Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 118


__ADS_3

Saat aku keluar kamar pasien itu, dokter tadi sudah menungguku, dia melihat ku menelisik ku, seolah yang aku katakan kebohongan.


" Sebenarnya, mereka siapa anda? " Tanyanya


" Sodara saya! " Jawabku


" Jangan berbohong, karena saat saya menanyakan dimana keluarganya wanita di dalam bilang, dia hanya hidup berdua dengan anaknya " tegas nya padaku


" Saya tidak berbohong, dia Islam, saya juga Islam jadi kami sodara, dan karena itu saya mau menolongnya " jelasku


" Baiklah kalau begitu, saya permisi " ucapnya dan hendak pergi namun aku menghentikan nya.


" Maaf dokter, apakah wanita di dalam sudah boleh pulang? " Tanyaku, dia membalikan kembali tubuhnya menghadap ku.


" Betul! Namun karena tak mampu membayar uang pengobatannya, jadi pihak rumah sakit menahannya " jelasnya


Aku tak ingin bertanya kembali, jadi ku ucapkan terimakasih saja dan berjalan kembali ke kamar rawat kakak ku, sudah cukup lama aku meninggalkannya sendirian.


Sampai di kamar kakak ku, ternyata dia sudah tidur, dapat ku pastikan kalau kakak ku benar tertidur, dari nafasnya yang sudah teratur dan terlihat damai pula di wajahnya.


Aku pun memilih meringkuk kan tubuhku di atas bangku yang ada di sana.


Mencoba memejamkan mataku, namun sesuatu mengusik pikiranku. Aku tak tau apa yang anak itu dan ibunya alami, namun melihat kesedihan yang tak nampak di wajahnya membuat pikiran ku terusik.


Jika aku dulu menutupi masalahku dan kesedihan ku dengan wajah datar, itu wajar karena itu memang sipat ku


Namun gadis remaja itu, ku lihat wajahnya nampak ceria, seolah selalu bahagia untuk menutupi kesedihan agar tak nampak.


Terus saja dengan pikiran ku, memaksa mencari tau tentang gadis itu, hingga aku tak sadar sudah sangat mengantuk dan tertidur.


***


Pagi harinya.


Aku sudah siap dengan semua barang-barang milik kakak ku yang akan kami bawa pulang, tadinya keluarga akan menyusul ke rumah sakit namun aku melarang, toh kami juga akan pulang jadi untuk apa mereka kembali.


" Apa sudah siap? " Tanya kakak ku yang baru keluar dari kamar mandi guna mengganti pakaiannya.


" Tentu! " Jawabku seraya tersenyum


" Abang tunggu sebentar disini, dokter akan memeriksa Abang kembali sebelum pulang Jani keluar sebentar " pintaku pada kakak ku dan dia mengangguk, kakak ku memilih duduk di bangku yang ada di kamar itu, sedang aku.


Seperti perkataan ku, aku keluar dari kamar itu menemui gadis remaja yang tadi malam ku temui.


Aku mengetuk pintu kamar itu saat sampai di depan pintu kamar itu, dan seseorang mempersilahkan aku untuk masuk.


Saat masuk, aku melihat remaja yang bernama rindi itu sedang menyuapi ibunya.


" Dokter bilang ibumu sudah bisa pulang hari ini, dan semua biaya rumah sakit ibumu sudah ku bayar " ucapku pelan takut mereka Takan menerima niat baikku


Rindi menatapku, seolah meminta penjelasan namun aku hanya diam.

__ADS_1


Dia beralih pada sang ibu yang sudah menahan air mata yang ingin keluar namun tak ia izinkan.


" Ibu sudah bisa pulang! " Kata yang di ucapkan rindi, dan ibunya hanya mengangguk


" Kalau begitu saya permisi! " Ucapku, karena aku menemui mereka hanya untuk memberi tahu itu.


Saat aku sudah berbalik badan dan melangkahkan kaki ku menuju pintu, langkah ku di hentikan.


" Tunggu mbak! " Kata yang ku dengar


" Tunggu, saya ingin berterima kasih atas yang sudah mbak lakukan untuk saya " ucapnya kembali kala aku hanya diam.


Aku membalikan badan ku


" Apa yang saya lakukan pada anda? " Ucapku, dan dia tersenyum seraya berkata


" Harusnya sudah tiga hari yang lalu saya keluar dari rumah sakit ini, namun karena saya tak mampu membayar biaya rumah sakit, makanya saya masih disini " jelasnya seraya matanya di penuhi cairan bening


" He'mh! Kalau begitu saya permisi, saya sudah di tunggu Abang saya, apa kalian mau ku antar pulang " niat ku ingin mengantar mereka pulang mengingat keuangan mereka, aku khawatir mereka akan pulang dengan berjalan kaki.


" Pulang kemana " gumam kecil rindi yang ku dengar, dan ternyata di dengar oleh sang ibu juga dan tatapan sang ibu pada rindi seolah menyuruh rindi agar tak bersuara.


" Kenapa Bu? Bukankah ibu masuk rumah sakit gara-gara itu " ucapnya dengan nada pelan, mungkin takut sang ibu akan marah namun ternyata ibunya hanya diam saja.


" Karena orang-orang itu kita jadi kehilangan rumah, dan karena itu juga ibu berada di sini " ucap anak itu kembali, aku hanya diam karena itu urusan antara ibu dan anak tugas ku hanya membantu itu pun jika di butuhkan.


Ibu dan anak itu terisak kecil, seolah beban yang mereka tanggung amatlah besar.


Aku mendekati mereka, mencoba bersuara entah itu akan membantu atau tidak.


" Jika tak ingin bekerja di rumah ku, mungkin kamu bisa bekerja di pabrik milik keluarga ku " tawar yang ku berikan lagi, sengaja aku tak mengatakan pabrik itu milik ku karena aku belum memajukannya jadi mungkin sebaiknya ku alihkan dulu menjadi pabrik milik keluargaku.


" Saya hanya terampil dalam urusan rumah " pelan ibu sang gadis berbicara


" Jadi, tawaran ku yang mana yang akan kamu ambil? " Tanyaku kembali


" Saya akan bekerja di rumah anda saja " jelasnya


Tak ada pembicaraan lagi, ku suruh mereka mengemasi pakaian dan aku menunggu di luar rumah sakit.


Aku dan Kaka ku sudah duduk di dalam mobil, telpon dari orang rumah juga terus berdatangan silih berganti namun yang ku tunggu belum juga terlihat dari arah pintu keluar.


" sebenarnya siapa yang kita tunggu? " Tanya kakak ku


" Ada, sebentar lagi ya! Abang boleh tidur aja dulu lima menit lagi, kalau mereka tidak muncul juga kita tinggal " jawabku


Kakak ku tak bertanya kembali dan memilih melakukan panggilan pada istrinya, mungkin dia sudah rindu.


Tak lama ku lihat rindi dan ibunya keluar dari pintu, aku turun dari mobil dan menghampiri mereka. Ku bantu membawakan tas yang di bawa rindi dan menyimpannya di bagasi ku, kemudian mempersilahkan mereka masuk mobil.


Aku ikut masuk dan duduk di kursi kemudi, sebelum berangkat aku mengangkat telpon lebih dulu dari mas Rendi, ya! Dia bilang akan kerumah ibu hari ini bersama keluarganya namun tidak dengan jaya, karena dia sedang berada di luar negri guna menuntut ilmu, beruntungnya mereka mempunyai bapak sambung yang begitu baik seperti mas Rendi.

__ADS_1


" Mmmh, Jani berangkat sekarang " jawabku dan langsung mematikan telpon, Kaka ku melihat kearah ku dan bertanya


" Ripa'i? " Tanyanya, akupun menjawab " bukan! "


Namun kakak ku masih meminta jawaban yang akurat jadi ku katakan saja dari orang rumah.


" Mau langsung pulang? " Tanyaku


" Emang mau kemana dulu? " Tanya balik kakak ku


" Ok kita langsung pulang, Jani sudah ingin sekali beristirahat di rumah " ucapku asal, namun kakak ku ternyata berpikir lain


" Maaf Abang merepotkan mu! " Ucapnya, aku tersenyum kearahnya hanya sekilas karena aku sedang menyetir.


" Jani tak pernah merasa direpotkan oleh siapapun, Jani sayang kalian, bukankah Jani berjuang juga untuk kalian semua, untuk keluarga kita " jelasku


Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut kakak ku dia memilih memejamkan matanya, aku yakin dia sedang menyimpan sesuatu di benaknya.


" Kakak orang kaya yah? " Tanya yang keluar dari gadis remaja yang duduk di bangku belakang


" Bukan! " Singkat ku menjawab


" Kalau bukan orang kaya, kenapa kakak mau membayar biaya pengobatan ibu saya? " Tanyanya lagi


" Karena saya pikir saya mampu! " Acuh ku menjawab, aku melirik spion yang mengarah ke bangku belakang, ku lihat wajah ibu anak itu seolah menyimpan banyak pertanyaan namun enggan untuk dia katakan.


" Kamu sekolah? " Tanyaku pada anak itu


" Sekolah, tapi itu beberapa Minggu yang kalau sebelum ibu sakit " jawabnya


" Sekarang? " Tanyaku lagi mencoba meminta kejelasan


" Aku sudah berhenti sekolah " lesunya menjawab


" Kenapa? " Bukan aku yang bersuara melainkan kakak ku


" Karena tidak mampu membayar SPP " jawabnya


" Hanya karena itu? " Tanyaku


" Bukan itu saja, terlalu banyak tunggakan di sekolah dan ibu tak mampu membayarnya, padahal waktu aku kerja paruh waktu aku selalu memberikan semua gaji ku pada ibu " jawabnya


" Mungkin ibumu menggunakan uang itu untuk sesuatu yang penting " ucapku asal dan tak mendapat jawaban dari rindi lagi


" Kau mau sekolah lagi? " Tanyaku


" Mau, tapi takut nggak boleh " jawabnya


" Sama ibumu? " Tanyaku


" Ia " singkat ya menjawab

__ADS_1


" Kamu tau, ilmu itu penting untuk masa depanmu, apa kamu tak ingin masa depanmu lebih baik? " Tanyaku pada rindi namun yang menjawab ibunya


" Bukan begitu, kami tak punya uang untuk membayar sekolah rindi, dan saya bekerja saja belum di rumah anda " jawabnya


__ADS_2