Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 126


__ADS_3

Seseorang yang yang bisa dibilang ikut berperan dalam hubungan kami, entah peran apa yang dia mainkan.


Perlahan tapi pasti dia menghampiri kami dengan senyum di wajahnya.


" Ternyata selain licik kau juga tak punya hati ya " ucapnya saat sudah di depan kami.


Aku dan ripa'i saling menoleh seraya tersenyum, kemudian dia berkata kembali


" Bahkan kau tak menginginkan ku datang di hari bahagia mu, tadinya aku tak berniat datang, namun! Karena kau cukup berarti dalam hidupku jadi ku sempatkan datang " ucapnya kembali, ada perasaan tak nyaman ketika anta mengatakan itu, ya, orang yang kini di hadapan ku tak lain anta teman yang selalu menolong ku kala aku merasa kesulitan bahkan saat jarak antara kami sangat jauh.


Ripa'i tersenyum menatapku entah apa yang ada dipikirannya namun ku balas senyum itu walau sedikit.


" Maaf, bahkan aku tak merencanakan pernikahan hari ini, karena yang ku tau pernikahan ku akan di lakukan dua Minggu yang akan datang " jawabku


" Tak apa " balasnya, kemudian dia menatap Ripa'i dan menyalaminya


" Setidaknya gue juga pernah di beri kesempatan untuk memperjuangkannya, gue harap Lo bisa jaga dia dengan baik-baik " ucapnya pada ripa'i yang dapat ku dengar.


Ka nay dengan suaminya mendekati kami


" Rinjani! " Kata yang dia ucap kemudian langsung memelukku, aku sedikit terhuyung kebelakang karena pelukannya yang tiba-tiba


" Makasih sudah datang, walau aku tak tau siapa yang mengundang ka nay " ucapku seraya bercanda


" Jadi kamu tidak mengundang kami " balas ka nay


" Tida, bukan begitu, aku senang kalian datang, bahkan semuanya " ucapku karena Andi juga yang lainnya ikut mendekati kami


Ku lihat ada sedikit percakapan antara ripa'i dan para laki-laki sedang aku dan para wanita sedang saling melempar canda, para sahabat ku juga ikut berkumpul kecuali Caca, entah dimana dia tadi aku sempat melihatnya namun sekarang tidak lagi.


Rindi dan ibunya ikut membantu menyambut para tamu yang datang, niat hati tak ingin mengundang banyak orang Naum yang ada satu kampung semuanya datang.


" Jani aku ke depan dulu ya " ucap Asiah pelan, aku mengangguk mengiyakannya mungkin ada sesuatu yang harus dia kerjakan


" Rinjani, nanti mau bulan madu kemana? " Tanya kak nay tanpa canggung, sedang aku yang mendengar risih atau apalah aku tak mengerti


" Berhenti menggodanya, atau nanti dia bisa menghajar kita karena terus menggodanya " canda mbak Rena


Sampai hari menjelang sore namun masih banyak tamu yang masih merasa betah di rumah ku, bukan tak suka dengan kehadiran mereka hanya saja, badan ku sudah terasa lelah di tambah gaun yang membuat ku merasa mulai tak nyaman.


Aku mendekati tth ipar ku yang sedang asik berkumpul dengan para keluarga. Aku duduk di sampingnya dan memberi senyum memelas.

__ADS_1


" Kenapa? " Tanyanya


" Apa Jani boleh berganti pakaian? " Tanyaku balik, te nur dan yang lain tertawa sedang tth ipar ku, dia hanya tersenyum


" Sudah merasa tak nyaman? " Tanyanya dan aku mengangguk


" Mari tth bantu " ajaknya dan aku menurut, saat akan berdiri pitri menghentikan kami


" Tunggu, biar pitri saja yang membantu teh Rinjani, kasihan tth dari tadi sudah kecapean


" In bantu tth " titahnya pada Indri dan yang di panggil pun menurut


" Rindi ikut " sahut rindi, aku tak menyangka jika dia akan langsung akrab dengan keluargaku bahkan kedua adikku yang baru bertemu


" Pit minta tolong " ucapku pada pitri agar membantu ku membuka resleting baju karena lumayan sulit untukku menjangkaunya


Pitri membantu ku sedang Indri dan rindi hanya bermain ponsel. Pikiran ku kembali pada rindi yang tak kunjung memberiku kepastian apa dia mau bersekolah lagi atau tidak, besar harapanku agar rindi mau sekolah kembali.


" Teh, entah kenapa firasat pitri tak baik dengan ibunya rindi " ucap pitri tiba-tiba


Aku menoleh padanya


" Jangan suka berprasangka yang tak baik, supa tau itu hanya firasat pitri saja " jelasku, memang aku juga merasa ada yang janggal pada sikap ibu rindi seolah itu bukan wajah aslinya namun ku coba menepis itu, dan semoga itu hanya firasat saja


" Eemmm, semoga saja begitu " ucap pitri


" Tth ganti pakaian dulu " ucapku seraya berjalan kekamar mandi


" Pit tth lupa handuk, minta tolong dong tth mau sekalian mandi " ucapku di daun pintu


" Dimana " sahut orang yang ku mintai tolong


" Lemari " jawabku, tak ada suara lagi dari pitri hanya ada ketukan dan uluran handuk dari balik pintu yang ku buka sedikit


Selesai dengan ritual mandi aku sudah siap dengan pakaian ku, aku keluar dari kamar mandi dengan tangan meraih resleting dress yang ku kenakan, lumayan susah karena letaknya di belakang, tanpa melihat siapa yang ada di dalam kamar aku meminta bantuannya yang ku kira itu masih adikku


" Pit tolong dong " ucapku, namun setelah yang melihat siapa yang ku mintai tolong aku langsung berbalik badan ingin masuk kembali kekamar mandi, namun tak sempat karena tangan itu lebih dulu meraih tubuh ku memasukkannya kedalam dekapannya


" Ripa'i lepas " kesal ku, namun yang di mintai melepaskan malah mempererat dekapannya


" Bukankah tadi meminta tolong, kenapa malah mau lari " godanya

__ADS_1


" Ku pikir tadi pitri makannya aku meminta tolong " jawabku, ripa'i membalikkan tubuhku menghadapnya


" Kenapa? Bukankah aku suamimu sekarang jadi kamu bisa meminta tolong padaku " ucapnya seraya memegang kedua pipiku


Tangan ripa'i terulur ke belakang punggung ku namun wajahnya tetap menatapku, pelan namun pasti, dia menyentuh bibirku dengan bibirnya, hanya menempelkan


" Terimakasih " ucapnya setelah mengecup bibirku, aku hanya diam


" Terimakasih sudah mau menerima ku dalam hidupmu, jika suatu saat aku melakukan kesalahan maka aku Mita ingatkan lah, jika aku tersesat maka tunjukan jalan untuk ku kembali agar aku bisa selalu bersamamu " ucapnya kembali


" Dena Rinjani, aku sangat menyayangimu dan mencintaimu, apakah kau juga mencintaiku? " Tanyanya kala mendapati aku yang hanya diam


Aku mengangguk mengiyakan ucapannya, namun dia malah berpura-pura seolah tak mengerti maksudku


" Apa maksud dari anggukanmu itu? " Tanyanya


" Eemmm, aku juga menyayangimu " pelanku berucap, sepertinya ripa'i paham kalau aku sangat malu mengatakan itu dan dia hanya tersenyum menanggapi ku


" Tidak inginkan kau memeluk suamimu ini " ucapnya membuat ku tersenyum dan langsung memeluknya, dia membalas pelukanku.


Lama kami saling memeluk dan merasakan kehangatan kasih sayang masing-masing, hingga kudengar suara orang berdehem membuat kami saling melepaskan pelukan.


Ku lirik orang yang berdehem di depan pitu karena ternyata pintu tak tertutup, Kaka ku tengah berdiri di ambang pitu, menatapi aku dan ripa'i yang terlihat Malu mungkin karena kakak ku.


" Nanti saja memadu kasihnya, teman kalian mau berpamitan, apa kalian tidak akan keluar " ucap kakak ku yang ku tanggapi dengan tersenyum


Aku berjalan lebih dulu keluar kamar, meninggalkan kakak ku dan ripa'i yang mengikutiku dari belakang.


" Aku paham kalian pengantin baru, tapi kami kan masih ada di sini kalian sudah masuk kamar aja " seloroh Vika saat aku sudah ikut bergabung


" Jani, nanti kabarin kalau perlu sesuatu " goda Sem entah apa maksudnya


Ah Sem, dari tadi ku perhatikan dia mencoba mendekati Vika namun sepertinya Vika tak menyadari itu.


" Pengantin baru, nanti dong kita juga belum pulang " seloroh Caca saat ripa'i ikut duduk di samping ku, dan dengan sengajanya dia melingkarkan tangannya di pinggang ku, saat aku meliriknya dia hanya membalas dengan senyuman


" Ah jangan gitu dong, kan gue ngiri " ucap caca lagi, entah hanya perasaan ku saja atau memang benar sedari tadi bang herdi memandanginya dan tersenyum setiap Caca mengeluarkan kata-kata konyolnya


" Selamat ya pak bos, akhirnya Lo nggak perlu merasa takut Rinjani ada yang ngambil dari sisi Lo " ucap Gibran pada ripa'i


" Eemmm, dan makasih juga Lo udah mau bantu gue menjaganya, ya walaupun Lo nggak bisa di percaya " balas ripa'i, entah apa maksud dari ucapan mereka, hanya mereka yang tau

__ADS_1


__ADS_2