
Aku panik kala mendapati Rinjani tak sadarkan diri bukan tertidur, aku terus mencoba membangunkannya, air mataku sudah membasahi wajah ku, aku takut, aku gemetar Rinjani tak memberi respon apa-apa,
" Aku mohon sadarlah, ku mohon Rinjani, buka matamu lihat aku disini aku ripa'i mu " ucapku seraya terus menggenggam dan menciumi tangan yang terasa dingin itu
Aku hancur sungguh hancur, aku takut kehilangan dia, aku takut kehilangan gadis yang selama ini aku lindungi, aku jaga segenap hatiku, sungguh aku sangat mencintainya,
Ku dengar dari arah pintu seseorang masuk
" Apa yang terjadi " suara Andi tak kalah paniknya dengan ku
" Sejak kapan Rinjani tertidur " tanyaku
" Ntah lakh, mungkin setelah ku tinggalkan, tunggu dulu darah " ucapnya,
Dua orang entah siapa mereka, sudah memeriksa keadaan Rinjani
" Denyut nadinya melemah, kami rasa sedari tadi lukanya terbuka kembali dan mengeluarkan banyak darah, kita memerlukan darah kembali " tutur orang yang memeriksa Rinjani,
" Astaga apa mungkin,,, ambil darah ku kembali " ucap Andi memberi perintah pada orang itu, namun orang itu menolak dia bilang Andi sudah banyak di ambil darahnya sebelumnya, sungguh aku tak menyangka Rinjani separah itu
" Maaf tuan Riandi kami tak bisa mengambil darah anda kembali, sudah terlalu banyak darah yg kami ambil tadi " ucap orang itu
" Apa golongan darahnya " tanyaku,
" Ab positif " ucap salah satu dari orang itu
" Ambil darah ku sebanyak yang kalian butuhkan untuknya " datar ku, semua pandangan tertuju padaku
" Lakukan " ucap Andi dan mereka pun segera bergerak,
Selama melakukan transfusi darah, mataku tak henti memandang wajah pucat Rinjani, sungguh aku tak mau kehilangannya bahkan jika bisa biar aku yang menggantikan sakitnya, rasanya hatiku tersayat melihat orang yang aku cintai terbaring lemah tak berdaya, apa lagi jika mengingat perjuangannya sampai sejauh ini, ku mohon jangan biarkan hal buruk terjadi padanya ku mohon tuhan,
" Yakinlah dia gadis yang kuat, aku yakin dia akan melewati masa kritisnya " datar Andi menenangkan aku
" Rasanya belum apa-apa aku telah gagal menjaganya " asal ku menjawab
" Jangan berkata seperti itu, aku tau bagaimana kalian saling menjaga, hanya karna aku lalai hari ini makannya semuanya terjadi maafkan aku ini salahku " balasnya berucap, dia juga sama khawatirnya dengan ku, dan dia juga terus menggenggam tangan Rinjani
" Jika sesuatu terjadi padanya apa yang harus aku katakan pada ibu dan bapak nanti " ucapku pelan namun ternyata itu terdengar oleh Andi
" Jangan sembarangan bicara kamu, gadis kecilku pasti kuat " bentak nya padaku, dapat ku pastikan sebesar apa kasih sayangnya pada Rinjani yang sudah dia anggap adiknya
Aku tak dapat mengistirahatkan tubuhku, ntah perasaan apa yang aku rasakan sedang waktu terus berjalan dan kini menunjukan pukul 3 subuh, alat transfusi darah belum di cabut itu artinya darah ku yang tersalur ke tubuh Rinjani masih belum cukup, bagaimana tidak begitu banyak darah yang berlumuran namun tak ada yang menyadari itu,
Saat sudah pagi pun aku masih memandangi wajah pucat itu namun tak pucat saat pertama kali aku melihatnya, Andi masih setia menunggu di sampingnya, jika tidak tau siapa dia mungkin orang akan mengira dialah kekasih Rinjani,
__ADS_1
Dua dokter yang memeriksa Rinjani datang, ya aku sudah tau kalau dua orang yang memeriksa Rinjani adalah seorang dokter yang bekerja dengan Andi bila dapat panggilan
Mereka memeriksa keadaan Rinjani,
" Bagaiman keadaannya " tanya Andi
" Ada sedikit perubahan, sepertinya dia terlalu lelah makannya belum memberikan respon apa-apa, apa perlu kita menggunakan obat itu " ntah percakapan apa yang sedang mereka bicarakan namun mendengar kata obat, otakku sedikit menerka obat apa itu
" tidak jangan pernah gunakan obat itu padanya " tegas Andi ntah obat apa yang mereka maksudkan
" Aku yakin dia gadis yang kuat, dia akan bertahan kita lihat saja sampai siang nanti jika masih belum ada perubahan kalian taruhan nya " datarnya
Transfusi darah sudah di cabut saat hampir menjelang jam 4 subuh, badan ku terasa lemah sekali Andi menyarankan agar aku istirahat saja biar dia yang menjaga Rinjani, namun aku menolak, aku ingin ketika Rinjani membuka matanya aku ada di sampingnya menemaninya, agar dia tau betapa khawatirnya diriku
" Ka ripa'i " suara yang ku kenal tak lain adiknya Rinjani Fitri dan kulihat di belakanganya ada Indri juga
Aku tersenyum padanya dan dia mendekat
" Kapan kakak datang?, loh tth masih tidur " ucapnya
" Semalam, kalau saja dia tidak datang tidak akan ada yang tau jika Rinjani kembali kritis semalam " bukan aku yang menjawab Fitri melainkan Andi
" Tth kembali tak sadarkan diri kenapa bisa ?" Paniknya seraya mendekat pada Rinjani
" Ntah lakh namun dugaan ku, ketika kau memeluknya dia meringis kesakitan, ku rasa pelukan mu tepat mengenai lukanya dan sebelum itu Rinjani mencoba bangun dan membuat luka yang sudah tertutup kembali terbuka " jelas Andi Pada fitri, sedang Indri, dia sudah meneteskan air matanya, mungkin karena melihat kondisi Rinjani seperti itu
" Aku tidak apa-apa, mungkin karna tidak tidur semalaman makanya badan ku lemah " jawabku
Aku melihat pribadi Rinjani pada Fitri, selalu terlihat kuat padahal ku yakin hatinya juga sama dengan ku, dia memandangi tth nya dengan raut muka datar sembari memeluk Indri, aku bangga pada mereka karna tak menyia-nyiakan kerja keras tth mereka selama ini.
Aku hanya bisa berbaring di samping Rinjani, seraya tersenyum memandangi wajah pucat namun tetap cantik, ntah bagai mana dia menjalani kehidupannya selama aku tak di sampingnya hingga dia bisa mengenal orang-orang seperti lawannya kemarin, aku tau dia pandai bela diri namun aku selalu khawatir, takut jika hal seperti ini terjadi
Sekilas pikiran ku mengulas masa-masa dimana aku menaklukan hatinya, sangat tak mudah butuh perjuangan hingga akhirnya dia mengakui ku di hatinya, bukan hanya karena dia gadis yang acuh terhadap perasaan para lelaki yang mencoba masuk dalam hatinya, namun karena dia memiliki masa yang tak mengenakan bila di ingat,
Tangan ku terulur mengelus wajahnya,
" Maaf aku belum bisa menjagamu dengan baik " ucapku seraya memandangi nya
Ku dengar suara ketukan pintu, dan masuklah beberapa orang, kalau tak salah mereka teman-teman Rinjani
" Hallo tuan " sapa seorang gadis padaku, aku hanya datar
" Apa keadaannya separah itu " tanya pemuda yang ku kenali, bagaimana aku tak mengenalnya dia pemuda yang mencoba masuk dalam hidup Rinjani selama aku tak disisi nya, tak lain Julian Draxler
" Kata Rian tth sudah melewati masa kritis nya dua kali, sekarang hanya tinggal menunggu tth siuman " Fitri yang menjelaskan
__ADS_1
Merasa sedikit tak enak berada di antara mereka, aku mencoba untuk bangun ingin meninggalkan tempat itu, namun ternyata tubuhku terlalu lemah walau hanya untuk berdiri
" Ka ripa'i mau kemana? Kakak masih lemah di sini saja " ucap Fitri
" Aku tak ingin mengganggu kalian " jawabku
" Tak perlu kemana-mana kami tak merasa terganggu " datar seorang gadis yang sikapnya sama seperti Rinjani,
Kadang aku bingung pada Rinjani kenapa dia berteman dengan orang-orang yang memiliki sikap yang sama dengannya datar jika pada orang lain, ntah kebetulan atau memang dia mencari teman yang seperti itu, atau karena merasa sama makanannya mereka berteman
Aku kembali membaringkan tubuhku, tak jadi meninggalkan tempat itu
" Bukankah kau bilang dia sudah sadar kemarin, makannya aku tak langsung kemari karena merasa lega saat menerima kabar darimu " ucap gadis yang tadi berbicara pada ku
" Ya semalam tth sudah siuman, tepatnya jam sepuluh malam kurang lebih begitu, jika benar karna aku memeluknya makanannya tth kritis kembali " jawab Fitri sedikit sendu
" Maksudmu " tanya pemuda bernama Julian
" He'mh aku sangat senang tth ku sudah sadar jadi aku memeluknya erat, aku tak tau jika pelukanku tepat mengenai luka yang baru basah kembali berdarah karna te Rinjani menggerakkan tubuhnya, tepatnya tth ingin duduk namun ternyata lukanya basah kembali " jelas Fitri
" Beruntung ka ripa'i datang dan langsung tersadar kalau tth ku bukan tertidur melainkan tak sadarkan diri dan kritis kembali, sungguh aku menyesal " lanjutnya
" Sudahlah yang penting sekarang Rinjani sudah baik-baik saja " lembut gadis tadi sembari mengelus punggung Fitri
" He'mh bener kata vera, kita tinggal menunggu dia sadarkan diri bukan " lanjut laki-laki yang satunya
Aku tau bagaimana perasaan Fitri adik yang sedari kecil dekat dengan tth nya itu,
" Rinjani,,!!!" Suara dari arah pintu, semua yang ada di situ menoleh, dia masuk dan menghampiri Rinjani di susul Andi di belakangnya
" Bagaimana bisa ini terjadi padanya mas, bukankah kau berjanji padaku akan selalu menjaganya " ucapnya, ku yakin pada Andi dengan air mata yang membasahi pipinya aku yakin dia juga merasa tak tega melihat Rinjani seperti ini
" Maaf " kata yang ku dengar yang keluar dari mulut Andi
" Rinjani bangun lihat mbak di sini, kamu bilang kangen pada mbak, mbak datang menemui mu buka matamu " ucapnya
Dia beralih melihat ku, aku memaksakan tersenyum
" Kamu disini ?" Tanyanya, aku hanya mengangguk
" Dan kamu kenapa ? Apa kamu terluka juga ?" Tanyanya, namun aku hanya diam rasanya aku hanya ingin memandang wajah Rinjani ku
Fitri mengajak teman Rinjani pergi dari kamar Rinjani entah kemana, sedang mbak Rena dia terus di sisi Rinjani dan menggenggam tangan Rinjani
Aku merasa semakin lemah, kepalaku terasa berputar, pandangan ku menjadi buram dan detik berikutnya aku tak sadarkan diri,
__ADS_1
Saat aku tersadar selang infus sudah terpasang di tangan ku, mbak Rena tersenyum kearah ku entah kenapa aku tak mengerti,