
Aku sudah mengisi formulir pendaftaran ku untuk masuk SMA, namun waktu masuk SMA ku masih lama jadi aku masih bermalas-malasan di rumah bersama Adik-adik ku.
Adik pertama ku dia tak melanjutkan sekolah, karna dia memang tak mau walau aku dan orang tua ku sudah memaksa, dan menjelaskan betapa pentingnya sekolah untuk masa depannya.
Sedang adik kedua ku melanjutkan ke sekolah SMP tempat aku sekolah dulu, sama ku juga disana, kebetulan sekolah ku lengkap ada SMP, SMA, juga mi nya.
" Pit, beneran mau sekolah di situ aja? " tanyaku.
" He'mh,biar bisa berangkat, dan pulang bareng sama tth. " jawabnya.
Aku pun tak bertanya lagi.
Banyak yang telah berubah di hidup ku, bahkan di keluarga ku. tth ku kini sudah cerai dengan suaminya, ia memilih bersama wanita lain meninggalkan kedua anak dan istrinya.
Dan pribadiku juga sekarang berubah. kalau dulu aku mudah berbaur, sekarang aku Lebih suka sendiri, dan sejak kejadian aku putus dengan pacar ku aku sudah tak mau lagi menerima siapa pun.
Ka Samsu terus saja meneror ku meminta jawaban atas pernyataan perasaannya, dia bilang dia sudah putus sama ojah, masa bodo aku ngga mau tau.
***
Hari ini kami datang ke padepokan pecak silat, bukan untuk belajar silat melainkan untuk melayat. ya melayat, guru silat kami baru saja berpulang ke Rahmatullah meninggalkan kami murid-muridnya yang menyayanginya dan masih membutuhkan bimbingannya.
Semasa beliau mengajari kami, beliau tak pernah bosan menasehati kami agar ilmu yang beliau ajarkan pada kami bermanfaat bukan hanya bagi kami saja, tapi juga bagi orang orang di sekitar kami.
" Jani balik bareng yuk! " ajak KK seperguruan ku, setelah kami selesai mengantar guru silat kami ke tempat peristirahatan terakhirnya.
" Duluan saja kak, saya bareng yang lain yang kebetulan satu arah. " tolak ku halus.
" Ya sudah, aku duluan kalau gitu " dan aku hanya mengangguk.
Kami pulang sama-sama bagi yang satu arah ,hingga kami terpisah secara bertahap, saat sudah sampe rumah, ibu ada di rumah karna hari ini beliau libur.
" Dari mana Jan? " tanya ibu saat aku masuk memberi salam.
" Pemakaman babeh Bu " jawab ku lemes.
" Babeh guru silat mu? " tanya nya lagi, dan ku anggukki saja, setelah nya aku pergi ke kamar ingin mengistirahatkan tubuh ku yang terasa lelah.
Tak lama ibu membangunkan ku Dari tidur ku.
" Jani si jaya nggak ada, kemana? " tanyanya padaku, padahal aku sendiri tak tau karena baru pulang juga.
Nurjaya, akrab nya jaya, keponakan ku yang kedua. karna ibu nya bekerja ke kota Tanggerang setelah ia bercerai dengan suaminya, maka dia dan tth nya di urus ibu ku.
" Atu nggak tau lah Bu, kan ibu liat tadi jani baru pulang langsung ke kamar. " jawab ku.
" Iin nya ada nggak, main kali sama Iin " lanjut ku.
Dan ibu pun berlalu dari kamar ku mungkin mau mencari adik dan keponakan ku itu.
***
Malam ini aku sedang memikirkan mantan ku, laki-laki yang selalu berbalas pesan bila ia sedang jauh dariku. sekarang tak pernah ada pesan masuk darinya, ku raih benda pipih di samping ranjang ku, tepatnya di meja belajar ku. meja belajar ku tepat di samping ranjang ku.
Kulihat pesan masuk lama dari mantan ku, karna aku belum menghapus pesan darinya bahkan namanya saja di hp ku belum ku ganti.
Berulang ulang ku baca pesan itu membuat ku merasa semakin tersayat, kemudian aku bertekad untuk menghapus pesan itu, semoga dengan menghapus pesannya aku juga dapat melupakannya.
Setelah putus darinya aku berniat mengembalikan hp yang ia beri padaku waktu itu, namun ia menolak. dia bilang anggap saja itu hadiah dan jadikan juga barang itu berguna begitulah tolak nya.
__ADS_1
***
Dua Minggu setelah guru silat kami meninggal, padepokan pun tak pernah di buka lagi karna tak ada yang melanjutkan untuk mengajari kami.
Malam ini semua murid berkumpul atas permintaan Kakak seperguruan, ku pikir di kumpulkannya kami untuk meneruskan padepokan dan membukanya kembali namun ternyata salah.
" Malam ini kita berkumpul untuk yang terakhir, karna padepokan akan di bubarkan. " begitulah pemberitahuan yang kami dengar.
" Kenapa tidak kakak-kakak saja yang meneruskan? " tanya teman satu angkatan ku, dan itu juga yang ada di benak ku.
" Itu tidak mungkin, karna kami juga sama masih belajar " jawab Kakak yang lain.
" Kami juga akan meneruskan pelajaran kami di padepokan yang lain, kalau mau silahkan bergabung " salah satu Kakak yang lain menawarkan dan hanya di anggukki oleh kami.
Aku hanya ikut mengangguk tanpa berniat ikut belajar lagi, karna ku pikir aku sudah akan masuk SMA jadi kemungkinan aku akan lebih memilih organisasi di sekolah saja, atau kegiatan sekolah yang lainnya.
Lama kami saling bercengkrama, kara ini kali terakhir kami berkumpul di padepokan. saat tengah asik mengobrol aku mendengar seseorang memanggil nama ku.
" Rinjani! " panggil nya, aku pun menoleh.
" Iya!! " saat aku menoleh, ku dapati ka Angga tengah melihat ke arah ku.
" Bisa bicara sebentar " pintanya, sebenarnya aku malas namun aku tetap menerima ia berbicara padaku sekedar untuk menghargainya.
Aku tau dia akan bertanya tentang teman ku Caca, ya! dia tau Caca, karna tak jarang teman ku menemani ku ke padepokan sekedar untuk melihat ku berlatih ilmu bela diri.
" Ya, katakan " cuek ku.
" Biasa aja mukanya, jangan jutek-jutek " candanya, aku hanya menggelengkan kepala.
" Caca apa kabar? " tanyanya.
" Kabar baik mungkin " asalku.
" Ya kan sekarang Caca jauh, dia kan kerja " cerocos ku.
" Kerja kapan, kerja dimana? " Tanyanya dengan muka tak percaya.
" Seminggu setelah pengumuman kelulusan, dia kerja ikut sama ojah dan Asiah "
Ya, setelah pengumuman kelulusan, minggunya Caca di jemput ojah. dia tak meneruskan sekolah dan memilih untuk bekerja.
" Oh pantes, ya sudah atuh, btw jani masih jomblo apa ada yang punya? " celetuknya, membuat ku menyerengitkan dahi.
" Canda, biasa aja dong mukanya " lanjutnya, aku pun tak menanggapi lagi ku tinggalkan saja dia, memilih menghampiri istri babeh dan berpamitan padanya setelahnya pada yang lain juga.
***
Seminggu sudah aku hanya di rumah, tidak ada kegiatan apa pun kecuali beres-beres rumah dan mengurus adik dan ponakkan ku.
Malam ini malam Senin, aku sedang mengemas barang-barang sekolah ku. aku tak membawa buku karna besok akan hanya dada MOS saja.
Pagi harinya, aku dan adik ku sudah bersiap dengan seragam MOS ku. aku belum memakai seragam sekolah karna belum boleh.
Aku sudah sampai di sekolah dengan adik ku,
" Jani! " ku dengar suara seseorang memanggil ku aku pun menoleh.
Ku dapati Rosiana, teman seangkatan ku hanya beda kelas waktu SMP, dan ada juga beberapa yang lain yang ternyata melanjutkan di sini juga.
__ADS_1
" Iya! " singkat ku
" Disini juga? " tanyanya, dia cukup berbaur orangnya tak pandang muka dengan siapa saja.
" Iya nih " jawab ku.
Tak lama bel sekolah berbunyi, kami di giring ke aula sekolah untuk menerima materi MOS dari kakak kelas kami.
Di ruangan itu kami di bagi menjadi beberapa kelompok, dan mempunyai 4 orang pembimbing.
Kelompok ku berjumlah 6 orang, 2 laki-laki, dan 4 perempuan. yang terdiri dari aku, Ros, yanah, dan Yuni, amin, dan anta.
Kami di suruh memperkenalkan diri, dan sekarang giliran ku. aku berdiri memperkenalkan diri, sedari tadi aku merasa risih dengan kakak kelas yang terus melempar senyum pada ku namun tak ku tanggapi.
Istirahat pun tiba, aku dan kelompok ku pergi bersama ke kantin sekolah kini uang jajan ku di tambah oleh ibu, lumayan lakh namun tetap aku hanya memakainya bila perlu.
" Rinjani, di panggil ka Jaka suruh ke ruang OSIS katanya " salah satu kakak kelas yang tadi menjadi pembimbing ku memberi tau ku.
Aku merasa enggan buat ke sana karna aku ingin ke kantin bareng teman-teman baru ku, namun aku tetap menemui orang yang menyuruh ku datang. sebelum menemui nya aku lebih dulu nitip air mineral pada teman ku.
" Min, boleh minta tolong nggak? " pinta ku.
" Boleh dong say, mau minta tolong apa? " walau dia laki-laki tapi gaya nya mirip perempuan, gemulai.
" Ni, nitip air mineral ya aku nggak jadi ke kantin " ucap ku lagi, sembari memberikan uangnya.
" Ok, pake uang ku aja ya say " katanya, jelas aku menolak karna merasa tak enak tapi dia tetap memaksa.
Dan mereka pun pergi ke kanti tanpa aku, sedang aku pergi ke ruang OSIS.
Perawakan ku cukup menggiurkan, kulit kuning Langsat, mulus, rambut sedikit bergelombang, tubuh tidak Kurus, tidak juga kerempeng. tinggi badan ku 165 cm, lumayan kan mata bulat, dengan netra coklat, hidung mancung, bibir tipis, bentuk muka seperti daun sirih, kalau kata orang di tempat ku mah begitu.
Aku sampai di ruang OSIS, oarang yang memanggilku juga ada di sana dengan beberapa teman nya, aku memasang wajah datar.
" Permisi! " sopan ku, dengan masih wajah datar ku karna aku kurang suka pada orang-orang di depan ku ini.
" Ia masuk, sini " pintanya, sembari menunjuk kursi kosong di sebelah nya.
Kursi itu tidak kosong tadi nya saat aku baru masuk, namun saat aku menyapa, orang yang menyuruh ku masuk menyuruh temannya berpindah tempat.
Aku berjalan maju dan duduk di kursi yang lain, karna aku tak mau dekat dengan orang yang tak membuat ku nyaman.
" Ada perlu apa kakak memanggil saya, bukan kah ini jam istirahat? " tanyaku.
Tak lama setelah aku bertanya seorang anak perempuan masuk, nampak nya dia Kakak kelas ku juga.
" Sayang! " panggilnya manja, aku merasa risih mendengarnya namun aku biasa saja.
Dia menghampiri salah satu laki-laki yang ada di kumpulan itu dengan manja nya.
" Sayang, ini pesanan kalian sudah ku bawakan " ucapnya, seraya menyerahkan keresek jajanan yang cukup lumayan banyak.
" Makasih sayang " kata laki-laki itu, dan dengan tak tau malunya sambil ******* bibir wanita itu.
Aku merasa risih, dan bangun dari duduk ku hendak melangkah keluar namun tangan ku lebih dulu di pegang seseorang.
" Mau kemana? Adik manis. " tanyanya, aku menghempaskan tangannya yang beraninya memegang tangan ku.
" Lepas kak saya mau keluar, saya pikir ada hal penting sehingga kakak memanggil saya kemari, tau nya hanya untuk menyaksikan mereka melakukan hal memalukan. " balas ku data.
__ADS_1
Orang yang bernama Jaka itu tersenyum,
" Ayolah, kenapa kamu bersikap seolah kamu tak pernah berciuman " dengan enteng nya dia bicara seperti itu.