
Aku hanya diam sungguh aku tak mengharapkan ini, mungkin Vera sudah geram dari tadi dan terpaksa dia menunjukan sisi lainnya
" Jaga tangan anda nona jangan sampai melukai istri saya " geram ka Tio
Vera tak menggubris
" Tunggu " suara ripa'i menghentikan langkah ku
" Rinjani aku minta maaf sungguh ini di luar rencana ku, aku terbawa emosi melihat mu ingin memegang tangan laki-laki lain maaf " lirihnya namun aku di tarik kembali oleh Vera
" Tunggu " pintanya lagi
Namun aku tak peduli lagi semua berantakan
" Rinjani tunggu " suara mbak Rena mampu menghentikan ku
" Maaf kami terlambat, kami yang meminta ripa'i bersikap biasa saja sampai kami datang dan memberimu kejutan " jelasnya
" Dan yah aku terkejut " jawabku
" Rinjani percayalah ripa'i sudah menyiapkan lamaran untuk mu, ini pasti ada kesalahan " jelasnya lagi ku lihat ka nay mengangguk mengiyakan perkataan mbak Rena
" Lamaran, tuan pa maksudnya ini " tanya pemilik yayasan
Ripa'i berjalan menuju tempat MC
" Baiklah semuanya diharap tenang, dan maaf atas kekacauan ini " ucapnya
Akupun duduk di bangku yang sebelumnya ku duduki, dan yang lain juga duduk hanya ripa'i yang ada di atas sana
" Mungkin kalian bertanya-tanya siapa saya, kenapa saya bisa menyebabkan kekacauan ini akan saya jelaskan " ucap ripa'i sejenak ia menarik nafas
Tangan Vera tetap menggenggam ku, aku masih terisak di pundaknya
Julian juga menenangkan ku, sesekali ia meminta ku untuk berhenti menangis, namun hatiku tak bisa menahan rasa kecewa yang amat membuat ku perih dan sesak di dada
" Saya ripa'i Wiliam Wilson, saya yang menjadi alasan kenapa Dena Rinjani tak pernah melihat yang lain namun hari ini saya mengecewakannya maaf, " lirihnya
" Saya kekasih dari Dena Rinjani, kami menjalin hubungan sejak dia klas dua SMA dan sampai saat ini, awalnya hubungan kami normal seperti pada umumnya, bertemu jika rindu berjalan bersama jika ingin, berbagi cerita saat susah maupun senang, namun setelah saya menyelesaikan masa SMA saya lebih dulu karna Rinjani adik klas saya, saya harus melanjutkan pendidikan di luar negri seraya mengurus perusahaan ayah saya, maaf untuk ini Rinjani aku tak pernah cerita padamu, rindu yang dia rasakan saya juga merasakan, sepi dan hampa yang ia rasakan juga saya rasakan, namun sama-sama kami pendam hanya bisa melampiaskan melalu ponsel saja, kalian pasti bertanya apa saya tak ingin melampiaskan rindu itu pada gadis di sana?, Jawabannya tidak, karna tak ada yang seperti Rinjani ku, selalu menolak ku jika aku ingin memeluk nya bahkan hanya sekedar melampiaskan rindu saja, sungguh memilikinya umpan saya sejak dulu, jika saja tak mengingat mimpinya mungkin dari dulu dia sudah menjadi nyonya Wilson, namun karna saya menghargai mimpinya makannya saya hanya bisa menunggu hingga hari ini tiba " jelasnya
Ruangan sangat senyap bagai tak ada orang, aku pun sudah berhenti menangis mendengarkan penjelasan dia
Sungguh ku pikir dia mengabaikan ku, melupakan perasaannya pada ku juga janjinya
" Saat saya memasuki ruangan ini saya mencari sosok nya, saat saya lihatnya sungguh saya hampir tak dapat menahan diri ingin rasanya saya berlari dan mendekapnya dalam pelukan saya, namun saya tahan karna seseorang meminta saya untuk menahannya hingga waktunya tiba " jelasnya lagi, aku sedikit berpikir
'apa yang di katakan mbak Rena benar' pikirku, aku celingukan mencari mbak Rena ku lihat dia sedang tersenyum kearah ripa'i, sudah pasti ini rencana mereka
" dan karna itu, pertama kalinya dia merasa kecewa pada saya, maaf aku sungguh menyesal seharusnya aku biarkan laki-laki itu menyelesaikan acaranya, bukan malah terpancing seperti ini " ucapnya seraya sedikit kecewa
" Dena Rinjani bisakah kamu ke sini sebentar " pintanya, tangan Vera menahan ku mungkin ia menghawatirkan aku
__ADS_1
Mbak Rena dan ka nay menghampiri ku, dia meminta Vera melepaskan aku, ka nay dan mbak Rena membawaku ke atas podium
" Terima kasih " ucap ripa'i ntah pada siap, pada ku atau ka nay dan mbak Rena yang sudah membawa ku
" Rinjani maaf mengecewakan mu, Dena Rinjani aku ingin tempat ini menjadi saksi kala aku melamarmu, " ucapnya, aku hanya datar dan itu membuatnya tersenyum, senyum itu senyum yang selalu ku rindukan
" Dena kamu sudah berjanji tidak akan menolak ku jika waktunya tiba, jadi maukah kau menerima lamaran ku " ucapnya, ntah mengapa rasanya sulit sekali menahan air mata ku ntah bahagia atau kecewa yang yang kini ada di hati ku
Aku mencari sosok ibu ku, saat ku temukan ia sedang tersenyum menatapku, aku menatapnya meminta jawaban seolah ibu ku mengerti ia mengangguk pelan, aku tersenyum
Melihat senyum di wajahku tanpa menunggu jawaban ku ripa'i langsung menggapai tangan ku dan memasangkan cincinnya di jari manis ku
Ka nay memelukku dengan bahagia nya, tadinya ripa'i sudah mendekat ku yakin ia akan memelukku namun lebih dulu ka nay
Aku tersenyum memandangi ripa'i dalam pelukan ka nay, mbak Rena ia memelukku juga, setelahnya Julian, Sam, Ros, Vera dan Vika juga yang lainnya menghampiri ku memberi ucapan selamat, gila serasa udah ada di pelaminan saja
" Ternyata ini alasan kamu selalu mengacuhkan aku " ucap Julian seraya memaksa tersenyum, aku mengangguk pelan
" Selamat ya, aku pikir kamu menolak yang lain hanya karna fokus pada pendidikan, taunya sedang menunggu " celetuk pika, setelahnya nyengir
" Maaf tuan, saya menampar anda, beruntung hanya tamparan jika tida mungkin kalu samurai saya di bawa saya tidak yakin anda akan selamat " lanjut Vera, ntah mau minta maaf ntah masih menumpahkan kekesalannya, namun bukan ripa'i jika tak tersenyum menanggapinya
" Sepertinya kamu di jaga orang-orang hebat dimana pun kamu berada " celetuk ripa'i, aku hanya tersenyum
Semua sudah turun dari podium dan para petinggi universitas juga memberi selamat pada kami
Saat hendak keluar ruangan itu, tiba-tiba seseorang berlari ke arah ku karna tak menduga aku tak melakukan persiapan
" Hallo ripa'i apa kabar, ku dengar dari orang ku kamu sudah pulang ke kota ini " ucapnya ripa'i hanya datar
Ku lihat semua sudah di amankan, karna sempat terjadi kepanikan, semua di larang keluar ruangan itu pintu pun dijaga dua orang laki-laki berbadan tegap dengan stelan jas hitam nya
" Hai gadis kampung " sapanya kearah ku
Dia berjalan mendekatiku, dan mencengkram wajah ku namun aku hanya bisa saja
Melihat tak ada xpresi apa pun di wajah ku ripa'i menyingrai
" Kamu pikir gadis ku wanita lemah " ucapnya seraya mengejek
" Sungguh kah kamu tak takut " gertak gadis di hadapan ku
Sepertinya perkelahian akan segera terjadi padahal tubuhku sangat lelah
" Kalu begitu bunuh dia " ucap gadis itu lagi
Tangan ku semakin kuat di pelintir ya aku sedikit meringis
Ntah karna apa pika replex menendang senjata yang di todongkan pada ku beruntung kami memakai jins hanya saja ribet dengan bajunya
Aku pun mengambil kesempatan itu, aku membalik posisi kini laki-laki itu yang menjadi tawanan ku
__ADS_1
" Aku tak atu apa masalah mu dengan ripa'i tapi tak harus melibatkan ku " kesal ku
" Masalah ku ripa'i tak mau menerima ku karna mu " kesalnya
" Habisi dia " titah gadis itu dia malah menjauh
Orang yang dia bawa cukup banyak, hingga pika dan Vera ikut membatu Sam dan julian juga, namun ripa'i, Andi maupun ka tio hanya duduk saja
Para petinggi universitas sudah di aman kan di bawa ke tempat paling pojok karna tak bisa keluar dari ruangan itu,
Perkelahian terjadi di ruangan itu
Vera kesulitan tanpa samurainya sedang pika dia nampak lihai, Julian dan Sam jangan di tanya mereka sudah berhasil membuka pintu karna yang menjaga tadi ikut bertarung dan sudah terkapar
Semua di giring keluar oleh Ros Karana berbahaya jika tetap di dalam, sedang keadaan di dalam sudah berantakan
Aku hanya tak habis pikir dengan wanita ini, siapa dia sebenarnya, mengapa sampai segitunya dengan ripa'i,
Saat sedang fokus pada perkelahian aku tak sadar ada beberapa yang harusnya aku waspadai, hingga hampir saja belati runcing mengenai tubuhku jika Andi tak menarik tangan ku untuk menghindar
" Terima kasih " ucapku setelah menyadari bahwa aku hampir celaka
" Jangan terlalu fokus pada perkelahian dan menjadi lengah, ingat bisa saja kelengahan kita menjadi masalah atau bisa lebih fatal dari itu " jelasnya santai
Semua sudah selesai karena orang suruhan gadis itu semua sudah terkapar, kulihat para sahabat ku saling melempar senyum kala perkelahian usai
Ripa'i menghampiri gadis yang mengarahkan belati itu pada ku, aku tak tau kalau belati itu miliknya jika ripa'i bersuara
" Kamu kelewatan, berani sekali kau ingin melukai wanita yang ku sayangi " gertaknya, walau nadanya pelan ku tau tersimpan kemarahan
" Jika bisa aku akan melenyapkannya " jawab gadis itu
Sungguh ada yang tak beres dengan gadis ini, tak mungkin jika itu hanya obsesinya terhadap ripa'i
Ku lihat luapan emosi di wajah ripa'i, namun ia berusaha meredamnya dengan memejamkan mata
" Pergilah, dan jangan pernah mengganggu aku bahkan Rinjani " datar Pai
" Aku Takan pernah puas dan akan selalu mengganggunya jika di beri kesempatan aku akan membunuhnya " gadis itu semakin memancarkan amarah
Dia menatap benci pada ku, mungkin dulu ku pikir ia membenciku karena ripa'i, tapi kali ini aku melihat hal lain
Selama ini aku selalu melihat banyak kebencian dari pada gadis yang menaruh cemburu dan aku sudah hapal dengan sikap itu, namun yang kulihat dari gadis ini bukanlah seperti itu, ini benar-benar murni kebencian yang sangat besar
Aku menghampiri gadis itu, penasaran kenapa dia bisa menyimpan kebencian itu untukku
" Katakanlah " datar ku
Ripa'i menatap ku mungkin ia tak mengerti dengan maksudku
" Apa maksud mu " tanya ripa'i
__ADS_1
" Dia tidak membenci ku karna dia benar-benar ingin memiliki mu namun ada hal lain " jelas ku, ku lihat gadis itu tersenyum miring