
Entah harus bagaimana lagi agar aku bisa selalu berpikir positif, segala cara audah ku lakukan bahkan aku sempat untuk pergi dari sisi ripa'i dan memulai semuanya tanpa dia namun, lagi dan lagi aku hanya bisa kembali padanya tak pernah bisa melihat pada yang lain.
" Sudah malam, sebaiknya aku pulang " ucapnya setelah selesai menatapku.
Aku tersenyum, mengangguk untuk mengiyakan ucapannya, dia benar ini sudaha malam akupun sudah merasakan lelah dan kantuk ku mulai datang.
Dia berdiri dari duduknya dan sempat menengok kearah dalam rumah.
" apa yang lain sudah tidur? Kenapa sepi " ucapnya saat tak melihat siapapun di dalam rumah.
" Mungkin " jawabku dan dia tersenyum, aku sedikit heran apa dia tak bisa sekali saja tak senyum terlebih dahulu sebelum menanggapi ucapan ku.
" Mmm, kalau begitu aku pamit! Oh ia, mungkin kita akan lama tak bertemu jadi jangan merindukanku " ucapnya
" Tentu aku akan merindukanmu " balasku
" Apa tak ingin memelukku " ucapnya lagi, tanpa aba-aba aku langsung memelukannya.
Dia membalas pelukan ku, sedikit lama aku memeluknya menumpahkan rasa takut akan kehilangannya.
" Jika seperti ini, sepertinya kamu tak ingin aku pergi " ucap ripa'i tanpa melepas pelukannya.
Setelah ku rasakan tenang, aku melepaskan pelukanku, menunduk menahan malu. Jujur aku memang ingin memeluk ripa'i sedari dulu namun, rasa malu dan gengsi ku teramat merajai ku terlebih lagi, aku selalu mengingat setiap ajaran yang di ajarkan oleh pra guruku baik itu guru ngajiku, sekolah, bahkan guru bela diriku, mereka bilang pacaran saja tidak di perbolehkan apa lagi kalau sampai peluk, cium, jadi aku harus bisa menjaga batasan ku. Sayangnya aku juga tak mau munafik, ketika ripa'i memelukku bahkan mencium ku, aku tersenyum entah kenapa, ada perasaan yang tak bisa ku jelaskan lewat kata hanya lewat senyuman saja.
Ripa'i pergi, aku terus memandangi jalan yang tak menyisakan apa-apa bahkan walau hanya bayangannya saja, salah! Jalanan itu menyisakan jejak langkah ripa'i yang meninggalkan rumahku.
Aku kembali kekamar, setelah aku menyadari pandangan ku pada jalanan itu kosong.
__ADS_1
Ku rebahkan tubuh lelahku di atas kasur lamaku, tak ada yang berubah bahkan kasur ku tak ku ganti dengan yang baru, ya, mungkin karena aku juga tidak sempat memikirkan akan hal itu, karena banyak hal uang lebih penting lagi dari itu.
Aku melirik jam di dinding kamarku, menunjukan pukul sebelas malam, aku khawatir pada kakak ku namun karena pitri sudah memberi kabar pada kukalau kondisi kakak ku sudah jauh lebih baik maka akupun memilih memejamkan mataku.
***
Pitri vov
Malam ini aku menemani kakak laki-laki ku, menggantikan teh Rinjani, setelah kemarin dia yang menjaga kami.
Aku tak mau membuat teh rinjani khawatir jadi aku memberinya kabar bahwa kondisi kakak sudah lebih baik agar teh Rinjani tak terlalu khawatir, karena sudah terlalu banyak beban dalam hatinya.
Sudah terlalu banyak beban yang dia pikul sendiri sedari masa di mana harusnya dia hanya mengenal bermain namun berbeda dengannya.
Di masa SMP, teh Rinjani sudah harus bisa mengurus adik-adik nya bahkan dia seperti ibu kedua bagi kami, dan di masa SMA, teh Rinjani sekolah sembari bekerja untuk mencari uang tambahan agar bisa membantu keuangan keluarga, padahal di masa itu harusnya dia hanya berfokus pada sekolahnya namun dia membagi waktunya untuk banyak hal, saat masa kuliah teh Rinjani sudah seperti pekerja padahal dia seorang pelajar. Aku tak pernah membayangkan jika aku yang menempati posisinya, bisakah aku sebijak dia, bisakah aku setangguh dan sekuat dia, dan bisakah aku memiliki sabar sebesar dirinya, kurasa Takan bisa.
Dia selalu tersenyum padahal aku tau dia banyak beban.
Aku selalu ingin menjadi sepertinya, walau aku tau aku tak memiliki kecerdasan sepertinya, tak memiliki pisik tak sepertinya namun aku yakin aku bisa melampauinya dan akan ikut memikul beban nya suatu saat nanti.
Kekagumanku bertambah setelah mendengar cerita dari Julian, ya dia! Kini aku tak memanggilnya kakak lagi karena hubungan kami yang sekarang. Bukan aku tak menghormatinya, namun dia sendiri yang meminta aku untuk menyebut nama saja kala memanggilnya.
Julian menceritakan juga tentangnya yang dulu pernah meminta tth ku untuk menjadi kekasihnya, bahkan dia bilang di saat itu pula dia memintanya untuk menjadi pendamping hidup nya, yang Julian pikir pada saat itu tth ku tak memiliki kekasih, karena tth ku tak pernah bercerita tentang asmara, bahkan dia juga tak pernah bilang tentang apapun yang menyangkut hidupnya, dan itu berhasil membuat Julian kagum padanya dan ingin menjadikannya kekasih.
Julian juga mengatakan sangat terkejut saat mengetahui jati diri tth ku, yang dia tau tth ku hanya anak seorang petani dan ibu seorang karyawan yang berpenghasilan tak seberapa namun bisa melanjutkan pendidikan, dia tak tau saja, kalu untuk mendapatkan beasiswa itu tth ku harus terus menguras otaknya agar yang dia inginkan tercapai.
Julian juga mengatakan, kalau dia tak pernah mengira tth ku memiliki kekasih yang bisa di bilang dari kalangan atas yang aku sendiri tak mengerti itu.
__ADS_1
Hanya melihat itu saja mampu membuat Julian kagum, bagaimana jika dia tau semua sejarah perjalanan tth ku untuk bisa sampai di titik seperti sekarang ini.
Dia juga tidak tau bagaimana kisah asmara tth ku yang ku rasa itu cukup rumit.
Tak hanya dari Julian aku mendengarkan kisah tth ku selama masa kuliahnya sampai sekarang, aku mendengarkan banyak kisah juga dari temannya yang lain, dapat ku simpulkan, jika mereka memiliki kekaguman masing-masing terhadap teh Rinjani.
Dan saat ini sepertinya kisah asmaranya sedang tak berjalan dengan baik, apalagi setelah mendengar penjelasan dari ka ripa'i kekasihnya.
Awalnya aku merasa heran, saat ka ripa'i menelpon namun tak pernah di angkat oleh teh Rinjani, saat dia chat tidak juga di balas, aku tau itu dari ka ripa'i sendiri.
Maka aku memberanikan diri untuk bertanya yang sebenarnya, siapa tau saja aku bisa membantu mereka.
"Percayalah, banyak laki-laki yang menginginkan untuk menjadi kekasih tth ku, namun dia hanya menyakini perasaannya pada satu orang ya itu ka ripa'i"
Itu kata yang ku berikan pada ka ripa'i saat dia bertanya, mungkinkah kalau tth ku sudah memiliki laki-laki yang lain dalam hatinya sebagai penggantinya.
Memang ada beberapa laki-laki yang aku rasa cukup pantas dan baik untuk menggantikan ka ripa'i, namun itu menurutku tidak tau kalau menurut tth ku.
Kembali pada tth ku.
Aku selalu berpikir jauh tentangnya, jika nanti dia menikah dengan ka ripa'i dan memberikan ku keponakan baru, akan jadi seperti apa sikap anaknya, semoga saja seperti ayahnya, karena ku lihat ka ripa'i peribadi yang hangat tidak seperti tth ku, dingin, seolah hatinya membeku.
Aku juga membayangkan, jika nanti anak mereka lahir sudah pasti akan mengikuti jejak ibunya, bagaimana tidak! Teh Rinjani di kelilingi orang-orang yang pandai bela diri bahkan aku saja belajar bela diri gratis, karena di ajari oleh teman tth ku, bagaiman nanti anak tth ku ya.
Namun semua itu ku tepis kembali, bagaimana dia akan memberikan aku keponakan sedang lamaran ka ripa'i saja selalu di tolaknya.
Aku juga sering berpikir, seberapa banyak tabungannya! Karena dia selalu bisa membagi uang itu, untuk beramal, organisasi, untuk biaya pendidikan aku dan Indri, untuk ibu dan bapak, bahkan dia juga yang membuatkan kakak ku bengkel.
__ADS_1
Sedang yang aku tau dia bekerja di perusahaan mas Rendi hanya sebagai karyawan saja, namun masa ia gajih karyawan bisa sebanyak itu, apalagi jika berdonasi, bukan uang sedikit yang dia keluarkan dari tabungannya. Namun jika terus memikirkan itu dan tak pernah mendapat jawabannya aku bisa gila, jadi ku kesampingkan saja pemikiran itu, toh teh Rinjani bilang yang penting itu bukan uang haram, dan aku percaya padanya.