Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 124


__ADS_3

Sampai disana ternyata teh Rinjani masih tidur dan sedang di bangunkan oleh tth ipar kami istri dari kak Dedi.


" Apa teh Rinjani sudah bangun? " Tanyaku pelan


" Sudah " yang menjawab teh Rinjani, dia merasa bengong melihat ku berpakaian senada dengan tth ipar kami dan dia tersenyum.


" Apa tth mau pergi dengannya? " Tanyanya pada tth ipar


" Eemmm " singkatnya menjawab pertanyaan teh rinjani


" Oh, kemana? " Tanyanya kembali


" ke Pernikahan " singkatnya lagi menjawab


" Pernikahan siapa? Kenapa aku tak tau ada yang menikah " herannya bertanya


Ingin rasanya ku jitak kepalanya, namun aku tau itu bukan salah ya jadi aku hanya diam biar tth ipar kami saja yang menjelaskan.


" Pernikahanmu! " Jawab tth ipar telak, teh Rinjani hanya diam mungkin dia sedang mencerna maksud dari ucapan tth ipar


" Bercanda ya, kan masih dua Minggu lagi " Elka teh Rinjani


" Tidak Rinjani, kemarin ripa'i mendangi keluarga kita agar mempercepat pernikahan kalian " jelas tth ipar


" Kemarin, ripa'i, bukankah dua hari lalu dia masih di luar negri dan belum kembali " herannya kembali bertanya


" Tidak. Dia bilang kalau kau memiliki keraguan atas pernikahan yang akan kalian jalani, maka dari itu dia meminta kepada keluarga agar mencari tanggal dan hari kembali dan guru ngajimu mengatakan hari ini tanggal dan hari yang baik walau tak sebaik hari yang sudah di tentukan sebelumnya namun masih bisa melaksanakan di hari ini juga " jelasnya


" Apa kalian tak menganggap ku " kata yang keluar dari teh rinjani dan aku tak menduga itu


" Maaf, tapi saat itu kamu sedang tak ada di rumah dan ripa'i meminta kami untuk tak memberi tahukannya padamu " jelas tth ipar

__ADS_1


Aku merasa ini akan menjadi masalah jika bukan ka Ripa'i sendiri yang menjelaskannya, bagaiman pun juga apa yang di katakan teh rijani itu benar, Solah kami tak menghargainya karena tak meminta pendapatnya terlebih dahulu, tak mau sesuatu terjadi aku keluar dari rumah itu untuk mencari Kak Dedi agar bisa memberi penjelasan pada teh Rinjani, dan kebetulan ternyata ka Ripa'i dan kakaknya sudah sampai berikut dengan penghulu yang mereka bawa.


Aku mendekati ka Ripa'i dan membisikan sesuatu padanya, dia langsung paham dan bertanya dimana sekarang teh Rinjani sekarang dan langsung ketempat yang ku beritahu, tak ku sangka ternyata gelagat ku terbaca oleh ka Dedi, dia mendekatiku dan bertanya ada apa, ku katakan saja yang sebenarnya dan kakak ku pun ikut menyusul ka ripa'i setelah memintaku mengurus semua yang ada di sini.


Aku tak tau apa-apa lagi, aku hanya bisa berharap semuanya akan berlangsung sesuai harapan.


***


Rinjani vov


Aku dibangunkan Kaka ipar ku saat sudah pagi menjelang, ku lirik jam didinding menunjukan pukul 7 pagi lewat beberapa menit.


Aku masih dalam keadaan setengah sadar karena jujur aku masih merasakan kantuk di mataku namun karena tth ipar sudah membangunkan takut ada yang penting jadi aku pun memaksakan bangun.


Saat aku membuka mataku lebar, aku menatap heran pada tth ipar ku yang sudah rapih mengenakan kebaya muslimah sangat anggun dan cantik, merasa sedikit tak yakin aku mengucek mata namun bertambah heran setelah membuka mata kembali, pasalnya bukan hanya tth ipar namun pitri juga mengenakan kebaya yang senada dengannya, tentu aku langsung bertanya hendak kemana mereka sepagi ini, dan mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari mereka.


Tth ipar bilang kalu dia kan menghadiri pernikahan dan itu pernikahan ku, ku pikir itu lelucon, sebelum aku menikah ku pikir tth ipar ku ingin mencandai ku, namun setelah Mendengar penjelasannya aku merasa kecewa, bukan apa! Hari ini aku akan menikah dan aku tak tau soal ini, apa-apaan, apa mereka pikir aku sebuah lelucon yang bisa mereka mainkan, dan lebih yang membuat aku tak habis pikir ternyata ini semua ripa'i yang merencanakan, bahkan dia sudah kembali namun tak memberi tahuku, taukah dia bagaimana aku menahan kekhawatiran padanya yang tak ada kabar selama dua hari ini.


Kulihat pitri keluar kamar mungkin dia tak bisa menjelaskan apa-apa dan memilih untuk pergi.


Tth ipar meninggalkan ku seperti yang ku pinta, sebelum dia benar-benar pergi dia membelai rambutku sebentar dan tersenyum padaku.


Aku ingin menangis namun tak bisa, menjerit lun ku rasa tak berguna, entah aku merasa kecewa atau apa aku tak tau yang jelas saat ini aku membutuhkan penjelasan dari ripa'i.


Kudengar suara pintu diketuk, karena pintu tak tertutup aku langsung bisa melihat siapa yang mengetuk saat menoleh pada pintu.


Ternyata ripa'i, dia hanya diam memandangiku, dan aku tak tau harus berkata apa rasanya lidahku berat untuk bersuara mulutku susah untuk terbuka.


Ripa'i mendekat padaku, aku menelisik pakaian yang dia kenakan sangat rapih dan terlihat cocok untuknya.


Ripa'i duduk di samping ku dan menatapku dengan dingin, apa-apaan ini bukan ini yang aku inginkan, aku membalas tatapan itu tak kalah dinginnya, namun dia malah tersenyum melihat tatapanku yang jika teman ku yang bilang itu tatapan membunuh.

__ADS_1


" Kenapa? Apa kamu marah padaku? " Ucapnya dengan lembut dengan tetap mempertahankan posisinya hanya wajahnya saja yang dia hadapkan padaku


" Apa aku salah?" Ucapnya kembali dan itu membuatku merasa kesal, apa benar dia tak merasa bersalah padaku dengan tek memberi tahuku tentang semua ini


" Bicaralah Dena Rinjani, jika memang benar kau marah maka keluarkan lah, lampiaskan itu padaku jangan pada yang lain " bujuknya


Aku masih enggan untuk membuka mulutku entahlah rasanya sangat sulit untuk kali ini.


Ripa'i berdiri dan kemudian berlutut di hadapan ku sedang posisiku masih sama, duduk di tepi ranjang milik keponakan ku.


Mulutku ingin mencegah ripa'i melakukan itu namun tak mampu untuk terbuka rasanya sangat berat, tanganku pun enggan untuk ku gerakan, aku memalingkan wajah saat ripa'i menatapku lekat rasanya kali ini aku tak suka tatapan itu.


Ripa'i meraih kedua tangan ku, dan menaruhnya di keningnya tepatnya dia membungkuk, seketika hatiku tersayat akan hal itu, sakit rasanya melihat ripa'i melakukan itu karena aku berpikir betapa egoisnya aku karena lagi-lagi membuat ripa'i selalu seperti ini.


" Dengarkan aku kali ini saja, tolong jangan marah padaku, dan jangan batalkan pernikahan ini aku mohon, aku tak tau aku akan selamat atu tidak dan akan di beri kesempatan atau tidak untuk mengucapkan ijab qobul denganmu, jadi aku mohon berikan aku kesempatan itu, karena aku hanya ingin menikahimu bukan yang lain " ucapnya padaku


Mulutku terasa berat nun hatiku tidak, karena sepenuhnya aku percaya padanya, tak mungkin dia akan mengambil keputusan yang bisa membuatku marah jika tak ada alasan yang pasti.


Air mata ku menetes dengan sendirinya tak tega melihat ripa'i seperti ini.


" Bangunlah " ucapku seketika ripa'i langsung memandang ku, menatapku dengan lekat seolah mencari sesuatu di balik tatapan ku, aku tak memalingkan wajahku kembali membiarkan ripa'i menemukan jawaban dari tatapan itu.


Ku tau seseorang memperhatikan kami namun enggan untuk mendekat.


" Jadi, apa kau akan membatalkan pernikahan ini? " Tanya ripa'i padaku dengan hati-hati


" Apa kau menginginkan itu? " Bukan menjawab namun aku malah bertanya kembali padanya


Seseorang yang dari tadi memperhatikan kami mendekat, dan ikut bersuara.


" Maaf Abang tak memberi tahukannya padamu, Abang tau kamu kecewa pada kami namun asal kamu tau semua ini yang terbaik yang sudah digariskan untuk mu, sadarkah kamu sudah berapa lama ripa'i menunggu mu dan kamu terus menolaknya namun dia tetap terus teguh untuk tak menggoyahkan hatinya pada yang lain, sadarkah kamu berapa banyak kamu telah mengecewakannya namun dia selalu tetap berjuang untuk mu, bisakah kamu menghargai keputusannya kali ini, Abang yakin kamu lebih mengenal dia dari pada Abang, namun semua Abang serahkan padamu apapun keputusanmu Abang harap kamu tak akan menyesalinya di kemudian hari " panjang kali lebar Kaka ku menjelaskannya padaku, dan tak lama setelah Abang berucap tth ipar datang, dan membawakan sebuah baju yang dapat ku pastikan itu baju pengantin.

__ADS_1


" Jika Jani ingin melanjutkan pernikahannya pakai ini, kami akan menunggu di luar. tapi jika dalam lima menit Jani tak keluar kamar kami anggap Jani membatalkan pernikahan ini " ucap tth ipar tak banyak bicara namun pasti


Tth ipar mengajak suaminya dan ripa'i keluar kamar membiarkan aku seorang diri.


__ADS_2