
" ayolah ka, KA nay tau bagaimana aku, aku hanya nggak mau ketika kami pulang tak ada yang melindungi KA nay, jadi aku hanya ingin memastikan KA nay akan baik-baik saja ketika kami pulang lagi, ingat ka kami hanya tinggal dua bulan lagi dan setelah nya ntah kita akan bertemu kembali atau tida " jelas ku panjang kali lebar
Ku lihat bulir bening terjun membasahi pipi mulus KA nay, walau tanpa make up,
" Jangan menangis, masih kah kakak menganggap kami orang lain " lanjut ku
" Tida Dena, hanya saja kluarga ku dan keluarganya, hidup ku dan hidup nya sangatlah bertentangan " jelasnya seraya tersendu-sendu
" CK, apa kalian beda agama?" Tanya ku kesal
Ka nay menggeleng
" Kalian tak saling cinta " KA nay menggeleng, sudah ku duga KA nay juga sebenarnya mencintai pak Tio pemilik restoran nya
Bukan karna pak Tio orang kaya, namun karna kenyamanan yang ia berikan, kesabaran, dan keramahan nya yang mampu meluluhkan hati KA nay
" Jadi masalah nya di mana ka " geram ku, aku lihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul delapan kurang, sebentar lagi mbak Rena akn datang
" Ya sudah, ayo kita masuk saja dulu " ajak ku
Ka nay hanya menggunakan celana jeans dan kemeja panjang navy lengan panjang yang ia gulung hingga bawah siku, sebelum masuk aku melepas kuncir ka nay
" Dena " kesal nya
" He'mh " jawab ku seraya tersenyum
Sampai di dalam, aku mendapati pak Tio bersama dua orang tak ku kenal, sebelum benar-benar meninggalkan ka nay harus ku pastikan ka nay akan baik-baik saja
Aura yang di pancarkan dua orang itu sangat tak bersahabat,
" Malam tuan " sapa ramah ka nay aku hanya menunduk sedikit saja
" Kalau begitu saya permisi pak Tio masih ada urusan yang menunggu " pamitku, namun bukan orang yang ku sebut nama nya yang menjawab
" Gadis seusiamu mempunyai urusan, paling juga hanya pergi bermain dengan teman-teman mu " sinis nya
Tak ku jawab hanya tersenyum ramah saja
" Baiklah saya permisi " pamitku dan setelah memberi hormat akupun pergi, sumpah hampir lima bulan di kota orang dan berada di antara orang-orang yang hebat memberiku sedikit pengetahuan baru, bahwasannya aku hanya perlu memberi hormat dengan menundukan kepala sedikit agar terlihat sopan, kalau di desa ku sopan itu memberi salam dan mencium tangan
Tak tau apa yang akan mereka bicarakan membuat ku sedikit khawatir, namun aku yakin pak Tio akan menjaga ka nay ku itu
Sampai di taman yang ku janjikan pada KA Rena, aku mendapati ka rena sudah duduk di bangku yang menghadap restoran yang tadi aku tinggalkan
" Sudah lama " tanya ku, tak enak pada mbak Rena, kulihat juga sosok itu di sisi mbak Rena aku hanya tersenyum ke arah nya
" Apa dia disini " tanya mbak Rena, aku mengangguk
" Di sebelah mana " tanya nya lagi, ku lihat air matanya sudah menggenang
" Kanan " singkat ku
" Apa mbak bener-bener tidak bisa melihat nya, bahkan merasakannya " tanya ku penasaran
Mbak Rena hanya menggeleng, air mata yang menggenang tadi kini sudah lolos membasahi pipi mbak Rena
" Mau melihat nya " tanya ku, tak tega juga melihat nya menahan rindu pada orang tak terlihat
" Apa bisa " tanya nya, meyakinkan hatinya
" Bisa, tapi setelah nya mbak ahrus merelakan nya pergi, jangan halangi langkah nya lagi " tawar ku
" Bagaimana caranya, bagai mana bisa aku melupakan nya dan membuat dia pergi dengan tenang " tanya nay
" Nanti dia akan menjelaskannya yang penting mbak mau akan saya bantu insya Allah " jelasku
" Baiklah aku bersedia "
" Sudah siap " tanya ku memastikan, mbak Rena mengangguk
" Pejamkan mata mbak, aku hanya membantu " titah ku
Akupun membacakan ayat suci Alquran yang bisa membuka mata batin, tak kusangka pelajaran yang di ajarkan guru ngajiku dapat ku pakai secepat ini,
" Mbak sudah bisa membuka mata " pinta ku, dan ia pun menurut
__ADS_1
" Lihat lah, apa mbak bisa melihat nya " aku hanya ingin memastikan semuanya sudah sempurna semua yang ku pelajari dari para guru ku
" Iya " ucapnya seraya mengangguk
" Baiklah, berbicaralah aku akan duduk di sana memastikan tak ada yang melihat mbak berbicara sendiri " jelas ku sembari menunjuk kursi yang lumayan jauh agar tak mendengar curahan hati yang rindu, soalnya aku sendiri sedang menahan rindu
" Terimakasih " ucap sosok itu, aku mengangguk dan pergi
" Sial tetap saja gue sendirian, " gumamku
" Yanah lagi kenapa akhir-akhir ini sering keluar rumah " lanjut ku lagi merasa sepi sendiri
Namun menit berikutnya aku mendengar dehem seseorang
" Eh'emmm, sendiri aja " tanya nya, aku mengenal suara ini sungguh
Aku menoleh ke belakang
" Sedang apa disini " tanya nya
" Menyendiri " singkat ku
" Ku tau kamu sedang di tinggal lagi kan oleh teman mu itu " lanjut nya bertanya
" CK " kesal ku , darimana dia tau
Orang yang sedang berbicara padaku tak lain adalah ka Andi
" Aku lagi seneng aja duduk sendiri, kenapa apa ada masalah " acuhku
" Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik, bukan begitu ?" Entah ia sedang menghibur, atau sedang mengejekku aku tak tau
Sungguh juka menginginkan teman duduk lebih baik bukan orang ini, ribet
Tak mendapat jawaban dariku, Rendi langsung duduk di sebelahku
" Sudah ku katakan jika memang butuh teman, hubungi saja nomor ku " ramahnya, aku menoleh kearah nya, dia benar aku sedang butuh teman saat ini
Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk memperbanyak teman bukan musuh, mana tau suatu saat aku membutuhkan mereka
Tentu aku melihat kearah mbak Rena, ada apa sehingga ia menghubungiku bukan menyusulku
Aku mengangkat panggilan dari mbak Rena
" Kenapa mbak " tanya ku ramah
" Apa kamu masih lama, aku sudah selesai " jelasnya
" Dari tadi " tanyaku, bukan menjawab malah balik bertanya padanya
" He'mh, Dena apa boleh aku meminta bantuan mu " tanyanya, ragu-ragu
Aku melirik tempat di sekitar kami, ku lihat Andi menghampiri kami
" Siapa " tanya mbak Rena, saat melihat Rendi
" Saya Rendi, teman Dena " bukan aku yang menjawab pertanyaan mbak Rena namun orangnya sendiri yang menjawab
Mbak Rena melihat ke arah ku, memastikan ucapan Rendi benar
" Kau tak percaya, tak apa " selorohnya
" Mari Dena kita pulang " ajaknya, aku menyerengitkan dahi lalu menggelengkan kepala selalu tak mengerti dengan orang ini
Saat sedang berada di antara dua orang yang memusingkan, telpon ku berbunyi kulihat panggilan dari KA nay, aku melihat kearah pintu restoran
Aku menajamkan mata memastikan penglihatan, apa benar perempuan yang barusan di tampar ka nay
Saat sudah benar memastikan aku sangat terkejut,segera aku berlari untuk memastikan kejadiannya
Hampir saja tangan wanita cantik itu mendarat kembali di pipi mulus KA nay, namun aku datang tepat waktu meski sudah ada dua tamparan yang berbekas di pipi ka nay
Aku memegang tangan wanita itu dengan wajah datar aku menelisik siapa wanita ini sebenarnya, aku melepaskan tangannya yang ku pegang saat tau siapa dia
" Jangan berani menyentuh kakak saya nona jika masih sayang nyawa " kesal ku dan menarik tangan ka nay
__ADS_1
Belum kami melangkah ka Tio keluar dengan kedua orang tua nya, ya ternyata dua orang tadi adalah kedua orang tua ka tio
" Ada apa nay, kamu " ka tio menatap jijik pada wanita yang berada di antara kami
" Ayo kak kita pulang " ajak ku pada KA nay, tak mau ka nay semakin sedih
" Ada apa " ternyata Rendi dan mbak Rena juga menyusul kami
Aku tersenyum, ternyata mereka peduli pada ku
" Dena kamu pulang sama saya " lembut mbak Rena, aku menyetujui karna ingin segera membawa ka nay pulang
" Pantas saja kamu berani pada ku, ternyata pelindungmu banyak cuihh " ejek wanita itu pada KA nay
" Sindy !!" Bentak ka tio
Tak tau lagi apa yang terjadi pada mereka, karna kami sudah membawa ka nay pergi dari sana
Di dalam mobil ka nay terus saja menangis walau tak bersuara, sungguh aku ingin bilang kalau wanita itu tak berharga bagi ka tio namun tak ku lakukan tak mau juga terlalu mengurusi biar ka Tio yang membereskan
" Ayolah kak, berhenti menangis " bujuk ku
" Dena benar, jangan menangis bila kamu pemenang nya " timbal mbak Rena
Ah, iya mbak Rena aku belum menutup mata batin nya
" Mbak bisa saya tutup sekarang " tanya ku, ku tau mbak Rena paham
" Nanti ya, saya mohon masih ada urusan yang harus saya selesaikan dengan mas Irwan " pinta nya
" Tapi itu berbahaya mbak " datar ku
" Ya makannya tadi saya bilang Mita bantuan kamu " asalnya
Sial, sungguh saat ini aku harus berhati-hati, ingin rasanya segera pulang saja ke desa ku
" De, Vivi sudah pulang " tanya ka nay
Astaga Iya, yanah tadi menghubungiku aku lupa menerima panggilannya karna panik pada KA nay
Terpaksa berbohong sedikit, lagian ku yakin dia sudah di kontrakan
" He'mh, Vi sudah menunggu di kontrakan " jawab ku, semoga KA nay percaya
****************
Tak ada perbincangan lagi, akupun memejamkan mata, memikirkan dengan semua yang akan terjadi membuatku ingin menangis, sesaat aku teringat pada ripa'i
Hampir satu bulan aku tak berbagi kabar dengannya,
Dan tak ku sadari mobil sudah berhenti di depan kontrakan kami
" Disini " tanya mbak Rena memastikan, dan mendaptkan anggukan dari KA nya
" Mari mbak mampir sebentar " tawar ka nay
Mbak Rena melihat kearah ku, ku tau ia sedang ingin sendiri
" Say langsung pamit saja, masih banyak berkas yang harus saya bereskan " jawab nya
" Baiklah, hati-hati di jalan " ucap KA nay mengingatkan
Setelah kami turun turun mobil mbak Rena melaju kembali
Aku mengulas senyum melihat yanah sepertinya sedang merajuk, aiisshh, Anka ini
" Kalian keluar kenapa tak mengajak ku " kesal nya
" CK, siapa yang pergi lebih dulu " kesal ku juga
Pintu di buka oleh ka nay, dan dia menarik tangan ku dan yanah
" Ayo masuk " ucapnya sembari tersenyum
Tadi nangis sekarang sudah senyum lagi begitulah ka nay walau hatinya sedang kalut tak pernah menampakkan nya ke permukaan
__ADS_1
Dan kamipun memutuskan untuk tidur setelah mencuci muka,