
Hingga sore hari pun datang.
Tepat pukul 4 sore kami berangkat, bibirku tak hentinya tersenyum kala mataku melihat betapa indahnya panorama sore hari di desaku, bahkan aku menurunkan kaca mobil, tak sepenuhnya ku turunkan hanya setengahnya saja agar angin bisa menerpa ke wajah ku saja supaya aku bisa lebih merasakan keindahan itu.
Namun karena ripa'i memintaku menutup kembali kaca mobil, membuatku sedikit kesal, dia paham aku kesal kemudian berkata
" Sebentar lagi kita akan memasuki perkotaan, debu jalanan yang akan kamu hirup bukan angin segar pedesaan lagi " ucapnya lembut namun pandangannya terus ke depan
Aku tak menanggapi ucapan ripa'i namun Indri yang menanggapinya, o ia, sekalian kami juga membawa rindi juga ibunya dan aku belum sempat menyebutkan bukan siapa nama ibu rindi.
Nama ibunya rindi sangat cantik, Sekar, seperti nama bunga bukan, dan jangan salah karena bukan hanya namanya saja yang cantik namun orangnya juga cantik hanya saja, aku belum bisa memastikan bagaimana isi hatinya atau sipat aslinya karena kami juga baru kenal bukan.
" Eemmm emang, begini nih entah sampai kapan kali ya akurnya " seloroh Indri
Ripa'i tertawa kecil menanggapi ucapan Indri dan menjawabnya
" Kami selalu akur buktinya kami sampai menikah, bukan begitu " jawab ripa'i seraya meminta pendapat dariku, aku menoleh dan tersenyum namun tak bersuara
Kemudian rindi bersuara
" Memang ka ripa'i sama teh Rinjani lama ya pacarannya " ucapnya entah dia bertanya atau hanya sekedar berucap. Aku baik ripa'i tak bersuara Indri yang menjelaskan semuanya tentang bagaimana dan seberapa lama kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Setelah itu tak ada lagi yang bersuara sampai ripa'i menepikan mobilnya, dan saat itu baru adikku bersuara
" Kenapa berhenti disini? " Tanya pitri
Ripa'i menoleh dan menjawab
" Tidakkah perut mu merasakan lapar, ini sudah malam " ucapnya seraya melirikku
" dan kita menepi hanya saat Maghrib tadi itupun hanya untuk sembahyang saja bukan " lanjutnya lagi
Pitri mengangguk paham dan diapun diam tak bersuara kembali
" Kita makan dulu, jika kamu aku yakin bisa menahan lapar, tapi kasihan mereka " ucapnya pelan padaku
Entah terbuat dari apa laki-laki ini, mengapa sikapnya selalu begitu manis, dia selalu mempedulikan orang-orang yang berada di sekitarnya, tak hanya itu, bahkan jika itu orang yang tak ia kenal pun jika membutuhkan bantuannya tentu dia akan menolongnya.
Kami turun dari mobil dan berjalan ke sebuah tempat makan yang ada di sebrang jalan.
__ADS_1
Ripa'i menggandeng tangan ku, aku melirik padanya dia tersenyum menanggapi itu.
" Silahkan " ucap pelayan yang ada di rumah makan itu
Ripa'i mengambil buku menu dan memberikannya pada pitri juga rindi, sedang aku, mungkin ripa'i sudah paham makanan apa yang menjadi kesukaan ku jadi dia tak perlu melihat menu lagi dan langsung memesan.
Sambil menunggu makanan aku sedikit mengobrol dengan ripa'i tepatnya bertanya.
" Pai, apa semua sudah kamu selesaikan, apa kau yakin dia Takan curiga dengan kepulangan mu ke negara ini? " Tanyaku pelan, sebelum menjawab ku ripa'i menatap ku dan tersenyum
" Kekhawatiran mu terlalu besar, aku senang kau mengkhawatirkan aku, tapi jang di lanjutkan aku takut itu akan mengganggumu " jawabnya, jauh dari jawaban yang ku harapkan.
" Entah dia tau atau tidak, dan karena itu aku harus segera kembali kesana agar semuanya dapat ku tuntaskan, aku ingin hidup bersama mu dengan tenang tenang dan damai itulah impianku " lembutnya berucap
Tak lama makanan datang, dan disajikan dengan rapi
" Selamat menikmati " ucap dua pelayan yang membawa pesanan kami tadi dan pergi setelah mendapat anggukan dari ripa'i
Makan malam pun dimulai.
Aku melihat ripa'i seperti tak berselera makan mungkin dia merasa lelah atu kenap aku tidak tau yang pasti nampak sekali di wajahnya kalau dia tak ingin memakan makanannya.
" Tak apa makanlah, aku hanya merasa lelah mungkin karena itu selera makan ku tak ada " ucapnya
Ku ambil satu sendok makanan ku, ku arahkan sendok itu ke mulutnya dan dia mau tak mau membuka mulutnya, bukan ingin memaksanya untuk makan, aku takut kalau dia sampai sakit saja.
" Setelah ini kita langsung pulang ya " ucapku dan ripa'i mengangguk
Acara makan tetap berlangsung, ripa'i juga makan walau harus aku paksa dan aku suapi jika mengingat dulu, dia yang selalu memaksa dan menyuapi ku makan kala aku tak berselera atau malas untuk makan.
Selesai itu kami melanjutkan kembali perjalanan, tak lama kami sampai dan langsung turun dari mobil, aku hendak membantu ripa'i membawakan barang bawaan kedua adikku juga milik rindi dan ibunya namun ripa'i menolak, dia bilang masuk saja bersihkan badanmu dan langsung istirahat, begitulah ucapnya padaku saat aku mau membantunya, namun tetap aku tak mau kalah, ku bantu membawakan koper milik adik bungsuku, tak berat pasti isinya hanya pakaian saja makannya terasa ringan.
Beres dengan itu semua.
Aku dan ripa'i masuk dalam kamar yang biasa aku tempati.
" Rapih " kata yang keluar kala ripa'i didalam kamar
" Mandi dulu baru istirahat " ucapku
__ADS_1
" Nanti saja, aku akan pergi lagi " jawabnya
" Kemana? " Tanyaku, bukan bermaksud mau melarangnya pergi, namun aku rasa dia membutuhkan istirahat, jadi tak ada salahnya aku bertanya
" Menemui seseorang " jawabnya, ku lihat wajahnya nampak serius kala mengatakan itu, juga ada kegelisahan yang aku tak tau gelisah akan apa
" Tak usah khawatir, aku akan kembali jika semua sudah selesai, dan jangan berpikir untuk sesuatu yang kamu sendiri tau itu tak mungkin " ucapnya kembali
Aku tersenyum dan mengangguk, dia paham dan mendekat padaku kemudian memelukku seakan tak ingin melepaskan ku, mengecup kening ku lama tak lupa juga beralih pada bibirku. Setelah dia rasa cukup, diapun melepaskan aku dan tersenyum.
" Aku pergi sekarang, jangan menungguku tidurlah lebih dulu " ucapnya dan mengecup kening ku kembali setelahnya mengambil jas yang tadi dia bawa namun tak dipakainya.
Ketika ripa'i akan mendekati pintu, aku mengehntikan langkahnya
" Tunggu...!!! " Ucapku kemudian menyusul ripa'i
" Ambil ini, jika kau kembali kau hanya tinggal menggunakannya " ucapku sembari memberikan kunci duplikat rumah padanya
Dia tersenyum dan menerima kunci itu, sebelum ripa'i berbalik aku meraih tangannya untuk menggandengnya sampai ke pintu, setelahnya aku mencium punggung tangannya dan dia terkekeh kecil kemudian tersenyum.
" Aku pergi "
" Eemmm, hati-hatilah " tanggap ku
Ripa'i masuk dalam mobilnya, tunggu sejak kapan mobil itu ada di sini, bukankah kami kemari menggunakan mobil ku lalu siapa yang membawanya dan menaruhnya disitu, dan lagi bukankah saat ripa'i kerumah ku dia ikut dengan mobil bang herdi. Tapi sudahlah, mungkin asisten atau temannya yang membawanya kemari tas perintahnya.
Aku masuk kembali kedalam rumah, tak langsung kekamar, aku memilih untuk duduk di bangku yang ada di ruang tengah, merasakan lelah yang ku rasa untuk mencoba berdamai dengannya, tadinya aku hendak melihat ponselku namun aku lupa aku tak membawanya dikamar jadi ku hanya lesehan saja.
Tak lama, kudengar langkah seseorang mendekat, aku tak ingin menengok toh ku yakin itu salah satu dari adikku.
Benar ternyata pitri yang mendekatiku dan ikut duduk dengan ku, dia membawa coklat hangat dua cangkir yang ku yakin salah satunya untukku.
" Apa ka ripa'i pergi lagi? " Tanyanya belum sempat aku menjawab dia bersuara kembali
" soalnya pitri mendengar suara mobil didepan dan tadi tak sengaja pitri juga lihat tth sama ka ripa'i menuju pintu " ucapnya
" He'mh, ada urusan yang harus dia urus " jawabku seraya menyesap coklat hangat yang di bawakan pitri
Pitri menatapku, tatapannya membuatku tersenyum miring, entah apa yang dia pikirkan tentang ku dan ripa'i namun aku yakin dia cukup dewasa untuk mengerti itu.
__ADS_1