
Mungkin dia kasihan melihat tubuh kurus yang sedang berbaring di ranjang pasien itu, mengingat ripa'i tau bagaimana tubuh kakak ku dulunya.
Hampir selesai aku makan seseorang mengetuk pintu.
" Permisi! Nona apa anda memesan makanan? " Tanya perawat pada ku saat pintu dia buka.
" Iya, apa sudah datang " tanyaku balik setelah menjawab pertanyaannya.
" Iya, dia menunggu di tempat pendaftaran " ucapnya yang ku jawab anggukan saja.
" Baiklah saya permisi! " Ucapnya, ku lihat dia sempat melirik pada ripa'i dan sempat tersenyum namun aku tak mau menghiraukan itu walau ada rasa tak rela ripa'i di lirik wanita lain. Ada apa dengan ku! Bukankah dulu saja aku selalu tak pernah memikirkan soal ini, bahkan ketika ripa'i beradu canda dengan wanita lain aku tak pernah seperti ini.
" Aku keluar sebentar! " Pamitku pada ripa'i.
" Tidak perlu! Biar aku saja yang mengambil, kau lanjutkan makan saja " ucapnya seraya bangun dari duduknya.
Saat ripa'i keluar dari pitu, ku juga selesai dengan makan ku, ku teguk air yang tadi siang di beli pitri dan ku simpan kembali.
Saat ripa'i kembali! Aku sudah di samping kakak ku sedang memainkan ponsel ku, berbalas pesan dengan beberapa teman ku.
" Sudah selesai? " Tanya ripa'i pelan, ku jawab dengan anggukan
" Sebaiknya kamu istirahat biar aku yang menjaga Abang malam ini! " Ucapnya
" Maksudnya? " Tanyaku, karena bagaiman bisa aku beristirahat
" Kamu tidur saja! " Jawabnya
" Aku baru bangun tidur saat kau datang! " Balasku
" Jadi kau tidak akan tidur? " Tanyanya memastikan
" Mungkin nanti, saat ini aku tak ingin tertidur " jawabku
Akhirnya! Aku dan ripa'i hanya saling diam tak ada yang bicara, aku tetap bermain dengan ponsel ku dan dia juga sama, aku sempat meliriknya karena ku pikir dia akan tertidur namun ternyata tidak, saat aku meliriknya dia tersenyum padaku, rasanya lama sekali aku tak melihat senyum itu.
Ripa'i bangun dari duduknya, dia berjalan kearah ku dan memegang tanganku, menariknya pelan agar aku mau mengikutinya, ternyata dia menuntun ku untuk duduk di sampingnya di kursi panjang yang ada di kamar itu.
Dia memandang ku lekat, mengusap kepala ku lembut.
Kemudian dia berkata.
__ADS_1
" Jujurlah padaku! Siapa yang menjadi pengganti ku di hatimu, aku yakin tempat itu masih milikku bukan! " Ucapnya lembut.
Subhanallah!! Rasanya hatiku menjerit mendengar kata-katanya yang selalu lembut kala berbicara padaku atau keluargaku.
Dia terus saja menatap ku hingga aku memalingkan pandangan ku darinya.
" Kenapa? Apa tak berani beradu tatap dengan ku, atau kau takut meminta kembali padaku! " Ucapnya, kali ini ucapannya membuat ku memasang wajah datar ku, sedikit tak suka dengan ucapan itu.
" Kenapa hanya diam, benarkah kau sudah mendapat pengganti ku? " Tanyanya kembali, tak sedikitpun aku ingin menjawab pertanyaan nya, namun aku suka mendengar suaranya.
Ku lihat raut kesal mulai nampak di wajahnya, setelahnya muncullah seringai licik.
" Atau kau ingin aku melakukan sesuatu padamu di luar sehat ku, jawab aku Rinjani " ucapnya penuh penekanan dan aku masih saja diam.
Di menundukkan kepalanya, tangan yang tadi menggenggam tangan ku dia lepaskan.
" Apakah aku tak pantas bila bersama mu, apa aku terlalu pengecut karena selalu memintamu menunggu " ucapnya pelan dengan terus menunduk.
" Jawab aku Dena Rinjani! Jangan membuat ku menjadi gila seperti ini, aku mohon katakan apa yang bisa meyakinkan hatimu kembali karena aku tau hanya ada aku di sana bukan " ucapnya kembali, hatiku tersayat, perih rasanya mendengar ucapan ripa'i, sekian lama kami mempertahankan semuanya bahkan setiap ejekan tak pernah aku dengarkan, namun seorang glenca mampu membuat ku bergetar, runtuh dari pertahanan ku karena hanya dia yang berani bermain dengan keluargaku.
Tak tahan dengan semua perkataan ripa'i yang seolah menggambarkan betapa perih dan rapuh nya dia saat ini, aku pun bersuara.
" Namun kamu juga tau, aku lebih takut lagi jika keluarga ku di sakiti, jika mereka harus ikut menanggung dampak dari keegoisan ku " lanjutku berucap.
Ripa'i meraih tanganku, dia tersenyum padaku seolah ingin meyakinkan aku kalau semua akan baik-baik saja.
" Kita lakukan ini bersama, aku janji semuanya akan baik-baik saja, dan mengenai keluarga mu, orang-orang ku yang akan melindungi mereka, hanya sedikit lagi Rinjani aku mohon " ucapnya penuh ketulusan.
" Bisakah aku mempercayaimu? " Ragu ku bertanya padanya, dan langsung mendapat tatapan serius darinya.
" Katakan! Dengan cara apa aku bisa meyakinkan mu kembali? " Tanyanya padaku.
Aku pun bingung, karena selama ini ripa'i tak pernah membuat aku ragu padanya, hanya karena rasa takutku saja akan keluarga yang membuat ku harus melakukan ini semua, jauh dari lubuk hati ku yang paling dalam aku kasihan pada ripa'i, terlalu banyak beban di hidupnya walau dia tak menceritakannya namun aku tau itu, dan ingi rasanya aku ikut serta dalam mengurangi beban itu satu persatu.
" Selesai Abang ku di operasi dan keadaannya sudah pulih, aku mau kita melangsungkan pernikahan! " Datar ku berucap dan mendapatkan tatapan tajam dari ripa'i.
Mungkin dia berpikir, bukankah selama ini aku yang selalu menunda lamarannya, dan kali ini aku yang memintanya langsung menikahi ku, namun percayalah semua itu sudah aku pikirkan baik-baik, inilah cara agar aku bisa membantunya.
" Apa kamu serius dengan ucapan mu! " tanyanya memastikan aku tak salah berucap, dan ku jawab dengan anggukan kepastian.
Ripa'i tersenyum melihat ku mengangguk, secara tiba-tiba dia memelukku erat seraya berkata.
__ADS_1
" Taukah kamu, itu kata yang selalu ku tunggu selama ini " ucapnya, aku membalas pelukan ripa'i air mataku keluar begitu saja seolah aku sedang merasakan hari yang teramat dalam mendengar ucapannya.
" Aku merindukanmu ripa'i " ucapku dan ripa'i mempererat pelukannya.
Tak lama, hanya sebentar ripa'i melepas pelukannya. Dia menatapku menyapu air mata yang keluar dari mataku.
Tersenyum hangat saat air mataku berhenti mengalir.
Detik berikutnya dia mengecup keningku cukup lama dan aku hanya diam saja menerima perlakuan ripa'i, melanjutkannya ke bibir ku hanya sekilas hanya sekedar menempel saja, dalam hatiku, aku ingin tertawa melihat tingkahnya.
" Aku akan memenuhi permintaanmu, kita menikah setelah Abang pulang dari sini! " Ucapnya dan aku mengangguk.
Ada yang bilang kisah percintaan ku manis, ada yang bilang juga biasa saja namun bagiku kisah cintaku sangat manis, tak jarang juga yang bilang rumit, namun ini sebuah kehidupan dimana semua itu seolah mendarah daging pada diri manusia.
***
Tepat jam 7 pagi, aku dan ripa'i sudah siap sedang menunggu dokter yang akan mengoperasi kakak ku, ku rasakan gemetar di tubuhku takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ripa'i meraih tanganku dan berkata.
" Jangan lemah didepan mereka, kamu kekuatan mereka " ucapnya lembut dan aku mengangguk.
Ah! Rasanya aku seperti anak kecil saja selalu menurut pada ucapannya.
" Apa bapak dan ibu akan datang? " Tanyanya padaku
" He'mh! Sore nanti, mereka akan menggantikan aku berjaga " jawabku
Tak ada pertanyaan lagi dari ripa'i.
Jam delapan kurang kakak ku dibawa oleh perawat namun ku belum melihat dokter yang akan menangani kakak ku.
Aku mengikuti kemana mereka membawa kakak ku, hingga mereka berhenti di depan pintu yang tertulis ruang operasi.
Aku gemetar namun berusaha kuat, jika dulu saat Asiah yang menjalani ini, aku biasa saja namun kali ini rasanya lain mungkin karena dia sodara kandungku.
Kaka ku dibawa masuk kedalam sana, setelah semuanya masuk tinggal satu orang yang yang baru datang lengkap dengan seragam operasi yang dia pakai.
" Lakukan yang terbaik untuk Abang saya " ucapku namun dokter itu hanya dim kemudian masuk ke ruangan itu.
Lama kami hanya duduk di kursi depan pintu, tak ada kata yang keluar dari mulut ku, karena dalam hati aku terus sibuk mengucap doa untuk kakak ku agar di berikan yang terbaik dalam pengobatannya.
__ADS_1