Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 106


__ADS_3

Sesampainya di tempat kerja.


Mas Rendi masuk keruangan ku setelah sebelumnya mengetuk pintu, dia duduk tanpa aku persilahkan. Oh astaga! Mentang-mentang dia bosnya.


Aku tersenyum mengejek padanya, dan dia membalas senyum ku juga, aku mendekatinya karena dia duduk di sopa, he'mh! Saat ini ruangan ku sudah pindah berkat kebaikan kakak ipar ku ini.


" Apa ada yang bisa saya bantu bos! " Candaku hanya untuk memancingnya berkata.


Mas Rendi tersenyum semakin lebar setelah mendengar perkataan ku.


" Aku membawa kabar baik untuk ipar ku yang pintar ini " ucapnya.


" He'mh!! Katakanlah kakak ipar ku yang tampan " ucapku seraya bercanda, sekarang aku menjadi tak sungkan terhadapnya di tambah dia selalu membantuku layaknya kakak kandungku.


" Pabrik yang kau dirikan di desa sudah selesai di bangun, jadi! Kapan kau mau meresmikannya? " Ucapnya sembari bertanya padaku.


Tentu saja aku sangat senang mendengar itu, bagaimana tidak! Dengan berdirinya pabrik itu aku berharap bisa membantu keuangan di desaku dengan membuka lowongan pekerjaan.


" Secepatnya! Jika di bolehkan Jani ingin mengambil cuti selama satu Minggu saja, ya setidaknya sampai Jani yakin pabrik itu bisa berjalan dengan lancar " ucapku panjang kali lebar.


Mas Rendi tertawa kecil membuatku menyerengitkan dahi.


" Apa ada yang lucu? " Tanya ku karena merasa heran.


" Tentu saja! Bukankah selama ini kau memang sering sekali ijin dan itu tanpa alasan yang jelas namun saya selalu membolehkan, dan giliran alasan itu sangat jelas masa saya tidak membolehkan " ucapnya dengan sesekali tertawa kecil.


Setelah mengatakan itu dan sedikit saling melempar canda, mas Rendi keluar dari ruangan ku dia bilang masih banyak pekerjaan yang menantinya, aiss! Padahal pekerjanya kan aku yang pegang dia hanya tinggal coret-coret tinta saja di atas kertas saat di butuhkan.


Sekali lagi aku tak berhentinya bersyukur, bagaimana tidak, aku selalu di kelilingi orang baik, dan segala urusanku selalu mendapat kemudahan jalan, ya walau tak semua buktinya dalam masalah percintaan aku selalu saja di buat kalut.


Namun terlepas dari semua itu, aku sungguh berterimakasih pada yang kuasa atas segal nikmat yang beliau karuniakan padaku.


Ingat dengan sosok yang aku temui saat menyelamatkan kedua adikku, ternyata dia bukan dari kalangan biasa, orang tuanya ternyata terkenal di dunia militer, dan sang ibu seorang model sekaligus pebisnis parahnya sosok itu ternyata anak satu-satunya.


Ketika mereka menerima kerangka yang di antar pihak kepolisian dan berserta semua dokumen atau laporan DNA serta keseluruhan semuanya dari pihak rumah sakit, mereka syok dan menjadi histeris, pasalnya selama ini mereka terus melakukan pencarian namun tidak ada hasil.


Awalnya aku tidak tau jika jasad itu sudah sampai pada keluarganya Andi yang memberi tahuku, dia bilang pihak keluarga ingin menemui dan berterimakasih padaku, walau aku rasa aku tak pantas mendapat ucapan itu karena orang-orang andi yang menyelamatkan jasad itu aku hanya menunjukannya saja.


Dan kini aku di anggap anak oleh mereka, dan jika terjadi sesuatu padaku atau pada keluargaku mereka Takan berat tangan untuk membantu.


Ah! Bertambah satu lagi orang yang menganggap ku keluarga.


***

__ADS_1


Waktu makan siang sudah tiba namun merasa malas untuk keluar kantor, akupun hanya pergi ke ruang OB untuk meminta tolong di buatkan mie instan, namun saat sampai di sana mereka sedang makan siang bersama, aku merasa canggung saat mereka menatapku. Ku urungkan niatku, tak mau mengganggu jam istirahat mereka kemudian memilih memesan makanan dari luar.


Makanan datang setelah sedikit bersabar menunggu, aku pun makan di ruangan ku hanya seorang diri sampai aku selesai tak ada yang menemaniku.


Ku lihat jam di pergelangan tangan ku sudah menunjukan waktu masuk kantor kembali, tandanya jam istirahat sudah berakhir.


" Mbak Dena, pak Rendi bilang meiting nanti jam dua siang dengan perusahaan milik keluarga Wilson, anda yang akan menggantikan " ucap sekretaris mas Rendi.


" Eemmm! apa semuanya sudah di siapkan? " Ucapku bertanya.


" Sudah mbak!! Dan nanti saya juga akan menemani mbak Dena jika mbak mau, kerena itu perintah pak Rendi " ucapnya seraya tersenyum manis padaku.


" Jika tidak ada pekerjaan lain, kau boleh ikut " jawabku dengan tangan ku terus saja mengetik.


" Nanti akan saya cek ulang dulu mbak, apakah hari ini jadwal pak Rendi masih banyak " ucapnya dan hanya mendapat pandangan datar dariku.


" Kalau begitu saya permisi mbak!! " Ucapnya dan pergi setelah mendapat anggukan dariku.


Sampai waktu meiting tiba aku hanya berkecamuk dengan pekerjaan ku guna menyibukkan pikiran ku, agar tak lagi berpikir tentang omongan ripa'i.


Pintu ruangan ku di ketuk, dan aku mempersilahkan yang mengetuk untuk masuk.


" Permisi mbak! Ini sudah waktunya, takutnya jalanan macet sebaiknya kita berangkat sekarang " ucapnya, aku mengadakan pandanganku dari laptop padanya.


" Semuanya sudah di siapkan? " Tanyaku santai


" Baiklah! Ayo " balasku, sekretaris mas Rendi berjalan lebih dulu, mungkin untuk mengambil berkas yang akan menjadi bahan meiting hari ini.


Aku keluar dari ruangan ku, ada sedikit malas untuk pergi entah kenapa aku tak tau, namun sungguh rasanya malas.


Kami pun berangkat dengan di antar mobil kantor tak menggunakan mobil pribadi.


Sampai di perusahaan yang menjadi tujuan kami, aku memandangi gedung itu terlebih dahulu.


' apakah gedung perusahaan ini juga salah satu milik mu ' batin ku berucap.


Kami masuk dalam perusahaan itu. Sekretaris mas Rendi memberi tahu dulu pada resepsionis kalau kami datang untuk bertemu dengan pemegang perusahaan ini.


Selesai dengan semua itu, kami di bawa ke ruang meiting, dan di suruh menunggu di sana.


Jujur aku suka dengan Laiyla, dari pada siska yang menjadi partner ku, Laiyla lebih cekatan juga kerjanya sangat rapih.


Sedikit terjadi obrolan di antara kami tentang diri masing-masing.

__ADS_1


Aku bertanya padanya dan sebaliknya juga dia bertanya tentangku.


Saat kami tertawa pelan seseorang membuka pintu dan masuk kami pun terdiam.


" Selamat siang nona! Apa sudah menunggu lama " ucapnya dengan nada seolah sedang menggoda.


Aku malas untuk menjawab dan Laiyla lah yang menjawab.


" Tidak tuan! "


" Baiklah mari kita mulai " ucapnya, kami pun memulai meiting itu.


Laki-laki yang datang bersama Reiner Wilson membagikan berkas milik perusahaannya, dan Laiyla memberikan milik kami.


Aku memeriksa semua berkas itu dengan teliti, begitu pula dari pihak mereka.


" Bagaiman tuan? " Tanya Laiyla saat di rasa mereka sudah selesai memeriksanya.


" Bukankah laporan kerjasama ini masih sama dengan yang kemarin tuan Rendi buat " ucap sang pemegang perusahaan.


Aku masih diam saja tak ingin menjelaskan karena aku yakin Laiyla bisa mengatasinya.


Laiyla terus menjawab semua pertanyaan yang di lemparkan oleh Reiner hingga membuat ku merasa bosan, satu pandangan ku tentang laki-laki di depan ku, dia tak mengerti apa yang tertulis di dalam berkas itu, aku juga melihat laki-laki yang satunya sudah berusaha mencegah Reiner dengan menyela setiap pertanyaan yang di berikan Reiner namun laki-laki itu seolah tak ingin dengar.


" Berikan padaku! " Datar ku berucap, Laiyla menoleh dan memberikannya.


" Kita pulang, waktuku sangat berharga jika hanya untuk ini saja " ucapku kembali, Laiyla seolah tak puas dengan ucapan ku.


" Tapi mbak! " Terlihat keraguan dari ucapannya.


Aku membereskan semuanya, nampak raut tak suka dari Reiner namun aku tak mempedulikan itu.


" Nona maaf atas sikap tuan saya, biar saya yang melanjutkan semuanya " usahanya untuk mencegah ku keluar dari ruangan itu.


" Adrian! Lancang sekali kau, apa maksud mu, kau pikir aku tak tau dengan laporan yang mereka buat " geram seorang atasan pada bawahannya.


Dan mau tak mau orang yang bernama Adrian melawan bos nya, dia menjelaskan sedetail mungkin semua yang tercantum di berkas itu, dia juga menegaskan jika mas Rendi yang datang mungkin dia akan memutus langsung kerjasama ini.


Bos yang tidak tau diri itu hanya diam, kemudian meminta maaf pada kami, namun karena aku sudah merasa muak, akupun memilih untu pamit, bukan aku namun Laiyla aku langsung mengucap " permisi " dan pergi dari tempat itu.


" Mbak Dena kenapa? " Tanya Laiyla pada ku saat di dalam mobil.


" Tidak apa-apa! " Jawabku singkat.

__ADS_1


" Mbak masih kesel ya! " Ucapnya lagi, aku menoleh memandang wajah Laiyla.


" Benar kamu tidak merasa kesal? " Tanyaku, bukannya menjawab ku dia malah tersenyum.


__ADS_2