
Sampailah kami di sebuah rumah di atas bukit, rumah yang sangat megah bangunannya khas Cina, kalau di desaku bangunan seperti ini di sebut rumah panggung.
Aku mengedarkan pandangan ku ke seluruh halaman rumah, sangat indah banyak tanaman bunga yang mungkin sengaja di tanam.
" Ayo masuk " ajaknya, akupun melangkah memasuki rumah itu, sungguh bangunan yang khas
" Kenapa tak membangun konsep moderen " asalku bertanya
" Jika ingin yang seperti itu kenapa kami harus di sini bukankah di sana lebih megah " jawabnya seraya membawakan teh untukku dan Gibran
" Apa hanya ini aset yang kalian miliki setelah berpisah dari Andi ? Apa dia tak memberikan apapun?" Asalku bertanya
" Tidak bahkan terlalu banyak yang dia beri " jawabnya, dia beralih menatap Gibran
" Siapa dia, apa dia kekasihmu " tanyanya akupun melirik pada Gibran dan dia tersenyum
" Seharusnya kau sudah tau tujuanku kemari, jadi apa harus aku menjelaskan siapa laki-laki ini " asalku menjawab
" Kenapa sipkap mu masih saja seperti itu, aku kan tak tau siapa dia " jawabnya
" He'mh aku tau, dia temanku dia ikut kemari karena karena ingin membantuku " jelasku dan yun melirik Gibran, merasa di perhatikan oleng yun Gibran pun memperkenalkan diri
" Saya Gibran teman Dena " ucapnya
" Saya Yun Feng, orang yang akan melindungi nona selama dia di sini " jelas Yun sedikit terjadi percakapan antara mereka, namun aku tak tau karena aku memilih keluar, duduk di depan rumah sambil menikmati angin malam
" Kau sabarlah aku akan menemukanmu dan membawamu pulang " gumam ku
Yun menyuruhku untuk beristirahat, dia menunjukan di mana kamar ku. Sebelum benar-benar tertidur aku dan yun sempat berbicara sebentar mengenai tujuanku ke tempat ini, karena dia tau aku Takan membuang-buang waktu berpergian jauh jika itu bukan sesuatu yang penting.
Nyatanya susah sekali untuk memejamkan mata, sudah ku coba berulang kali namun sayang rasanya sangat sulit untuk tertidur, hingga aku membuka laptop ku mencari tau kembali sesuatu yang mengusik pikiran ku dan membuatnya tak tenang.
Aku melakukan pencarian tentang ripa'i melalui internet namun kabar yang beredar masih sama hanya tentang pernikahan dan pernikahan membuat ku semakin yakin telah terjadi sesuatu dengan ripa'i.
" Bersabarlah aku akan mencari mu " tekad ku
Karena di berita itu di cantumkan siapa nama gadis yang menikah dengan ripa'i, jadi Terget ku dia. Aku harus mencari tau lebih tentang gadis itu, kadang aku berpikir kenapa kisah hidupku di buat sesulit ini tidak kah dia (Allah) membuatnya menjadi lebih mudah saja pikir ku.
Aku mengingat perkataan ibuku, kalau sesuatu yang sulit pasti istimewa, maka maka bersabarlah dan tetap meminta petunjuknya jika sedang di berikan musibah. Beruntung aku bukan gadis yang mudah mengeluh dan putus asa.
__ADS_1
Merasa sudah mendapat titik terang aku pun mencoba menyusun rencana hingga tak ku sadari ternyata malam sudah semakin larut, akupun menutup laptop ku dan membaringkan tubuhku kemudian membuka ponselku hanya untuk melihat foto ripa'i.
" Rasanya rinduku jauh lebih berat sekarang di bandingkan dulu "
Setelahnya aku benar-benar tertidur.
Seperti biasa aku terbangun saat subuh karena itu sudah menjadi rutinitas ku, melakukan kewajiban ku, dan jika ingin setelahnya sedikit berolah raga atu bersantai namun tak pernah tertidur kembali.
Berbeda dengan kali ini, setelah melakukan kewajiban ku, aku kembali membuka laptop ku namun kali ini di luar rumah, di temani coklat hangat dan beberapa Camilan, ya karena cuaca disini sangat dingin di jam seperti ini, sembari mendengarkan lagi menggunakan genset yang ku pasang semua terasa mudah. Matahari mulai terbit sejenak aku berhenti dari kegiatan ku, menyambut matahari yang akan terbit, sungguh indah aku menikmati keindahan ini hingga seseorang mengagetkan ku.
" Sepertinya kau menikmatinya " suara laki-laki yang ku kenal, aku menoleh ke asal suara dan benar itu Gibran
" He'mh, kau sudah bangun " jawabku dan bertanya ku
" Sudah makannya aku di sini, jika belum mungkin aku masih di kamar " jawabnya, aku tersenyum mendengar jawaban Gibran
Gibran berdiri di sampingku ikut menikmati matahari terbit, aku meliriknya sekilas nampak senyum di bibirnya dan dia menyadari kala aku meliriknya.
" Jagalah pandangan mu kasihan Wiliam jika sampai hatimu berpaling " asalnya berucap, aku hanya datar tak menjawab, dia pikir aku mudah tergoda laki-laki anda salah pak dokter
" Aku sedikit membutuhkan bantuan mu " datarku pandanganku terus lurus pada pemandangan indah di depan ku, Gibran menoleh namun aku tak bergeming
" Ripa'i sedang mencoba mengungkap sesuatu namun sayang dia sedikit ceroboh hingga kini dia terperangkap dalam mainannya sendiri " ucapku menjelaskan
" Nanti malam aku akan mengajak mu ke pesta seseorang " jawabku
" Pesta, tanpa undangan " ejeknya
" Untuk itu kau tak perlu khawatir, undangan itu akan datang sendiri ke sini " jawabku
Pembicaraan kami terhenti kala gadis kecil berlari keluar dia menatap ku dan tersenyum akupun membalas senyumnya, aku berjongkok guna mengimbangi gadis kecil itu.
" Bagaimana kabarmu gadis manis ?" Tanyaku namun dalam bahasa Inggris, namun dia menjawab dengan bahasa cina
" Aku baik bibi " jawabnya, astaga aku di panggilnya bibi namun aku tetap tersenyum
" Saat bibi tiba kau tak ada, kemana ?" Tanyaku dalam bahasa cina untuk mengimbanginya, aku duduk dan memangku nya. Dia bercerita darimana dia kemari sehingga aku tak melihatnya saat tiba di sini,dan saat dia kembali aku sudah di kamar dan ibunya melarangnya menemui ku.
Ko aku akrab dengan gadis kecil ini, tentu karena aku dan dia satu gen memiliki batin yang kuat untuk mengetahui sisi lain dari orang lain. Itu pertama kali aku sadari saat bertemu dengannya ketika Andi membawaku menemuinya 4 tahun yang lalu saat itu dia hanya bocah berumur 3 tahun namun kepintarannya sungguh luar biasa dan dia juga bisa langsung akrab dengan ku.
__ADS_1
Yun memanggil Shin Hye, nama yang aneh di telingaku namun jangan salah karena kalu dia ke negara ku namanya Dinda Kanya, nama yang cantik bukan, Shin pun menjawab panggilan dari sang ibu, Yun keluar dan mengajak kami untuk sarapan.
" Bagaiman rencana anda nona " tanya wira suami dari Yun, ya Wira asli indo namun karena mereka hidup hanya sebatang kara makanya Wira memilih mengikuti Yun ke Cina, namun jangan salah Yun saja mengikuti Wira berganti keyakinan kenapa Wira tak bisa mengikuti Yun toh hanya berpindah tempat.
Aku tidak menjawab namun tersenyum sangat manis membuat Wira menghentikan makannya
" Jangan tersenyum seperti itu,mengerikan " ucapnya
" Katakan " lanjutnya lagi, akupun kembali datar
" Aku membutuhkan undangan untuk masuk ke pesta yang di adakan perusahaan keluarga Cho " jawabku
" Siapa targetmu " datarnya dia paham betul dengan ku
" Gadis dari keluarga Cho, glenca aku tak tau nama dia di sini namun menurut kabar dia berdarah cina walau tinggal di Indonesia, dan dia sedang menyandra tunangan ku dengan ikatan bisnis keluarganya " jelasku namun mendapatkan senyum menjengkelkan dari Wira
" Ternyata kau sudah membuka hatimu gadis tengik " ucap seseorang yang baru masuk, aku cukup senang dia datang dengan begitu kombinasi yang dulu ada kini berkumpul kembali
" Kau disini " heran ku
" He'mh, aku langsung leading ke negara ini begitu tuan memberi tau kau kesini dan dalam masalah " ucap Hans aku tersenyum mengingat kembali sosok Andi
" Apa kabarmu gadis kecil " tanyanya seraya duduk di depan ku
" Aku bukan gadis kecil lagi yang dulu sering membuat mu kewalahan, kabar ku baik " jawabku
" He'mh, kau sudah besar hingga bertunangan pun tak mengabari kami " ucapnya, Gibran merasa heran melihat interaksi antara kami aku meliriknya dan dia bersuara
" Siapa kau sebenarnya?" Tanyanya heran
" Aku, hanya gadis sederhana yang tak tau apa-apa namun setelah mengenal mereka aku menjadi tau banyak tentang dunia " jawabku
" Tentang dunia, maksudmu ?" Tanyanya kembali bertambah heran
" Kau tau pak dokter, aku hanya gadis desa yang memiliki mimpi yang besar, sengaja ke ibu kota dengan bermodalkan ilmu yang ku miliki dan bertemu dengan orang-orang hebat seperti tuan Riandi laki-laki yang kita temui di bandara " jelasku namun Gibran masih keheranan
" Lalu mereka, bagaimana bisa kau mengenal orang di setiap penjuru dunia " tanyanya
" Penjuru dunia " ulang ku seraya tersenyum
__ADS_1
" Tidak juga, mereka orang yang pertama kali membimbing ku dan mengajariku, bukan begitu tuan Hans " ucapku sembari meminta persetujuannya dan dia mengangguk
" Sudahlah jangan ingin tau banyak tentang ku " datarku sembari memasukkan makanan ke mulutku