Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 82


__ADS_3

Selesai sarapan aku Wira dan Hans kembali mencari tau tentang keluarga Cho Gibran juga ikut bergabung, mendengar penjelasan Wira Gibran menyimpulkan jika gadis ini sikopat, dia juga mengenal glenca karena mereka pernah satu kampus namun berbeda jurusan.


Sesekali Hans dan Wira menggodaku tentang sejauh mana aku dan tunangan ku berhubungan, aku hanya menggelengkan kepala menanggapinya pasalnya sedari dulu aku yang selalu menggodanya karena sering kali mendapati Wira atau hans sedang mencumbu wanita yang dia sebut kekasih, sesekali Gibran tersenyum melihat kedekatan kami.


Seperti yang ku bilang usaha tak pernah mengkhianati hasil, mengingat usahaku dulu untuk bisa sejauh ini sangatlah melelahkan, namun hasilnya kini dapat ku rasakan bahkan tanpa aku duga orang-orang hebat berada di sampingku, jika mengingat dulu siapa lah aku ini, gadis kampung yang hanya mempunyai mimpi yang besar di tengah keterbatasan ekonomi bermimpi menjadi sarjana, namun siapa sangka berkat tekad dan keyakinan ku hanya bermodalkan ilmu aku mampu menjadi sarjana. sejatinya uang hanyalah jaminan namun tak ada uang maka ilmu lah jaminan dan keyakinan sebagai pendorongnya, mungkin bagi orang-orang yang memiliki uang mereka berpikir uang lah segalanya, bahkan dengan uang juga mereka bisa mendapat segalanya termasuk gelar, namun bagi orang kecil seperti kami ilmu lah yang menjadi jaminan, bagaimana ilmu itu harus bisa membuat kami sukses bahkan bisa mendapat gelar, bukan begitu.


" Aku bosan bisakah kita bermain-main " ajak ku pada kedua pria yang sudah lama tak ku lihat


" Kurasa itu akan menyenangkan, aku pun sama sudah lama tak menggerakkan otot-otot ku " jawab Hans


" Tapi aku mau bermain dengan senjata api " ucapku, mereka melihatku datar mungkin karena aku tak pernah mau menggunakan itu walau mereka sudah mengajariku


" Kau tak pernah menggunakan itu " Wira bersuara


" Apakah kemampuan tongkat dan pedang mu sudah tak menjadi andalan " ejek Hans aku tersenyum


" Tidak, hanya saja sedikit ku pelajari di negara ini mereka lihai dalam menggunakan senjata bukan begitu " jawabku


Tak ada lagi pertanyaan dan percakapan, akupun di ajak ke suatu ruangan. Masuk kedalam ruangan itu mataku berkeliaran mencari sesuatu namun tak ku temukan dan aku menemukan samurai aku memainkan itu. Gibran hanya duduk menyaksikan kami menggunakan pedang, Wira berhenti dan ikut duduk bersama Gibran.


Tak tau apa yang sedang mereka bicarakan namun setelahnya Gibran bangun dan ikut menyerang ku, kemampuannya sungguh hebat hingga membuat ku merasa lelah.


" Aku ingin menggunakan senjata api " datarku pada Hans karena dulu dia yang mengajari ku


" Kau sudah bisa menggunakannya, hanya saja ketakutan mu akan itu yang membuat mu merasa kalu kau tak bisa " jawabnya


" Bagaimana kabar tentang tuan, ku dengar dia akan segera menikah benarkah ada wanita yang bisa menaklukan hatinya selain kau " ucapnya bertanya


" He'mh, teman ku mbak Rena " jawabku


" Bagaimana bisa " tanyanya heran


" Tentu bisa, kau ingat waktu kita mengungkap jasad yang di awetkan ?" tanyaku


" He'mh " singkatnya


" Itu misi pertama ku, dan karena misi itu juga Andi dan mbak Rena bertemu, dan aku tak tau bagaimana kisahnya hingga mereka saling tertarik dan bertunangan " jelasku Hans hanya menganggukkan kepalanya


" Baiklah aku harus pulang dulu nanti ku kembali lagi, sementara belajarlah dulu dengannya " tunjuk ya pada Gibran, aku mengangguk dan tersenyum namun hatiku tak yakin dia bisa mengajariku.


Gibran memandangku datar, pandanganya tak bisa ku artikan.

__ADS_1


" Mau bermain dengan ku ?" Ucapku pada Gibran


" Boleh " singkatnya


Ntah dia bisa atau tidak, masa bodo yang penting aku harus berlatih kembali agar bukan sekedar bisa namun harus lihai dalam menggunakan senjata.


Aku membidik sasaran yang menurut ku tepat namun ternyata peluru yang ku tembakan meleset, Hinga aku merasa kesal sendiri.


Ku lirik Gibran yang baru datang ntah tadi dia kemana?, Aku tak tau!.


Dia tersenyum saat melihat sasaran ku tak ada yang hancur satupun.


" Bukankah tadi saat mau masuk ke sini aku mendengar bunyi tembakan, tapi ku lihat tak ada satupun sasaran yang hancur " ucapnya


" He'mh, karena aku hanya sekedar bisa, bukan lihai dalam menembak " datarku sedikit kesal bukan pada Gibran namun pada kemampuan menembak ku.


" Mau aku ajarkan ?" Tawarnya padaku


" Apa kau bisa " asalku


Dia mengambil pistol yang ada di tangan ku, dengan santainya dia mengarahkan pistol dan menembakkan nya.


Aku kagum tak ada target yang terlewat semuanya hancur, aku tersenyum melihat kemampuan menembaknya, mengagumkan.


Gibran mengajariku sampai aku merasa bosan, aku masuk ke dalam rumah karena tempat aku berlatih tadi bukan di dalam rumah, namun di tempat berbeda di belakang rumah.


Sesampainya di dalam rumah, aku hanya mendapati rumah yang kosong.


" Kemana Yun ?" Ucapku ntah bertanya pada siapa.


" Dia bilang akan kembali setelah urusannya selesai !" Gibran berucap, aku menoleh padanya dia tersenyum


" Lalu gadis manis ku ?" Tanya ku kali ini padanya.


" Dia di bawa mereka " jawabnya singkat, Gibran duduk di sopa sambil memainkan ponselnya, sedang aku berlalu ke kamar.


Di dalam kamar aku membuka kembali koper ku, mencari sesuatu yang ku simpan di sana, aku menemukannya dan menyimpannya dalam laci agar ketika aku mau memakainya, aku tak harus mencarinya lagi dalam koper.


Selesai dengan itu, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Ku rasakan kenyamanan di atas kasur, ku pejamkan mataku namun bayangan ripa'i datang, bayangan saat dia tersenyum manis dan hangat padaku. Bayangan saat dia tertawa, saat dia mencoba meyakinkan hatiku, dan yang membuat ku mengulas senyum adalah bayangan saat ripa'i memaksa aku untuk menjadi kekasihnya.


Seseorang mengetuk pintu kamar, aku membuka mata dan memeriksanya.

__ADS_1


" Maaf aku harus kembali sekarang !" Ucap Gibran saat pintu aku buka, aku menarik nafas.


'lalu dengan siapa nanti malam aku ke pesta' pikirku


" Apa terjadi sesuatu ?" Tanyaku, ku tau aku tak dapat menahannya, karena dia juga mempunyai tugasnya sendiri sebagai seorang dokter.


" He'mh, ayah memintaku untuk segera kembali " jawabnya dengan wajah tak enak.


" Pergilah " lembutku


" Maaf aku tak bisa membantumu, namun jika terjadi sesuatu segera kabari aku! " Ucapnya seraya tersenyum, akupun mengiyakannya.


***


Aku mengantarnya ke bandara, dan menemaninya di ruang tunggu penumpang.


" Jaga dirimu baik-baik, aku yakin William takdir mu yang tertulis di kehidupan ini, jadi dia akan kembali padamu! " Ucapnya sebelum pergi, aku hanya diam


" Aku pergi " lanjutnya, aku tersenyum untuk mengiyakan, dan dia pun pergi.


Setelah Gibran pergi aku pun kembali pulang, sepanjang jalan aku hanya termenung. Ntah kenapa hati ku sedikit terasa ngilu, bahkan ada perasaan sedih yang tak ku mengerti.


# hai # pesan ku terkirim pada anta, dan tak lam mendapat balasan


# he'mh, ada apa # anta


Membaca isi pesannya, sudah ku bayangkan wajah datar nya saat mengetik pesan itu.


# apa aku mengganggu mu ?" Balasku


# tida! Katakan ada apa ?" Anta


Sebenarnya aku tak enak meminta bantuannya, namun dialah yang sudah memahami ku.


# aku membutuhkan bantuan mu! " Balasku


# kau dimana ?" Anta


# cina # balasku singkat


Tak ada balasan lagi dari anta membuat ku sedikit lesu, bagaimana jika anta tak mau membantuku, haruskah aku meminta bantuan Andi, namun dia terlalu sering ku mintai bantuan, Julian tidak mungkin juga apa lagi Sem. Bukan tak ada teman lelaki, namun aku harus memilih orang yang pandai dalam segalanya, walau ku tau itu tak mungkin karena sejatinya tak ada kesempurnaan, yang artinya tak ada orang yang bisa segalanya.

__ADS_1


Akupun kembali bergelut dengan pikiran ku hingga notifikasi muncul kembali di ponsel ku ternyata notifikasi pesan.


# kirim alamat mu, aku sudah di bandara! # anta, seketika aku tersenyum membaca pesan itu.


__ADS_2