
Aku duduk dengan Indri di luar kamar, belum sempat melihat kakak ku yang terbaring di dalam kamar.
Indri menatap ku sendu seolah dia ingin menceritakan sesuatu yang pedih padaku.
Paham dengan tatapan adik bungsuku, akupun menyuruhnya berbicara.
" Katakan jika memang mau berbicara! " Lembutku berkata agar Indri tak merasa ragu mengatakan apapun itu padaku.
" Teh! Ibu bilang semua tabungan ibu sudah habis terpakai " ucap Indri padaku dengan nada sendu
" Terpakai untuk apa? Bukankah biaya rumah sakit baru tth bayar " ucapku merasa heran
" Ibu bilang di pake kakak berobat, karena tabungan kakak sudah habis, kan uang yang kakak dapat tidak sebanyak yang tth dapat " jawab Indri.
Anak ini! emang dia tau, berapa nominal yang ku dapat perbulannya.
" Kamu ini! " Kesal ku pada anak sok tau ini
" Ibu juga bilang kalau kakak sudah lama sakit tapi dia tidak mau tth tau, bahkan te nur juga tidak di beri tau " ucapnya dengan nada sedih.
" Tth apa kita bukan keluarganya? " Ucapnya lagi bertanya kala aku hanya diam.
" Bodoh! Kamu pikir dia bukan kakak ku begitu! " Jawabku
" Pati kenapa kakak tidak memberitahu kita " rajuk nya seolah protes entah pada siapa
" Mungkin Abang pikir jika memberi tahu kita, kita akan merasa terbebani dan mungkin juga Abang merasa dia bisa mengatasinya sendiri " jelasku, namun Indri makah berbicara kembali dan membuat ku kesal karena dia tak henti mengeluh.
" Kenapa harus berpikir begitu, toh pada akhirnya dia seperti ini " ucapnya, nada bicaranya membuatku kesal jadi aku tak mengeluarkan suara lagi memilih diam, kurasa itu lebih baik.
Cukup lama aku dan Indri duduk dan sudah merasakan pegel di pinggang ku.
Entah kenapa di saat seperti ini aku merasa pitri lamban sekali, hanya ku suruh membeli makan saja sampai sekarang belum kembali.
Ku dengar pintu kamar rawat kakak ku terbuka, ternyata tth ipar ku yang keluar.
" Mau kemana teh? " Tanyaku
__ADS_1
" Mau ke mushola, waktu Maghrib sudah datang! Jani mau ikut? " Jawabnya seraya bertanya kembali padaku apa aku mau ikut dengannya atau tidak.
" He'mh Jani ikut " jawabku kemudian bangun dari dudukku.
Indri ikut bangun dari duduknya, mungkin dia juga mau ikut dengan kami.
Sampai di mushola kami langsung mengambil wudhu setelah sebelumnya membersihkan muka terlebih dahulu, beruntung aku tak selalu memakai riasan full jika bukan mendatangi acara saja.
Selesai dengan ritual sholat kami langsung kembali karena akan bergantian dengan yang lainnya.
" Teh! Anak-anak di mana? " Tanyaku pada istri kakak ku sambil terus melangkah menuju kamar kakak ku
" Anak-anak tth titipkan pada ibu dan bapak " jawabnya, yang ku yakin itu ibu dan bapaknya, karena ibu dan bapakku ada di sini.
" Tth pulang saja biar Jani yang jagain Abang, kasihan anak-anak dirumah. Sekalian ajak ibu sama bapak juga " ucapku pada istri abangku, melihat wajah lelahnya ku yakin dia belum berisitirahat.
" Tth mau nemenin kakak mu saja, biar ibu dan bapak saja yang pulang " ucapnya, aku memang tak suka jika di bantah namun aku juga tau kalau dia hanya khawatir pada suaminya.
Sampai di depan kamar rawat kakak ku, aku ikut masuk dengan istri kakak ku begitu juga Indri.
Ku lihat pitri juga ada di sana, aku mendekat pada kakak ku, menyalami tangannya sembari menhan air mata. Rasanya tak kuat aku melihat kakak ku seperti ini.
Dia tersenyum hangat padaku namun aku menanggapinya datar itu karena rasa kecewa ku padanya.
Dia selalu ada untuk kami Sedari kami kecil, bahkan dia merawat kami saat ibu memutuskan untuk bekerja tapi, kenapa di saat seperti ini dia malah mengabaikan kami tak ingin dia membagi dukanya pada kami tepatnya padaku, dan itu membuat ku sangat kecewa.
" Sampai di sini dari tadi, kenapa baru masuk melihat Abang? " Tanyanya setelah puas tersenyum padaku
" Menurut Abang kenapa? " Bukan menjawab aku malah bertanya balik
" Bagaimana kabar mu? " Tanyanya kembali setelah hanya tersenyum menjawab pertanyaan ku.
" Tadinya baik-baik saja saat baru sampai di rumah, namun mendengar Abang di rawat aku merasa sedikit terusik di benakku " jawabku
" Jadi kamu sedang tak baik-baik saja " ucapnya kembali
" Mungkin! Abang istirahatlah kembali " ucapku tak ingin bangku kelelahan karena besok pagi dia akan operasi.
__ADS_1
Dan mengenai operasi aku tak memberitahukannya pada yang lain biar aku saja yang tau, aku tak ingin mereka merasa khawatir mendengar kata itu.
Aku meminta istri kakak ku, ibu juga bapak untuk pulang tak lupa juga Indri, ku suruh pitri yang menghantar mereka sebelum perawat datang memberitahukan jadwal operasi mereka harus sudah pulang, bahkan aku menyuruh mereka untuk membawa makanan yang tadi di beli pitri untuk dimakan di rumah.
Aku membiarkan uang pada istri Abang ku juga ibu dan bapak ku, hanya sedikit karena aku sudah memakai uang itu untuk biaya rumah sakit kakak ku, di tambah aku belum tau berapa biaya yang akan di bayar nanti setelah kakak ku sembuh.
Awalnya keluarga ku menolak untuk pulang namun aku memasang wajah datar ku dan berkata " baiklah kalau kalian tetap seperti ini aku yang akan pulang, dan tidak akan kembali ke rumah untuk waktu yang lama " ancam ku pada mereka.
Pitri tau dengan nada seperti itu, itu berarti aku sudah tak ingin lagi berdebat maka diapun menjelaskan semuanya dan akhirnya mereka mau untuk pulang, lagian kenapa harus banyak orang yang menunggu satu orang saja cukup karena sudah ada dokter juga perawat bukan yang membantu.
Sesuai keinginan ku, setelah yang lain pergi perawat datang dan memberi tahu jadwal operasi juga meminta kakak ku untuk tak makan apapun kecuali minum itu pun hanya sedikit.
Ku lirik jam di pergelangan tangan ku, ternyata pukul 10 malam kurang, aku merasakan lapar di perutku karena aku tidak makan dari siang, semakin lama perut ku terasa perih ingin keluar mencari makan takut kakak ku terbangun dan membutuhkan sesuatu aku tak ada, aku mengambil ponsel ku yang ku letakan di atas meja dan memesan makanan lewat online saja.
Makanan sudah ku pesan namun aku harus menunggu, semoga saja tidak lama jika tidak aku bisa pingsan karena lapar, belum lama aku memesan makanan seseorang mengetuk pintu, jika itu kurir yang mengantar pesanan ku tidak mungkin bukan secepat itu baru juga hitungan beberapa menit, dan jika itu perawat mungkin setelah mengetuk dia akan langsung masuk.
Aku penasaran siapa tau itu memang kurir yang mengantar makanan, ku buka pintu itu! Sedikit heran melihat orang yang berdiri di depan ku, bagaimana dia tau kalu aku ada di sini.
" Hai! " Dia menyapa ku, nada suaranya terdengar canggung.
" Em! Hai jiga " balasku dengan wajah biasa saja, padahal perut sudah berontak gara-gara hidung mencium bau makan.
" Apa boleh masuk? " Tanyanya, karena saat ini dia masih di ambang pintu terjaga oleh tubuhku.
Aku mempersilahkan dia masuk, dia duduk di samping ku dengan mengikuti pandangan ku pada kakak ku, sekilas aku menoleh padanya, ada rasa heran dari mana dia tau kalau aku disini bukankah aku tak memberitahu dia, jangankan memberi tahu mengangkat telponnya saja tidak.
Seolah dia tau dengan pertanyaan yang ada di benakku, dia tersenyum padaku dan berkata.
" Pitri yang memberi tahu kalau kalian pulang ke desa, dan dari ibu aku tau kamu disini! Dia juga bilang kalau kamu pasti belum makan " ucapnya padaku namun pandanganku tetap pada kakak ku.
" Aku bawakan makanan! Sebaiknya kamu min dulu " perintahnya padaku seraya menyerahkan bungkusan yang dia bawa aku yakin itu pasti makanan.
Tak mau munafik tak mau juga naif, aku sedang lapr dan yang membawakan makan orang yang aku sayang walau dia bukan kekasih ku lagi, aku membuka bungkusan itu ternyata makanan yang aku suka, sederhana hanya nasi putih dan ayam kampung bakar, namun itu menjadi makan keaukan ku.
Aku memakan makanan yang ripa'i bawa, ya! Orang yang bersama ku saat ini ripa'i. Tak tau darimana dia bisa tau aku disini.
Aku menawari ripa'i namun dia bilang dia sudah makan, jadi aku hanya memakan makanan yang ripa'i bawa seorang diri.
__ADS_1
Saat aku mkan ripa'i pindah mendekat pada kasur pasien tepat nya ke sisi kakak ku, memandang setiap inci tubuh yang sudah terlihat kurus itu.