
Kini kami sudah di kediaman mas Rendi, ya tth ku minta langsung pulang malam harinya katanya tak nyaman, karna tak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan bidan mengijinkan tth untuk dibawa pulang
" Dena nginep aja disini ya " pinta ibu dari mas Rendi, sedang ibuku sudah diantarkan pulang dengan bapak ku oleh supir mas Rendi
" Iya Dena kamu menginap saja " sambung mas Rendi
" Maaf mas besok kan Jani kerja " ucapku tak enak namun mau bagaimana lagi
" Kamu izin lah dulu, kan nggak apa-apa barang seharimah " jawab ibu mas Rendi
" Kamu nginep aja saya ke kamar duluan permisi " ucap mas Rendi sebelum benar-benar pergi ke kamarnya
***
Sampai juga aku di tempat yang ku tinggali sekarang, ku lihat lampu di dalam rumah masih menyala itu berarti adik-adik ku belum tidur
Ku buka pintu dengan kunci cadangan, ya, masing-masing adikku juga memegang kunci rumah
" Tth baru balik, jam segini " tanya Fitri saat aku masuk
" He'mh, soalnya dari sana juga udah malam berangkatnya " jawabku sambil ikut duduk di samping adikku
" Mmmhhhh, terus gimana lancar persalinannya " tanyanya lagi
Ya mungkin Fitri juga sebenarnya ingin ikut dengan ku, karna ketika ku kabari dia,dia meminta ku menunggunya sampai mata kuliahnya selesai
" Alhamdulilah lancar, ibu dan anaknya juga selamat "
Sedikit terukir senyum di bibir ku ketika mengingat betapa lucunya bayi te nur dan mas Rendi cantik pula
" Kenapa tersenyum " celetuk Fitri mungkin dia melihat ketika aku tersenyum
" Nggak papa " singkat ku, aku berdiri dari dudukku ingin membersihkan badan yang sudah terasa lengket
" Alah, pengen pasti itu sama bayi lucu te nur, makannya buruan nikah deh " cerocos ya namun tak ku tanggapi
Setelah masuk kamar aku langsung menuju kamar mandi karna sungguh badan ku sudah terasa lengket
Beberapa menit berikutnya aku sudah merasa segar kembali setelah mandi, aku meraih ponsel ku yang ku simpan di dalam tas
" Kenapa tiba-tiba rindu kamu " gumamku sambil melihat foto ripa'i di ponsel ku
Ingin rasanya menelponnya namun takut dia sudah tidur, namun hati ku ingin sekali menelponnya, ku coba memberanikan diri untuk menelpon bila satu kali panggilan tak ada jawaban berarti dia memang sudah tidur
Tut
Tut
" Assalamualaikum " panggilan ku di angkat di dering kedua, ah, ternyata dia belum tidur
" Wa'allaikum sallam " jawab ku
" Ada apa, apa ada sesuatu " suara di sebrang sana
" Harus kah ada alasan untuk menelpon mu " jawab ku
" Oh, iya aku lupa, aku menelpon ripa'i bukan tuan William, jadi tak perlu alasan untuk menelpon kekasih ku " lanjutku, ku dengar tawa kecil dari sebrang telpon membuat ku mengulas senyum
Andai saja aku bisa melihat langsung tawa itu pasti lebih menyenangkan
" Benarkah " suara di sebrang sana
" He'mh " singkat ku
" Apa kamu sedang rindu aku "
__ADS_1
Tepat sekali tebakannya, ya mungkin dia juga sudah hapal dengan ku, karna aku hanya akan menelpon jika sedang merasa kangen saja
" He'mh " lemah ku, ntah kenapa ingin rasanya aku bersamanya namun bukan dalam hubungan pernikahan karna itu belum ku pikirkan
" Baiklah besok aku akan pulang, maukah kau menjemput ku di bandara " suara di sebrang sana
" Ada apa apa sudah selesai di sana,? " Tanya ku, karna ku tau ripa'i sedang mengembangkan perusahaan yang dia dirikan sendiri
" Tidak, hanya saja bang herdi memintaku pulang ada masalah di perusahaan yang ia dirikan namun tak bisa mengelola langsung "
Ya bang herdi juga sama kini ia sudah berkeluarga namun istrinya meninggal saat melahirkan si kembar, aku sering menengok mereka sekedar ingin membantu mengasuh jika ada waktu luang saja
" Oh, jam berapa kau mendarat " tanyaku
" Ntah lakh karna aku sendiri belum mendapat kepastian dari seseorang " jawabnya
" Nanti aku kabari lagi " lanjutnya
" He'mh, kalau begitu sampai bertemu besok assalamualaikum" pamitku
Aku mengakhiri panggilan saat sudah mendapat jawaban sallam dari ripa'i
Tak lama akupun tertidur dengan pulas ya mungkin karna rasa capek jadi aku tertidur dengan pulas.
***
Pagi harinya setelah solat subuh aku dan adik-adikku memutuskan untuk lari pagi karna hari ini hari libur, sebenarnya aku tak ingin namun karna adik ku yang memaksa dengan terpaksa aku pun mau
Merasa capek adik bungsuku mengajak kami untuk berhenti untuk beristirahat sebentar,
" Teh bentar yah Iin beli minum dulu disana " kata adikku seraya menunjuk tempat penjual minuman
" Jangan lama-lama atau nanti di tinggal " jawab Fitri
Sembari berlari kecil Indri menghampiri penjual minuman itu, Fitri mengajak ku mengobrol sambil menunggu adik bungsu ku kembali
" Kenapa " datar ku, tak mau jika yang akan ia tanyakan tentang kapan aku dan ripa'i menikah
" Menurut tth KA Julian itu gimana orangnya "
Aku menyerengitkan dahi mendengar pertanyaan dari adik ku
" Kenapa bertanya tentang nya " datar ku
" Tak apa, tak mau jawab juga nggak jadi masalah " datarnya pula, seolah acuh
Aku hanya dia tak ingin menjawab namun percuma karna nyatanya ucapannya tak selaras dengan ingin tahunya
" Iih malah diem lagi bukannya jawab " celetuk nya
Tak.
Karna kesal aku menyentil dahinya, dia bilang tak jawab juga tak apa tapi ini minta di jawab
" Sakit " kesalnya sembari mengelus jidatnya yang ku sentil
" Ada apa kamu mau tau tentang Julian " aku bertanya balik, semoga saja aku salah berpikir tentang itu
" Tidak ada, hanya saja Fitri kagum dengan kepintarannya " jawabnya sembari senyum-senyum
" Maksud kamu " aku sedikit heran dari man Fitri tau tentang kepintaran Julian bertemu saja sesekali jika Julian sedang ada perlu
" Issh, kan ka julian jadi dosen di kampus aku ya walau hanya dosen pengganti, karna dosen sebelumnya sedang berhalangan " jelas nya
" Oh, tth tak tau tentang pribadi Julian, yang tth tau dia orang baik itu saja, tapi jika ingin mencari kekasih carilah yang setara dengan kita jangan sampai nanti kita menjadi bumerang untuknya atau sebaliknya, dan kalau mau pacaran harus bisa jaga diri jangan mau jadi gampangan " tegas ku
__ADS_1
Ya begitulah jika aku sedang mencoba memberi pemahaman selalu tegas dan sedikit kasar, karna aku tak mau jika adik-adikku pacaran dengan cara tak sehat
" CK, apaan si teh, Fitri juga tau kali " rutuknya mungkin kesal dengan ucapan barusan
" Sudahlah pikirkan saja kuliah mu, dan segeralah bahagiakan ibu dan bapak jangan mau jadi pecundang di dunia seperti sekarang ini " lanjutku
Aku bangun dari duduk ku, dan menghampiri adik bungsuku yang tengah berjalan kearah kami dengan membawa tiga minuman
" Sini " ucapku, mengambil air mineral yang di bawa Iin, ia tau aku tak meminum minuman yang ada rasanya ketika sedang seperti ini
" Teh mau duduk aja apa mau ikut kita jalan " teriak iin pada Fitri yang memang masih betah duduk di tempat tadi
Fitri menghampiri kami, dan kamipun berjalan beriringan bertiga, banyak pasang mata yang melihat kami kala tawa kecil keluar dari mulut kami sederhana namun menyenangkan
Kedua adikku berjalan di depan ku, tadinya kami berjalan beriringan namun karna mendengar notifikasi pesan masuk di ponsel ku aku memilih berjalan di belakang mereka sambil mendengarkan candaan dua adik ku
Sambil berjalan aku membuka pesan itu ternyata dari ripa'i
# jam 2 siang aku mendarat, bisa sambut kekasih mu ini # teman hati
Ya nama ripa'i tak ku ganti di kontak ku toh ripa'i juga tak mempermasalahkan itu, sedang nama ku di kontaknya aku tak tau karna aku juga tak pernah memegang ponselnya atau bertanya padanya
# tentu # balas ku
# terimakasih sampai bertemu nanti # teman hati
# he'mh # balas ku
Setelah berbalas pesan aku memilih berlari kecil mendahului kedua adikku, mereka pun mengejar ku, hingga kami sampai di rumah
" Capeknya " keluh adik bungsuku
" Teh nggak masak ya pesan aja " pintanya ntah pada ku atau pada Fitri
Fitri menatap ku
" Terserah tapi tak ada yang keluar rumah hari ini karna tth nanti mau pergi " karna ku tau dengan tatapan itu
" Tth mau kemana, " tanya adik bungsuku
" Tapi nanti aku ada latihan teh jam dua " Fitri menimpali
" Berarti kamu naik motor ok " jelasku dan dia pun Tak membantah
" Terus aku gimana " adik bungsuku, mungkin dia merasa akan sendirian di rumah
" Di rumah lah " seloroh Fitri
Indri menghampiriku yang sedang duduk sambil membuka sepatu
" Iin ikut tth aja ya " pintanya
" Boleh asal tak cerewet " ucapku dan setelahnya berlalu kekamar
Setelah membersihkan diri aku langsung berpakaian rapih, dan sedikit memoles wajah ku dengan bedak tabur dan sedikit lipstik, sebenarnya tanpa itu juga wajah ku sudah cantik namun karna akan menyambut kekasih yang ku rindukan tak apa sedikit memoles wajah
Aku keluar dari kamar, Fitri ternyata juga sudah siap dia menghampiriku untuk meminta kunci motor, dia sedikit memperhatikanku
" Sebenarnya mau kemana sih " tanyanya mungkin karna dia tak pernah melihat ku memakai polesan
" Jangan banyak tanya, Oya , jangan pulang terlalu malam " ingat ku, bukan menjawab pertanyaannya
Indri keluar dari kamar dia sudah siap juga, ku lihat dia nampak cantik dengan dress yang ia kenakan nampak cocok untuknya
" Tadi jadi pesan makanan " tanyaku memastikan kalau tak ada yang memesan makanan
__ADS_1
Indri menggelengkan kepala, setelahnya ia keluar lebih dulu