
Rinjani vov
Ini hari kedua aku berada di negara asing, ya dua hari lalu saat terbangun dari kamar ku, aku langsung berpamitan pada ibu dan bapak, namun tidak pada Abang ku karena mungkin dia masih tertidur.
Aku datang ke negara asing ini guna menemukan ripa'i, suamiku yang baru satu hari menyandang sebagai suami namun harus meninggalkan aku untuk mengurus masalah yang belum beres.
Menurut info yang aku dapat, ripa'i kini sedang berada di sebuah villa di tempat terpencil, entah apa yang tengah menimpanya, aku merasa sesuatu yang buruk tengah mengelilingi dirinya.
" Mereka sedang ada di sana " informasi yang ku dapat dari orang bayangan Andi.
Tak menunggu lama, aku segera Berangkat ke tempat yang sudah di beritahukan.
Tak sendiri, aku di temani orang-orang bayangan Andi.
Sampai di sana, kami langsung menerobos masuk, karena aku sudah tak dapat menahan kekhawatiran yang ada dalam hatiku.
Rasa takut yang teramat besar, entah takut akan apa aku sendiri pun tak tau.
Aku tau aku terlalu gegabah, tak mendengarkan kata-kata Andi yang berulang kali memintaku untuk menunggu sampai dia datang karena dia pun dalam perjalanan menyusul ku.
Sampai di gerbang besar yang menjulang tinggi, kami di sambut oleh tembakan peluru senapan, beruntung kami selalu siaga akan apa yang akan terjadi, jadi tak ada yang terkena tembakan satupun dari kami.
Tak tinggal diam, orang-orang yang ikut dengan ku pun mengeluarkan senjata mereka.
Adu tembak menembak pun terjadi, ada beberapa orang ku yang terkena tembakan namun tak fatal hanya terserempet Peluru yang melintas saja.
Tak dapat mendobrak gerbang dengan tendangan, mereka pun memanjatnya namun gagal hingga sebuah mobil meluncur yang beratnya bisa mengimbangi mobil patroli, sengaja di tabrakan pada pagar itu dan pagar berhasil di jebol.
Kami masuk, tak banyak yang menjaga tempat ini hingga aku memutuskan menerobos masuk untuk mencari ripa'i, biarlah yang di sini ku serahkan pada mereka.
Aku terus menyusuri setiap lorong villa itu, hingga, mataku melihat pemandangan yang tak sedap dari balik dinding kaca yang lumayan jauh jaraknya.
Aku berlari sekencang mungkin agar aku dapat menyelamatkan ripa'i, sampai di depan ruangan itu aku langsung mendobrak pintu, bersamaan pintu terbuka suara peluru di lepaskan pun terdengar.
Doorrr....
Aku mematung, tubuhku beku, pandangan ku kabur terhalang oleh cairan.
Aku tersadar saat sebuah tangan memegang kaki ku, aku melihat ke arah itu.
Ku dapati ripa'i yang sedang memegang kakiku, dan berusaha untuk bangun,
Dor.
__ADS_1
Lagi peluru di lepaskan, pistol itu mengarah padaku namun tak mengenai ku melainkan mengenai ripa'i, dia menjadi tameng peluru untuk ku, dan lagi dan lagi hingga ripa'i memuntahkan darah, namun aku masih saja terdiam membeku, hingga suara tembakan dari belakang ku yang berbicara barulah suara tembakan di depan ku berhenti.
" Kenapa? " Itu yang keluar dari mulutku entah apa makna itu namun aku ingin mengeluarkan kata itu
Aku menatap ripa'i yang batuk darah, dia tersenyum padaku kemudian Terjatuh namun berhasil ku tangkap, dan ku bawa dalam dekapan ku, aku pun duduk perlahan dengan ripa'i tetap di dekapan ku.
" Maaf,, maaf kan aku sayang ku " kata yang keluar dari mulutnya.
Aku tak sanggup berada di posisi ini.
Sedang wanita yang menembak ripa'i sedang tertawa lepas, ya, orang yang menembak ripa'i tak lain ialah glenca, dia tertawa seraya terus mengoceh.
" Abadi kau mau bersamaku, andai kau mau menyentuh ku walau sekali aku tak akan melakukan ini padamu " ocehnya seraya menangis entah apa yang ia tangsi.
" Bahkan dalam pengaruh obat pun kamu tak mau menyentuhku, dasar bodoh " racaunya kembali
Aku tak menanggapinya, aku memilih membawa ripa'i agar tak terlambat menyelamatkannya.
Orang Andi dengan sigap menggendong ripa'i dan membawanya ke dalam mobil, setelah aku masuk dia langsung tancap gas tak menunggu yang lain karena dia tau aku lebih membutuhkannya saat ini.
Ripa'i terus menggenggam tangan ku seraya terus batuk darah, membuat ku tak hentinya mengeluarkan air mata.
" Bertahanlah, aku mohon, bertahanlah " ucapku pelan seraya mencium keningnya
Dia tersenyum dan mencoba meraih wajah ku.
Aku semakin takut kala tangan ripa'i terasa begitu dingin, dengan hati teriris aku memberanikan diri mendekatkan wajahku guna memeriksa hembusan nafasnya, masih ada walau sedikit berarti dia masih bertahan, ku periksa juga denyut nadinya sangat lemah nyaris tak ada, aku coba berteriak membangunkannya agar tak menutup mata namun sepertinya dia terlalu lemah.
Dan entah mengapa aku merasa rumah sakit begitu jauh, dan itu menambah rasa takut ku.
" Tidak bisakah kau lebih cepat " bentak ku pada orang yang membawa mobi, dan hanya kata " maaf " yang ku dengar darinya.
Akhirnya kami sampai, dia langsung turun dan masuk dalam rumah sakit itu, tak lama datang beberapa petugas rumah sakit di ikuti orang yang mengenakan jas putih setengah berlari mendekati mobil.
Ripa'i di angkat, dan langsung di bawa masuk, namun belum masuk ruang UGD dokter menghentikan kami, dia memeriksa ripa'i, mulai dari nafas hingga denyut nadinya.
Aku tak suka kala dokter itu beralih padaku dan orang di samping ku, aku tak mengeluarkan suara hanya menggelengkan kepala kemudian dia berkata.
" Maaf, pasien sudah tak bernyawa " ucapnya yang menurutku itu sungguh kasar.
Aku menatapnya dingin
" Apa maksud anda "
__ADS_1
" Pasien sudah meninggal " ucapnya dengan nada sayup
Aku tersenyum getir, mendekat pada pembaringan yang terdapat tubuh ripa'i, memandangi tubuh itu kemudian memeluknya, sekuat tenaga aku memeluknya rasanya tak ingin melepaskannya.
Setelah itu aku tak tau apa yang terjadi, karena saat aku terbangun aku sudah berada di sebuah kamar dan di temani gadis kecil yang cantik, dia menatap ku iba.
" Kaka sudah bangun? " Tanyanya dengan nada mengemaskan
Aku hanya diam dan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi hingga aku berada di kamar ini, aku turun dari kasur dan langsung berlari keluar kamar, memastikan kalu yang aku alami tadi hanya mimpi berharap semuanya baik-baik saja.
Aku berlari menyusuri sebuah tangga, yang aku tau tangga ini berada di rumah bang herdi, apa aku tengah berada di sini.
Saat aku sampai di lantai dasar, ku dapati begitu banyak orang, mereka menatapku dengan iba.
Aku berjalan perlahan, dan aku menemukan semua keluarga ku juga ada di sini, aku terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan mereka, para sahabat juga teman ku juga ada, namun saat ini aku tak menghendaki mereka yang aku cari ripa'i.
Aku berhenti di depan keranda yang siap akan di bawa.
Air mataku menetes, rasa takutku kembali, apa yang aku alami benarkah bukan mimpi.
Ibu dan tth ipar ku mendekat padaku, mbak Rena juga ka nay, mereka merangkul ku.
" Sing kuat Jani, sing tabah " ucap ibu sembari mengelus punggung ku
Tak lupa juga ucapan dari yang yang lain namun tak ku hiraukan, bang herdi menatap ku, aku refleks memeluknya.
" Jani sedang bermimpi kan bang " isakku seraya berucap
" Ripa'i tidak akan meninggalkan Rinjani secepat ini kan, bahkan Jani belum menjalankan kewajiban Jani sebagai istrinya " racau ku.
Bang herdi hanya diam seraya mendekap ku dalam pelukannya, hingga suara dari seseorang menyadarkan ku
" Pak sudah waktunya jenazah di kebumikan " ucapnya dan aku langsung menoleh
Bahkan aku tak di ijinkan untuk melihat wajah suamiku untuk yang terakhir kalinya.
Sampai kembali dari pemakaman, air mataku tak henti mengalir, bahkan aku yang paling terakhir sampai di rumah bang herdi dengan dia yang menemaniku.
****
Hari berganti, dan terus seperti itu, dan aku masih betah di tempat, tak ingin berbuat apa-apa dan tak mau kemana-mana.
Aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau ripa'i meninggalkan aku secepat ini, bahkan usia pernikahan kami baru satu bulan, dan dia hanya satu malam dengan ku tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
# mohon maaf " kisah masa ku " sampai disini saja, kalau mau ada kelanjutannya di part2, kalau banyak yang minat baca aku up kalau gk ada ya, sampai di sini saja #
# terima kasih sudah bersedia membaca #