
Bukankah aku salah satu wanita yang bisa di kategorikan beruntung, karena sudah di pertemukan dengan seorang laki-laki yang memiliki hati sabar dan pengertian.
Mendengar kata-kata ripa'i yang seperti itu, otak jail ku muncul, aku tersenyum menelisik padanya, mencoba menggoda dengan senyuman itu kemudian berkata.
" Benarkah kau tak akan langsung menyentuhku? " Godaku dengan senyum licik
Ripa'i mengerutkan dahi dan sedikit menjauhkan diri dari sisiku, entah apa yang dia pikirkan tentangku sekarang.
" Baiklah jika begitu, kamu yang mengatakannya, jadi! aku harap dalam waktu 3 bulan setelah pernikahan kau Takan menyentuhku " ucapku kembali kala hanya mendapati ripa'i yang hanya diam saja dengan wajah bingungnya.
" Apa maksudmu? " Suaranya bertanya
" Tidak ada, sudahlah aku malas membicarakan itu, yang jelas aku sudah membuka jalanmu jika berniat memperistri ku maka lakukanlah sebelum aku berubah pikiran kembali " ucapku padanya halus.
Tak ingin terus membuat ripa'i merasa bingung akupun menyudahi pembicaraan ku tentang itu, aku kembali bermain dengan ponselku cukup lama, merasa heran karena ripa'i tak bersuara aku meliriknya.
Dia sedang sibuk dengan laptop yang dia bawa, ingin melirik pada layar laptop itu namun layarnya terhalang tangan ripa'i, maka akupun kembali berfokus pada ponselku.
Aku melirik ke arah pintu yang di buka dari luar, seseorang masuk, ternyata dokter yang menangani kakak ku.
Aku bangun dari duduk ku, namun tidak dengan ripa'i dia masih asik dengan laptopnya.
Dokter itu melirik ripa'i dan tersenyum samar kemudian dia beralih melihat ku.
" Nona pak dedih sudah sadarkan diri, mungkin kami akan memindahkannya ke ruang rawat besok " ucap dokter itu
" Apa saya bisa menemuinya? " Tanyaku
" Tentu! Mari saya antar " ramahnya.
Sikap ramah yang dokter ini tunjukan membuatku sedikit heran, pasalnya saat kemarin aku mendatanginya dia seperti batu, begitu angkuh, namun hari ini kenapa sikapnya begitu lembut.
Tak ingin memikirkan itu akupun berpamitan pada ripa'i ya walau dia tak merespon ucapan ku.
" Pai, aku akan menemui Abang, kau disini saja " ucapku, sungguh tak ada kata yang keluar dari mulutnya namun aku yakin dia mendengar hanya saja mungkin dia sedang fokus saja pada sesuatu yang sedang dia kerjakan.
Aku keluar dari ruangan itu, dan mengikuti dokter yang menuntunku ke kamar ICU.
Sampai disana.
Aku melihat kakak ku yang sudah membuka matanya, dia tersenyum padaku. Sungguh saat ini aku sedang menguatkan diri agar tak mengeluarkan air mata.
" Abang sudah sadar! " Ucapku, dan kakak ku hanya mengangguk
" Apa sakit? " Tanyaku, dan di jawab oleh gelengan kepala olehnya.
Aku tersenyum kembali, dan dia juga tersenyum padaku.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan anda pak, sudah lebih baik? " Dokter yang dari tadi di samping lain kakak ku bersuara.
Kakak ku menjawab dengan anggukan mungkin tubuhnya terlalu lemah.
" Baiklah kalu begitu, saya akan mengecek keadaan bapak lagi nanti, saya permisi " ucapnya kembali dan langsung menuju pintu setelah kakak ku mengangguk.
Dia bersuara kembali sebelum benar-benar meninggalkan kami.
" Nona! Jangan terlalu lama agar pasien bisa beristirahat kembali " ucapnya setelahnya benar-benar keluar ruangan.
Setelah dokter itu keluar, aku memandangi tubuh kurus yang ada di hadapanku, rasanya seperti bukan kakak ku. Jika saja aku tau kesakitan kakak ku lebih awal mungkin semuanya takan sampai seperti ini, sangat menyedihkan.
Bertahun-tahun aku mengumpulkan banyak uang untuk menopang hidup keluarga, namun kenapa keadaan kakak ku sampai seperti ini dan dia tak memberi tahuku, apa dia pikir aku mencari uang hanya untuk diriku sendiri.
" Jangan menangis! " Lembutku berucap, saat ku lihat cairan bening keluar dari ujung mata kakak ku.
Lama aku di ruangan kakak ku, hingga ku dengar pintu dibuka.
Aku dan kakak ku menoleh, ternyata ripa'i dan dokter yang menangani kakak ku.
Ripa'i mendekat, dia berdiri di sampingku mencium tangan kakak ku dan tersenyum.
" Cepatlah sembuh bang, agar Pai bisa menjadikan Rinjani halal ripa'i " ucapnya, kakak ku memandang ripa'i bingung hingga ripa'i berucap kembali
" Rinjani bilang setelah Abang sembuh, dan keluar dari sini aku boleh menikahinya! " Ucapnya seraya di barengi senyuman, aku hanya diam saja saat kakak ku melihat ke arahku.
Dokter yang bersama ripa'i tadi sudah pergi dari tadi, hanya tinggal kami.
Kurasakan ketulusan ripa'i untuk keluarga ku sejak dia dan aku masih sekolah, walau dia lebih banyak diam namun hatinya hangat, walau dia tak banyak bertemu keluargaku namun dia selalu mempedulikan mereka, bahkan dia selalu membantu keluarga ku juga para sahabatku, bukan karena dia mencintaiku namun karena itulah sipat aslinya yang tak banyak orang tau, mungkin hanya aku dan bang Herdi yang paham ripa'i.
Sampai sore hari kami masih di ruangan itu, tak sedikitpun ingin meninggalkan ruangan itu, menemani kakak ku itu yang aku inginkan, aku takut ketika aku meninggalkan ruangan itu kakak ku membutuhkan sesuatu dan aku tak ada di sana untuk membantunya.
Saat ini kakak ku sedang terlelap terlihat tenang dalam tidurnya, itulah yang aku inginkan. Aku ingin seluruh anggota keluargaku merasa tenang, Dami, baik-baik saja, maka itu akan menjadi kedamaian juga untukku.
Ponselku bergetar cukup lama menandakan ada panggilan masuk, karena aku hanya mengaktifkan mode getar saja, ku pikir jika dengan nada di ruangan ini akan mengganggu.
Ku lihat nama pitri yang tertera di layar ponselku maka segera ku angkat panggilan itu.
" Di ruang ICU " jawabku setelah pitri selesai bertanya
Tak ada lagi suara di sebrang telon, ku lihat layar ponselku ternyata panggilan sudah di putus.
Seseorang mengetuk pintu dan setelahnya masuk, aku tersenyum saat ternyata pitri yang masuk, dia mendekat pada kami dan menajamkan pandangannya pada orang yang sedang berbaring di pembaringan.
" Kenapa tak memberi tahu yang lain? " Tanyanya setelah selesai menelisik tubuh kak dedih.
" Kau juga pasti tau jawabannya " jawabku datar.
__ADS_1
" Baiklah! Sebaiknya kakak pulang dulu, biar pitri yang berjaga disini " ucapnya
" Aku akan tetap di sini, dan aku kan memintamu untuk membawakan pakaian untukku " ucapku
" Maaf pitri tak membawanya, sengaja biar kakak pulang dan beristirahat dulu " ucapnya
Ripa'i keluar dari kamar mandi, karena saat pitri datang dia sedang di kamar mandi.
" Ka ripa'i " kata yang keluar dari mulut pitri saat dia melihat ripa'i, namun dengan nada datar.
Ripa'i hanya tersenyum menanggapi pitri.
" Kapan kakak datang? " Tanyanya pada ripa'i
" Semalam! " Singkatnya menjawab
Tak ada lagi yang di tanyakan pitri pada ripa'i, ku lihat sekilas wajah heran sempat nampak di wajah pitri namun aku tak menghiraukan.
" Benar kata pitri, sebaiknya kamu pulang dulu dan beristirahat " lembut ripa'i berucap padaku, aku memandangnya memintanya agar tak mengiyakan ucapan pitri namun dia malah tersenyum dan mengacuhkan.
Aku tak membantah, akupun pulang di antar ripa'i, tadinya aku memintanya untuk tetap bersama pitri namun pitri menolak, dia bilang lebih baik ripa'i mengantar ku dari pada bersamanya.
Di tengah perjalanan pulang, ripa'i menepikan motornya, ya saat ini ripa'i hanya membawa motor lamanya mungkin sebelum kemari dia mengambil terlebih dahulu di tempat bang herdi.
" Kita makan sebentar boleh? " Tanyanya datar
" Eemmm " singkat ku menjawab
Kami pun makan di tempat yang ripa'i sarankan, hanya di pinggir jalan.
Saat sedang menunggu pesanan datang tiba-tiba ripa'i tersenyum.
" Kenapa? " Tanyaku
" Tidak! Hanya saja aku teringat saat pertama kali kamu mengajak ku makan di pinggir jalan " jawabnya
" Lalu " heran ku
" Saat itu kamu terlihat lucu, seolah ragu mengajakku namun tetap mengajak " jelasnya
" Ya! Ku pikir kamu tidak suka makan di tempat seperti ini " ucapku
" Kau pikir dulu aku seperti apa, saat pertama kali kamu mengenal ku " tanyanya seraya menatap ku dengan tersenyum
" Biasa saja " jawabku
" Maksudmu? " Tanyanya dengan menyudahi senyumnya
__ADS_1