarganya.
***
__ADS_1
Seminggu setelah aku menjenguknya, aku mendapat kabar kalau dia sudah membaik, bahkan sudah bisa pergi keluar rumah hanya saja belum bisa bekerja.
Ini Minggu ketiga, setelah aku menjenguk Sukma.
Sore hari, saat aku bermain hp aku mendapat pesan darinya.
# nanti malam mau main, boleh? # dodol ku isi pesan itu.
Aku tersenyum,
# tentu boleh, apa sudah sehat? # balas ku.
# sudah, pake baju putih yang pernah ku kasih, rok panjang warna hitam. itu serasi sekali di pakai oleh mu # dodol ku.
Aku merasa ada yang aneh dengan isi pesan itu, namun ku tepis pikiran itu.
# he'mh, akan aku pakai # balas ku lagi.
# ya sudah, sampai bertemu nanti malam # dodol ku.
Pesan pun berakhir karna aku tak membalas lagi.
Dan waktu yang aku tunggu pun tiba, aku mengenakan baju yang ia pinta begitu juga roknya. rambut ku kuncir satu kebelakang, sedikit poni ku biarkan menghalangi jidat ku.
" Assallamuallaikum! " suara itu tak asing bagiku, dan kakak ku yang menjawab, karna kebetulan Kaka ku ada di luar ia akan pergi bersama teman-temannya entah ke mana.
Aku keluar, dengan senyum yang terus terukir di wajah ku menandakan betapa senangnya aku.
" Wa'allaikum sallam " jawab ku, seraya menjabat tangannya.
Tak seperti biasanya dia menyuruhku duduk, biasa nya aku yang menyuruhnya duduk.
Dia mengulurkan tangannya setelah kami duduk, memegang wajah ku, memandang ku lekat seakan penuh cinta di setiap tatapannya, aku merasa heran saat aku ingin bertanya, ada apa? tiba-tiba dengan beraninya dia mengecup kening ku begitu saja.
Sesaat aku merasakan sesuatu yang tak pernah ku rasa, karna walau hanya kening namun itu yang pertama bagiku, ada getaran dalam hati ku entah apa itu.
Bukan bahagia yang ku rasa. bukan kah dia tau kalau dia sampai berani mencium ku, aku akan mengakhiri hubungan kami.
Saat ia melepaskan kecupannya, saat itu aku sadar kalau dia telah melakukan kesalahan.
Dia menangis, saat aku hendak marah dan ingin menamparnya tangan nya lebih dulu memelukku, mungkin sudah sejak lama dia ingin melakukan itu, namun dia memegang teguh ucapannya, entah apa yang terjadi malam ini entah rasa rindunya yang sudah teramat besar atu apalah aku tak tau.
Aku berdiri dan dia juga ikut berdiri, dia memelukku sambil berucap. " maaf!! " hanya itu.
Aku hanya diam, " maaf, dan biarkan aku memeluk mu untuk yang pertama dan terakhir kalinya, juga ciuman itu semoga aku yang pertama, dan aku yakin aku yang pertama. " aku dibuat bingung, apa maksud ucapannya.
Aku berbalik, melepaskan pelukannya dan bertanya " apa maksudnya? " dengan hati yang resah menanti kata yang akan keluar dari mulut nya.
" Kamu tau, kita tak mungkin bersama orang tuaku menyuruh ku untuk menyudahi ini, setelah mereka tau apa penyebab sakit ku. " jawaban yang tak ku inginkan.
Seketika air mataku jatuh, dia memelukku kembali seraya terus mengucap kata 'maaf'.
Apa ini,apa maksudnya aku di suruh memakai baju warna kesukaannya yang ia belikan, mengecup keningku penuh cinta, memelukku, tapi untu meninggalkan ku. sungguh aku tak pernah menduga dan aku pun tak bisa berkata lagi, dia terus saja menggenggam tangan ku, ku rasa dia juga sama sedihnya dengan ku, air mata nya juga tak henti nya mengalir membasahi wajahnya.
Senyum itu tak akan ku lihat lagi, tawa itu tak akan pernah ku dengar lagi.
__ADS_1
" Sudah lakh jangan menangis lagi, suatu saat aku akan kembali. " itu lah kata-katanya yang bisa menghentikan tangis ku.
Dia pamit hanya padaku, karna biasanya dia akan pamitan juga pada ibu atau bapak ku, namun kali ini tidak.
'suatu saat aku akan kembali,' sampai sekarang kata-kata itu masih ku ingat, bahkan selalu terngiang jelas ( karna ini nyata kisah ku ).
Aku kembali kekamar melanjutkan tangis ku, ini kali pertamanya aku menangis selepas dari masa bayi, atau balita ku.
Sungguh rasanya sesak di dada.
katanya cita masa SMP itu cinta monyet, tapi apa iya itu hanya cinta monyet, karna sampai sekarang aku masih merasa sesaknya bila teringat kenangan itu.
***
Seminggu sudah setelah kejadian itu, dan seminggu itu pula aku menangis di setiap malam ku, tanpa ada yang menghibur ku.
Hari ini aku dan seluruh siswa kls 3 akan menjalani ujian akhir sekolah, entah lakh aku memang belajar, namun pikiran ku tidak pokus entah aku bisa, atau tidak menjawab soal ujian ku.
'bismilah', gumam ku dalam hati ketika lembar ujian sudah di tangan ku.
Bel kedua berbunyi, setelah waktu yang di tentukan untuk mengisi soal usai, tandanya kami bisa beristirahat untuk membuka buku pelajaran sebelum soal kedua di mulai, namun tak sedikit pula murid yang menggunakan waktu itu untuk ke warung.
" Jani, ke warung yuk? " ajak Titin.
" Duluan aja, aku mau buka buku dulu. soalnya semalem cuma buka buku bentar doank " jawab ku, karna sebenarnya aku hanya membukanya saja tanpa mencerna pelajarannya.
" Mmmhhhh, ya sudah duluan ya nitip nggak " tawarnya.
" Nggak, lagian tadi udah sarapan juga " jawab ku, dan setelah mendapatkan jawaban dariku dia pun pergi dengan beberapa teman sekelas ku.
" Jani, Lo udah putus sama si Sukma? " tanya Caca, jujur aku sedikit males jawabnya.
" He'mh! " singkat ku.
Dan Caca hanya manggut-manggut kepala nya saja.
Aku hanya pokus pada buku di depan ku, karna aku nggak mau kalau sampai tidak bisa menjawab soal ujian.
Ku kesampingkan dulu masalah hati ku,
Setelah kurang lebih setengah jam, bel masuk ke dua pun terdengar.
Kami mengerjakan ujian dengan tenang, dan hening semua terfokus pada lembar soal di hadapan kami, sampai bel pulang pun akhirnya berbunyi.
Dan seperti itu lah setiap hari selama empat hari. Setelahnya, kami di liburkan sampai hasil ujian akan di umumkan tentang yang lulus, atau tidak nya.
***
Seminggu sudah aku hanya berdiam diri di rumah tidak kemana-mana, karna mau main juga nggak ada teman. hanya ada Caca, dan pupu sekarang sudah lebih sibuk dengan sekolahnya karna sebentar lagi ia akan naik ke kelas tiga.
Hari ini hari Senin, aku dan siswa yang lain sudah berkumpul di lapangan menunggu hasil ujian yang akan di umumkan hari ini.
Perasaan tak tenang muncul di hati ku, takut kalau aku sampai aku tak lulus.
Guru yang akan mengumumkan kelulusan pun sudah hadir di depan kami, para wakil kelas lebih dulu mengumumkan nilai terbaik kami, aku menjadi salah satunya. sungguh tak ku sangka, aku pun maju ke depan bersama dua teman ku yang lain sesuai permintaan wakil kelas kami.
__ADS_1
Ucapan selamat ku terima dari guru dan teman-teman klas ku.
Setelah pengumuman itu aku sudah tak lagi datang ke sekolah.