Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 71


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, aku sudah sedikit bertenaga karena mbak Rena memaksaku untuk makan tadi siang saat aku tersadar, dia bilang 'walau hanya sedikit tak apa asal ada makanan yang masuk dalam perutmu supaya kau mempunyai tenaga' ucapnya kemudian aku berpikir kembali, jika aku tak memiliki tenaga jangankan untuk menjaga Rinjani bahkan hanya untuk berdiri saja terasa lemah,


Aku mendudukkan tubuhku, bersandar pada bantal yang menjadi penopang, ku angkat kepala Rinjani kepangkuan ku, tadinya Andi ingin menegurku namun tak jadi karena mbak Rena menahannya kemudian membawa Andi keluar dari kamar


Ku pandangi wajah yang tak lagi pucat namun belum sadarkan diri, ku belai rambut panjangnya sedikit merapikannya, air mata ku terjatuh kala mengingat ucapannya " ripa'i aku ingin menangis namun tak bisa " aku tau beban hidup yang harus dia pikul sendiri membuatnya harus selalu kuat bahkan hanya untuk meneteskan air mata saja ia enggan, ingin rasanya aku segera menjadikannya nyonya Wilson, namun dia belum bisa menerima lamaran ku, dia bilang nanti ketika kedua orang tuaku sudah benar-benar merasa bahagia karna ku, dan adik-adikku sudah dapat menggantikan aku untuk membuat mereka bahagia begitulah ucapnya, jika aku memaksakan kehendak kepada nya maka artinya aku tak menghargai keputusannya,


Ketika melihatnya menangis dengan sendirinya di hadapanku aku merasa bahagia, karna itu artinya Rinjani bisa melepas sedikit bebannya, waktu pertama mengenal Rinjani dengan semua sikap dan perilakunya aku bingung, bukanlah gadis seumurannya harusnya hanya mengenal kesenangan namun berbeda dengannya, dia hanya memikirkan tentang bagaimana nanti dia harus sukses dengan hanya bermodal ilmu yang menjadi bekalnya,


Dan lagi, dia akan tersenyum, tertawa lepas jika sedang bersama keluarganya dan juga sahabatnya yang dia sebut PONDA, sedang jika dengan yang lain dia selalu datar, tersenyum jika di perlukan bahkan padaku juga begitu,


" Kapan kamu akan mengakhiri ini, tidak kah kau kasihan pada kedua adikmu, mereka terus saja menangis bahkan adik bungsumu tak sanggup melihatmu begini sampai dia hanya mengurung diri dikamar buka matamu ku mohon " ucapku setelahnya mengecup keningnya sedang air mataku tak dapat ku hentikan


" Apa kau terlalu lelah, jika ia maka berhentilah dan genggam tangan ku " pelanku berucap


Lama aku mendekap tubuhnya walau ku tau dia Takan mengijinkan jika tersadar, aku melepas dekapan ku kala merasakan pergerakan dari tubuh Rinjani, aku melihat wajahnya ternyata dia membuka matanya


Ku lihat dia tersenyum " ripa'i " kata yang keluar dari bibir manis nya, aku tersenyum dan mengangguk, air mata ku kembali menetes kala melihat keluar cairan bening di ujung pelupuk matanya,


" Jangan menangis " ucapku menyapu air mata itu


Dia tersenyum " maaf " ucapnya lagi, aku tak dapat menahan diriku lagi aku mencium bibir nya, tak mendapat penolakan semakin ku perdalam ciuman itu, hingga dia mendorong ku pelan barulah aku tersadar


" Maaf, aku tak bisa menahan diriku, kau tau dua hari kau membuat ku seperti mayat hidup " ucapku, dan air matanya kembali menetes


" Jangan menais ku bilang " datarku


" Aku menyayangimu ripa'i sungguh " kata-kata yang selalu ingin ku dengar dari bibir itu akhirnya ku dengar


Aku bahagia, sungguh aku sangat bahagia mendengarnya, maka aku kembali mengecup bibir nya sekilas dan beralih pada keningnya, lama aku mengecup kening Rinjani menumpahkan semua rasa yang ada dalam hati ku


" Jangan pernah seperti ini lagi ku mohon, aku sangat takut kehilanganmu " ucapku pelan dan dia tersenyum, tangannya terulur menyapu air mata di pipiku


" Kau tidak pantas menangis, hanya pantas tersenyum " ucapnya seketika aku pun tersenyum pertama kalinya dia bersikap semanis itu padaku

__ADS_1


" Akan aku panggilkan dokter " ucapku namun tangan Rinjani mencegah ku, akupun tak jadi


" Tapi kau harus di periksa " lembutku


" Aku baik-baik saja " lemahnya


" Baiklah tapi tetap seperti ini, jangan dulu banyak bergerak, apa masih terasa sakit ?" Ucapku bertanya, bodoh walau sakit mana mungkin Rinjani akan bilang,


" Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing saja " jawabnya


Aku menceritakan bagaimana aku kemari dan mendapati dia tak sadarkan diri, sampai harus mendapat donor darah kembali, dan dua hari dia hanya terbaring tak membuka mata, dan dia hanya mendengarkan, sesekali bertanya dan tersenyum kala mendapat jawaban dari pertanyaannya


" Jadi selama dua hari juga kau satu kasur dengan ku ?" Tanyanya


" He'mh, aku menjagamu seperti seorang suami menjaga istrinya " jawabku, dia hanya tersenyum


" Sebentar lagi dokter akan memeriksa mu, aku akan beri tahu adikmu " ucapku dan membenarkan kembali posisi Rinjani


" Tapi aku tak mau kau pergi dari sini " ucapnya


" Tetap saja aku ingin kau disini "


Aku tak menolak, maka akupun hanya memberi tahu Fitri lewat pesan saja


# Rinjani sudah sadar beri tahu Indri dia ingin menemui kalian berdua # pesan ku terkirim pada Fitri


Tak lama pintu di buka, Indi dan Fitri masuk


" Tth sudah sadar " tanya Fitri sedang Indri matanya sudah bengkak mungkin karena menangis


Terjadi percakapan antara mereka, akupun memilih keluar untuk memberi tahu Andi.


***

__ADS_1


Rinjani vov


Tak tau berapa lama aku tertidur namun saat aku tersadar aku berada dalam dekapan ripa'i, dia sedang mendekap ku lembut


Aku menggerakkan tangan ku, memberi tanda jika aku sudah sadar agar ripa'i melepaskan dekapannya, ku lihat matanya seperti orang habis menangis sedikit bengkak, ntah mengapa aku ingin menangis melihat ripa'i seperti ini, rasanya aku bersalah membuatnya menangis


Dia mengusap pipiku lembut menyapu air mata ku, dan berkata 'jangan menangis' aku tersenyum betapa beruntungnya aku memiliki kekasih sepertinya, namun tiba-tiba dia mencium bibir ku, aku hanya diam karna tak menyangka dia akan melakukan itu namun ripa'i justru memperdalam ciumannya, aku mendorongnya pelan agar dia tersadar dan dia melepas ku,


Dia hendak pergi ingin memberi tahu kedua adikku, aku mencegahnya, bukan tak ingin mereka menemui ku namun aku tak mau melihat wajah mereka sedih,bahkan mungkin menangis.


" Tth sudah sadar " pelan Indri, sedang Fitri hanya menatapku, aku mengangguk mengiyakan ucapannya


" Kemari " ucapku dan indri mendekat


" Kenapa matamu ?" Tanyaku hanya untuk menggodanya


" Tidak kenapa-napa " jawabnya namun kemudian meneteskan air mata


Aku tersenyum dan merentang kan tangan Indri memelukku sembari terisak


" Jangan terlalu terlalu erat " pelanku diapun mengendor kan pelukannya


" Kapan kau akan seperti Fitri " lembutku seraya mengelus punggungnya dalam pelukan ku, karna posisi Indri sama dengan ku berbaring mengimbangi ku


" Indri ingin tetap seperti ini saja " jawabnya


" Lalu jika aku seperti ini siapa yang bisa aku andalkan " ucapku lagi


" Kan ada te Fitri " asalnya lagi menjawab


" Fitri memiliki tugasnya sendiri dariku, in tth mau mulai sekarang belajarlah semua yang tth arahkan, tth khawatir jika tth tak bisa melindungi " lembutku menjelaskan


Aku beralih menatap Fitri yang hanya duduk di sisiku seraya terus memandangiku, aku tau sikap datarnya menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


" Jangan menahannya " ucapku padanya dan seketika itu juga dia langsung ikut memelukku, aku tersenyum berada dalam pelukan mereka karena jarang mereka akan memelukku bahkan hampir tak pernah mungkin.


__ADS_2